MENDEKAT KEPADA ALLAH

“ Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah”

(Mazmur 73:28)

 Kita boleh menjunjung tinggi kekaguman dan hormat yang dalam akan apapun. Alam, keindahan, seni, teknologi, theology, ajaran/doktrin, bahkan kita boleh memiliki kasih kepada Allah, sebab semua yang baik yang telah mengilhami kasih berasal dari Allah, dan Allah sendiri adalah kebaikan tertinggi. Tetapi ketika pemazmur berkata, “Aku mengasihi Allah,” dia menyiratkan sesuatu yang berbeda dari rasa kagum dan hormat yang dalam. Apa yang dia maksudkan adalah sesuatu yang intim dan pribadi, suatu hubungan yang menjadikan Gembala yang Baik, gembala kita; Bapa, sumber kehudupan dan kebahagiaan kita; Allah perjanjian, dengan siapa kita mengadakan suatu kesepakatan kekal dan terberkati. Maka, Dia dekat.

Pernyataan pemazmur ini mampu mengkonklusi Transendensi dan Imanensi Allah sekaligus. Luar biasa! Pada waktu kita mengetahui bahwa Allah yang mahabesar hadir dalam setiap langkah hidup kita, ketika kita telah masuk ke dalam suatu hubungan yang pribadi dan khusus dengan Dia, maka dan baru kemudian Dia menjadi Bapa kita di Sorga.

Apa yang dibicarakan disini adalah suatu hubungan yang begitu pribadi dan intim sehingga hal itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Jika kita tidak mengerti, maka kita belum mengenal Allah pada tingkat tersebut. Namun jika kita ingin benar-benar mengenal Dia sedemikian rupa, maka kita berada pada posisi yang benar. Ketika hubungan pribadi itu terbentuk maka sekalipun pohon ara tidak bersemi dan anggur tidak mengeluarkan buah, maka bersama Habakuk, kita tetap bersukacita di dalam Allah adalah saat teragung dari berkat berdekat dengan-Nya.

Zaman modern adalah zaman yang sangat berbahaya bagi kita. Tetapu Dia ada disini, Dia selalu hadir, menantikan kerinduan kita untuk membina suatu hubungan yang pribadi dengan-Nya, yang akan menopang kita, tidak peduli apapun yang akan terjadi di dalam dunia. Mengerti hal itu, mencari Dia dengan kesungguhan dan menemukan dia, muka dengan muka, ditengah kesukaran kita dibumi ini – semuanya itu mendorong kita untuk terus menaikkan pujian bersama dengan pemazmur setiap hari. (AL)

 

Refleksi :

Mari memuji Dia dengan berkata “Aku mencintai-Mu, ya Tuhan!”

 

MEWUJUDKAN RELASI DAN INTERAKSI

“ Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”.

(Matius 7:1)

 

Kehidupan manusia bukanlah kehidupan seorang diri. Ia “ada” dan “berada” bersama-sama dengan orang lain, bahkan dengan alam dan lingkungan tempat ia tinggal. Kehidupan manusia merupakan kehidupan yang berinteraksi  dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan latar-belakang. Manusia tidak hidup sendiri dan menyendiri. Hidup manusia yang berinteraksi dimulai sejak kecil di tengah-tengah keluarga. Seseorang mengalami kehangatan cinta-kasih seorang ayah-ibu, adik-kakak, kakek-nenek dan orang-orang terdekat dalam keluarganya. Selanjutnya proses interaksi semakin luas dan lebar seiring dengan pertambahan usia melalui dunia pendidikan, lingkungan masyarakat, komunitas pergaulannya, organisasi dll.  Proses interaksi melalui berbagai sarana, media semakin menambah kematangan seseorang, walaupun acapkali juga terjadi dampak negatif andai dalam proses interaksi itu seseorang abai dalam menyiapkan basis internalnya.

Hal yang menarik adalah bahwa dalam berinteraksi, dalam berelasi, kita tidak saja berjumpa dengan orang-orang yang sama, tetapi kita berjumpa dengan orang-orang dari berbagai latar-belakang. Seringkali secara tak sadar kita dalam berinteraksi dengan seseorang kita acap memberi “tafsir”, penilaian, bahkan lebih tajam bisa dikatakan melakukan “ jugdement” terhadap seseorang. Penilaian atau “ jugdement” mulai dari: suku, agama, etnik, asal-usul dll. Ujung dari penilaian itu dapat menghasilkan hal positif, tetapi juga menghasilkan hal yang negatif. Dan realitas ini sering berpengaruh terhadap proses interaksi yang akan dilakukan diwaktu mendatang.

