Takut akan Tuhan

Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha menyakinkan orang. Bagi Allah hati kami nyata dengan terang dan aku harap hati kami nyata juga demikian bagi pertimbangan kamu.

(2 Korintus 5:11)

 

Masih banyak orang Kristen mempunyai persepsi yang salah tentang arti takut akan Tuhan. Kebanyakan orang Kristen mendefinisikan takut akan Tuhan dengan ketaatan melakukan perintah Tuhan karena rasa takut akan memperoleh hukuman. Padahal rasa takut akan Tuhan yang benar harus lahir karena hubungan bukan karena takut akan adanya hukuman. Menurut Martin Luther, orang biasa tidak akan mempunyai ketakutan yang didorong oleh penghormatan kepada Allah. Secara Alkitabiah, takut akan Tuhan berbicara tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah wujud ketakutan yang sehat. Artinya kita menghormati Dia, patuh dalam penghakimanNya atas dosa-dosa kita, berpegang pada Dia, mengenali Dia sebagai Tuhan yang absolut dan memuliakanNya. Takut akan Tuhan akan membawa kita lebih dekat pada Tuhan, bukan menjauh dariNya.

 

Paulus mengatakan “Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan…,” Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang belajar apa adanya dan terbuka bagi Allah. Orang yang apa adanya tidak berorientasi kepada kemuliaan diri (ayat 12). Pujian kepada diri sendiri bisa terjadi pada siapapun yang sudah sukses dan berprestasi yang cenderung memuji dan membanggakan kehebatan diri. Kita harus ingat bahwa semua adalah karena anugrah Tuhan, sehingga tidak ada pujian untuk diri sendiri, tidak ada orientasi untuk membanggakan diri sendiri. Rasul Paulus menyadari bahwa ia tidak ada apa-apanya dan merasa paling berdosa. Inilah anugrah Tuhan, bukan membuat orang semakin sombong tetapi semakin menyadari ketidakberdayaannya.

 

Sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha, nasihat Paulus untuk takut akan Tuhan menjadi pegangan setiap orang yang berkarya. Pelayanan yang kita kerjakan bukan karena sekedar kewajiban dan kedisiplinan belaka tetapi dilandasi ketaatan kepada Tuhan. Tentunya dasar ini yang memotivasi kita untuk memberikan yang terbaik dan melakukan tugas dengan penuh tanggung jawab. (RZA)

 

Refleksi :

Takut akan Tuhan menjadi landasan setiap tindakan kita.

GIDEON MENGANDALKAN TUHAN

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Dengan ketiga ratus orang yang menghirup itu akan KU-selamatkan kamu: Aku akan menyerahkan orang Midian ke dalam tanganmu; tetapi yang lain dari rakyat itu semuanya boleh pergi, masing-masing ke tempat kediamannya.”

(Hakim-hakim 7 : 7)

Terkadang dalam hidup, kita merasa tidak bisa apa-apa dan bukan siapa-siapa. Merasa pendidikan kita rendah, miskin, tidak punya banyak pengalaman dan masih banyak lagi deretan kekurangan yang bisa di data dalam sebuah tulisan. Kita sering lupa bahwa Tuhan memakai kita bukan karena kemampuan atau kelebihan kita, tetapi Tuhan mau memakai siapa saja yang siap dan senantiasa mengandalkan Tuhan. Di dalam kekurangan dan keterbatasan janganlah putus asa dan berkecil hati karena Tuhan yang akan menolong dan memampukan kita dalam menjalankan setiap hal yang Tuhan percayakan

 

Dalam ayat sebelumnya diceritakan Gideon menyuruh rakyat untuk minum air, dan berfirman Tuhan kepadanya: Barangsiapa yang menghirup air dengan lidahnya seperti anjing menjilat, haruslah kaukumpulkan tersendiri, demikian juga semua orang yang berlutut untuk minum. Jumlah orang yang menghirup dengan membawa tangannya ke mulutnya, ada tiga ratus orang. Allah berfirman dengan ketiga ratus orang akan menyelamatkan bangsa Israel. Allahlah yang berperang menghadapi musuh dan melindungi mereka sesuai dengan janjiNya. Ketika kita berperang dengan cara ALLAH, maka kemenangan sudah pasti menjadi milik kita. Mengandalkan Tuhan adalah pilihan utama dalam kehidupan manusia dengan berbagai macam persoala hidup.

