PEMIMPIN DAN PENGORBANAN

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yohanes 10:11 )

Seorang  gembala domba di Timur Tengah rela mati bagi  domba yang dia
gembalakan, karena  domba-domba harus dilindungi dari ancaman beruang
atau singa. Orang upahan adalah hal yang umum di Palestina. Mereka dibayar
untuk tugas menggembalakan dan tentunya juga diharapkan oleh pemilik domba
untuk bisa menggembalakan dengan baik termasuk berjuang menghalau binatang
buas. Namun karena ia bukan pemilik domba-domba, ia tidak mempunyai hubungan
yang intim dengan domba-domba. Sebab itu ketika melihat “serigala” datang, ia
akan lari menyelamatkan dirinya sendiri dan membiarkan domba-domba diterkam
dan tercerai berai.
Gambaran Yesus sebagai gembala yang baik mempertunjukkan cara yang lembut
dan penuh kasih sayang dari Yesus dalam memelihara umat-Nya. Yesus sedang
mengatakan, “Terhadap semua orang yang percaya kepada-Ku, Aku ini seperti
gembala yang baik terhadap domba-domba-Nya — penuh perhatian, kewaspadaan,
dan kasih. Ciri khas Kristus selaku gembala yang baik adalah kesediaan-Nya untuk
memberikan nyawa karena domba-Nya. Ia rela kehilangan hidupnya sendiri demi
mempertahankan hidup kawanan dombanya. Tuhan Yesus tidak hanya  rela saja,
tetapi dengan sengaja Dia memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Kematian
Gembala yang Baik bukan suatu kecelakaan melainkan tujuan-Nya. Orang-orang
Farisi, yang bertindak seperti gembala upahan, tidak memiliki beban yang sungguh-
sungguh terhadap domba-domba. Penyataan Yesus itu mau menunjukkan bahwa
Yesus bukan hanya gembala yang melindungi domba-domba-Nya, tetapi Ia rela
“memberikan nyawa bagi kepentingan domba-domba.” Ini dikontraskan dengan
“orang upahan” yang hanya mencari keselamatan sendiri saja.
Ada pemimpin yang hanya mencari aman dan mensejahterakan dirinya dengan
cara memperkaya diri. Posisi sebagai pemimpin dijadikan sarana untuk meraih
keuntungan pribadi. Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin
yang baik adalah seorang yang tidak memikirkan dirinya tetapi  memikirkan orang-
orang yang dipimpinnya. Dia juga mengusahakan kesejahteraan bersama bahkan
rela berkorban bagi orang-orang yang berada dibawah tanggung jawabnya. Ketika
Allah mempercayakan kepada kita tanggung jawab sebagai seorang pemimpin,
sudahkah kita menjadi seorang pemimpin yang berkenan kepada Allah? (RCM)
Refleksi :
Pemimpin adalah orang yang rela berkorban

TAAT PADA ATURAN

“ haruslah engkau melakukan apa yang benar dan baik di mata
 TUHAN, supaya baik
keadaanmu
 dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan
TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu,”
(Ulangan 6:18 )

