MEMANDANG PADA YESUS

“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”  (Ibrani 12:2)

 

John Stephen Akhwari, pelari dari Tanzania  mengikuti perlombaan lari marathon pada olimpiade di Mexico tahun 1968. Dia menjadi pelari terakhir yang berhasil menyentuh garis finis. Dia menyelesaikan larinya dengan keadaan kakinya yang terluka. Dia cedera karena ternyata saat tengah perlombaan dia terjatuh sehingga betis dan lututnya terluka. Akan tetapi, dia melanjutkannya dengan keadaan lutut dan betis kanan yang dibalut. Sepanjang 5000 mil dia menyelesaikannya. Setelah usai, Akhwari ditanya oleh wartawan mengapa ia terus berlari. Akhwari menjawab sederhana, “Negaraku tidak mengirim aku sejauh 5000 mil ke Mexico City untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim aku untuk menyelesaikannya.” Seorang pelari hebat yang tetap fokus untuk mencapai finish.

Memandang pada Yesus adalah hal penting dan utama dalam perjuangan seorang beriman. Jika kita memandang pada Yesus akan mengalami sebuah transformasi hidup yang luar biasa. Memandang pada Yesus membawa iman kita pada kesempurnaan karena pribadi Yesus yang sempurna. Seluruh riwayat hidup-Nya, pengajaran-Nya, dan keteladanan¬Nya, biarlah menjadi inspirasi yang mempengaruhi kita. Iman kita menjadi kuat dan setia untuk selalu memandang Yesus dalam menjalani panggilan kita masing-masing, karena memandang Yesus tidak akan membuat kita kecewa, putus asa dan marah.

Untuk menghidupi kebenaran firman Tuhan dalam hidup setiap pribadi diperlukan sebuah keberanian dalam perjuangan hidupnya. Sebagai warga kampus yang memiliki nilai hidup kristiani (NHK) menjadi sebuah tantangan pribadi, apakah kita masih menjalani nilai hidup kristiani tersebut atau mulai ragu dan malas untuk menjalani nilai hidup kristiani karena memandang sekitar yang mulai tidak memedulikan NHK dan melanggarnya. Fokuslah pada Yesus Kristus dan  berusaha untuk melakukan kehendak Tuhan supaya hidup berkenan kepada-Nya. (RZA)

 

Refleksi :

Pandang kepda Yesus yang menjadi fokus hidup kita.

FOKUS PADA TUHAN

 

“Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud Menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya”. (1 Samuel 30:6)

 

Charles R. Swindoll dalam bukunya, “Kehidupan di Tepi Tebing yang rapuh”, menceritakan perjalanan hidup saat bergumul tentang  bagaimana kebakaran menghancurkan kantor tepat usahanya. Charles mengalami kegagalan, keputusasaan dan kekuatiran tetapi dengan penuh keyakinan dia berusaha, berjuang dengan menyerahkan seluruh pekerjaannya tanpa sedikitpun ada keraguan kepada Allah. Charles dapat melewati masa krisisnya dan tetap percaya sepenuhnya kepada Tuhan.

Raja Daud dan pasukannya kembali dari pertempuran ke tanah Neged dan Ziklag. Mereka sedih dan menangis karena kota ini telah dikalahkan dan dibakar habis oleh orang Amalek bahkan para perempuan, semua orang baik usia tua dan muda termasuk istri Daud menjadi tawanan orang Amalek yang terus melakukan perjalanan. Rakyat mulai marah dan hendak melempari Daud karena anak-anak mereka menjadi tawanan. Atas petunjuk Tuhan Daud dan pasukannya melakukan pengejaran orang Amalek. Pada keesokan harinya Daud mengalahkan mereka dari pagi-pagi buta Sampai matahari terbenam, tidak ada seorangpun yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. Tidak ada yang hilang pada mereka. Sebuah bukti kesuksesan Daud yang menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan Allahnya. Daud adalah seorang yang bergantung penuh kepada Tuhan, pengalaman hidupnya sebagai seorang gembala yang tidak perlu takut jika Tuhan menyertai hidupnya. Daud mengandalkan Tuhan yang memiliki kuasa atas segala hal. Dia tidak membiarkan dirinya untuk tertekan dan mengalami keputusasaan.

Dalam menghadapi berbagai masalah terkadang membuat kita sedih,  terpuruk sampai putus asa, tetapi yakinlah bahwa Tuhan menyertai dan tidak pernah meninggalkan kita. Belajar seperti Daud yang tidak mengalami keputusaaan tetapi menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan. Sikap mengandalkan Tuhan dalam hidup ini adalah hal penting dan menjadi fokus utama dalam kehidupan kita. (RZA)

 

Refleksi: Fokuslah kepada Tuhan, bukan kepada masalah.