 

Mengandalkan Tuhan adalah  menaruh harapan kepada Tuhan yang senantiasa akan menolong apa yang  kita kerjakan. Sebagai seorang pekerja atau pemimpin mungkin kita pernah mengalami keputusasaan dalam menjalankan tugas tanggung jawab. Dari pengalaman Gidion berserah kepada bersama Tuhan saat menghadapi musuh, hal ini dapat mendorong kita untuk mengandalkan Tuhan dalam dalam segala hal. (RZA)

 

 

Refleksi :

Mengandalkan Tuhan adalah menaruh harap kepada Tuhan dalam segala hal.

 

MEMANDANG TUHAN

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

(Ayub 42:5)

 

Dalam situasi yang sukar dan penuh dengan penderitaan tidaklah mudah untuk memandang kehidupan dengan jernih. Masalah yang datang pada setiap orang akan memberi pengaruh dalam kehidupannya. Sekalipun orang tersebut memiliki kedudukan atau kekayaan tidak menjadikan seseorang terhindar dari masalah atau pergumulan hidup. Masalah dapat dialami oleh anak-anak, pemuda atau orang dewasa, semuanya akan menghadapi tantangan dalam hidup.

 

Nas hari ini menceritakan kehidupan Ayub yang disebutkan dalam Alkitab adalah seorang saleh yang tidak luput dari masalah. Melalui masalah atau pergumulan hidupnya, Ayub mengungkapkan bahwa  Allah yang ia percayai selama ini adalah Allah yang hidup dan mampu melakukan sesuatu yang tak pernah dia pahami. Dia dengan jujur mengatakan, hanya dari kata orang saja aku mendengar Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.  Justru dalam masalah iman pengharapan Ayub kepada Tuhan diteguhkan. Ayub tetap tegar dan tidak menyalahkan Tuhan ketika ia mendapat banyak masalah dalam hidupnya, seperti kebangkrutan, kehilangan anak, sakit, dihina istri  dan sahabatnya. Ayub minta ampun ketika Tuhan menegur atas usahanya mencari pembenaran diri. Proses pergumulan hidup yang dialami Ayub menjadikan dia  mengalami secara pribadi kasih dan kebesaran Tuhan dalam hidupnya. 

 

Adalah penting memiliki keyakinan akan kemahakuasaan Allah dalam hidup ini. Ketekunan dan kesabaran yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang baik. Harapan akan penyertaan dan pertolongan Tuhan menjadi dasar bagi kita untuk terus mempercayai kasih dan anugrahNya.  Sebagai individu yang berada di lingkungan Universitas Kristen Maranatha pasti kita tidak luput dari masalah atau pergumulan hidup. Tetaplah berharap dan mempercayai Tuhan sebagai Pemilik hidup yang menjadikan kita mengalami kasih-Nya. (RZA)

 

Refleksi :

Percayalah kepada Tuhan maka kita akan mengalami kuasa-Nya

SIAPA TAKUT!

“Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar dihadapan Allah : taat kepada kamu atau kepada Allah.

(Kisah para rasul 4:19)

 

Bangsa Indonesia mengalami revolusi pemimpin, perubahan demi perubahan terjadi. Masa kebangkitan bagi para pemimpin muda yang memiliki integritas dalam menjalankan tugas pengabdian terhadap masyarakat. Ahok adalah salah satu sosok pemimpin muda di Indonesia yang tidak takut dengan siapapun. Ia dengan berani melawan orang-orang yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ahok berani bertaruh melawan koruptor dan pemakan pajak rakyat. Ahok bukan hanya berani terhadap orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan, bahkan ia siap mati demi membela kebenaran atau siap dipecat dan dimusuhi anggota DPRD DKI demi Jakarta menjadi lebih baik.