Firman Tuhan hari ini merupakan salah-satu dari kotbah Yesus di bukit. Yesus mengkritik perilaku kebanyakan orang yang suka menghakimi. Mampu melihat kesalahan dan kelemahan yang dimiliki pihak lain, tetapi menutupi dan membutakan mata terhadap kelemahan dirinya sendiri. melihat selumbar di mata orang lain, tetapi balok di depan mata tidak diketahui. Kita hanya akan menjadi seorang yang munafik jikalau kita berkata:”keluarkan selumbar di matamu, tetapi di mata kita sendiri ada balok.”

Fiman Tuhan hari ini mengingatkan kepada kita dalam membangun pola interaksi dan relasi kita dengan sesama,  kita tidak melakukan penilaian atau penghakiman. Karena jika hal itu dilakukan maka kita tidak akan pernah bisa mengasihi mereka. Bunda Theresa pernah berkata:” if you jugde people you have no time to love them”.(AE)

Refleksi: Maju terus untuk membangun relasi dan interaksi dengan tulus dan damai supaya tercipta iklim kerja yang kondusif.

MELAKUKAN YANG TERBAIK

“ Perempuan itu mempunyai seorang  saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan  perkataanNya.”

( Lukas 10:39)

Dalam melaksanakan tugas atau tanggungjawab apapun yang diberikan kepada kita maka sudah sewajarnya kita ingin melakukan yang terbaik, yang prima, perfect, yang sempurna. Apalagi jika hal itu berhubungan dengan relasi “vertikal” atau relasi dengan kuasa “transenden” yang sangat kita hormati. Kita acapkali tak puas, tak bahagia andai kita melakukan yang biasa saja atau kita memberi yang sekedar saja. Melakukan atau memberikan yang terbaik merupakan kerinduan dan obsesi.  Pikiran,   tekad, dan sikap seperti ini adalah sah sah saja dalam kehidupan ini, bahkan di sanalah nilai excellence itu di tempatkan.  Misalnya, orangtua kita, guru, orang-orang yang kita hormati, orang-orang yang kita kasihi, orang-orang yang telah berjasa dalam berbagai episode kehidupan kita selalu menginginkan kita memberikan yang terbaik. Yang terbaik itu tentunya bisa mewujud dalam bentuk benda, sikap, ucapan, dan tindakan yang dalam standar kita memang layak dan pantas kita berikan.

Dalam perjalanannya  Yesus singgah di rumah Maria dan Marta, 2 orang wanita yang sudah pernah Ia kenal sebelumnya. Maria duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Sedangkan Marta sibuk mempersiapkan minuman dan hidangan bagi Yesus. persoalan muncul ketika Marta mempertanyaan sikap Maria dan berkata kepada Yesus:” Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku?” Sungguh diluar dugaan respon Yesus terhadap pertanyaan  Marta, dan hal ini sekaligus menegaskan sikap Yesus tentang perbuatan apa yang terbaik yang seharusnya dilakukan.  Yesus berkata: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Firman Tuhan pada hari ini memberikan fondasi dan referensi yang amat kuat tentang bagaimana kita harus memberikan yang terbaik. Sikap memberi yang terbaik adalah bentuk pertanggungjawaban kita terhadap hakekat diri  sebagai yang segambar dan serupa dengan Allah ( imago Dei ), tetapi sekaligus juga sebagai respon kita terhadap  anugerahNya yang telah menebus dosa-dosa kita.  disepanjang rentang waktu kehidupan yang Tuhan karuniakan bagi kita memang seharusnya kita mewujudkan hal yang terbaik  secara kontinyu dan tiada henti.(AE)

 

Refleksi: Melakukan dan mengerjakan yang terbaik tugas dan tanggungjawab yang menjadi bagian kita, itu merupakan perwujudan iman.

KOMITMEN BERUBAH KE ARAH YANG BAIK

“ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. (Roma 12:2)

Kehidupan manusia yang standar adalah kehidupan yang mengalami perubahan, bukan kehidupan yang statis dan stagnan. Pendidikan, teknologi, dan ilmu pengetahuan tentunya kita sadari sebagai aspek penting yang mendorong terjadinya perubahan. Kemudahan-kemudahan, peningkatan kesejahteraan hidup, perkembangan dalam bidang komunikasi, informasi, dan tranportasi jelas ini adalah perubahan positif yang dihasilkan dari olah pikiran-pikiran manusia. perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia kemudian melahirkan  peradaban dan peradaban itu menjadi saksi sejarah yang valid dan  sah bagaimana tingkat kemajuan yang telah dicapai manusia dalam kurun waktu tertentu.