Hari ini kita memperingati Hari Keluarga Nasional. Keluarga adalah kesatuan
masyarakat terkecil, dan juga merupakan lingkungan terdekat dan utama
bagi manusia. Keluarga memerlukan peraturan agar dapat berfungsi dengan
baik. Anak-anak dan orang tua akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
jika mereka menerapkan peraturan yang tepat. Aturan keluarga  yang diberlakukan
misalnya : menggunakan dan merawat fasilitas keluarga dengan tertib; melakukan
ibadat; anak berbakti kepada orang tua; menjaga kebersihan; menjaga nama baik
orang tua dan keluarga; mematuhi aturan sopan santun; mengikuti adat kebiasaan
keluarga yang sudah dibina dengan baik; melaksanakan pola hidup sederhana (hidup
wajar, hemat, cermat, tepat, dan manfaat);  Tidak pulang terlalu malam; tidak
membunyikan radio terlalu keras, dan meminta izin ketika bepergian.
Orang tua Israel memiliki tanggung jawab yang besar dalam proses pendidikan agama
bagi anak-anak mereka. Mereka harus mengajarkan kepada anak-anak bagaimana
cara Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Israel dan apakah yang diperintahkan-Nya
bagi mereka. Anak-anak Israel haruslah memahami bahwa melalui sejarah bangsa
mereka, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Israel;  mereka memiliki pengalaman
bersama Tuhan di saat Ia membebaskan Israel; dan menerima janji serta rencana
Tuhan dengan memiliki negeri. Anak-anak Israel haruslah memahami bahwa Tuhan
juga menyatakan diri-Nya melalui firman-Nya. Ia memberikan ketetapan-ketetapan
yang kepadanya Israel harus berpegang. Anak-anak Israel haruslah memahami
bahwa Tuhan menetapkan mereka untuk bersungguh-sungguh menjaga dan
berpegang pada perintah-Nya karena melaluinya Tuhan akan memelihara mereka
serta melakukan apa yang benar dan baik di mata Tuhan.
Seorang pemimpin yang baik, berintegritas, dan takut akan Tuhan biasanya tidak
lepas dari peran pendidikan dalam keluarga. Jika sejak anak-anak dibina dengan baik
di keluarga dan mentaati aturan yang ditetapkan bersama serta dibina dalam takut
pada Tuhan akan menjadi orang yang berkualitas dan menjadi berkat bagi sesama.
Ketaatan kepada aturan yang dilandaskan pada kebenaran firman Tuhan akan
menuntun orang kepada kebenaran dan menghidupi kebenaran itu.  (RCM)
Refleksi :
Mentaati aturan dan ketetapan Allah menuntun orang untuk hidup dalam kebenaran

PEMIMPIN ADALAH PELAYAN

“ Tidaklah demikian di antara kamu
. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara
kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,”
(Matius 20:26 )
Konsep kepemimpinan umum biasanya dikaitkan dengan konsep kuasa (power).
Karena pemimpin diidentikkan dengan kuasa, muncul pandangan umum yang
mengatakan bahwa seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kuasa.
Niccolo Machiavelli dalam karyanya yang terkenal “The Prince”, menulis bahwa
manusia senantiasa memiliki ambisi terhadap kuasa, dan setelah memiliki kuasa
cenderung menyalahgunakan kuasa tersebut.
Nats hari ini merupakan perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya yang tidak
mengerti apa yang mereka minta. Ketika penderitaan Yesus semakin dekat, Yesus
kembali mengatakan tentang penderitaan dan kebangkitan-Nya. Murid-murid-Nya
justru mempersoalkan kedudukan dalam Kerajaan Sorga dimana Yesus bertakhta.
Ibu Zebedeus yang memikirkan anak-anaknya, datang dan sujud kepada Yesus serta
memohon agar Ia menempatkan mereka di sebelah kanan dan kiri-Nya. Mereka
tidak tahu arti sesungguhnya `duduk di sebelah kiri atau kanan Yesus’. Yesus
mengingatkan bahwa tugas murid-murid adalah saling melayani. Cara untuk menjadi
besar dan terkemuka adalah dengan bersikap rendah hati dan melayani. Di dalam
dunia ini, orang yang “memerintah” dan “menjalankan kuasa” dipandang sebagai
orang besar. Yesus mengatakan bahwa di dalam Kerajaan Allah kebesaran tidak akan
diukur dengan kekuasaan kita atas orang lain, tetapi dengan memberikan diri kita
dalam pelayanan.
Orang percaya hendaknya jangan berusaha untuk meraih kedudukan yang tertinggi
dengan maksud untuk menguasai atau memerintah orang lain. Sebaliknya, mereka
harus memberikan diri untuk menolong orang lain, dan khususnya bekerja demi
kesejahteraan semua orang. Para pengikut Kristus harus siap merendahkan diri
untuk mengerjakan tugas yang paling rendah sekalipun demi kebaikan bersama.
Mereka harus tunduk seorang terhadap yang lain dan saling membangun. Orang-
orang seperti itulah yang paling bisa diandalkan dan dihormati. Bukan orang-orang
mulia yang punya nama besar yang akan dihargai, melainkan orang-orang rendah
hati yang menyangkal diri, yang selalu berusaha berbuat kebaikan sekalipun untuk
itu mereka direndahkan. (RCM)
Refleksi :
Pemimpin adalah pelayan sesamanya

PEMIMPIN DAN KETELADANAN

“ Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah
 atas mereka yang
dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan
 bagi kawanan
domba itu.”
(1 Petrus 5:3)

