MEMENUHI KUALIFIKASI

 

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”

(Filipi 3:8)

 

Mata penulis tertuju pada pojok kolom sebuah surat kabar yang dibaca beberapa hari lalu. Kolom lowongan kerja menjadi pilihan tepat bagi mereka yang sedang mencari peluang kerja. Dalam kolom lowongan kerja ada banyak kualifikasi yang dicari oleh perusahaan – perusahaan. Tak jarang, mereka juga mencantumkan sejumlah kualifikasi yang dibutuhkan. Minimal lulusan S1 dengan IPK yang diingnkan, mampu berbahasa inggris, memiliki pengalaman di bidangnya minimal 2 tahun, mampu mengoperasikan komputer, mampu bekerja dalam team, bahkan mampu bekerja dengan sistem target. Kita mungkin memenuhi semua kualifikasi tersebut  dan bermodalkan hal itu, kita berpikir bahwa pasti kita akan memiliki karir yang bagus dalam pekerjaan kita.

Renungan hari ini mengajak kita belajar dari pribadi  Paulus. Rasul Paulus memiliki kualifikasi yang luar biasa dan patut dibanggakan pada zamannya. Dalam Filipi 3: 5-6; ia menunjukkan segudang kualifikasi dirinya “aku disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Bahkan Paulus adalah jobolan terbaik di bawah bimbingan Gamaliel. Kelebihan dan kualifikasi Paulus ternyata bukanlah jaminan kebahagiaan Paulus. Ia menganggap semua kemegahannya adalah sampah setelah ia mengenal Kristus. Baginya, mengenal Kristus lebih mulia dari semua kualifikasi yang dimilikinya.

Demikian juga dengan kehidupan kita. Berbagai kualifikasi dan prestasi yang luar biasa bisa kita miliki dan kita bangga terhadapnya. Namun hal terpenting yang harus kita ingat adalah bahwa prestasi sekolah yang hebat dan prestasi kerja yang hebat di masa lalu, bukanlah jaminan untuk mendapatkan segala yang kita inginkan di masa depan. Masa depan penuh dengan misteri dan hal-hal yang tak terduga. Sehebat apapun masa lalu kita, tak ada satupun orang yang bisa memprediksi masa depannya. Keberhasilan yang kita inginkan di masa depan tergantung pada motivasi dan penyerahan diri kita kepad Tuhan.(YG)

 

Refleksi :

Semua yang kita miliki semata-mata karena anugerah Tuhan bukan karena kehebatan kita.

WORK WITH HEART

“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus”

(Efesus 6:5)

 Rasul Paulus menasehati jemaat di Efesus agar mereka bekerja dengan tulus hati, sama seperti ketaatan kepada Kristus. Dikatakan bahwa kita adalah hamba-hamba Kristus, jadi otomatis kerja kita bukan hanya kepada manusia yang kelihatan. Perbedaan yang nyata akan  terlihat ketika kita bekerja untuk di puji manusia atau bekerja untuk Kristus. Perbedaan itu nampak pada waktu yang digunakan, hasil yang didapat, manfaat yang dinikmati serta suasana hati teman sekerja.

Sebagai orang percaya seharusnya kita berfokus pada tugas dan tanggung jawab agar memberikan hasil maksimal, sebab tugas atau pekerjaan yang kita lakukan bukan hanya untuk atasan kita semata tapi kepada Kristus Yesus, oleh karena itu bekerjalah dengan hati. Hasil kerja yang dilakukan dengan hati, sangat berbeda dengan pekerja yang bekerja tanpa hati. Kita akan cepat lelah, stamina menurun, kreatifitas merosot dan energi terkuras, bila kita berpikir bahwa bekerja adalah urusan memeras otak, banting tulang, dan memeras keringat.

