KEKUATAN DARI ALLAH

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia  yang memberi kekuatan  kepadaku.(Filipi 4:13)

 

Berbagai peristiwa datang dan pergi dalam kehidupan kita. Tidak selalu langit terlihat biru. Ada saatnya langit terlihat gelap dan kelam. Demikian juga dalam kehidupan setiap umat manusia. Suka dan duka mewarnai kehidupan kita. Pada waktu mengalami keadaan baik kita biasanya merasa nyaman dan tenang, akan tetapi ketika kesulitan dan persoalan melanda hidup kita maka diperlukan kekuatan untuk menghadapinya

Nats ini merupakan pengakuan dari seorang murid dan rasul Tuhan Yesus terhadap pengalaman hidupnya. Hidup di dalam Tuhan bukanlah hidup yang dipenuhi dengan kesenangan dunia. Bahkan dunia ini membenci mereka yang hidup dalam Tuhan, karena dunia ini telah jatuh kepada penghujatan kepada Tuhan. Oleh karena itu orang yang mau hidup sesuai dengan perintah-perintah Tuhan dikucilkan, dihindari, bahkan dianiaya. Pengakuan Paulus ini bukan suatu keputusasaan, tetapi mengandung harapan, mengandung kekuatan karena memiliki pijakan iman. Pijakan janji setia Allah kepada mereka yang mau bertahan di dalam Dia. Nats hari ini mempunyai pasangan yang tertulis di dalam Injil yang berbunyi ‘di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa’. ‘Without Him we can do nothing; in Him we can do everything’ (= tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa; di dalam Dia kita dapat melakukan segala sesuatu)! Iman meliputi pengabdian pribadi yang sepenuh hati dan ikatan kepada Yesus Kristus yang terungkap dalam kepercayaan, kasih, rasa syukur, dan kesetiaan.

Kita harus menyadari bahwa tanpa Tuhan takkan sanggup mengatasi semua permasalah yang kita alami, tetapi bersama Tuhan Yesus, Dia akan memberikan kekuatan pada Kita. Akan lebih baik kalau orang percaya itu mengalami penderitaan dan cobaan dari pada selalu hidup dalam situasi aman dan tentram. Karena cobaan dan penderitaan baik bagi iman orang percaya, baik untuk membuktikan kesetiaan kita kepada Allah. Justru di dalam kelemahan dan ketidakberdayaan kita, kasih Allah menjadi makin nampak dalam hidup kita. Iman harus dibarengi dengan tekad untuk bertahan dalam setiap cobaan dan penderitaan. Tekad untuk setia, tekad untuk memegang teguh iman percaya, membuat jiwa kita kuat, hati kita memiliki isi, memiliki jangkar yang kuat pada saat angin dan gelombang kehidupan menerpa dan menyapu kapal kehidupan kita. Kekuatan tekad orang percaya bukan berasal dari dalam dirinya sendiri. Kekuatan tekad itu datang dari Tuhan. (RCM)

Refleksi : Berpalinglah dan bersandarlah pada kekuatan Allah, dan jangan menyandarkan diri pada kekuatan dan kemampuan diri sendiri.

BERANI KARENA IMAN

Karena kami mempunyai pengharapan  yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian,  (2 Korintus 3:12)

 

Dalam perjalanan hidup Jenderal Sun Tzu, dikisahkan bahwa strategi perang untuk mencapai kemenangan itu dapat berubah detik demi detik, demi mengimbangi atau mengantisipasi perubahan strategi musuh. Strategi ini berpijak pada dasar pemikiran bahwa cara terbaik untuk menang perang adalah dengan menguasai kemampuan membaca jalan pikiran ahli strategi musuh. Barangsiapa mengetahui jalan pikiran musuh dan mengetahui titik-titik kelemahannya, dipastikan dia dapat memenangkan adu strategi tersebut. Namun setiap strategi pasti mengandung risiko. Strategi perang Sun Tzu menegaskan adanya prinsip mendasar yaitu, “Kemenangan besar hanya dapat dilakukan orang yang berani ambil risiko besar”.