 

KALEB YANG SETIA

“Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.” (Yosua 14:14)

 

Setia berarti teguh pada pendirian atau prinsip. Untuk menjadi setia bukanlah sesuatu yang mudah diperlukan perjuangan yang cukup panjang dan banyak. Banyak orang ingin membuktikan kesetiaannya dengan berbagai cara dan usaha, adalah hal yang baik jika kita dapat membuktikan sebuah kesetiaan dalam hidup ini.

 

Dalam nas hari ini dikisahkan seorang yang setia bernama Kaleb bin Yefune, ia adalah salah satu pengintai yang diutus Musa untuk melihat situasi dan kondisi bangsa Kanaan. Kaleb sebagai pemimpin suku Yehuda (Bil 13:6) yang diizinkan Tuhan masuk ke tanah perjanjian Kanaan. Ketika Sepuluh pengintai memberikan laporan bahwa orang-orang yang ada di sana berbadan besar seperti raksasa dan tidak mungkin mengalahkan mereka. Bil 13:30 menjelaskan bahwa Kaleb  dan Yosua menentramkan hati bangsa Israel bahwa kita akan maju dan mengalahkan bangsa yang kita hadapi. Sikap yang berbeda dengan teman-temannya yang memberikan laporan negatif tentang keadaan orang-orang di Kanaan. Kaleb dan Yosua sebagai pengintai yang percaya bahwa Jika Tuhan berkenan kepada bangsa Israel  maka Ia akan membawa masuk ke negeri itu. Kaleb setia mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meskipun sudah berlalu empat puluh lima tahun dan saat ia berusia delapan puluh lima tahun mendapat milik pusaka Hebron yang menjadi bagiannya. 

 

Sebagai warga kampus yang mengenal Tuhan tentunya diperlukan sikap seperti Kaleb yang memiliki cara pandang positif dan keyakinan akan janji pertolongan Tuhan dalam menghadapi setiap tantangan. Kita seharusnya memiliki kesetiaan dalam menjalankan misi dan visi Allah untuk memajukan generasi penerus bangsa meskipun banyak tantangan yang kita hadapi. Oleh karena itu sebagai orang yang percaya kepada Tuhan sepatutnya kita berupaya menunjukkan kesetiaan dalam hidup. Belajar seperti Kaleb yang bertambah usianya tetapi memiliki semangat dalam menjalankan perintah Tuhan. (RZA)

 

Refleksi :

Setia  adalah harga mati untuk menjalankan perintah Allah.

HATI NURANI MURNI

Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: “Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.” (Kisah para rasul 23:1)

 

Ketika saya berada di ruang dosen, seorang cleaning service datang dan memberikan sebuah laptop yang tertinggal di ruang kelas kepada petugas di ruangan. Tindakan cleaning service tersebut direspon oleh petugas ruangan dengan mengatakan, orang ini akan mendapat bonus karena telah jujur dalam pekerjaannya. Ketika melihat kejadian tersebut saya berpikir, hal yang terpenting bukan imbalan yang diberikan tetapi yang perlu diapresiasi adalah sikap kejujuran yang dimiliki karena ia dapat saja bertindak sebaliknya yakni tidak mengembalikan laptop tetapi menjualnya.

 

Dalam nas hari ini Rasul Paulus dengan berani mengatakan hidup dengan hati nurani yang murni. Keberaniannya membuat seorang Imam menampar mulut Paulus. Paulus melihat bahwa dirinya tidak akan diadili dengan benar oleh Mahkamah Agama. Paulus dengan cerdik berseru bahwa ia adalah orang Farisi yang mengharapkan akan kebangkitan orang mati. Ketika Paulus berkata demikian sebagian anggota mahkamah orang farisi percaya akan kebangkitan orang mati dan sebagian orang saduki tidak percaya maka terjadiah keributan dan perpecahan pendapat di mahkamah agama. Akhirnya kepala pasukan mengamankan Paulus. Tuhan melindungi Paulus melalui kepala Pasukan dan Tuhan memberi kekuatan dengan mendatangi Paulus. Kuatkanlah hatimu, sebab engkau berani bersaksi bukan hanya di Yerusalem tetapi juga di Roma.