Bekerja dengan hati tidak menuntut pujian, tapi bagaimana memberi yang terbaik bagi tuan kita sama seperti kepada Kristus. Tidak ada kata tidak untuk setiap kerja dan mengeluh karena fasilitas pendukung yang minim, sebab tugas yang sedang kita kerjakan itu bukan untuk menyenangkan hati orang, tapi Tuhan.  Janganlah melihat jenis dan bobot pekerjaan kita, tapi lihatlah semua pekerjaan ringan, sederhana, berat dan sulit, kita kerjakan dengan semangat dan sepenuh hati, karena kita bekerja untuk Kristus.

Bagaimanakah dengan kita, apa dan siapa yang menjadi fokus pekerjaan kita? Di mana hati kita ketika bekerja? Masihkah kita mengorbankan orang lain untuk meraih keuntungan pribadi? Masihkan kita mengorbankan kebenaran demi popularitas? Masihkan kita bekerja seadanya dan sembarangan tanpa tanggung jawab? (YG)

 

 

Refleksi :

Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

REKAM JEJAK

“Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.

(Daniel 6:4)

 

Sebelum ditetapkan sebagai Presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU),  Joko Widodo atau akrab dengan sebutuan Jokowi sudah sering muncul di banyak media seperti BBC, New York Times, bahkan majalah terkemuka di Amerika Serikat, Fortune pernah memasukkan nama Jokowi sebagai salah satu dari 50 pemimpin terhebat dunia. Jokowi bersanding dengan tokoh besar dunia lainnya, seperti mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan pemimpin oposisi  Myanmar Aung San Suu Kyi. Selain itu, masih ada sederet penghargaan lainnya yang diterima oleh Jokowi.

Seorang pemimpin yang unggul tidak dibentuk dalam semalam. Ada banyak proses yang harus dilalui. Kebanyakan individu memfokuskan perhatiannya pada hasilnya daripada prosesnya sehingga mereka tidak segan-segan untuk mengambil jalan pintas hanya agar menikmati yang diinginkan.

Daniel mengawali perjalanan karirnya pada zaman pemerintahan raja Nebukadnezar sebagai orang biasa. Ketika ia berhasil mengartikan mimpi Nebukadnezar; ia diangkat menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan kepala semua orang bijaksana di Babel (Daniel 2:48). Tahapan demi tahapan dilewati Daniel dan karirnya tidak berhenti sampai disitu. Daniel masih dipercaya pada pemerintahan raja Belsyazar, Darius, dan Koresy. Daniel tidak membangun semua kesuksesannya dalam semalam. Ia melewati tahun-tahun pembentukkan dan proses yang lama.

Seberapa kecil kedudukan yang dipercayakan kepada kita saat ini janganlah memupuskan semangat kita untuk terus berkarya bagi Tuhan. Pertahankan kinerja kerja bahkan tingkatkan! Tetap setia dengan tanggung jawab yang diberikan karena Allah menghargai kerja keras kita; pelan tapi pasti IA akan membawa kita ke posisi puncak. (YG)

 

 

Refleksi :

Work hard and become a leader; be lazy and  become a slave.

 

TETAP SETIA

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar
(Lukas 16:10a)

 

Film Hachi – A Dog’s Tale adalah sebuah film drama Amerika 2009 yang disadur ulang dari film Jepang produksi 1987.  Seekor anjing setia Hachiko adalah sebuah kisah nyata yang terjadi pada 1924 di Jepang. Hachiko, anjing ras Akita, oleh tuannya Ueno Hidesa-buro dibawa pindah ke Tokyo. Ueno adalah profesor jurusan ilmu pertanian di Universitas Tokyo. Setiap pagi Hachiko selalu berada di depan pintu rumah mengantar keberangkatan Ueno ke kantor, dan senja harinya ia berlari ke Stasiun KA Shibuya menyambut kedatangan tuannya dari kantor. Pada suatu malam, Ueno tahu-tahu tidak pulang seperti biasanya, ia mendadak terserang stroke di universitas dan tidak tertolong lagi. Sejak itu ia tak pernah kembali ke stasiun kereta api di mana temannya si Hachiko tetap setia menunggu.