Paulus menjadi orang yang berani menerobos dinding tradisi, batas-batas budaya dan negara untuk memberitakan Injil, walaupun dia harus mengalami banyak penderitaan dan penganiayaan, ancaman kematian dan keprihatinan lainnya. Dia keluar dari negerinya bahkan hingga benua Eropa tepatnya ke negeri Roma, Athena, Turki, dan Spanyol sekarang ini. Paulus dengan berani mengatakan bahwa bukti kemampuan mereka bukan berada di atas helai kertas yang mudah hancur remuk, tetapi warga jemaat yang telah menerima Kristus, bertobat adalah bukti otentik dari pekerjaan Paulus tersebut. Jemaat adalah surat pujian yang paling otentik. Bagi Paulus jauh lebih penting menjadi pemberita Injil Kristus untuk mengungkapkan rahasia kasih Allah di dalam Kristus kepada semua manusia.

Salah satu ciri adanya pekerjaan Roh Kudus di dalam diri seorang percaya adalah munculnya keberanian yang tidak biasa, yaitu keberanian untuk mengikuti kehendak Allah walaupun harus menentang pendapat umum dan harus menanggung risiko. Apakah kita telah meniru para pendahulu kita dalam iman yang telah mempertontonkan iman mereka melalui keberanian dalam menghadapi risiko? Saat kita hendak menjalankan Amanat Agung, apakah kita membiarkan ketakutan memandu langkah kita? Apakah kita berani melakukan terobosan dengan menentang pendapat umum demi mewujudkan ketaatan kita kepada kehendak Allah? Tentu saja adanya keberanian yang dikobarkan oleh dorongan Roh Kudus tidak berarti bahwa kita boleh bertindak bodoh! Tuhan Yesus mengatakan, “hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (RCM)

 

Refleksi : Kasih Allah di dalam Yesus yang begitu besar dan mulia menjadi inti keberanian agar semakin banyak orang mengenal kasih itu.

KUAT BERSAMA ALLAH

Dalam segala hal  kami ditindas, namun tidak terjepit ; kami habis akal,  namun tidak putus asa;(2 Korintus 4:8)

 

Realitas hidup menunjukan kepada kita bahwa ternyata ada begitu banyak persoalan yang harus dihadapi oleh orang percaya atau anak-anak Tuhan, bahkan tidak sedikit yang tetap hidup bertahan dalam penderitaan, baik itu secara ekonomi, sampai kepada sakit penyakit yang diderita. Kalau saat ini ada begitu banyak persoalan, tantangan dan masalah yang harus kita hadapi, maka kita harus tetap bersabar dalam menghadapi semua itu, dan tetap percaya bahwa Allah yang setia tidak akan pernah meninggalkan anak-anakNya.

Paulus membuka pasal ini dengan penjelasan kenapa dia mau menerima pelayanan dari Tuhan, bagaimana dia terima, siapa Tuhan yang dia layani, yang kemudian menjadi satu prinsip bagi seluruh pasal 4. Paulus menghadapi tantangan dan tuduhan yang tidak benar, yang tidak habis-habisnya datang kepadanya. Selain itu Paulus juga mengalami tantangan-tantangan secara eksternal, penderitaan dipenjara, dipukuli, dilempari batu, dan lain-lain. Paulus mengalami bahaya yang terus-menerus mengancam jiwanya dari alam maupun manusia. Paulus mengalami kelaparan, kehausan, kedinginan. Paulus harus menyebutkan beberapa hal yang dia alami di dalam pelayanannya supaya jemaat Korintus mengerti meskipun tidak dengan tujuan menyombongkan diri ataupun meremehkan pengorbanan kerja orang lain. Tantangan dan kesulitan yang datang dari luar dan dalam tidak pernah menghancurkan Paulus. Itu bukan karena dia lebih hebat atau lebih kuat menghadapinya. Paulus mendapat kekuatan untuk menanggung semua itu karena dia membawa seluruh hidupnya kepada satu perspektif siapa Tuhan yang dia layani. Pada waktu dia melayani Tuhan, bukan karena dia dapat, dia mampu, dia lebih pandai, atau dia adalah lulusan sekolah Sanhedrin yang terbaik pada waktu itu. Paulus berkata, “Karena kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini…”

