GOOD TO GREAT (Matius 20 : 25-28)

“ Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”

(Matius 20 :26,27)

 

Good menyatakan bagus dan Great adalah hebat. Kenyataannya, kadang kita terlena, kita merasa sudah menjadi bagus, kita mempunyai sekolah yang bagus, punya gedung yang bagus, tapi kita lupa kalau kita belum menjadi hebat. Kita terlena, kita merasa nyaman dengan kondisi tersebut sehingga kita tidak lagi terpacu untuk menjadi hebat. Pemimpin yang bagus untuk menjadi pemimpin yang hebat, tidak hanya membicarakan diri mereka, tapi mereka rela dan tidak peduli siapa yang memperoleh pujian akan suatu keberhasilan. Mereka tidak pernah menginginkan menjadi pahlawan, tidak pernah ingin dipuja-puja, mereka orang-orang yang tampak biasa namun secara diam-diam menciptakan hasil-hasil yang luar biasa.

Pada ayat 25 dikatakan bahwa ”pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka” dan di ayat 26, dikatakan “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu”, artinya bahwa bila ingin menjadi pemimpin yang hebat dan bukan sekadar bagus, maka haruslah mau merendah dengan menjadi pelayan, menjadi hamba, karena 28“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang “

Menjadi seorang pemimpin yang hebat, bukanlah hanya pada saat kita mempunyai suatu jabatan, tapi seorang pemimpin adalah seseorang yang mampu pemimpin bagi dirinya terlebih dahulu, dan sebagai pemimpin yang hebat maka haruslah yang mempunyai keberanian dan kerelaan berkorban dalam membela atau memperjuangkan sesuatu demi kebenaran dan mau merendahkan hati untuk menjadi pelayan atau hamba, dan berani menerima kondisi tidak dipuja walau dia menghasilkan sesuatu yang luar biasa, dia berani menyatakan bahwa hasil itu adalah hasil dari suatu kebersamaan, seandainya kita sebagai warga Universitas Kristen Maranatha mau menjadi pemimpin yang hebat, maka Maranatha akan menjadi kampus yang tidak hanya bagus tetapi menjadi kampus yang hebat. (AG)

 

Refleksi : Adakah kita mempunyai kerinduan yang sama untuk menjadi hebat?

MENJADI KUAT (AMSAL 18 : 1 – 16)

“ Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”

(AMSAL 18 ; 14)

 

Masalah dan persoalan dapat terjadi pada semua orang tanpa kecuali dan tanpa membedakan apakah dia miskin atau kaya dsb. Setiap orang tidak pernah luput dari yang namanya masalah atau persoalan, namun yang membedakan adalah bagaimana kita menghadapinya, kalau kita mudah putus asa dan menyerah, maka permasalahan tersebut akan terus meningkat terasa beratnya, sehingga tidak menutup kemungkinan kita menjadi orang yang tertekan dan frustasi. Namun bila kita mampu menghadapi masalah tersebut dengan hati dan pikiran yang tenang serta bijak, maka persoalan itu menjadi terasa ringan, karena pikiran dan perasaan kita menjadi lebih jernih, kita dimampukan untuk berpikir dengan baik, apa yang sebaiknya kita hadapi dan lakukan.

Kalau kita baca bacaan kita hari ini mulai dari ayat 1 sd. Ayat ke 9, bagaimana seseorang itu dikatakan bebal, fasik, pemfitnah dan pemalas yang dapat menjadi perusak.  Masalah dan persoalan boleh datang dan pasti akan singgah pada setiap kita, tapi bagi kita yang percaya akan janji-Nya di ayat 10 dikatakan bahwa: ”Nama TUHAN adalah menara yang kuat tempat orang berlari dan menjadi selamat”.  Artinya, bagaimana kita menyikapinya  saat persoalan dan masalah datang pada kita? Dia ada dan siap menopang kita, hanya bagaimana dengan kita sendiri ? Maukah kita datang berlari kepada-Nya ? Maukah kita melepaskan kesombongan itu?

Mari kita coba renungkan, kita ada di Maranatha dan kita menjadi bagian dari warga Universitas Kristen Maranatha, bagaimana kita menyadari keberadaan kita itu? Apakah keberadaan kita di Maranatha itu kita rasakan sebagai suatu anugrah ataukah kita merasa terjerumus? Bersyukurlah kita kalau menyadari bahwa keberadaan kita di kampus ini bukan suatu kebetulan tetapi sebagai suatu anugrah, karena kita dipanggil dan diberi kesempatan untuk dapat menjadi pelayan. Namun bila kita merasa terjerumus, mari beranikanlah diri kita sendiri untuk diingatkan bahwa jangan kita menjadi seorang yang bebal, fasik atau pemfitnah yang dapat menjadi seorang perusak. Karena ada satu janji bahwa ”Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya”, tetapi semangat yang patah siapa yang akan pulihkan? (AG)

 

Refleksi : Jangan biarkan semangat kita menjadi patah.

DIA ADA DIDEKAT KITA (Roma 8 : 18-28 )

“ Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”

(Roma 8 : 28)

 

Dalam menjalani kehidupan ini, jalan tidak selalu mulus dan tak bercela, demikian juga kita sebagai pengikut Kristus, tidak selamanya jalan kita mulus, bahkan mungkin tantangan itu menjadi lebih besar, karena iman kita senantiasa di uji. Ujian Iman ini tentunya membawa kita pada kesempurnaan Iman. Setiap langkah yang kita jalani dalam kehidupan ini harus semakin menyerupai Yesus , namun seringkali kita tidak sabar dalam menghadapi ujian ini, kita mudah menjadi putus asa dan tidak mau berpegang pada tangan kasihNya. Dia tidak pernah memberikan pencobaan yang melebihi kemampuan kita, Dia senantiasa siap untuk memberi jalan keluar, hanya kitanya yang kadang tidak menyadari kalau Dia ada didekat kita. Kita berkutat dengan masalah kita yang kita anggap suatu permasalahan besar.