Salah satu karakter yang tidak mudah ditemukan dalam diri manusia adalah kesetiaannya.  Jarang sekali orang mau setia ketika apa yang diharapkan tidak seperti kenyataan.  Begitu juga dalam pengiringan kita kepada Tuhan, seringkali kita tidak setia.  Hati kita mudah berubah.  Tidak sedikit yang awal mulanya begitu setia melayani Tuhan, namun seiring berjalannya waktu, kesetiaan itu mulai luntur.  Terbentur masalah, kita tidak lagi setia melayani Tuhan.  Sepertinya kesetiaan kita keapda Tuhan tergantung ‘mood’.  Ketika hati lagi galau kita tidak lagi bersemangat;  di kala hati lagi senang kita menggebu-gebu untuk Tuhan. 

Kesetiaan ada korelasinya dengan tanggung jawab kita kepada siapa kita harus setia. Kesetiaan kita kepada Tuhan dibuktikan oleh jalan-jalan hidup kita di hadapan Tuhan. Kalau kita setia kepada Tuhan kita akan dipercaya oleh Tuhan walaupun harus diawali dari perkara-perkara kecil terlebih dahulu.  Tuhan akan menilai seberapa setia kita mengerjakan tugas dan tanggung jawab yang ada.  “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”  (Lukas 16:10a).  Dan kalau kita setia dalam perkara kecil, Tuhan “…akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.”  (Matius 25:23a).  Kesetiaan juga tidak dapat dipisahkan dari ketekunan dan kesabaran.  Tanpa kesetiaan mustahil bagi kita untuk meraih janji-janji Tuhan!(YG)

 

Refleksi :

Kerjakanlah bagian kita dengan setia dan lihatlah Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya dengan sempurna.

RESPON YANG BENAR

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, manun tidak putus asa
(2 Korintus 4:8)

 

Seorang pemuda tampak riang. Ia bernyanyi sambil berjalan pulang ke rumahnya. Saat itu telah senja tiba, sementara badannya tampak lusuh dan penat. Hal ini menarik perhatian para tetangga. Melihat suasana riang pemuda itu, seorang tetangga bertanya, “Ada apa? Kau tampak lelah, tetapi gembira?” Pemuda itu menjawab dengan enteng, “Kambing saya hilang. Ya, kambing saya yang paling gemuk tidak pulang.” Tetangga itu bertanya lagi, “Sudah kaucari?” Pemuda itu menjawab, “Tidak kutemukan, sampai capek aku mencari!” Merasa heran dengan situasi yang ada, tetangga itu bertanya lagi, “Tetapi, kenapa kau bernyanyi-nyanyi gembira?” Pemuda itu menjawab, “Ya, sebenarnya saya tidak begitu yakin, kambing itu sungguh hilang. Saya berharap, saya masih bisa menemukannya di semak-semak pinggir sawah itu.”                Kisah ini menunjukkan bahwa pemuda tersebut  tetap bersukacita meskipun kambing kesayangannya hilang. Ia sudah mencari dengan sekuat tenaga, tetapi hasilnya tetap nihil. Pilihan satu-satunya baginya adalah tetap bergembira. Bahkan ia bernyanyi sebagai ungkapan kegembiraannya itu. Ia tidak mau membebani diri dengan kesedihan yang mendalam.

