GURU, DIGUGU DAN DITIRU

Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak
menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan
jala juga.”  Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar
ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
(Lukas 5:5-6)
S
ebuah istilah yang terkenal yaitu ‘Guru’ merupakan singkatan dari diGUgu dan
ditiRU.  Digugu berarti dilakukan segala perintah dan petuahnya.  Ditiru berarti
diteladani setiap tingkah lakunya.   Kata guru ini dikatakan oleh Simon, seorang
nelayan yang berpengalaman namun kali ini usahanya menjala ikan tidak berhasil.
Semalaman Simon dan teman-temannya berusaha keras menjala ikan.  Mereka
mencoba sepanjang malam tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Tidak ada satu
tangkapan ikan di jala mereka.  Hal seperti ini mungkin terjadi pada kita. Sepertinya
kita telah berusaha keras namun tidak ada satupun ikan yang tertangkap oleh jala. 
Kita mencoba usaha A, mencoba usaha B, mungkin sudah berkali-kali kita mencoba,
namun tidak ada hasilnya. Mungkin kita mengalami putus asa ataupun  rasa lelah. 
Inilah yang dialami oleh Simon dan teman-temannya.
Ada hal yang menarik, yang dapat kita pelajari dari perkataan Simon. “Guru, telah
sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi
karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”  Simon meng-gugu
dan meniru apa yang dikatakan gurunya walau terlihat mustahil menjala ikan di
siang hari.  Hasilnya jala mereka terisi penuh ikan.
Jangan putus harapan,  Tuhan Yesus mengerti apa yang dialami oleh mereka.  Dia
mengetahui apa diharapkan oleh mereka. Dia dapat melihat kesedihan di mata
mereka ketika jala mereka kosong.  Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat
yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Seperti itulah yang
dikatakan Tuhan Yesus kepada kita.  Jangan putus harapan, masih ada Yesus di
sisi kita.  Dia mengerti benar setiap persoalan hidup kita.  Yang penting bagi kita
menjadikan Dia Guru kita, Juruslamat kita, dan Tuhan kita. (TMZ)
Refleksi :
Ingatlah Tuhan Yesus adalah Guru Agung.  PengajaranNya membawa kehidupan
dan harapan.  Belajarlah kepadaNya!

4 KUNCI UNTUK PEMIMPIN : “NANTIKAN” (BAG. 4)

Pada waktu itulah TUHAN membesarkan nama Yosua di mata seluruh orang Israel, sehingga mereka takut kepadanya, seperti mereka takut kepada Musa seumur hidupnya.  Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua, demikian: “Perintahkanlah para imam pengangkat tabut hukum Allah itu supaya naik dari sungai Yordan.” Maka Yosua memerintahkan kepada para imam itu, demikian: “Keluarlah dari sungai Yordan.”
(Yosua 4:15-17). 

Serba Instan:  Mie instan, susu instan, kopi instan. Semuanya serba cepat dan
instan. Kita tahu bahwa menunggu atau menanti itu sangat tidak nyaman. 
Namun tahukah bahwa cara kerja Tuhan itu sering kali tidak instan, kadang
memerlukan proses yang panjang.  Kita melihat Tuhan membesarkan nama Yosua
di mata seluruh orang Israel. Bahkan mereka takut, segan, dan menghormati Yosua
sama seperti kepada Musa.  Bukan seumur jagung saja, namun seumur hidup Yosua,
mereka menghormati kepemimpinannya.  Tuhan yang mengatur semuanya itu.  Cara
kerja Tuhan tidaklah instan namun pertolongan Tuhan selalu tepat pada waktunya.
Dia tidak pernah terlambat!  Kunci keempat adalah  Nantikan Kuasa Allah  yang
bekerja dalam setiap sendi kehidupan kita.
Yosua  selalu mendengar firman Tuhan dan melakukan apa yang difirmankanNya. 
Yosua bergaul akrab dengan Tuhan. Setiap persoalan yang dihadapinya dibawa
kepada Tuhan.  Tujuan hidupnya adalah memuliakan Tuhan bukan dirinya walau dia
diangkat menjadi seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan.  Dia mengandalkan
Tuhan, bergantung padaNya, dan menjadikan Tuhan sebagai pemimpin dalam
hidupnya.  Yosua tidak mencari kehormatan sesaat, tidak mencari ketenaran semu,
tidak mencari posisi di mata manusia, namun yang Yosua nantikan adalah kuasa
Tuhan yang bekerja dalam setiap sendi kehidupannya.  Menantikan Kuasa Tuhan
berarti sabar walau prosesnya instan ataupun panjang, tidak menjadi persoalan.
Diperlukan ketaatan langkah demi langkah; diperlukan ketekunan, ketekunan yang
membuat tahan uji, dan pengharapan. Inilah gaya kepemimpinan Yosua : I.M.A.N
(Intim, Muliakan, Andalkan, Nantikan).  Ingin berhasil, ikuti gayanya. (TMZ)
Refleksi :
Biarlah kita senang menantikan Tuhan dan berharap hanya kepada-Nya. Jikalau kita
bermegah, bermegahlah akan Tuhan dalam hidup kita, dan bukan keberhasilan yang
kita peroleh. Bermegahlah sebab kita mempunyai Tuhan Yesus dalam hidup kita