Beberapa ahli kepemimpinan mengatakan bahwa ada perbedaan antara seorang
pemimpin dan seorang boss. Seorang pemimpin melakulan hal terbaik dengan
memberikan teladan kepada anak buahnya. Seorang boss menyuruh anak
buahnya untuk melakukan hal yang dia inginkan tanpa memberikan contoh. Jabatan
sebagai pemimpin di kantor swasta atau instansi pemerintah sering menjadi rebutan
karena jabatan tersebut biasanya identik dengan kekuasaan disertai berbagai fasilitas
yang menarik dan menjanjikan keuntungan materi.
Petrus menekankan model kepemimpinan yang harus dimiliki oleh para penatua.
Para penatua menjalankan tugas pelayanannya dan menjadi teladan bagi jemaat yang
dipimpinnya seperti yang dilakukan oleh Sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Petrus
menegaskan bahwa kepemimpinan bukan penggunaan kekuasaan kepada yang
dipimpin dengan kecongkakan atau untuk mencari keuntungan sendiri. Pemimpin
memimpin dengan merendahkan diri, melayani, penundukan diri, dan menempatkan
diri sebagai “gembala”. Petrus memberikan nasihat tentang dua ciri khas penatua
yang bijaksana. Pertama, mereka menyadari bahwa yang “digembalakan” adalah
“domba-domba” milik Tuhan dan bukan milik mereka sendiri sehingga mereka
melakukan tugasnya dengan sukarela dan bukan karena terpaksa. Kedua, mereka
harus memfokuskan diri kepada apa yang bisa mereka berikan kepada jemaat dan
bukan mencari keuntungan diri sendiri. Itulah sebabnya, penatua harus menjadi
teladan, menunjukkan wewenang yang didasarkan atas pelayanan kepada Tuhan
dan bukan karena keinginan untuk berkuasa.
Jika Tuhan memercayakan jabatan kepemimpinan di Universitas Kristen Maranatha,
itu berarti kesempatan untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan. Para pemimpin
harus waspada terhadap dua dosa yang berbahaya, yang pertama  yaitu keinginan
akan uang yang membuka diri untuk melakukan dosa keserakahan, kompromi,
dan pencurian. Yang kedua kekuasaan untuk menguasai orang yang mereka layani
dengan menyalahgunakan wewenang. Seorang pemimpin harus menjadi teladan
dalam pengabdian kepada Kristus, melayani dengan rendah hati, teguh dalam
kebenaran, ketekunan dalam doa, dan kasih akan Firman Allah. (RCM)
Refleksi :
Jadilah pemimpin yang menyenangkan Tuhan dan bukan mencari keuntungan
pribadi

TELADAN DALAM BERBUAT BAIK

“ dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,” (Titus 2:7)

Dr. Johannes Leimena adalah salah satu  pahlawan Indonesia. Ia merupakan
tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia
dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama
21 tahun berturut-turut tanpa terputus. Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang
berbeda. Menjadi Pejabat Presiden selama 7 kali pada tahun 1961-1965 tanpa
ada niat untuk merebut kekuasan (kudeta). Leimena dikenal sebagai seorang
pemimpin yang rendah hati, jujur, sederhana, peduli terhadap orang lain, setia, dan
bertanggung jawab. Walaupun dia seorang dokter yang negarawan tetapi banyak
orang mengatakan dia seperti seorang pendeta. Hidupnya menjadi teladan bagi
banyak orang.
Paulus mengingatkan Titus agar memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran
yang sehat. Ada dua sasaran utama: pertama, membentuk kepribadian Kristiani
yang dewasa. Kemauan untuk mengajar dan memberi teladan serta kerelaan untuk
diajar dan meneladani. Hubungan interaktif antara ‘memberi’ — ‘menerima’ ajaran
dan teladan adalah proses yang sangat penting untuk menjadikan orang Kristen
bertumbuh menjadi dewasa. Terampil mengajar tetapi tidak memberikan teladan
menjadikan ajaran tersebut pada akhirnya mandul. Meski masih muda, Titus harus
bisa menjadi teladan bagi jemaat dalam segala hal. Sebagai seorang pemimpin dan
duta Kristus, ia memiliki tanggung jawab untuk membuat kebenaran Kristus menjadi
menarik dengan hidup sesuai kuasa firman. Karena itu perilakunya harus sesuai
dengan pengajarannya. Bila tidak, tentu orang lain tidak akan menghiraukan dia.
Dalam surat singkatnya kepada Titus, Rasul Paulus mengatakan sampai tujuh kali
tentang pentingnya melakukan pekerjaan yang baik: suka terhadap hal yang baik
(1:8), mengajarkan hal-hal yang baik (2:3), melakukan perbuatan baik (2:7,14; 3:1,
2,8,14).
Ajaran yang baik dan benar akan membentuk pribadi yang baik. Ajaran yang salah
mempunyai peluang terbesar untuk menciptakan pribadi yang bermasalah. Setiap
orang dipanggil untuk menjadi saksi Kristus melalui tutur kata dan perilaku hidup
sehari-hari. Bersaksi bukan tugas terbatas untuk golongan usia dan jenis kelamin
tertentu. Semua yang tinggal dalam Yesus, hidupnya harus memberikan kesaksian
tentang Dia! (RCM)
Refleksi :
Jadilah teladan dalam berbuat baik berdasarkan kebenaran firman Allah