Pendapat umum yang berkembang di tengah-tengah masyarakat mengatakan bahwa setiap proses dalam hidup ini akan mendewasakan hidup kita. Menurut  Penulis, hal itu sepenuhnya tidak benar. Hanya orang-orang yang memiliki respon yang tepat dalam setiap proses kehidupanlah, yang akan bertumbuh dewasa. Kita harus memiliki repon yang tepat dalam segala keadaan agar memperoleh hasil yang tepat.  Respon yang benar sangat penting  dalam menyikapi dan menghadapi tantangan apapun yang sedang terjadi dalam  kehidupan kita. Tekanan ekonomi, keluarga, sakit-penyakit, pekerjaan, mental-karakter, tuntutan hidup, usaha, masa depan bahkan hal-hal yang tak terduga. Terkadang Tuhan membawa kita dalam situasi yang sulit, justru untuk menunjukkan kemuliaan-Nya, kemampuan-Nya, kuasa-Nya bahkan mujizat-Nya serta berkat-Nya yang tak terduga, Tuhan menuntun dalam situasi dan kondisi yang tak terduga, tidak dikendaki, tidak diinginkan, supaya Dia dapat menyatakan kuasa-Nya. Pertanyaannya “apakah kita tetap memiliki respon yang benar ketika masalah dan pergumulan menghampiri kehidupan kita ?” (YG)

Refleksi :

Bukan situasi yang menentukan sikap kita tetapi sikap kitalah yang menentukan situasi !

SETIA SELALU

Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.” (Lukas 12:43)

 

Injil Lukas mencatat pengajaran-pengajaran Yesus dengan cukup rinci dan agak berbeda dengan kitab-kitab Injil yang lain. Injil Lukas pasal 12 mencatat beberapa pengajaran khusus yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya. Salah satu pengajaran yang penting adalah mengenai kesetiaan. Melalui perumpamaan tentang hamba yang menanti-nantikan kepulangan tuannya dari perkawinan. Hamba yang setia adalah hamaba yang bersiap sedia menantikan kedatangan tuannya. Kapan pun tuannya pulang, hamba tersebut telah siap untuk membukakan pintu bagi tuannya. Bukan hanya membukakan pintu, tetapi hamba tersebut juga siap untuk melayani tuannya dengan menyediakan makan. Yesus menyebut hamba-hamba yang demikian itu sebagai hamba-hamba yang berbahagia. Melalui perspektif tuannya, hamba-hamba yang demikian adalah hamba-hamba yang dapat dipercaya. Hamba yang demikian tentu saja akan mendapat kepercayaan yang lebih besar lagi dari tuannya. Itu sebabnya ketika Petrus meminta supaya Tuhan Yesus memperjelas pengertian dari perumpamaan tersebut, Yesus mengungkapkan mengenai pentingnya karakter setia bagi seorang hamba yang akan diberikan kepercayaan untuk mengurus rumah dan menjadi pengawas atas segala milik dari tuan tersebut. Kebahagiaan seorang hamba adalah ketika dia mendapat kepercayaan lebih dari tuannya. Apabila tuannya tidak mempercayai seorang hamba, maka tinggal menunggu waktu saja, hamba tersebut akan dijual kepada orang lain dan tidak lagi berguna bagi sang tuan. Hamba yang demikian adalah hamba yang tidak melakukan tugasnya dengan baik dan didapati sedang melakukan hal lain ketika tuannya kembali.

Bila kita kaitkan dengan diri kita sendiri, perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus juga menjadi peringatan bagi kita untuk waspada. Secara jelas, perumpamaan ini mengungkapkan bahwa sebagai hamba Yesus Kristus, yang mendapat kepercayaan untuk mengurus “rumahNya” kita harus waspada dan senantiasa berjaga-jaga. Sebab kita tidak tahu kapan Dia akan datang kembali. Satu hal yang pasti adalah bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali, sebagaimana difirmankanNya. (ROR)

 

Refleksi:

Kapanpun Tuhan Yesus datang kembali, mari lah kita tetap setia menanti-natikan kedatanganNya dengan tetap melakukan tugas dan panggilan kita dengan setia.