Perubahan itu sendiri sebagaimana yang kita tahu dapat mengarah kedua arah: ke arah yang lebih tinggi, lebih baik, atau perubahan positif. Tetapi perubahan pun dapat terjadi ke arah yang sebaliknya, yakni ke arah yang lebih rendah, atau perubahan yang negatif. Melalui Firman Tuhan hari ini, rasul Paulus mendorong jemaat di Roma untuk berubah bukan ke arah yang negatif, tetapi ke arah yang lebih tinggi, ke arah yang positif. Penggunaan kata”metamorphosis” sangat jelas memberi arah dan penekanan yang paulus maksudkan yaitu perubahan ke arah yang lebih baik. perubahan seperti : ulat-kepompong-kupu2; batu menjadi kristal. “Metamorphosis” adalah perubahan dengan menggunakan pikiran dan akal-budi yang dilakukan oleh manusia untuk memahami dunia dan lingkungan tempat tinggalnya dan bersikap secara tepat sesuai dengan standar etis-moral yang diimperatifkan oleh Tuhan.  Sebagaimana dikatakan: “ kamu dapat membedakan, mana kehendak Allah…”

Sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha kita berjuang terus agara individu kita dapat berubah terus ke arah yang baik Allah memerintahkan hal ini kepada kita selaku umatnya, dan selama masih ada nafas hidup maka kita wajib untuk melakukannya. Dan andaikan pula dalam penggalan sejarah hidup kita pernah mengalami perjalanan kehidupan yang tidak sejalan dengan imperative Tuhan, maka kita dengan komitmen yang baru dapat berubah menuju hidup yang lebih baik dan memenuhi standar yang Tuhan inginkan.(AE)

Refleksi: “Nullus pudor est ad meliore transire”. Tidaklah memalukan untuk berubah menjadi lebih baik”

KEMERDEKAAN SEJATI

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:1-2)

 

Hari ini adalah hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke 71. Kita bersyukur karena Tuhan sudah memberikan anugrah  kemerdekaan bagi bangsa kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata merdeka mempunyai tiga definisi, yaitu; 1) bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb.); berdiri sendiri; 2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; 3) tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa. Mantan presiden Amerika-Franklin D. Roosevelt- pernah mengatakan ada empat kemerdekaan dasar yang dapat dinikmati oleh semua orang setelah perang dunia kedua berakhir, yaitu: kemerdekaan untuk berbicara; kemerdekaan untuk beribadah; kemerdekaan dari kekurangan dan kemerdekaan dari ketakutan. Tetapi menurut Warren W. Wiersbe, “Dunia kita memerlukan kemederkaan yang lain, yaitu kemerdekaan yang kelima. Orang perlu merdeka dari dirinya sendiri dan kekuasaan kodratnya yang berdosa.”

 

Paulus menyimpulkan bahwa Kristus telah memerdekakan kita dari hukum maut yaitu kematian kekal dan dari hukum dosa. Dimerdekakkan dari hukuman memang sangatlah berarti, tetapi tidak terlalu berguna apalagi orang yang bersangkutan tidak mengalami perubahan hidup. JIkalau kita ingin menang terhadap dosa, maka kita harus hidup di dalam pimpinan Roh Kudus. Dan ketika kita dipimpin oleh Roh, maka kasih karunia Allah akan menyanggupkan kita untuk menang atas dosa. Hiduplah dalam Roh berarti berjalan dalam kasih karunia. Sebagai orang yang telah mengalami kemerdekaan di dalam Kristus sudah seharusnya kita mengisi kemerdekaan itu dengan hal-hal yang bermanfaat.

 

Setiap orang yang dimerdekakan dalam Kristus adalah orang yang telah mengalami kemerdekaan oang sejati. Ia akan berusaha melakukan hal-hal yang berkenan kepada Allah, dan tidak lagi menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. Hendaknya kita menjadi pribadi yang sudah dimerdekakan yaitu senantiasa melakukan setiap hal yang berkenan kepada Allah dan menomorsatukan kehendak Allah dalam setiap pilihan yang kita ambil.(RZA)

 

Refleksi:

Dimerdekakan untuk menomorsatukan Allah.