 

Sebuah tantangan bagi siapapun ketika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang hanya menguntungkan dirinya sendiri dan tidak peduli apakah yang dilakukannya membuat orang lain menjadi rugi. Petugas cleaning servis adalah contoh yang memiliki hati nurani, meskipun dalam hidupnya mengalami kesulitan dalam hal ekonomi tidak menjadikan alasan bagi dirinya untuk mengambil dan menjual laptop tersebut. Terkadang kita melakukan hal-hal yang kita anggap sepele dengan membohong hati nurani kita, misalnya tidak melakukan tugas yang seharusnya. Marilah kita memotivasi diri untuk memiliki hati nurani yang murni karena ini diperlukan untuk menguji dan mengingatkan kepada kita apa yang baik dan benar dihadapan Allah. (RZA)

 

Refleksi : Peka terhadap kehendak dan rencana Allah menjadikan kita pribadi yang matang dihadapan-Nya.

HAMBA YANG SETIA

“Semua hal ihwalku akan diberitahukan kepada kamu oleh Tilhikus, saudara kita yang kekasih, hamba yang setia dan kawan pelayan dalam Tuhan.” (Kolose 4:7)

 

Pak Rahmat adalah seorang tukang koran, bagi sebagian orang mungkin jasanya  tidak begitu berarti bagi pelanggan. Para pelanggan tidak tahu bagaimana perjuangan Pak Rahmat melalui hari-harinya untuk membuat para pelanggannya bisa menikmati menu paginya yaitu membaca berita-berita yang tertera didalam koran. Setelah sholat Subuh, Pak Rahmat menggayuh sepeda ontelnya mengambil koran dari distributor untuk kemudian diantarkan satu persatu ke pelanggannya. Pak Rahmat menjalani aktifitasnya dengan keiklasan dan kesetiaan,  baginya yang dilakukan adalah bukan hanya pekerjaan tetapi sebagian dari ibadah.

 

Dalam ayat di atas Tikhikus adalah seorang  pelayan Tuhan yang mendukung pelayanan Paulus, dia juga disebut hamba yang setia. Paulus menyuruh Tikhikus untuk memberitahu keadaan dirinya dan menghibur umat Tuhan, Ia bersama rekannya Onesimus datang untuk menceritakan segala sesuatu yang terjadi. Tikhikus adalah orang yang terpercaya dalam membantu pelayanan seperti membawa surat Paulus kepada jemaat di Efesus (6:21).  Paulus sangat mempercayai orang ini, tidak memandang rendah dengan tugasnya yang biasa tetapi sebagai rekan sekerja. Akhirnya Paulus mengirim Tikhikus yang telah mendorong hidup Onesimus untuk berubah lebih baik dan memberi kabar apa yang terjadi dengan kehidupan dan pelayanan Paulus.

 

Hal yang menarik tidak ada tugas atau pekerjaan yang rendah jika itu dilakukan dengan baik dan setia terutama dilakukan untuk Tuhan. Pentingnya memberikan penghargaan kepada rekan sekerja adalah hal yang positif terutama dalam unit yang sama maupun berbeda. Mari kita menunjukkan kasih dan kesetiaan kita kepada orang-orang yang kita layani. Biarlah Tuhan Yesus menjadi panutan dalam kesetiaan dalam pengabdian.(RZA)

 

 

Refleksi :

Kesetiaan teruji pada tindakan.

KETAATAN SEJATI HARUS BERLANDASKAN KASIH

“Jikalau kamu mengasihi Aku, Kamu akan menuruti segala perintahku.” (Yohanes 14:15)

 

Dalam buku harian Charles Spurgeon pernah berkata hari ini aku telah melakukan semua tugas jabatanku, tetapi apakah aku telah berhati-hati untuk tinggal dalam kasih Tuhanku? Aku tidak gagal berkenaan dengan melakukan semua yang memungkinkan bagiku, dari pagi sampai larut malam aku telah mengerjakan sebanyak mungkin pekerjaan dalam setiap jam dan berusaha melakukannya dengan segenap hatiku. Tetapi akhirnya, apakah aku telah melakukan ini untuk Tuhan dan demi Dia? Aku gemetar atau takut kalau aku melayani Allah karena kebetulan aku pendeta atau aku melakukannya sebagai kerutinan belaka. Sebuah pernyataan jujur bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa kasih memotivasi dan menuntut ketaatan setiap pengikut Kristus. Kasih yang sungguh-sungguh selalu mewujudkan dirinya sendiri dalam bentuk yang sungguh-sungguh dan praktis. Itu tidak hanya dimulai dan diakhiri dengan perasaan semata. Ketaatan karena kasih bukan paksaan atau hukuman. Ketaatan adalah buah dari kasih karena kasih tanpa ketaatan adalah kepura-puraan, ketaatan tanpa kasih hanyalah pekerjaan yang memberatkan, membosankan dan memperbudak. Selain itu ayat ini juga mengingatkan apakah kita mengasihi tetapi tidak taat atau kita menaati tetapi tidak mengasihi.