SETIA: KRITERIA (MEMILIH) PEMIMPIN

“Dan aku akan mengangkat bagiKu seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hatiKu dan jiwaKu, dan Aku akan membangun baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi.” (1 Samuel 2:35)

 

Salah satu kriteria yang sering digunakan dalam memilih pemimpin adalah sifat SETIA. Selain kecakapan atau keterampilan, seorang pemimpin haruslah dapat dipercaya, yang berarti telah menunjukkan kesetiaan dalam melakukan berbagai tugas. Dalam bahasa Inggris digunakan kata faithful untuk kata setia. Kisah tentang anak-anak dari Imam Eli di Kitab 1 Samuel 2 diperbandingkan dengan kisah nabi Samuel (yang ketika itu masih muda belia). Dikisahkan bahwa anak-anak Imam Eli. Sebagai imam pengganti ayahnya, mereka telah melakukan hal-hal yang tidak pantas, bahkan dikategorikan sebagai tindakan kejahatan yang menghina kekudusan Allah. Mereka memandang rendah korban yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan, dengan memakan bagian terbaik dari daging korban persembahan. Mereka bahkan membiarkan tindakan kekerasan kepada orang-orang yang memberikan persembahan. Kejahatan lain yang mereka lakukan adalah melakukan dosa seksual dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan. Akibatnya Tuhan mencabut segala perjanjianNya dengan Imam Eli, dengan menyerahkan tugas-tugas keimaman kepada orang lain.

Sementara itu Samuel yang muda semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN mapun di hadapan manusia. Ibu Samuel telah mempersembahkan Samuel kepada Tuhan sejak kecil untuk menjadi pelayan Tuhan.. Karena kesetiaanya, dan karena ketidaksetiaan anak-anak dari Imam Eli, maka tugas-tugas keimaman dipercayakan kepada Samuel. Kelak Samuel akan menjadi seorang imam kepercayaan Allah yang mendapat tugas-tugas yang sangat signifikan dalam perjalanan hidup bangsa pilihan TUHAN. Samuel diplih menjadi pemimpin bagi bangsa Israel karena kesetiaannya dan karena kesetiaan orang tuanya kepada Allah. Setia berarti menghormati Allah dan kekudusanNya. Setia berarti tidak mengikuti keinginan sendiri dan melupakan tanggung-jawab utamanya. Setia berarti mengutamakan kepercayaan kepada Allah dan bukan kepada diri sendiri. Setia juga berarti menunjukkan kesediaan untuk berubah dan memperbaiki diri dari kesalahan, mengakui kelemahan, dan mau mengembangkan diri demi ketaatan kepada perintah Allah. (ROR)

 

Refleksi : Apakah kita sudah menyatakan kesetiaan kepada Allah?

UPAH KETAATAN

“Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti Tuhan, Allahku dengan sepenuh hati.” (Yosua 14:9)

Apa yang biasanya kita lakukan pada waktu kita berulang tahun? Tentu saja kita akan merayakannya dengan penuh kebahagiaan. Di suatu gereja lokal di Indonesia, berkembang suatu kebiasaan untuk mengadakan peringatan khusus bagi para anggota gereja senior yang telah mencapai usia 75 tahun. Keluarga dari anggota senior tersebut biasanya memberikan persembahan khusus kepada gereja sebagai ungkapan syukur. Pihak gereja pun akan memberikan apresiasi dan perhatian khusus pada ibadah Minggu untuk menghormati dan merayakan ulang tahun dari anggota senior tersebut.