 

Petrus dengan berani menantang para pemimpin Yahudi dan para ahli taurat untuk taat kepada Allah atau kepada mereka. Pada waktu itu Petrus dan Yohanes memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan orang dari antara orang mati. Mereka dituduh menyembuhkan orang lumpuh dengan kuasa Iblis. Para pemimpin Yahudi dan para imam berusaha memenjarakan mereka tetapi tidak ada alasan yang dapat memenjarakan. Mereka hanya mengancam dan melarang keras mengajar dalam nama Yesus. Petrus dan Yohanes tidak terganggu dengan ancaman. Mereka berdoa agar Tuhan  memberikan keberanian memberitakan firman Tuhan, memberikan kuasaNya untuk menyembuhkan orang dan tanda mujizat dalam nama Yesus.

 

Seperti kita ketahui bahwa orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus akan memiliki keberanian dalam menyaksikan siapa Yesus Kristus. Orang yang dipenuhi Roh Kudus akan senantiasa mengandalkan Tuhan dan selalu siap menghadapi berbagai tantangan. Lalu sampai mana keberanian yang kita miliki untuk tidak takut dengan berbagai macam pihak (orang-orang yang tidak berjalan sesuai dengan aturan) Sumber keberanian tentunya datang dari Tuhan yang memampukan kita untuk menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan. Bersiaplah menghadapi berbagai macam tantangan ketika kita berani menyatakan iman kepada Kristus  dalam tugas panggilan kita. (RZA)

 

Refleksi :

Nyatakanlah Kristus dalam hidup sebagai pernyataan iman.

BERANI MENGHADAPI PENGAJAR YANG SESAT (2 Timotius 2 : 14-22)

“ Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni”

(2 Timotius 2 :22)

 

Di era globalisasi ini, gaya hidup dan tampilan dilakukan dengan usaha untuk dapat tampil sesuai atau mengikuti trend yang sedang berkembang, walau kadang trend itu belum tentu sesuai atau tepat dengan prinsip hidup dan kepribadian kita. Tuntutan lingkungan sekitar bukanlah hal yang mudah untuk ditolak, namun sebagai anak-anak yang mengenal Tuhan tentunya trend tersebut harus dapat dipilah dengan bijak dan pintar, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Bahkan kita harus berani untuk tampil beda dengan melawan atau bersebrangan dengan tuntutan tersebut bila dirasa itu tidak sesuai dengan kita. Keberanian tampil beda bukanlah sekedar untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar, namun lebih kepada kesadaran bahwa itu tidak sesuai dengan prinsip hidup dan kepribadian kita, walau kita akan dianggap bahwa kita ketinggalan jaman atau kurang gaul.

Dalam bacaan hari ini, kita dipanggil untuk menasehati orang-orang disekitar kita, bagaimana menghadapi pengajar yang sesat. Kita ditugaskan untuk mengingatkan, dan dititipkan untuk menyampaikan pesan kepada mereka agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah akan mengacaukan orang yang mendengarnya. Kita harus menyampaikannya dengan kesungguhan kita dihadapan Allah, untuk itu kita harus terlebih dulu mengusahakan diri kita supaya kita layak dihadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran, menghindari omongan yang kosong dan tak suci yang hanya menambah kefasikan.

Sebagai warga Universitas Kristen Maranatha, yang mayoritas anak muda dan melayani orang muda,  kita diberi kemampuan untuk berani menghadapi pengajar yang sesat, karena (19): dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah ”Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan ”setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan”. Bagaimana dengan kita? Siap dan beranikah? Sebagai orang muda, atau yang senantiasa mengahadapi orang muda, kita harus menjauhi nafsu orang muda, hindari omongan yang kosong dan tak suci agar tidak menambah kefasikan. (AG)

 

Refleksi : layakkanlah diri kita terlebih dulu.