4 KUNCI UNTUK PEMIMPIN : “ANDALKAN” (BAG. 3)

Lalu Yosua memanggil kedua belas orang yang ditetapkannya dari orang Israel
itu, seorang dari tiap-tiap suku, dan Yosua berkata kepada mereka: “Menyeberanglah
di depan tabut TUHAN, Allahmu, ke tengah-tengah sungai Yordan, dan angkatlah
masing-masing sebuah batu ke atas bahumu,
menurut bilangan suku orang Israel, supaya ini menjadi tanda
di tengah-tengah kamu. Jika anak-anakmu bertanya di
kemudian hari: Apakah artinya batu-batu ini
bagi kamu?
(Yosua 4:4-6)
Bila kita mengalami masalah tentang mobil, biasanya kita mencari bengkel
atau montir yang membantu mengecek bahkan memperbaikinya.  Karena itu
bidang keahliannya.  Bila kita mengalami masalah kesehatan, kita pasti datang
ke dokter atau petugas kesehatan.  Dalam banyak hal kita bisa mencari orang yang
dapat diandalkan untuk membantu masalah kita.  Bahkan di era informasi ini,
seringkali yang kita andalkan pertama kali adalah “Google”, sebuah mesin pencari
yang membantu mencarikan informasi dan solusi.  Apakah semua dapat dijawab oleh
‘Google’ atau oleh orang yang ahli/berpengalaman di suatu bidang?  Kita melihat
kepemimpinan Yosua ketika dia dan bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan.  Apa
yang dia lakukan?  Kunci ketiga adalah Andalkan Allah.
Gaya kepemimpinan Yosua sangat unik.  Dia dikatakan sebagai kepala pasukan
dan pangkatnya naik menjadi ‘panglima’ yang meneruskan kepemimpinan Musa. 
Pengalaman berperang dapat diandalkan. Memiliki posisi, jabatan tertinggi, dan
pasukan yang luar biasa.  Yosua sebagai seorang pemimpin, memiliki prinsip yang
baik, yaitu mengandalkan Allah.  Mengandalkan Allah bukan berarti ‘cengeng’
atau tidak punya prinsip atau tidak tegas.  Mengandalkan Allah berarti membawa
serta-Nya dan menaruh harapannya pada-Nya dalam menghadapi hidup ini yang
dipenuhi tantangan dan rintangan yang siap menghancurkan kehidupan kita.  Ketika
kita mengandalkan kekuatan sendiri berarti kita menyingkirkan tahta Tuhan dalam
kehidupan kita.  Orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri seperti dalam
kitab Yeremia, dikatakan terkutuk, tidak  diberkati, dan tidak mengalami keadaan
baik (Yeremia 17:5). Sebaliknya orang yang mengandalkan Tuhan diberkati dan
menghasilkan buah (Yer 17:7). (TMZ)
Refleksi :
Andalkan Tuhan dalam kehidupan kita.  Taruhlah harapan kita padaNya dan jangan
berharap pada yang lain seperti kepintaran, pengalaman, kekayaan, dan kedudukan. 
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan.