NULLUS AGENTI DIES LONGUS EST

“ Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengautus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja”.(Yohanes 9:4)

 

Bekerja adalah bagian integral dari kehidupan manusia. sejak manusia diciptakan oleh sang khalik pada masa-masa penciptaan, manusia memang diciptakan dengan mandat untuk bekerja. Itulah makna “kesegambaran” manusia dengan Allah. Presiden Joko Widodo memperkenalkan motto dan jargon yang amat penting diawal masa jabatannya yaitu: “ kerja, kerja, dan kerja”.  Kekristenan memberikan imperatif kerja bagi manusia. Bukan berdiam diri, kecuali mereka yang memiliki “handicap” atau berhalangan tetap, atau mereka yang sudah uzur secara usia dan tidak dapat lagi bekerja.

Nats hari ini adalah bagian dari perikop yang diberi judul”orang yang buta sejak lahirnya”.  Dalam bagian Firman Tuhan ini yang diprioritaskan adalah kita harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Bukan memikirkan dan mengerjakan hal-hal yang tidak perlu. Murid-murid yang mempertanyakan persoalan kebutaaan yang dialami seseorang sejak lahir itu dosanya atau orangtuanya adalah pertanyaan yang tidak penting. Yang harus dikerjaan adalah mengerjakan pekerjaan Allah. Seperti Yesus yang mengerjakan pekerjaan Allah yang mengutusNya. Berbuat sesuatu yang berarti bagi sesama, bagi orang buta.

Kita bekerja sesuai dengan skill dan kompetensi yang kita miliki diberbagai bidang.  Itu berarti kita bekerja secara professional berbasis ilmu yang kita miliki dan kuasai. Sebagai professional dan sebagai orang yang beriman kepada Tuhan yang Maha Esa maka dalam melaksanakan pekerjaan kita, kita harus memperhatikan etika, moral, ajaran, kode etik profesi, “code of conduct” atau apapun namanya.  Dalam dunia yang semakin “flat”, “borderless”, dan makin mengglobal kerja menjadi sebuah persoalan bagi sebagai masyarakat kita.  Hal itu disebabkan kompetensi sebagian masyarakat belum memenuhi standar internasional, hambatan komunikasi dan berbagai kendala lainnya. Di sinilah posisi dan peran strategis UK. Maranatha sebagai lembaga pendidikan tinggi dipanggil untuk mempersiapkan masyarakat yang memiliki kompetensi dan karakter yang memadai.

Hari-hari kita dipenuhi oleh kerja. Hari-hari terasa amat singkat dan pendek bagi mereka yang sibuk dengan pekerjaan. Marilah kita terus bekerja dengan penuh tanggungjawab kepada Sang Khalik.(AE)

 

Refleksi: “ Nullus agenti dies longus est”. Tidak ada hari yang panjang bagi mereka yang sibuk bekerja.

BARANGSIAPA TIDAK MENGASIHI, IA TIDAK MENGENAL ALLAH

“ Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah…”

(1 Yohanes 4:8)

 

Udara dingin mulai memasuki kekristenan ketika orang-orang mulai menyatakan bahwa seperangkat doktrin yang kuat akan membawa kita pada suatu pengenalan akan Allah dan sibuk menuding pihak lain yang tidak sependapat sebagai bidah. Memang aneh. Padahal mengenal Allah bersumber dalam identitas diri kita; kita adalah pembawa gambar-Nya. Pengetahuan tentang Dia bertumbuh dewasa dalam penyataan yang seringkali mengherankan. Dipihak lain jika kita berpikir bahwa mengenal Allah tidak berhubungan dengan ajaran dan kredo juga salah. Tanpa suatu dasar, kita terikat pada mistisisme yang bodoh dan fantasi yang aneh.

Untuk bertumbuh dalam pengenalan kita tentang Allah membutuhkan pengalaman rohani dan ajaran dan lebih dari itu saat kita mulai mengasihi orang lain. Ayat diatas kemudian diikuti dengan frase “sebab Allah adalah kasih.” Perbandingannya  dapat dilihat dalam bagian Doa Bapa Kami “Ampunilah kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Sebuah perintah melekat dalam perkataan Yesus ini : kita harus mengasihi seperti kita ingin dikasihi, kita harus mengampuni seperti kita ingin diampuni.