APA ARTI KATA YESUS?

“Maka jawab Simon Petrus: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

(Matius 16:16)

 

Suatu hari, Tuhan Yesus bertanya kepada murid-muridNya: ”Kata orang, siapa Anak Manusia itu?” Murid-murid Nya menjawab: “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi” Tapi kemudian Tuhan Yesus bertanya lagi “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

Di dunia kita saat ini, banyak versi tentang siapa Yesus. Ada yang melihat Yesus adalah seorang nabi semata, yang sama seperti manusia lainnya. Nabi yang dikirim oleh Tuhan untuk meluruskan jalan orang yang, pada zamannya, membutuhkan Firman Tuhan. Saat ini sudah ada nabi lain setelahnya. Ada yang melihat Yesus hanyalah seorang tokoh sejarah. Mereka mengakui Yesus pernah hidup di dunia. Mengakui dia pernah memberikan ajaran yang luar biasa. Tapi hanya sebatas manusia yang terkenal saja. Sama seperti tokoh RA Kartini, misalnya, ajarannya bagus, perlu dikenang, tapi hanya sampai disitu saja. Ada yang melihat Yesus sebagai pembebas, percaya kalau Yesus pernah mati demi dosanya, maka dosanya diampunkan, tapi itu masa lalu. Dosa saya diampunkan, syukurlah. Saya bebas melakukan apa saja, karena telah diampunkan dosanya. Ada yang melihat Yesus sebagai tokoh suci, patut dipuji, dan patut diagungkan. Kalau ke tempat ibadah, maka dia adalah tokoh yang besar, tetapi dalam kehidupan ada tokoh lain yang lebih hebat.

Semua ini adalah pendapat orang lain.

Tetapi menurut kamu: “Siapa Yesus?” Apa yang ada dibenak kita ketika kita diberi pertanyaan seperti ini? Bagaimanakah kita menjelaskan siapa Yesus menurut pengertian kita, menggunakan kata-kata kita sendiri? Apakah kita sejujurnya menjawab seperti Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”

Apakah kita meyakini pernyataan ini? Sudahkah kita menempatkan Tuhan Yesus sebagai raja dalam kehidupan kita? Apakah Tuhan Yesus turut berkarya dalam segala aktivitas kita?  (AS)

 

Refleksi :

Doa Tuhan Yesus: “…Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan…” (Yohanes 17:24)

MAKSUD TUHAN ADALAH UNTUK KEBAIKAN YANG LAIN

“…Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”

(Matius 20:26b-27)

 

Pemilihan kepemimpinan di Indonesia selalu menjadi suatu ajang “merebut hati pemilih” dengan mengorbankan harta kekayaan. Bahkan kita sering mendengar ada orang yang menjadi stress karena tidak terpilih menjadi pemimpin karena harta kekayaannya habis ketika berkampanye. Peristiwa semacam ini bisa terjadi, karena image menjadi pemimpin di negara akan mendapatkan kekayaan harta yang melimpah. Tidaklah aneh bila kita juga memiliki kesan bahwa menjadi pemimpin itu enak, dari segi gaji lebih besar, dan dari segi status sosial lebih bisa dibanggakan.

Tapi berbeda dengan kepemimpinan dalam Tuhan. Alkitab mencatat banyak pemimpin, tetapi kehidupan mereka tidaklah menyenangkan seperti yang kita bayangkan. Sebagai contoh, Musa yang dipanggil menjadi pemimpin. Kalau kita simak di Alkitab, banyak masalah yang dihadapi Musa. Banyak pengorbanan dan penderitaan yang dia alami. Pada waktu dia mau tutup usia, bahkan Musa tidak diperbolehkan oleh Tuhan untuk masuk ke tanah perjanjian, hanya bisa melihat dari jauh. Seperti tujuan dari kepemimpinannya tidak berhasil dia capai.