4 KUNCI UNTUK PEMIMPIN : “MULIAKAN” (BAG. 2)

Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu: sesungguhnya, tabut perjanjian Tuhan semesta bumi berjalan menyeberang di depan kamu, masuk ke sungai Yordan. (Yosua 3:10)

Lou Holtz mengatakan “Bukan beban yang akan menjatuhkan Anda, melainkan bagaimana cara Anda membawa beban itu.”  Beban yang berat belum tentu menjatuhkan, bila cara membawanya benar.  Namun beban yang ringan dapat menjatuhkan bila cara membawanya salah.  Misalnya kita membawa 1 gelas air, pasti sangat ringan.  Namun bila kita memegang gelas dengan tangan yang lurus, selama 5 menit, tentulah air itu menjadi sangat berat.  Begitu pula beban dalam kehidupan kita dapat menjatuhkan bila penanganannya tidak tepat.

Yosua sadar bahwa bahaya akan mengancam bangsanya.  Namun dia tidak menganggap enteng maupun terlalu berat.  Dia tahu penanganan yang tepat.  Dia tahu bahwa Allah hidup ditengah-tengah umatNya.  Allah dapat mengatasi beban yang berat sekalipun.  Yosua memuliakan Allah yang menyertainya.  Yosua menyerahkan pimpinan kepada Allah.  Yosua yakin Allah akan maju di depan bangsanya.  Kunci ke-2 adalah Muliakan Allah dalam kehidupan kita.

Inilah gaya kepemimpinan Yosua.  Ketika dia melihat persoalan dalam hidupnya, mata imannya terfokus kepada Allah.  Mata imannya melihat Allah yang lebih besar daripada segala persoalan yang dihadapinya. Gaya kehidupannya selalu melihat Allah dan memuliakan-Nya.  Gaya kepemimpinan seperti ini yang disukai Allah, yaitu memuliakan Allah lebih dari pada yang lain.  Sebagai hasil memuliakan-Nya, Allah membesarkan nama Yosua.

Hal ini berlaku juga dalam kehidupan kita sekarang.  Seberapa besar persoalan kita, bila kita menanganinya bersama Allah dan memuliakan-Nya dalam kehidupan kita, maka Allah yang akan menghalau segala halangan dan rintangan. (TMZ)
Refleksi :
Muliakan Tuhan dalam kehidupan kita.  Biarlah itu menjadi tujuan hidup dan gaya dalam kepemimpinan kita.

4 KUNCI UNTUK PEMIMPIN : “INTIM” (BAG. 1)

Lalu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu.”  Lagi kata Yosua: “Dari hal inilah akan kamu ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kamu dan bahwa sungguh-sungguh akan dihalau-Nya orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus itu dari depan kamu: sesungguhnya, tabut perjanjian Tuhan semesta bumi berjalan menyeberang di depan kamu, masuk ke sungai Yordan. (Yosua 3:9-11)

Yosua nama aslinya Hosea bin Nun adalah seorang pemimpin yang melanjutkan kepemimpinan Musa (Bil 13:16). Dia adalah salah seorang dari duabelas pengintai yang disuruh Musa untuk mengintai negeri Kanaan.  Saat memimpin bangsa Israel untuk memasuki Kanaan bukan perkara mudah karena faktanya disana ada orang Kanaan, orang Het, orang Hewi, orang Feris, orang Girgasi, orang Amori dan orang Yebus.  Selain itu halangan pertama yang terbesar adalah bagaimana mereka harus menyeberangi sungai Yordan yang begitu lebar, dalam dan arus yang menghanyutkan.

Seorang pemimpin yang bijaksana, seperti Yosua berani menghadapi tantangan yang menghadang di depan mata (kalau dikalkulasi sepertinya tidak mungkin dihadapi).  Ada 4 kunci yang bisa kita pelajari bersama.  Kunci yang pertama yaitu Intim dengan Allah.  Kata ini tercermin dari ucapannya “Datanglah dekat dan dengarkanlah firman TUHAN, Allahmu”.   Kata Intim, berarti bergaul akrab; karib; erat; mesra; seperti
hubungan suami-istri.  Yosua memiliki hubungan yang intim/dekat/akrab dengan Tuhan.  Mendekat dan mendengar firman Tuhan merupakan cara yang terbaik untuk mengenal kehendak Tuhan, mengetahui rencana Tuhan dan cara jitu untuk menghadapi tantangan yang menghadang.  Yosua mengenal Tuhan yang sanggup membawa bangsa Israel ini masuk ke negeri yang telah dijanjikan Tuhan.  Firman Tuhan, identik dengan Allah sendiri merupakan pegangan dalam hidupnya. 