Jika kita mengalami kehadiran dan kuasa Kristus dalam kehidupan kita, maka kesusahan, kesakitan, atau tragedi tidak akan menyebabkan kekalahan rohani kita. Ketika keadaan lahiriah tidak dapat tertahankan dan sumber daya manusia sudah habis, maka sumber dari Allah diberikan untuk membesarkan iman, pengharapan, dan kekuatan kita. Bagaimanapun juga Allah tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya. (RCM)

 

Refleksi : Semakin berat pergumulan dan tantangan yang kita hadapi bersama Tuhan, semakin besar anugerah kekuatan yang Tuhan ber

BERANI BAYAR HARGA

Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya  dan dihina di Filipi,  namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan  yang berat..” (1 Tesalonika 2:2)

 

Polikarpus, seorang anak Tuhan yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Ia ditangkap oleh Pemerintah Romawi, kemudian diancam untuk dibunuh. Kepadanya ditanyakan: “Polikarpus, apakah engkau masih mau ikut Yesus? Kalau engkau tetap ikut Dia, saat ini engkau pasti tidak akan selamat. Tetapi jika engkau menyangkal Dia, engkau pasti akan selamat dari ancaman kematian.” Dengan tegas Polikarpus menjawab, “Pada usia 9 tahun aku telah mengenal kasih-Nya, sekarang aku telah berusia 84 tahun, aku tidak pernah disakiti-Nya, bagaimana mungkin aku menyangkal Dia?” Polikarpus memiliki alasan yang kuat untuk mengikut Yesus dan tidak mau melepaskanNya. Ada pernyataan yang menyebutkan bahwa untuk sesuatu yang berharga, seseorang pasti rela membayar berapa saja atau melakukan apa saja, asalkan hal itu menjadi miliknya.

Dalam memberitakan Injil, Paulus mendapat banyak sekali tantangan dari pihak luar. 1 Tesalonika 2:1-12 Paulus memaparkan pembelaannya terhadap tuduhan-tuduhan dari pihak yang tidak senang dengan pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus. Baik tuduhan bahwa Paulus memberitakan kebohongan maupun mementingkan diri sendiri (mencari keuntungan pribadi). Paulus memberikan teladan dalam melayani Tuhan. Ia tidak mencari keuntungan pribadi dan selalu berusaha memberitakan kebenaran Injil kepada jemaat. Paulus ingin mengungkapkan fakta bahwa sebagai pemberita Injil ia harus menghadapi konsekuensi yang cukup berat yaitu ditangkap, diadili, dipenjara, difitnah. Selain itu, Paulus juga menunjukkan perjuangannya yang begitu berat ketika Paulus memberitakan Injil di Filipi sebelum ia memberitakan Injil di Tesalonika. Meskipun demikian, Paulus dan rekan sepelayanannya tetap melanjutkan pemberitaan Injilnya.

Setiap tugas dan tanggung jawab yang Allah percayakan kepada kita ada konsekuensinya jika dilakukan sesuai dengan kehendakNya. Perikop ini mengajak kita memeriksa diri. Apakah tugas dan tanggung jawab yang kita terima sudah dilaksanakan sebaik mungkin? Apakah sudah dilakukan dengan benar dan dengan motivasi yang murni? Apakah memberikan dampak positif terhadap orang lain atau hanya untuk kepentingan pribadi saja? (RCM)

 

Refleksi : Ada harga yang mahal yang harus dibayar jika ingin hidup berkenan kepada Tuhan.