Pada waktu Kaleb bin Yefune tepat berusia 85 tahun, dia mengunjungi sahabat dan teman seperjuangannya Yosua di Gilgal. Yosua adalah pemimpin yang dipercayakan Tuhan untuk memimpin bangsa Israel untuk memasuki tanah perjanjian Kanaan. Empat puluh lima tahun telah berlalu sejak Musa mengutus Yosua dan Kaleb untuk mengintai tanah Kanaan. Seperti di dalam film Mission Impossible, Yosua dan Kaleb, bersama rekan-rekan pengintai lainnya, melaksanakan tugas dengan baik dan kembali dengan laporan yang berbeda. Yosua dan Kaleb yang percaya akan kesetiaan Tuhan, memberikan laporan yang membesarkan hati, sementara pengintai-pengintai lain memberikan laporan yang melemahkan semangat bangsa Israel untuk merebut tanah perjanjian yang dijanjikan  Allah kepada mereka. Hal menarik yang dilakukan oleh Kaleb adalah bahwa pada ulang tahunnya yang ke 85 tahun, ia masih terus mengingat perjanjian yang diberikan Tuhan melalui hambaNya Musa. Kaleb sangat percaya sifat Allah yang penuh setia. Dia juga mengakui pemeliharaan Tuhan dalam kehidupannya selama empat puluh lima tahun terakhir (Yos. 14:10)

Sama seperti Kaleb bin Yefune, kita mungkin pernah mengikat perjanjian dengan Tuhan, baik secara langsung mapun melalui hamba Tuhan. Paling tidak kita pernah mengungkapkan pengakuan iman kita kepada Tuhan sebagai janji setia kepadaNya yang sudah menyelamatkan kita dan telah memanggil kita kepada suatu kehidupan yang lebih baik bahkan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Sesudah sekian lama, apakah kita masih mengingat dengan jelas perjanjian itu? Apakah kita masih terus menghidupi panggilan Tuhan tersebut sebagai bukti kesetiaan kita kepada Tuhan? Tuhan tidak pernah melupakan janjiNya. Seringkali kita lah yang lupa akan perjanjian yang pernah kita buat dengan Allah.(ROR)

Refleksi: Gunakanlah kesempatan perayaan ulang tahun untuk mengingat kembali kesetiaan Allah dalam kehidupan Anda.

JANJI SETIA

“Sebab itu lakukanlah perkataan perjanjian ini dengan setia, supaya kamu beruntung dalam segala hal yang kamu lakukan.”

(Ulangan 29:9)

 

Pada suatu ketika, Musa mengumpulkan seluruh orang Israel ketika mereka berada di tanah Moab. Musa ingin mengingatkan bangsa Israel mengenai perjanjian mereka dengan TUHAN. Musa ingin mengikat perjanjian yang baru antara bangsa Israel dengan TUHAN, seperti yang telah dilakukan sebelumnya di gunung Horeb. Musa ingin mengingatkan bangsa Israel untuk mengingat kesetiaan TUHAN akan janjiNya kepada bangsa itu. Bahwa Tuhan telah setia menepati perjanjian antara Dia dan bangsa pilihanNya tersebut. Musa juga mengingatkan mengenai status mereka sebagai umat Allah dan TUHAN sebagai Allah yang harus disembah. Selain itu, Musa juga memperingatkan bangsa Israel supaya mereka tidak berpaling kepada dewa kejijikan, berhala yang disembah oleh bangsa-bangsa lain. 

Sebagaimana yang dilakukan oleh Musa, kita juga perlu memperbaharui perjanjian antara kita dengan Allah. Kita perlu mengingat akan janji-janji Allah kepada kita, sebagai orang-orang yang telah dipilihNya untuk diselamatkan. Sebagai pemimpin di dalam organisasi, kita perlu berhenti sejenak untuk mengajak seluruh anggota keluarga besar Universitas Kristen Maranatha untuk mengingat bagaimana TUHAN telah mengadakan mujizat-mujizat yang besar dan menunjukkan kesetiaanNya. Yang lebih penting lagi adalah supaya kita tidak berpaling dari Allah dan menyembah dewa kejijikan atau berhala yang disembah oleh “bangsa-bangsa” lain. Tuhan telah menunjukkan kesetiaanNya kepada kita sebagai umatNya. Oleh karena itu, patutlah kita juga menyatakan kesetiaan kita kepada Tuhan dengan senantiasa menyembah Dia.  Seorang pemimpin Kristen adalah perantara antara pengikutnya dan TUHAN. Seorang pemimpin mendapatkan mandat dari TUHAN untuk memimpin umatNya. Apa yang dilakukan oleh Musa merupakan teladan yang baik dari seorang pemimpin yang menyadari pentingnya memperbarui perjanjian antara orang percaya dengan TUHAN, sehingga mereka hidup dalam kesetiaan kepada Tuhan saja. Dengan demikian mereka juga diingatkan untuk tidak berpaling dari Allah ketika mereka mencapai keberhasilan. Beberapa perguruan tinggi yang dahulu didirikan dengan kesadaran akan perjanjian dengan TUHAN dan mencantumkan nilai-nilai hidup Kristiani dalam visi, misi, dan slogan perguruan tinggi, berubah menjadi perguruan tinggi sekuler. Walaupun ada juga perguruan tinggi yang bertahan hingga ratusan tahun dengan mengutamakan kesetiaan kepada TUHAN.(ROR)