Hal ini berlaku juga dalam kehidupan kita sekarang.  Setiap hari kita diperhadapkan berbagai persoalan yang membutuhkan penanganan yang bijak.  Bina keintiman, kedekatan, keakraban bersama Tuhan melalui firmanNya, tentu Allah akan menghalau segala halangan dan rintangan.(TMZ)
Refleksi :
Kita adalah pemimpin, minimal memimpin diri sendiri atau keluarga.  Sudahkah kita memberikan teladan yang baik seperti Yosua?

TANGGUNG JAWAB

“ sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meinggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu ”(Yohanes 10:12)

Kembali saya mengadopsi langsung ilustrasi yang diberikan Tuhan Yesus tentang pemimpin yang bertanggung jawab, yaitu perumpamaan tentang gembala dan domba-domba.  Walaupun jabatannya  ”gembala”, sang orang upahan sesungguhnya bukan gembala.  Tuhan Yesus menekankan satu fakta indah, bahwa sang gembala yang baik adalah juga pemilik domba-dombanya.  Jadi, rasa memiliki merupakan hal yang krusial.

Seorang pemimpin, baik secara  de jure maupun  de facto, dari aspek panggilan maupun yang transaksional (jual beli), seyogyanya memiliki tanggung jawab atas semua orang atau struktur yang berada di bawah wewenangnya. Meskipun demikian, seorang pemimpin sejati, tidak bergantung surat tugas, biasanya merasa terpanggil untuk memenuhi peran dan tugasnya, tidak bergantung pada penugasan atasan duniawi.  Dia pun mempunyai rasa memiliki, rasa persaudaraan yang cukup
tinggi, yang membuatnya memiliki dorongan internal untuk berpikir, berkata, dan bertindak untuk kebaikan orang-orang di sekitarnya.  Sebaliknya, pemimpin bayaran akan mengukur dan menimbang, berapa besar yang diberikan dan berapa besar yang diterima.  Hal ini tidak berarti pemimpin sejati akan mengorbankan apa saja secara total dan membabi buta.  Sekarang, kita tentu sudah paham perbedaan di antara kedua kelompok pemimpin ini. Selain kemungkinan untuk melarikan diri ketika
ada bahaya mendatangi wilayah wewenang atau mengancam dirinya, pemimpin bayaran juga bisa saja menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi, merugikan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Kita semua adalah pemimpin, ada pemimpin yang ditunjuk secara resmi, bertugas secara resmi tetapi ada juga yang terpanggil melakukan tugas kepemimpinan. Entah sebagai pemimpin organisasi maupun terpanggil sebagai pemimpin, hendaknya kita memiliki tanggung jawab dan rasa memiliki.  Dengan demikian, kita bertindak sebagai pemimpin yang prima. (PO)
Refleksi :
Apakah kita adalah pemimpin yang baik dan mempunyai rasa memiliki?

JADILAH TELADAN

“ Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.  Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu ”(I Timotius 4:12)

Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah iklan rokok di TV, dengan setting di dalam bis, dimana pemandu wisata menjelaskan objek-objek di luar bus.  Di akhir iklan, pesannya ”belum tua belum boleh bicara”.  Hal yang terjadi adalah setiap sang pemandu wisata muda berbicara, seluruh penumpang bus spontan tertidur, tapi begitu sang pemandu tua yang bicara, semua mendengarkan.  Solusinya, yang beraksi bicara adalah sang pemandu wisata tua yang berdiri sambil menggerakkan bibir saja, sedangkan suaranya dari sang pemandu wisata muda yang duduk.