 

Setiap warga kampus yang menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Kristen Maranatha tentunya memiliki loyalitas dan kecintaan terhadap Universitas kita. Hal ini yang menjadi motivasi bagi kita dalam mengembangkan dan memajukan kampus semakin lebih baik. Sudahkah kita memiliki komitmen yang memotivasi diri sehingga kita dapat mendedikasikan diri bagi pekerjaan Tuhan di Universitas Kristen Maranatha? Mari kita wujudkan ketaatan sejati dengan ketaatan yang didasari oleh kasih.(RZA)

 

 

Refleksi:

Kasih memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang berarti.

PELAYAN KRISTUS YANG SETIA

“Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, n kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.” (Kolose 1:7)

 

Mbok iyem adalah inang pengasuh yang sudah berusia 65 tahun, tahun-tahun hidupnya dia habiskan untuk mengabdi pada keluarga Pak Karto. Dari usia 18 tahun beliau sudah bekerja sebagai seorang pengasuh, dengan penuh kasih Mbok Iyem menghabiskan masa tuanya bersama keluarga Pak Karto. Keluarga Pak Karto tidak memandang Mbok Iyem sebagai inang pengasuh yang mendapat upah tetapi keluarga Pak Karto mengasihi sebagai seorang saudara yang ikut ambil bagian dalam mendidik putra dan putrinya. Pengabdian yang tulus dari seorang pengasuh yang dirasakan menjadi berkat bagi sang tuannya.

Nas hari ini Paulus mengambarkan Eprafas sebagai kawan pelayan yang terkasih. Pada saat surat ini ditulis Eprafas menyertai Paulus dalam penjara dan mengunjungi Paulus untuk meminta nasihat karena jemaat Kolose terancam dengan berbagai ajaran filsafat yang kosong, ajaran turun temurun dan roh-roh dunia (2:6). Selain itu hukuman mengenai makanan, minuman atau hari raya , bulan baru ataupun hari sabat (2:16). Eprafas seorang yang peka akan kebutuhan rohani jemaat. Paulus menyatakan Eprafas sebagai pelayan Kristus yang setia karena ia sungguh-sungguh bekerja keras dalam mengajarkan firman dan banyak orang yang dilayani mengalami pertobatan. Eprafas seorang yang  setia dalam melayani jemaat dan menghibur Paulus. Ia pribadi yang bertanggung  jawab kepada Tuhan, bukan hanya memimpin jemaat Kolose tetapi membangun iman jemaat.

 

Ketulusan dan kesetiaan dalam melaksanakan tanggung jawab sangat diperlukan. Ketika tanggung jawab dilakukan dengan setia dan tulus hati maka hal itu akan menjadi berkat dan berdampak bagi orang-orang di sekitar kita. Mari kita tunjukkan menjadi pribadi yang setia dalam tugas dan tanggung jawab. Allah berkenan kepada pribadi yang setia dan bertanggung jawab.(RZA)

 

Refleksi : Setia dalam menjalankan tugas adalah bagian dari tanggung jawab.

JANGAN TAKUT

“Janganlah gentar dan janganlah takut, sebab memang dari dahulu telah Kukabarkan dan Kuberitahukan hal itu kepadamu. Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!” (Yesaya 44:8)

 

Seorang pasien tidak jadi keluar dari ruang praktek dokter. Ia kembali menghadap dokter, selagi dokter  itu bersiap untuk pergi, “Dokter, aku takut mati. Ceritakan apa yang ada di sebelah sana.” Dengan lembut, dokter itu berkata, “Saya tidak tahu. Anda tidak tahu? Anda seorang beragama tidak tahu apa yang ada di sebelah sana?” Pada saat itu dokter itu sedang memegang gagang pintu ruangan dalam. Disebelah sana terdengar suara garukan dan keluhan, begitu pintu itu dibukanya, seekor anjing menerobos masuk dan lompat kearahnya dengan antusias dan senang sekali. Menoleh ke arah sang pasien, dokter itu berkata, “Anda lihat anjing saya? Ia belum pernah masuk ruangan ini sebelumnya dan ia tidak tahu ada apa didalamnya. Ia tidak tahu apa-apa, kecuali bahwa  tuannya ada di dalam, dan ketika pintu dibuka, ia langsung masuk tanpa takut. Saya hanya tahu sedikit tentang ada apa setelah kematian, tetapi saya tahu benar tentang satu hal: saya tahu Tuhan saya ada disana dan itu sudah cukup.”