Apa yang diusulkan disini adalah kita belajar melalui tindakan. Kita mulai mengenal Allah dalam tindakan mengasihi orang-orang lain. Kita belajar dari pengalaman kita sendiri. Tetapi jangan menilai sepele, karena kasih yang sejati bukan sekedar memaafkan, mengerti, dan menyetujui, sebab kasih yang sejati membutuhkan pembedahan jiwa. Kita perlu dibedah, dengan kesakitan, seolah-olah dengan sebuah pisau bedah untuk memotong bagian yang sudah rusak karena Allah adalah ahli bedahnya. Pertumbuhan kita dalam pengetahuan melalui kasih bukanlah sesuatu yang kita persiapkan untuk kita capai dengan kekuatan diri sendiri. Allah adalah sumber kemampuan kita untuk mengasihi orang lain – hal itu jangan pernah kita lupakan. Berat bukan? Bagaimana kita dapat melakukan hal berat seperti ini? Hanya satu caranya : mengasihi semua yang berasal dari Allah dalam diri setiap manusia sekalipun dia berbeda suku, agama, ras maupun golongan dan kepentingan. Kita dapat mengasihi bahkan musuh-musuh kita karena benih esensi Allah ada di dalam diri setiap kita, karena tujuan kekal telah di tanamkan di dalam jiwa setiap orang. Itulah arti mengasihi. (AL)

Refleksi :

Orang yang belajar mengasihi semananya di dunia pastilah mengerti Allah.

BUKAN APA YANG AKU KEHENDAKI YANG AKU PERBUAT

“ Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, melainkan apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat”(Roma 7:15)

 

Di Athena, orang-orang percaya yang memiliki maksud baik, mendirikan ebuah mezbah kepada seorang dewa yang tidak mereka kenal. Kita menyalahpahami kisah tersebut jika kita berpikir bahwa apa yang dicari orang-orang Athena adalah sekadar beberapa dewa-dewi yang tidak mereka kenal yang melayang di dalam kosmos. Dewa yang tidak mereka kenal ini, yang ingin mereka hormati adalah sebuah keberadaan yang mereka anggap tidak dapat diketahui atau setidaknya tidak dapat dipahami. Sikap tersebut tidak jauh berbeda dari beberapa orang yang hari ini menyebut dirinya agnostic. Masalah mereka bukanlah bahwa mereka tidak percaya kepada allah tetapu mereka tidak dapat percaya kepada suatu kekuatan keallahan yang terlembaga. Bagi mereka, kekuatan apapun yang mampu mengatur alam semesta ini terlalu besar untuk dipahami. Kedengarannya rohani bukan?

Kenyataannya adalah kita dapat mengenal Allah. Kita tahu tentangnya karena Dia membuka diri-Nya untuk dikenali, dimengerti dan dipahami. Sehingga rasa takut kita akan Allah bukanlah karena ketidaktahuan kita tetapi karena kita tahu, paham dan sadar bahwa kehidupan kita ini membutuhkan kehadiran ilahi-Nya di dalam diri kita yang akan membentuk kehendak kita.

Walaupun “mengetahui” itu akhirnya melibatkan konflik yang nyata yakni disisi lain kita juga tahu bahwa kita sering tidak dapat mengendalikan kehendak dan tindakan kita. Sehingga kekecewaan kita adalah kita tahu apa yang benar tetapi kita tidak melakukannya (entah tidak ingin atau tidak mampu). Kondisi ini yang seringkali membuat seseorang putus asa dengan kehidupan spiritualitasnya dan akhirnya berhenti bergumul dalam membangun kerohaniannya. Jangan biarkan hal itu terjadi. Lebih baik gagal di luar daripada menyerah di dalam, karena menyerah di dalam berarti mengecilkan suara Allah di dalam diri kita.

Sudah pasti, kita bakal mundur dan kadang-kadang gagal. Tetapi kita hanya dapat belajar kehendak Allah dengan menjaga kedekatan kita, untuk mendengar suara-Nya. Kesenangan kudus  yang nyata adalah bertindak berdasarkan apa yang kita dengar dari Dia, dan hal itu terjadi ketika kita mendekat kepada Allah. (AL)

 

Refleksi :

Kadang kita gagal menaati Dia, tetapi jangan menyerah.

BARANGSIAPA MAU MELAKUKAN KEHENDAK-NYA

“ Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.”

(Yohanes 7:17)

 

Tidak seorangpun akan menyangkal bahwa kita bertumbuh dalam pengenalan akan Allah melalui ketaatan akan kehendak-Nya. Meskipun kita dapat mengenal Dia lebih baik dengan akal budi kita, imajinasi dan perasaan kita juga dapat membantu kita dalam menemukan Dia. Semua sarana ini dapat membawa kita lebih dekat kepada-NYa

Apa yang menjadi karakter dari zaman kita adalah kepercayaan di dalam kehendak dan kemauan serta kemampuan diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Sikap atau cara pandang seperti ini menggiring manusia pada individualism dan egoism.