LEBIH DARI PEMENANG

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi  kita.(Roma 8:37)

 

Hidup sebagai anak-anak Allah bukan hidup dalam kemudahan. Penderitaan dapat menjadi pencobaan bagi seseorang yang tidak kuat imannya, sehingga ada yang meninggalkan Tuhan ketika dalam penderitaan. Bagi orang-orang pilihan Allah, penderitaan tidak mampu menutupi kasih Kristus. Kita dapat yakin teguh bahwa Kristus tetap mengasihi kita, ada tetap di pihak kita meski sekilas situasi tampak tidak menguntungkan. Perhatikan berbagai bentuk dan tingkatan kuasa yang mungkin mengganggu hidup kita. Tak satu pun mampu membuat kita lepas dari kasih Kristus!

Paulus menyatakan bahwa orang yang telah dibenarkan karena iman dapat sungguh hidup. Kemenangan yang amat besar adalah suatu kemenangan atas kuasa-kuasa lama yang menyerang kita, dan juga atas penderitaan jasmani. Jadi bagi orang percaya yang rela menderita dengan Kristus disediakan suatu kemenangan yang melebihi apa yang dibayangkan, karena dia akan menjadi “ahli waris dengan Kristus”. Tidak seorang pun dapat menghargai nilai dari kemenangan sebelum ia mengetahui kuatnya perlawanan dan beratnya pergumulan yang harus dialami. Paulus menunjukkan apa yang telah dilakukan oleh Allah untuk menuntun orang Kristen mencapai kemenangan atas dosa. Dia mengemukakan apa yang saat ini dilakukan oleh Allah dan apa yang harus dilakukan oleh orang percaya. Paulus mempelajari rencana Allah dan krisis yang diderita oleh alam ciptaan Allah dan oleh orang percaya. Dia melukiskan gambaran yang cemerlang tentang nasib orang-orang yang mengasihi Allah dan menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat memisahkan mereka dari kasih Allah.

Tekanan-tekanan hidup yang datang dari luar dapat diatasi karena kita bersama Kristus. Apa pun yang terjadi pada kita, di mana pun kita berada, kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Allah. Penderitaan tidak akan dapat memisahkan kita dari Allah. Melalui penderitaan, kita justru akan semakin merasakan kasih-Nya. Allah membentuk kita melalui penderitaan untuk menjadi semakin dewasa. Ketika melihat apa yang telah dan sedang Allah lakukan untuk diri kita, kita pasti memberikan tanggapan yang positif dan menyadari bagaimana Allah selalu hadir dalam setiap sisi kehidupan untuk kebaikan kita. (RCM)

 

Refleksi : Kita menang bukan karena kekuatan sendiri atau kecemerlangan pikiran kita, tetapi karena Kristus.

MELANGKAH BERSAMA ALLAH

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,  aku tidak takut bahaya,  sebab Engkau besertaku ;  gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.(Mazmur 23:4 )

 

Kehidupan kita di bumi ini tidak akan pernah lepas dari berbagai masalah. Adakalanya kita menjadi takut dan kuatir. Beberapa contoh sederhana, ada orang yang begitu takut karena mengalami sakit yang parah, ada orang yang begitu merasa takut menghadapi kematian, ada orang merasa khawatir karena masalah ekonomi keluarga yang begitu sulit, ada orang yang merasa cemas belum mendapatkan pasangan hidup, dan persoalan-persoalan lainnya. Ketakutan dapat merupakan anugerah, tetapi dapat pula menjadi masalah. Setiap manusia pasti seringkali merasa takut, khawatir atau cemas, bila menghadapi tekanan persoalan hidup yang semakin mendesak, atau semakin menghimpit. Bila ketakutan membuat kita berlindung kepada Allah, ketakutan adalah anugerah. Akan tetapi, bila kita dikuasai oleh ketakutan sehingga kita berusaha melindungi diri kita secara berlebihan, ketakutan adalah masalah.