PEMIMPIN YANG PENUH ROH ALLAH

Lalu berkatalah Firaun kepada pegawainya: “Mungkinkah kita mendapat orang
seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” (Kejadian 41:38)

Seorang Theolog bernama A.W Tozer berkata “Barangsiapa ingin didiami oleh
Roh Allah, maka ia harus menyelidiki hidupnya jika ada dosa yang tersembunyi.
Ia harus membuang dari dalam hatinya segala sesuatu yang tidak sesuai dengan
sifat-sifat Allah.” Sebuah pernyataan yang jelas dan tegas bahwa tidak ada kompromi
bagi kejahatan apapun bagi orang yang hidup dipenuhi Roh Allah.
Yusuf hidupnya dipimpin oleh Tuhan, ia melalui pengalaman yang tidak menyenangkan
dengan dijual oleh saudara, dan difitnah hingga masuk penjara. Sebuah kesempatan
yang diberikan kepadanya untuk bertemu Firaun. Yusuf dipanggil untuk menghadap
Firaun untuk mengartikan mimpi Firaun karena tidak ada seorang pun dari semua
ahli dan semua orang berilmu di Mesir dapat mengartikan mimpinya. Allah
mengaruniakan pengetahuan dan hikmat kepada Yusuf untuk dapat mengartikan
mimpi Firaun. Mungkinkah ada orang yang seperti ini yang penuh Roh Allah, ini yang
terucap dari mulut Firaun. Yusuf mengakui bahwa hikmat itu bukan dari dirinya
sendiri tetapi karunia Allah. Dengan hikmat Allah Yusuf memberikan saran kepada
Firaun untuk menindaklanjuti arti mimpi. Firaun bukan hanya menyetujui usul Yusuf
tetapi mengangkatnya menjadi orang kedua di seluruh tanah Mesir.
Yusuf adalah tokoh yang dapat menginspirasi hidup kita, relasi dengan Allah adalah
hal yang mendasar sehingga apapun yang kita kerjakan dapat dirasakan oleh orang
lain. Firaun memuji Yusuf bukan karena semata-mata kecerdasan Yusuf, tetapi Firaun
tahu karena SIAPA Yusuf dapat mengartikan mimpi. Ketika kita diberi kesempatan
oleh Tuhan untuk menjadi mitra-Nya di Universitas Kristen Maranatha, milikilah
relasi yang baik dengan Allah sehingga kita dapat menyelesaikan setiap tugas dan
tanggungjawab dengan baik. Jika kita memiliki relasi yang baik dengan Allah, kita
dapat menjadi berkat bagi atasan, rekan sekerja atau mahasiswa/i di kampus ini.
(RZA)
Refeksi : 
Memiliki relasi yang baik dengan Allah akan memberi keberanian untuk menjalankan
kehendak Allah