Firman Tuhan dalam Yesaya 44: 1-8 mengingatkan bangsa Israel umat pilihan Tuhan untuk tidak takut menghadapi apa pun yang terjadi di masa depan. Bangsa Israel juga diingatkan bahwa selama ini Tuhan telah menolong mereka, bahkan Tuhan menjanjikan berkat ke anak cucu bangsa Israel. Bagaimana bangsa Israel mengatasi rasa takut?  Apakah cukup dengan percaya bahwa mereka tidak akan dihukum, atau karena pengalaman bahwa Allah telah menyertai mereka selama ini ?

Mengapa orang dapat mengatasi rasa takutnya. Pertama karena mereka yakin mereka akan sanggup menghadapi keadaan apa pun. Kedua, karena mereka tahu Tuhan menyertai mereka dalam mengatasi segala persoalan. Tapi, itu tidak cukup. Ketika persoalan tidak teratasi dan tampaknya Tuhan tidak melakukan apa-apa untuk dirinya, lunturlah kepercayaannya kepada Tuhan. Tingkat kepercayaan yang tidak pernah luntur adalah apabila kita mengenal jati diri sebagai  umat ciptaan Allah, dan kita mengenal Allah sebagai Pencipta. Jika  kita mengenal Allah maka tidaklah mungkin kita meninggalkan jalan yang Tuhan tunjukkan. (IH)

 

Refleksi : Seberapa jauh anda mengenal Allah, sedemikian anda merasakan KasihNya. Ini nyata dari kesetiaan anda untuk taat kepada-Nya.

MANUSIA BARU

  “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;” (Kolose 3:10)

Suatu hari Konfusius bertemu dengan keponakannya yang menjadi pejabat negeri. Ia bertanya kepada keponakannya: “Setelah sekian lama menjadi pejabat, apa yang kamu dapat?” Keponakannya berkata: Saya tidak tahu apa yang saya dapat, tapi yang dapat saya pastikan adalah saya kehilangan tiga hal. Pertama, ada banyak hal yang saya kerjakan sehingga saya tidak sempat belajar apa pun. Kedua, gaji saya tidak terlalu besar, sehingga tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk keluarga hingga hubungan keluarga jadi renggang. Dan yang ketiga, pekerjaan saya banyak, sehingga tidak pernah berhubungan lagi dengan teman-teman dan saya kehilangan kontak dengan mereka.

Pada saat yang lain, Konfusius bertemu dengan muridnya yang sekarang menjadi pejabat negeri. Ia tanyakan hal yang sama tapi jawabannya sungguh berbeda. Jawab muridnya, ia mendapatkan 3 hal. Pertama, ia dapat mempraktekkan apa yang ia pelajari. Kedua, ia mendapat gaji yang cukup untuk keluarganya sehingga hubungan keluarga makin erat dan ketiga walaupun pekerjaannya banyak ia masih sempat bertemu dengan teman-teman dekatnya dan berbagi cerita dengan mereka.

Kota Kolose adalah kota kecil yang terletak di sebelah timur kota Efesus. Paulus melihat bahwa di dalam jemaat ini ada juga guru-guru yang mengajarkan ajaran yang lain. Oleh karena itu Paulus mengajarkan bahwa Yesus Kristus sanggup memberikan keselamatan yang sempurna dan tidak bergantung pada ajaran-ajaran mengenai hal-hal yang lahiriah. Di dalam surat ini juga dijelaskan bagaimana seharusnya sikap hidup orang Kristen sebagai manusia yang baru. Paulus berkata, kita telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar khalik-Nya. Dalam kenyataannya, sikap kita seringkali kita bersungut-sungut untuk status baru kita seperti ilustrasi di atas. Padahal, bukankah status baru sebagai manusia baru itu adalah suatu hal yang patut disyukuri. Ada banyak pekerjaan dan tugas menanti kita. Pilihannya, mengeluhkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung sementara imbalan yang didapat tidak seberapa atau pilihan yang lain, bersyukur bahwa diberi tugas dan tanggungjawab  yang  memberi rasa puas karena  memberi manfaat bagi kampus ini sementara keluarga mendapatkan kecukupan dari penghasilan yang diterima. (IH)

 

Refleksi : Rasa syukur memberi kecukupan