Hal ini membuat kita bertanya, kenapa mau jadi pemimpin?

Tuhan Yesus telah memberikan jawabannya: “barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Dalam hal ini Tuhan Yesus menekankan, jika kita menjadi pemimpin, hendaklah apa yang kita lakukan adalah untuk kebaikan orang lain. Perubahan yang terjadi adalah bagaimana orang lain mengecap buah dari kepemimpinan kita. Buah dari kepemimpinan kita mungkin bisa kita rasakan langsung atau mungkin kita hanya dapat merasakannya nanti setelah ada pergantian kepemimpinan.

Ketika Musa menjadi pemimpin, bangsa Israel banyak mengeluh. Tapi buah dari kepemimpinannyalah yang membawa bangsa Israel memasuki tanah perjanjian. Kebaikan untuk bangsa Israel baru dirasakan setelah Musa wafat.

Dengan demikian, dituntut kerelaan kita untuk berkorban. Apa yang kita lakukan, Tuhan akan membawa kebaikan untuk masa depan kita dan orang lain. (AS)

 

Refleksi :

Apa buah kepemimpinan kita bagi orang lain?

TUHAN MENGASIHIMU BUKAN KESUKSESANMU

“Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kau lakukan dan dalam segala yang kau tuju”

(1Raja-Raja 2:3)

 

Setelah raja Daud wafat, Salomo menggantikannya menjadi raja atas Israel. Suatu malam Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dan mengundang Salomo untuk mengajukan suatu permintaan. Tuhan memandang bahwa permintaan Salomo baik adanya dan mengabulkannya. Kita semua tahu bahwa di akhir hidup Salomo, dia telah menikah dengan banyak wanita asing yang menyembah allah asing dan Salomo pun telah menyimpang dari jalan Tuhan. Bila kita renungkan, kita akan menyesali kehidupan Salomo.

Kesuksesan Salomo dalam hidupnya mungkin tidak ada yang menandingi. Alkitab mencatat di 1 Raja-Raja 3:13 “..baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja.” Tapi kesuksesan itu sebenarnya tidak ada artinya jika karena kesuksesan itu akhirnya hidup Salomo menyimpang dari jalan Tuhan, bukan?

Tuhan ingin agar kita yang berdosa ini bisa memperoleh hidup kekal.

Apa yang Tuhan berikan kepada kita untuk dikelola, akan menunjukan kesuksesan dalam hidup kita, apabila kita berhasil mengelolanya dengan baik.

Tapi dibalik pemberian itu, ada hal yang lebih penting, yaitu pengampunan dosa dan pengharapan akan hidup yang kekal.

Pesan Daud kepada Salomo sebelum dia wafat sangatlah tepat. Memang Salomo diberi sebuah kerajaan yang berlimpah untuk dia kelola agar menjadi baik, tapi Daud menekankan pesan kepada Salomo “Lakukan kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan Allahmu” Jangan sampai hidupmu menyimpang dari jalan Tuhan!

Kita mungkin diberi kesempatan menjadi pemimpin di lingkungan kita oleh Tuhan. Tapi dalam melakukan kewajiban kita, jangan sampai kita menyimpang dari jalanNya. (AS)

 

Refleksi :

“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung” (Yosua 1:8)

Mengandalkan Janji Allah

Jawab Barak kepada Debora:“Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju aku pun tidak maju”

(Hakim-hakim 4:8)

 

Karunia adalah kata yang tidak asing dengan telinga kita. Demikian juga  dalam kisah Debora, ia diberikan kepercayaan menjadi hakim atas bangsa Israel juga menjadi nabiah. Nabi adalah seseorang yang menyampaikan firman Allah. Firman yang disampaikan para nabi terdiri atas dua jenis, yaitu menyatakan nubuat dan menyampaikan berita.