PUSAT HIDUP PEMIMPIN = KRISTUS

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil
(Yohanes 3:30)
Popularitas menjadi sebuah trend sendiri bagi orang-orang yang merasa bangga
jika ia menjadi seorang tokoh yang disegani dan dihormati. Tidak  ada yang
salah dengan kata popularitas jika memang itu terbukti dalam hasil karyanya.
Yang menjadi persoalan adalah motivasi apa yang dibangun untuk mencapai seorang
menjadi populer. Adalah salah jika kita ingin dikenal dan terkenal, kita mengabaikan
prosedur dan koridor yang berlaku. Mencoba menghalalkan segala cara agar menjadi
populer.
Nas hari ini kita dapat melihat bahwa Yohanes sadar dan tahu  siapa yang perlu
diutamakan dalam pelayanannya, ia sebagai pembuka jalan kerajaan Sorga, ia diutus
Allah untuk mendahuluiNya. Beberapa murid Yohanes protes dengan berkata orang
yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan membaptis juga dan semua
orang pergi kepadaNya. Yohanes menjawab tidak ada seorang pun yang dapat
mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari Sorga.
Yohanes mengaku dirinya hanyalah pendahulu, Ia bukan Mesias, Kristus makin besar
dan aku makin kecil. Keinginan Yohanes untuk memuliakan Yesus dan membuat
Yesus dikenal orang banyak menunjukkan kerendahan hatinya.
Sebagai seorang pemimpin yang sudah mengalami pembaharuan iman dalam
Kristus maka pusat hidupnya adalah Tuhan, yang menjadi utama dan terutama
dalam hidupnya adalah Kristus Tuhan. Kemuliaan dan kebesaran kepada Tuhan yang
dilayani bukan kemuliaan untuk diri sendiri. Banyak pemimpin Kristen jatuh ke dalam
pencobaan untuk lebih fokus kepada keberhasilan pelayanan dan kesuksesan diri
dan bisa lupa bahwa yang utama dan terutama adalah Kristus yang menjadi pusat
pelayanan. Dalam kehidupan kampus siapa yang menjadi utama dan terutama?
Sebagai pemimpin sejati yang seharusnya Tuhan yang menjadi fokus. Setiap kita yang
dipercayakan sebagai seorang pemimpin bisa dipakai Tuhan untuk menuntun orang
lain untuk datang kepada Kristus. Kristus yang semakin ditinggikan dan dimuliakan
dalam setiap kehidupan kita.(RZA)
Refleksi :
Pusat hidup setiap pengikut Kristus adalah Kristus sendiri bukan segala aktifitas kita.
Jumat, 24 Juni 2015

PEMIMPIN TAHU RANCANGAN ALLAH

Tetapi sekarang janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu
menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku
mendahului kamu.
(Kejadian 45:5)
Mengingat peristiwa yang menyedihkan dan menyakitkan dalam kehidupan
ini akan cenderung membuat kita melakukan balas dendam. Lebih mudah
untuk mengingat kesalahan orang lain daripada kebaikan orang lain. Hal ini
bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus yang mengajarkan kita untuk memiliki
sikap mengampuni orang yang telah melukai dan mencelakai kita. Bukan hanya
mengampuni tetapi juga mendoakan mereka yang menganiaya, sungguh perjuangan
yang tidak mudah dan menjadi sebuah kewajiban bagi orang-orang yang mengaku
mengenal Tuhan yang penuh kasih.
Firman Tuhan hari ini menjelaskan Yusuf sebagai seorang pemimpin yang berani
berkata kepada saudara-saudaranya bahwa segala sesuatu ada dalam kendali
Tuhan. Allah mengontrol semua makhluk dan peristiwa. Yusuf sadar dan tahu bahwa
Allah menyuruhnya untuk ke Mesir. Yusuf berusaha untuk mengerti maksud dan
rencana Allah untuk hidupnya dan saudara-saudaranya. Ayat ini juga menjelaskan
pertimbangan pada rencana Allah adalah lebih penting yaitu maksud Allah untuk
memelihara kaum sisa umat Allah agar tetap hidup dan dipakai untuk melaksanakan
kehendak Tuhan di bumi. Yusuf memberi keyakinan bahwa Allah telah mengutus
dia untuk pemeliharaan umatNya, dibuktikan dengan pengalaman hidupnya dijual
saudara-saudaranya dan masuk penjara tetapi akhirnya menjadi penguasa di Mesir.
Ini semua ada dalam bagian rencana Allah bagi kehidupan Yusuf dan umat Tuhan.
Pemahaman Yusuf tentang rancangan Allah dalam hidupnya memberikan
pemahaman bahwa segala sesuatu ada dalam kendali Tuhan. Sekalipun pengalaman
buruk itu terjadi dalam diri seseorang tentunya atas seijin Tuhan. Hal yang sama
bisa terjadi kepada kita sebagai warga kampus yang mengalami situasi dan kondisi
tidak menyenangkan bahkan menyakitkan, itu semua bisa digunakan Tuhan dalam
merancang kehidupan kita lebih baik. Sebagaimana Yusuf melihat rancangan Allah
dalam hidupnya, kita pun harus belajar memahami rancangan baik Allah bagi kita.
(RZA)
Refleksi:
Rancangan Allah jauh lebih indah dibandingkan semua pengalaman dan pergumulan
hidup kita.