 

Refleksi:  Apakah kita akan tetap memelihara janji setia kepada TUHAN.

KETAATAN (HANYA) KEPADA TUHAN

“Tuhan, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya, suaraNya harus kamu dengarkan, kepadaNya harus kamu berbakti dan berpaut.”(Ulangan 13:4)

 

Pada waktu-waktu belakangan ini semakin banyak ajaran-ajaran yang menyesatkan orang-orang percaya. Dari ajaran yang memperkenalkan seorang nabi yang baru dan yang terakhir, sampai kepada ajaran yang memperkenalkan adanya tuhan yang lain selain TUHAN, Pencipta langit dan bumi. Fenomena ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena sejak zaman dahulu peringatan terhadap penyembahan berhala dan ibadah yang sesat telah ada tertulis di Kitab Suci.

Kitab Ulangan pasal 12: 29 sampai dengan pasal 13:1-18  mencatat mengenai peringatan akan munculnya seorang nabi atau seorang pemimpi yang memberitahukan tanda atau mujizat. Nabi ini akan mengajak orang percaya untuk mengikuti allah lain yang tidak dikenal dan berbakti kepadanya. Ajakan untuk menyembah berhala dan mengikuti ajaran sesat bisa berasal dari berbagai pihak, bukan hanya dari seorang nabi dan pembuat mujizat. Pengajaran sesat bisa saja berasal dari teman dekat atau sahabat kita, bahkan  saudara kandung atau isteri kita sendiri. Oleh karena hubungan yang dekat secara emosional, seringkali kita sungkan untuk menolak ajaran yang disampaikan. Atau bahkan kita tidak menyadari bahwa ajaran yang diajarkan oleh mereka  adalah ajaran yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan. Kita lebih percaya kepada mereka  daripada menguji kebenaran Firman Tuhan tersebut. Kadangkala kita lebih mempercayai mereka  dan kurang peka terhadap peringatan Roh Kudus. Akibatnya kita terjerumus kepada pengajaran yang membawa kita semakin jauh dari Tuhan. Pengalaman ini yang juga dialami oleh saudara Musa, yaitu Miriam dan Harun ketika mereka mengikuti keinginan orang Israel untuk membuat patung emas untuk disembah.

Berapa banyak pemimpin yang terjatuh ke dalam perbuatan dosa dan melakukan tindakan-tindakan menyimpang karena dorongan  dari orang-orang terdekat. Firman Tuhan di Ulangan 13 dengan tegas mengajarkan sikap kita terhadap segala macam ajakan untuk menyembah berhala dan ibadah yang sesat adalah dengan menjaga sikap takut akan Allah, berpegang pada perintahNya, mendengarkan suaraNya (bukan suara nabi palsu atau pemimpi tersebut. (ROR)

 

Refleksi: Ketika ada tawaran-tawaran untuk lebih mempercayai sesuatu atau seseorang untuk disembah atau diikuti selain TUHAN Allah, marilah kita mengutamakan takut akan Allah dan percaya kepada perintah-Nya.