Mungkin, lingkungan kita tanpa sadar masih menganggap senioritas usia atau tingginya jabatan sebagai penentu keteladanan, padahal seringkali yang lebih tua, yang lebih tinggi jabatannya menghadapi tantangan yang lebih berat sehingga terkadang mereka gagal menjadi teladan yang baik.  Anak-anak muda yang masih naif, masih idealis, masih belum menerima banyak tantangan mungkin dapat  menjadi cermin bagi yang lain. Bukankah Tuhan Yesus pernah mengangkat anak-anak kecil karena kepolosan mereka menerima Kerajaan Allah, dibandingkan orang-orang dewasa yang sulit menerima berita keselamatan.  Jadi, kita yang masih muda hendaknya menjadi teladan bagi siapapun, baik bagi yang lebih muda untuk diteladani, bagi yang lebih tua untuk bercermin.

Civitas academica Universitas Kristen Maranatha memiliki jangkauan usia dan  rentang jabatan yang lebar. Semuanya dipanggil untuk menjadi teladan, tanpa kecuali.  Kita tidak bisa membuat pembenaran untuk tidak berbuat benar, atau untuk tidak menjadi teladan.  Ingatlah, Tuan kita semua sama, yaitu Tuhan.  Kalau kita semua menerima panggilan pribadi ini dan mau merespon, maka kepemimpinan diri dan kepemimpinan organisasi yang prima pasti bisa tercapai. (PO)
Refleksi :
Tidak peduli usia dan jabatan/posisi kita masing-masing, sudahkah kita menjadi teladan bagi sekitar kita?

”DEDIKASI VS TRANSAKSI”

“…Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik  domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari…”(Yohanes 10:11-12)

Ilustrasi yang disajikan adalah ilustrasi gembala yang baik vs gembala bayaran, seperti yang dipakai Yesus dalam Yohanes 10:1-21.  Gembala yang baik menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya, sedangkan gembala bayaran lari meninggalkan domba-dombanya ketika bahaya datang.  Apa yang sesungguhnya terjadi?

Kepemimpinan terjadi ketika ada seseorang yang memiliki kualitas tertentu bertindak, memberikan pengaruh dalam suatu komunitas yang berada dalam lingkaran pengaruhnya, khususnya kualitas yang baik.  Ketika seseorang memiliki tanggung jawab yang lebih baik, dia akan lebih dipercaya, lebih disayangi sehingga diberi wewenang yang lebih tinggi, otomatis pengaruhnya juga kian membesar. Masalahnya terletak pada kualitas tanggung jawab, apakah pemimpin tersebut menganggap tugasnya adalah penggilan pribadi, mendasar dalam jiwanya, ataukah
sekedar kewajiban yang terjadi ketika ada semacam perjanjian/kontrak yang tertulis maupun yang tidak.  Ketika jiwa yang muncul adalah dari dalam diri, maka lahirlah dedikasi, bukan sekedar transaksi.  Agar muncul dari dalam diri, jiwa kepemimpinan yang baik tidaklah harus kuat bawaan lahir, melainkan bisa dari hidup yang telah diperbaharui.

Kepemimpinan berawal dari dalam diri, hanya pengaruhnyalah yang meluas ke luar, maka semua insan adalah pemimpin seyogyanya.  Bagi umat  Tuhan, ada dua kelahiran yang memungkinkan mereka menjadi pemimpin yang baik, seperti teladan Tuhan Yesus, yaitu kualitas duniawi dan kualitas rohani melalui kelahiran baru yang harus terus dikerjakan, tidak bisa pasif saja.  Tuhan menempatkan kita di Universitas Kristen Maranatha, maka setiap kita mengemban misi kepemimpinan, baik dalam
lingkup yang lebih sempit maupun lebih luas. (PO)
Refleksi :
Pemimpin seperti apakah kita?  Sudahkah kita mengikuti teladan kepemimpinan Tuhan Yesus?

”DENGAN LEMAH LEMBUT ATAU GAGAL”

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut…, ”(Galatia 6:1)

Pada suatu ketika, Mahatma Gandhi yang sudah lama mendengar tentang kekristenan dan mengagumi pribadi Yesus datang mengunjungi sebuah gereja untuk pertama kalinya.  Beliau bukannya diterima, malahan diusir.  Beliau kecewa dan tidak menyangka, realitas kekristenan sungguh bertolak belakang dengan keindahan kabar baik yang dipromosikan itu.  Itulah kisah Mahatma Gandhi, tokoh dunia yang mengagumi Yesus Kristus, namun gagal menerima jalan keselamatan satu-satunya.  Ironis bukan?