CIRI PEMIMPIN KRISTEN

Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang
lemah  dari Allah lebih kuat dari
pada manusia.
(1 Korintus 1:25)

Dalam kelompok baca buku tentang “Jadilah Pemimpin Demi Kristus” salah satu
yang dibahas adalah tentang kelemahan. Hal yang menarik semua anggota
kelompok merasa diingatkan bahwa kriteria seorang pemimpin seperti visi,
integritas, stamina dan wawasan yang luas dapat dimiliki oleh siapapun tanpa perlu
menyatakan identitas dirinya.  Sen Senjaya (penulis buku Leadership) memberikan
pemahaman bahwa yang membedakan kualifikasi pemimpin Kristen dengan
pemimpin yang lain adalah kelemahan. Kualifikasi kelemahan menjadi kriteria
pemimpin Kristen
Mayoritas jemaat Korintus dipengaruhi filsafat dunia yang ada waktu itu. Ketika
mereka melihat kebenaran Injil dari perspektif hikmat dunia, mereka memandang
rendah berita Injil. Tetapi sebaliknya bagi mereka yang diselamatkan memandang
pemberitaan Injil adalah kekuatan Allah. Karena itu Paulus tidak mau memberitakan
Injil dengan hikmat perkataan manusia karena tidak akan menambah kekuatan Injil.
Paulus dalam nas ini menyatakan untuk tidak membandingkan hikmat Allah dengan
hikmat manusia, bahkan kebodohan Allah lebih hebat daripada semua kepandaian
manusia. Kelemahan Allah jauh melebihi kekuatan manusia. Kuasa Ilahi hanya
dinyatakan dalam kelemahan manusia.
Jika hikmat Allah diberikan kepada orang yang dianggap lemah oleh filsafat dunia,
maka para pemimpin yang merasa diri pandai, kuat dan hebat belum tentu dipakai
oleh Allah. Mengapa? Karena arogansi dan superiotas seorang pemimpin bisa
menghalangi kuasa Allah. Memang kelemahan diri bukan untuk ditonjolkan tetapi
suatu wujud ketidakmampuan manusia dalam menjalani tugas dan tanggung
jawab diri. Ini juga merupakan sebuah bentuk kerendahan hati seseorang dalam
mengerjakan tugas  yang diembannya. Oleh sebab itu akuilah kelemahan kita
di hadapan Tuhan yang akan melengkapi kita. Tidak perlu menjadi malu jika kita
mengakui kelemahan dalam memimpin. Kuasa Tuhan akan menyertai  kita dalam
memimpin diri sendiri, keluarga dan pekerjaan yang Tuhan percayakanCIRI PEMIMPIN KRISTEN
Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang
lemah  dari Allah lebih kuat dari
pada manusia.
(1 Korintus 1:25)
Dalam kelompok baca buku tentang “Jadilah Pemimpin Demi Kristus” salah satu
yang dibahas adalah tentang kelemahan. Hal yang menarik semua anggota
kelompok merasa diingatkan bahwa kriteria seorang pemimpin seperti visi,
integritas, stamina dan wawasan yang luas dapat dimiliki oleh siapapun tanpa perlu
menyatakan identitas dirinya.  Sen Senjaya (penulis buku Leadership) memberikan
pemahaman bahwa yang membedakan kualifikasi pemimpin Kristen dengan
pemimpin yang lain adalah kelemahan. Kualifikasi kelemahan menjadi kriteria
pemimpin Kristen
Mayoritas jemaat Korintus dipengaruhi filsafat dunia yang ada waktu itu. Ketika
mereka melihat kebenaran Injil dari perspektif hikmat dunia, mereka memandang
rendah berita Injil. Tetapi sebaliknya bagi mereka yang diselamatkan memandang
pemberitaan Injil adalah kekuatan Allah. Karena itu Paulus tidak mau memberitakan
Injil dengan hikmat perkataan manusia karena tidak akan menambah kekuatan Injil.
Paulus dalam nas ini menyatakan untuk tidak membandingkan hikmat Allah dengan
hikmat manusia, bahkan kebodohan Allah lebih hebat daripada semua kepandaian
manusia. Kelemahan Allah jauh melebihi kekuatan manusia. Kuasa Ilahi hanya
dinyatakan dalam kelemahan manusia.
Jika hikmat Allah diberikan kepada orang yang dianggap lemah oleh filsafat dunia,
maka para pemimpin yang merasa diri pandai, kuat dan hebat belum tentu dipakai
oleh Allah. Mengapa? Karena arogansi dan superiotas seorang pemimpin bisa
menghalangi kuasa Allah. Memang kelemahan diri bukan untuk ditonjolkan tetapi
suatu wujud ketidakmampuan manusia dalam menjalani tugas dan tanggung
jawab diri. Ini juga merupakan sebuah bentuk kerendahan hati seseorang dalam
mengerjakan tugas  yang diembannya. Oleh sebab itu akuilah kelemahan kita
di hadapan Tuhan yang akan melengkapi kita. Tidak perlu menjadi malu jika kita
mengakui kelemahan dalam memimpin. Kuasa Tuhan akan menyertai  kita dalam
memimpin diri sendiri, keluarga dan pekerjaan yang Tuhan percayakan.(RZA)
Refleksi :
Nikmati kuasa Allah dalam setiap  kelemahan kita.