Pemujaan pada kehendak diri seperti ini akhirnya berusaha menggantikan gagasan tentang Allah sebagai Kehendak fundamental dari alam semesta. Reformasi adalah suatu hal yang baik, tetapi ia menciptakan masalahnya sendiri. Ortodoksi – ketaatan yang ketat terhadap suatu rumusan doctrinal yang kuat – berkuasa sedemikian rupa sehingga menaklukan realitas mistis dari iman. Seharusnya kekristenan beralih dari suatu penekanan yang berlebihan pada doktrin dan pengetahuan kepada perlatihan rohani yang menuntut perasaan dan emosi sehingga setiap orang mengerti kehendak Allah secara pribadi dalam kehidupannya.

“Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah,” demikian kata Injil Yohanes yang jika disimpulkan iman yang giat dan aktif secara sosial bertumbuh kuat haruslah diseimbangkan dengan meditasi pribadi. Artinya pengenalan akan ajaran, hubungan pribadi yang meditatif dan iman yang bergerak sosial harus berada pada takaran yang tepat.  Kehendak Allah yang substansial adalah kehidupan Krisen yang seimbang, berakar dalam, dan berdampak luas. Ketiga hal diatas tidak dapat digantikan atau menggusur satu dengan yang lain. Ketiganya harus dikembangkan bersama-sama secara simultan. Tentu saja, kita perlu melakukan perbuatan-perbuatan baik, seperti juga suatu kehidupan yang taat dan suatu kerinduan akan ajaran yang sehat. Jika tidak kita akan menjadi seorang pietis yang buta atau seorang humanis tanpa Allah. (AL)

 

Refleksi :

Kehendak-Nya adalah : hubungan pribadi yang akrab, pengertian akan ajaran yang kuat serta perbuatan baik yang berdampak.

BARANGSIAPA TELAH MELIHAT AKU, TELAH MELIHAT BAPA

“ Telah sekian Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata : Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?”

(Yohanes 14:9)

 

Bayangkan seseorang datang ke rumah anda. Kemudian ia mendapatkan kekaguman dari anak-anak anda, dan kemudian secara tiba-tiba ia berkata kepada mereka dihadapan anda : “Jika kamu mengasihi orangtuamu lebih daripada aku, maka kamu tidak layak bagiku” (Bdk Matius 10:37). Kita pasti akan langsung menunjukkan pintu keluar untuk orang ini.

Pada kenyataannya, memang beberapa dari perkataan Kristus sungguh-sungguh meresahkan. Tetapi kita tentu saja kita tidak menyeret Dia keluar karena kita percaya di dalam Dia.

Perkataan-Nya, “barangsiapa yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa,” benar-benar tidak masuk akal. Jika seseorang di hadapan kita mengatakan hal serupa  – “Akulah Allah” – kita tidak hanya akan menganggap dia tidak waras,  bahkan kita mungkin akan meninggalkan dia dan tidak akan mendengarkan kata-katanya lagi.

Melihat – adalah kuncinya. Ketika kita berkata “sekarang anda melihat apa yang aku maksudkan,” kita biasanya menunjuk kepada suatu kemampuan melihat secara rohaniah. Melihat Allah dalam Kristus menuntut suatu pengakuan batin bahwa Kristus yang kita miliki bukan saja seorang manusia biasa, tetapi juga seseorang dengan karakter yang sungguh unik. Kita perlu melihat sesuatu yang ilahi, sesuatu yang diluar jangkauan kita, sesuatu yang kekal dan tidak hanya sekadar manusia biasa.

Namun melihat Bapa tidaklah memudarkan Yesus Kristus. Pikirkanlah, seperti apakah pasangan yang baru menikah. Pancaran sinar murni terpancar dari wajah mereka. Pada saat kita mulai melihat Allah dalam Kristus, Allah yang mahakuasa dalam Roh-Nya mulai tinggal di hati kita. Itulah saat dimana kita mendekat kepada Allah dan Dia mendekat kepada kita

Melihat Bapa dalam Kristus adalah peristiwa terbesar dalam hidup kita, karena pada saat itu kita mengenali Allah. Keberhasilan tersebut adalah cita-cita tertinggi dari umat manusia. (AL)

 

Refleksi :

Mengenal Kristus sepenuhnya adalah mengenal Allah.