Sadar tidak sadar, sikap kita dalam memandang sesama masih dipengaruhi cara hidup kita yang lama, seperti orang-orang di jaman Tuhan Yesus yang berkata ”Dia berbicara dengan orang berdosa”, atau ”Tidak tahukah Dia, bahwa wanita itu orang berdosa”.  Cara kita memperlakukan sesama pun mungkin menjadi penghalang bagi dunia untuk menerima Tuhan Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.  Hal ini disadari oleh Paulus, sehingga firman Tuhan ini perlu dituliskan, bahwa hendaklah
kita yang lebih mengetahui yang benar, menegur sesama kita yang berdosa, terutama orang yang lebih tua, dengan lemah lembut.  Tentu hal ini harus disesuaikan dengan konteks, pribadi orang yang bersangkutan, pribadi orang yang ditegur, dsb.  Lagipula, lemah lembut tidak berarti dengan suara pelan dan kontekstualisasi yang membutuhkan waktu lama.  Perikop ini mengajarkan perlunya pendekatan yang tepat, itu intinya.  Jadi, terkadang bukan pesannya yang ditolak dunia, melainkan cara kita yang kurang tepat, atau kurang patut.

Di manapun kita berada, tidak seseorangpun yang paling benar, namun mungkin ada yang lebih tahu, ada yang lebih jelas melihat, dsb. Seyogyanya kita saling memberi nasihat, saling memperhatikan agar visi dan misi Universitas Kristen Maranatha dapat tercapai.  Tentulah, kita membutuhkan keberanian dan hikmat bagaimana menegur, juga berbesar hati menerima teguran. (PO)
Refleksi :
Sudahkah kita menegur orang-orang terdekat kita dengan lemah lembut, demi tercapainya keprimaan?

”NOW OR NEVER”

“…Karena itu tegorlah mereka dengan tegas supaya mereka menjadi sehat dalam iman, ” (Titus 1:13)

Kegagalan Imam Eli dalam mendidik kedua anaknya membuahkan hukuman Allah atas mereka bertiga (I Samuel 3:12-14).  Seorang pemimpin agama seperti Imam Eli, atau pemimpin apapun, di manapun, mengemban tugas mendidik.  Di dalam misi ini, menegur adalah suatu tindakan sekaligus suatu keterampilan yang mutlak dibutuhkan.  Rasa takut, rasa segan, rasa malas, dan rasa putus asa untuk menegur menjadi penghalang internal untuk menjalankan misi.  Kegagalan sudah
menanti di depan.

Ada banyak ayat Firman Tuhan yang menyatakan pentingnya teguran, menegur, menerima teguran.  Terlambat memberi teguran atau menolak teguran dapat melahirkan masalah serius.  Siapapun kita, kita perlu menegur, berlapang dada menerima teguran.  Alkitab mengajarkan bagaimana menegur orang yang lebih muda, bagaimana menegur yang lebih tua, kapan menegur.  Alkitab juga mengajarkan, bahwa orang yang menolak teguran berarti membuang diri.  Jangan terlambat memberikan teguran, karena Amsal 22:6 menyatakan salah satu kebenaran tentang hal ini, bahwa teguran tidak hanya menyelamatkan masa depan seseorang, tetapi juga masa depan orang-orang dalam pengaruh orang tersebut.  Ya, seorang pemimpin memiliki pengikut, semakin besar jumlah pengikut dan semakin besar wewenang yang dipercayakan, tentu semakin besar pula dampak yang dihasilkan, baik dampak positif maupun negatif.

Teguran menyatakan kasih dan kepedulian kita kepada sesama, kepada institusi, dalam hal ini Universitas Kristen Maranatha.  Marilah kita memberanikan diri menegur, belajar menegur dengan cara yang tepat, konten dan konteks yang tepat.  Menegur merupakan salah satu bentuk seni berkomunikasi, dan menerima teguran merupakan salah satu indikator kematangan seseorang. (PO)
Refleksi :
Sudahkah kita menegur orang-orang terdekat kita dengan baik dan benar, demi tercapainya keprimaan?