Mazmur 23, mengungkapkan perhatian dan pemeliharaan Allah atas mereka yang mengikut Dia. Mereka merupakan sasaran kasih ilahi yang sangat dihargai-Nya. Allah mempedulikan masing-masing mereka sebagaimana seorang ayah mempedulikan anak-anaknya dan seorang gembala domba-dombanya. Gambaran tentang gembala yang setia merupakan satu contoh pemeliharaan penuh perhatian dan penjagaan tak berkesudahan. Secara naluriah, domba percaya bahwa gembala akan menyediakan segala yang diperlukan untuk hari esok. Ciri paling khusus dari metafora yang panjang ini ialah bimbingan yang bijaksana dari sang gembala. Dia membimbing ke tempat yang tenang dan yang menyegarkan, melewati pergumulan-pergumulan hidup, dan melalui tempat-tempat berbahaya. Tidak takut dengan bahaya sekalipun berjalan dalam lembah kekelaman. Gada dan tongkat Tuhan yang memberikan penghiburan. Dengan demikian gembala menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup, memberikan ketenangan, dan melindungi dari rasa takut akan bahaya.

Allah peduli terhadap orang-orang percaya. Adalah suatu penghiburan bagi orang-orang kudus, bahwa Allah pasti memperhatikan mereka (Dia mengenali orang-orang kepunyaan-Nya). Allah akan menuntun kita dan melindungi kita. Kita tidak perlu takut dan kuatir bila mengarungi kehidupan bersama Allah walaupun berada dalam berbagai persoalan hidup karena rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera bagi kita. Allah tetap beserta kita. (RCM)

 

Refleksi : Tidak perlu takut bila melangkah bersama Allah.

BERPALINGLAH DARI PADAKU

“Dengarkanlah doaku, ya TUHAN dan…janganlah berdiam diri melihat air mataku!…Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku jiwaku disegarkan”

(Mazmur 39:13-14, Di Vries Version)

 

Membaca Mazmur 39 dapat menjadi pengalaman yang sangat mengejutkan. Disini Daud mengatakan bahwa jiwanya akan disegarkan jika Allah mengalihkan wajahNya dari dia – dan ini adalah Daud yang sama yang dikasihi Allah. Tidak ada perbedaan yang lebih besar selain dari perbedaan antara diri kita dengan Allah. Semua agama berusaha untuk membawa kita bersama dengan Yang Mahakuasa. Namun dalam perikop ini, Daud, yang diurapi Tuhan dengan sopan memohon kepada Allah untuk berpaling darinya supaya hidupnya kembali menjadi bersukacita.

 

Kesedihan Daud dalam perikop ini adalah suatu pukulan yang sangat berbeda. Bukannya berlari kepada Allah untuk kelepasan, Daud melihat Dia sebagai sang pencipta, dalam arti tertentu, kesukarannya. Jenis kengerian yang hebat seperti itu adalah suatu  jenis ketakutan yang hanya ada pada orang-orang percaya.

 

Bagaimanapun, mendekat kepada Allah dapat dipahami dalam dua cara. Di satu pihak, Dia memberi kita kebahagiaan, memuaskan kerinduan jika dengan kasih-Nya. Namun di lain pihak, murka-Nya teracung. Hanya orang-orang percaya yang dapat memahami rasa takut terhadap ketidaksenangan-Nya.

Pada waktu iman gagal dalam diri orang percaya, ketika kita merasa Kristus menarik diri, kita menemukan diri kita berhadapan muka dengan muka dengan keagungan Allah dalam murka-Nya. Pada titik tersebut kita merasakan kesakitan jiwa yang luar biasa seperti dalam perkataan Daud. Hanya orang-orang percaya yang dapat mengerti kesakitan itu.