 

Sebagai seorang hakim ia tidak seperti hakim biasanya. Diceritakan bahwa dia memberikan keadilan dan nasehat bagi semua orang yang datang kepadanya. Sebagai orang yang memiliki banyak karunia tidak membuat Debora lupa terhadap orang-orang di sekitar yang harus ia motivasi untuk terus berjuang. Barak adalah orang yang di suruh oleh Debora dalam menyerang Sisera. Melihat tentara musuh yang begitu besar tidak ada harapan untuk menang. Barak mungkin sedikit ragu tetapi Debora berteriak dan mengingatkan Barak akan janji Allah dan  dengan semangat akhirnya bangsa Israel boleh memenangkan pertarungan.

 

Dengan penuh kerendahan hati, Debora mengunakan semua karunianya, kekuasaannya dan pengaruhnya yang tentunya Debora menyadarinya bahwa itu semua berasal dari Allah. Jika kita perhatikan, Ia dapat mengambil pedang dan berbaris di depan tentara Israel tetapi ia  memberikan tugas itu kepada Barak. Tidak berhenti hanya memberikan perintah tetapi ia juga terus meyakinkan dan juga memotivasi Barak  bahwa Allahlah yang akan memenangkan pertempuran ini.

 

Pengandalan  Debora akan janji Allah tidak membuat dia menjadi pemimpin yang tidak peduli dengan pertumbuhan iman orang lain tetapi menjadi pemimpin yang memberikan kesempatan orang lain juga mengalami janji Tuhan. (RDS)

 

 

Refleksi :

Jika iman kita bertumbuh bantulah orang lain supaya bertumbuh.

Fokus Kepada Kasih Karunia-Nya

“ Ketika Tuhan melihat, bawa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah Kandungannya, …” (Kejadian 29:31 )

Mungkin sebagian besar orang merasa Lea adalah seorang yang menipu dirinya sendiri dan memilih untuk mengikuti rencana jahat ayahnya. Lea merasa tertindas atau diperlakukan tidak adil, dia tidak mendapatkan cinta dari suaminya. Tapi kita tidak dapat berfikir hanya sampai pada titik ini, mungkin saja dia melakukan hal itu karena hanya taat kepada Laban ayahnya. Tidak ada yang bisa menafsirkan secara terperinci apa motivasi Lea mengikuti rencana ayahnya, Laban. Tapi dari kisah sedih Lea, Tuhan memberikan harapan dan membuka kandungannya serta dapat melahirkan enam anak. Dari keenam anaknya lahirlah Yehuda yang berarti bersyukur. Dari keturunan Yehuda maka lahirlah Yesus Kristus.

Menghadapi tantangan hidup ini kita bisa belajar dari Lea, hidup dalam situasi sulit dan dapat bertahan. Sama seperti Lea, kita adalah orang berdosa yang tinggal dalam dunia yang berdosa. Kita adalah orang yang terluka oleh keterasingan dari satu sama lain dan dari diri kita sendiri. Setiap orang berjuang untuk mencapai kepuasan tetapi selalu berujung pada ketidak puasan. Tidak cukup untuk dicintai, tidak cukup dipedulikan, tidak cukup dihormati, dan tidak cukup dihargai. Mungkin hampir memuaskan tapi tidak pernah seperti yang kita inginkan.

Dari sikap Lea kita dapat melihat dua respon

  1. Berfokus pada apa yang tidak dimiliki dan menjadi sedih
  2. Berfokus pada apa yang kita miliki dan menyadari semuanya karena kasih karunia-Nya, maka ada sukacita.

“Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mazmur 18:31).

Pilihan ada di tangan kita ketika mau hidup bersama Tuhan, maka seharusnya fokus kita adalah apa yang Tuhan berikan dan merasa cukup tiap harinya.(RDS)

Refleksi :

Tetap yakin dan tetap fokus bahwa semua karna kasih karunia-Nya.