Nikmati kuasa Allah dalam setiap  kelemahan kita.

MELAKUKAN APA YANG BENAR

Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup sama seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri.
 (2 Raja-raja 22:2)

Ibu Tien adalah seorang janda yang memiliki dua anak. Mantan suaminya adalah
seorang penjudi  yang tidak pernah bertanggung jawab kepada keluarganya.
Melihat perilaku ayah ini, anak-anaknya mengambil komitmen untuk tidak
mengikuti gaya hidup ayahnya. Hal ini mendorong anak-anaknya untuk memiliki
kualitas hidup yang lebih baik. Perilaku buruk orang tua tidak selalu diwariskan atau
diikuti anak-anaknya. Keputusan anak-anak Ibu Tien adalah suatu langkah baik untuk
masa depan mereka.
Dalam nas hari ini, kita dapat belajar dari seorang muda bernama Yosia. Usia delapan
tahun sudah mulai memerintah dan yang menarik dari hidupnya ia melakukan apa
yang benar di mata TUHAN. Sungguh sebuah hal yang patut dibanggakan dan ditiru
karena di tengah-tengah bangsanya yang berbuat jahat, bahkan ayah dan kakeknya
sendiri jahat, Yosia tidak ikut-ikut berbuat dosa. Dijelaskan pula ia tidak menyimpang
ke kanan atau ke kiri. Ia seorang yang taat dalam melakukan perintah Tuhan. Dalam
ayat selanjutnya dikisahkan bahwa ia bukan hanya mengusahakan pembaruan
ibadah tetapi juga melakukan pentahiran bangsanya dengan cara memperbaiki
rumah Tuhan yang sudah terbengkalai sekian lama.  Sebuah tindakan yang patut
diteladani dan dilakukan oleh siapapun pada zaman sekarang.
Melakukan apa yang benar tidak dibatasi oleh usia maupun status. Siapapun bisa
melakukan apa yang benar. Ciri orang ini adalah keberanian untuk bertindak dan tidak
dipengaruhi situasi maupun kondisi di sekitarnya. Jika setiap pribadi bersikap seperti
Yosia bisa dipastikan akan berdampak positif bagi lingkungannya. Tidak terkecuali
jika sikap ini menjadi budaya di kampus tercinta Universitas Kristen Maranatha maka
pembangunan manusia seutuhnya bisa terwujud dan hasilnya akan dinikmati setiap
pribadi maupun lembaga.(RZA)
Refleksi:
Milikilah keberanian dalam menegakkan kebenaran di setiap aspek hidup ini.