 

Namun pada saat seperti inilah Roh Kudus masuk ke dalam hidup kita untuk sekali lagi menegakkan pelindung, yaitu Kristus Yesus. Pada saat itu, Allah yang mampu membuat murka-Nya menyambar lebih kuat daripada ledakan nuklir, menyatakan diri-Nya sebdiri secara intim kepada anak-anak-Nya yang sedang bersusah sebagai Abba, Bapa. (AL)

 

Refleksi :

Dalam kesusahan karena dosaku, datanglah sebagai Bapa yang baik bagiku

AKU BERSERU-SERU, TETAPI ENGKAU TIDAK MENJAWAB

“Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab”

(Mazmur 22:3)

 

Pernah merasa tidak berdaya? Tidak menerima jawaban? Tentu saja saat seperti itu merupakan saat yang paling menyesakkan. Kita merasa sepertinya tidak ada seorangpun disana saat kita sedang memohon. Harapan langsung pudar menjadi keputusasaan. Bahkan orang percaya sekalipun terkadang merasa begitu tidak berdaya, begitu jauh dari Allah, ketika tiada seorangpun memberikan jawaban.

Waktu-waktu kesukaran seperti itu dapat saja mendorong tindakan berdoa dari orang-orang yang kehidupan beragamanya hanya diluaran saja. Tetapi ketika mereka tidak meneima jawaban, hasilnya adalah kekecewaan sebab mereka tidak mempraktikkan hubungan yang erat bersama dengan Allah. Mereka tidak mengerti jalan-jalan-Nya.

Namun orang-orang  yang mengenal secara mendalam kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka, mengetahui bahwa persekutuan yang erat bukanlah sesuatu yang bergantung pada usaha mereka yang sangat kecil. Orang percaya yang demikian mengetahui bahwa persekutuan dengan Allah bergantung juga pada kehendak Allah. Usaha kita sendiri tidaklah cukup untuk menjamin kedekatan yang mendalam dan memuaskan; Allah juga harus menghampiri kita.

Anugerah bukanlah suatu kebiasaan yang kosong. Anugerah adalah suatu hal yang suci, yang tidak bergantung pada tingkah laku kita. Allah adalah Allah, bukan manusia. Apapun alasan Allah untuk tetap menjauh dari kita, pengalaman kita sendiri mengajar kita agar dapat menilai persekutuan kita dengan-Nya lebih tinggi lagi karena di waktu-waktu itulah kita tahu, dengan dalam, bahwa Dia tidak ada disana.

Ketidakhadiran-Nya membuat jiwa kita semakin rindu. Menerima Dia sekali lagi, setelah pengunduran diri-Nya, membuat jiwa kita dalam kepenuhan kasih-Nya. Tidak memiliki Dia disamping kita membuat keilahian-Nya lebih tidak terelakkan. Kita lebih menghargai kehadiran-Nya dengan sangat, saat menyadari sungguh-sungguh dukacita atas ketidakhadiran-Nya. (AL)

 

Refleksi :

Mengerti Dia dalam segala keadaan membuat kita paham dan menghargai keilahian-Nya.

APA YANG TIDAK KUMENGERTI, AJARKANLAH KEPADAKU

“ Apa yang tidak kumengerti, ajarkanlah kepadaku”

(Ayub 34:32)

 Pengenalan diri datang kepada kita dalam dua cara : dari diri sendiri dan dari Allah. Apa yang secara alami diinginkan oleh sebagian besar manusia adalah apa yang menyegarkan harga diri kita; apa yang tidak ingin kita mengalami adalah yang memastikan kegagalan kita. Bebebrapa diantara kita, tentu saja, tidak mendengarkan teguran Allah; sementara orang lain mendengar suara tersebut tetapi tidak memerhatikannya. Menyedihkan.

Kita dapat memperoleh segala macam pengetahuan dengan usaha sendiri. Kita memperkaya diri sendiri, belajar lebih dan lebih lagi tentang Allah dan dunia-Nya dengan mengamati ciptaan-Nya. Bukan hanya individu tetapi sekelompok orang – komunitas, jemaat orang-orang percaya, bahkan bangsa-bangsa – dapat bertumbuh terus, semakin memahami kehidupan di sekitar mereka. Jenis pengetahuan yang mereka peroleh adalah pengetahuan yang sesuai dengan kehendak mereka, pengetahuan yang ingin mereka pelajari.

Tetapi jenis pengetahuan lainnya hanya datang melalui tangan Allah. Komunitas dan bangsa-bangsa mendapat keuntungan dari bakat orang-orang yang jenius dan penemuan yang dihasilkan di antara mereka. Temuan-temuan yang besar membuka dunia baru dan melahirkan semangat bagi kehidupan itu sendiri. Bakat-bakat itu tidak datang secara kebetulan, tetapi merupakan pemberian Allah.

Pencaria akan hal-hal yang mendalam dan kebenaran akan kita sebut idealisme. Bangsa-bangsa yang diberkati dengan idealisme bertumbuh dan berkembang. Dipihak lain, bangsa-bangsa yang mengejar tujuan yang materialistik tidak memiliki kepeduluan kepada masalah kebenaran dan substansi, bangsa-bangsa itu akan merosot dan membawa bangsa lain kepada kehancuran.

Pengalaman itu sendiri adalah guru yang hebat, bahkan pengalaman yang buruk sekalipun. Peristiwa-peristiwa tragis dapat menjadi suatu berkat ketika kita belajar. Semua pengalaman kita datang dari Seorang yang telah membentuk kita berdasarkan gambar-Nya sendiri. Dialah Tuhan yang setiap saat dalam kehidupan ini mengangkat kita kepada pengetahuan yang sesungguhnya, idealisme yang sesungguhnya. (AL)

 

Refleksi :

Ya Allah, ajarlah kami menghitunghari-hari kami supaya kami beroleh hati yang bijaksana.

DALAM NAUNGAN SAYAP-MU

“ Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalan naungan sayap-Mu!”

(Mazmur 61:5)

 

Kitab Mazmur berimpah dengan kekayaan luapan devosi. Kitab Mazmue melukiskan pencarian hati yang sungguh mendalam akan persekutuan ilahi, hubungan yang paling penting dalam kehidupan kita. Bentuk hubungan persekutuan sejati yang digambarkan dalam nyanyian-nyanyian ini, suatu hubungan yang sangat dirindukan oleh orang-orang percaya, tidak dapat diartikan hanya sekadar sebagai suatu ikatan yang mengikat kita dengan Sang Pencipta atau iman kita kepada-Nya. Persekutuan yang sejati dapat terwujud ketika orang percaya memiliki pengetahuan yang jelas tentang Allah dan jaminan yang pasti bahwa Allah mengenalnya secara pribadi.

Titik tlaknya ada pada keyakinan akan persatuan dengan Allah. Sebuah persekutuan yang indah. Persatuan itu tidak memiliki paralelnya di sepanjang hidup kita, Allah telah memberi kita hubungan erat yang lain untuk menolong kita mengartikan persekutuan dengan Dia. Ubungan-hubungan antarmanusia yang intim memang sangat menolong, tetapi semua hanyalah gambaran Allah, dan hubungan yang dikenal oleh orang kudus dalam PL ketika mereka “berjalan dengan Allah.” Tidak seorangpun manusia dapat tinggal dengan kita secara penuh seperti Allah.

Bagi bangsa Israel, kemah Tuhan adalah lambang kehadiran Allah secara harafiah dan nyata. Maka ketika pemazmur mengatakan menumpang di dalam kemah-Mu menunjukkan bahwa hubungan yang dekat dengan Allah merupakan puncak pengertian tentang Dia. Meskipun pada hari ini sudah tidak adalah lagi kemah itu secara fisik, tetapi Allah telah memilih suatu tempat tinggal yang lebih spesifik yakni hati kita. Hidup kita menjadi tempat tinggal Allah, perbuatan kita menjadi lonceng kehadirannya, dan pengalaman hidup kita merupakan wujud naungan sayap-Nya. Allah berdiam di dalam kita.

Semakin erat kita bersekutu dengan Allah maka semakin kaya pengalaman hidup kita. Akhirnya hal tersebut akan menunjukan semakin nyatanya naungan sayap Allah bagi kita. Spektakuler bukan? (AL)

 

Refleksi :

Tidak ada peristiwa paling indah di dunia ini, selain Allah rela berdiam dalam diri kita.