Ayat 18: ”bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”, ayat 21: ”tetapi dalam pengharapan, karena mahluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” dan ayat 26: ”Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita, sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan”

Sebagai warga Universitas Kristen Maranatha, dalam bacaan kita hari ini dapat kita lihat bahwa penderitaan itu atau bisa dikatakan juga sebagai permasalahan tidak pernah dikatakan tidak ada, namun kita diberi suatu pengharapan untuk dimerdekakan karena Roh membantu kita saat kita dalam kelemahan. Bagaimana dengan keputusan kita, beranikah kita menaruh pengharapan kita hanya kepada Dia, karena sebenarnya Roh sudah berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dia ada didekat kita dan Dia menunggu kita membukakan pintu hati kita supaya Dia masuk. (AG)

 

Refleksi : Dia ada didekat kita dan Dia senantiasa siap untuk memberi jalan keluar.

KEBERANIAN DANIEL (Daniel 1 : 8 – 21)

“ Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum”

(Daniel 1 : 12)

 

Saat kita ditantang dan diuji tentang yang berlawanan dengan prinsip hidup kita, bertentangan dengan hati nurani kita, bertentangan dengan apa yang kita yakini, sikap apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita bisa teguh dengan pendirian kita? Ataukah kita akan terbawa arus? Contoh mudah yang dapat kita perhatikan dan lakukan, bagi kita yang mengemudi kendaraan, bagaimana kita taat pada peraturan lalu lintas, sementara pengendara lain sudah mulai melajukan kendaraannya walau lampu masih merah, kemudian pengendara lain dibelakang kita sudah mulai membunyikan klakson kendaraannya yang dengan kata lain, ”hayo jalan” ! Tanpa disadari kitapun mulai melajukan kendaraan kita, apalagi saat dari sisi horisontal tidak ada kendaraan yang melintas.

Di ayat 8 bacaan kita hari ini, dikatakan bahwa : “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirnya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja, dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” Di ayat ke 15 : “Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja”, dan di ayat ke 20 : ”Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya”.

Apa yang bisa kita simpulkan dari bacaan kita hari ini? Kalau kita berani teguh pada pendirian bahwa itu salah dan tidak boleh dilakukan, maka ada suatu janji pemeliharaan Allah seperti pemeliharaan Allah terhadap Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Siapapun kita dan apapun status kita sebagai warga Universitas Kristen Maranatha, bagaimana kita menjalankan tugas dan kewajiban kita? Maukah kita menjalaninya dengan keberanian seperti Daniel ? Kita berani berketetapan untuk tidak menajiskan diri kita dengan melakukan atau mengambil kesempatan yang sebenarnya itu tidak berkenan dimata Tuhan. (AG)

 

Refleksi : Janji pemeliharaan Tuhan  : ”YA dan AMIN”

BERANI MENGHADAPI PENGAJAR YANG SESAT (2 Timotius 2 : 14-22)

 “ Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni”

(2 Timotius 2 :22)

 

Di era globalisasi ini, gaya hidup dan tampilan dilakukan dengan usaha untuk dapat tampil sesuai atau mengikuti trend yang sedang berkembang, walau kadang trend itu belum tentu sesuai atau tepat dengan prinsip hidup dan kepribadian kita. Tuntutan lingkungan sekitar bukanlah hal yang mudah untuk ditolak, namun sebagai anak-anak yang mengenal Tuhan tentunya trend tersebut harus dapat dipilah dengan bijak dan pintar, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Bahkan kita harus berani untuk tampil beda dengan melawan atau bersebrangan dengan tuntutan tersebut bila dirasa itu tidak sesuai dengan kita. Keberanian tampil beda bukanlah sekedar untuk mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar, namun lebih kepada kesadaran bahwa itu tidak sesuai dengan prinsip hidup dan kepribadian kita, walau kita akan dianggap bahwa kita ketinggalan jaman atau kurang gaul.

Dalam bacaan hari ini, kita dipanggil untuk menasehati orang-orang disekitar kita, bagaimana menghadapi pengajar yang sesat. Kita ditugaskan untuk mengingatkan, dan dititipkan untuk menyampaikan pesan kepada mereka agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah akan mengacaukan orang yang mendengarnya. Kita harus menyampaikannya dengan kesungguhan kita dihadapan Allah, untuk itu kita harus terlebih dulu mengusahakan diri kita supaya kita layak dihadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran, menghindari omongan yang kosong dan tak suci yang hanya menambah kefasikan.

Sebagai warga Universitas Kristen Maranatha, yang mayoritas anak muda dan melayani orang muda,  kita diberi kemampuan untuk berani menghadapi pengajar yang sesat, karena (19): dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah ”Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan ”setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan”. Bagaimana dengan kita? Siap dan beranikah? Sebagai orang muda, atau yang senantiasa mengahadapi orang muda, kita harus menjauhi nafsu orang muda, hindari omongan yang kosong dan tak suci agar tidak menambah kefasikan. (AG)

 

Refleksi : layakkanlah diri kita terlebih dulu.

KEPEMIMPINAN SPIRITUAL

Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut  dan tawar hati,  sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.(Yosua 1:9)

 

Manajemen modern saat ini begitu gencar melakukan berbagai pendekatan-pendekatan kepemimpinan organisasi.  Diantara model-model kepemimpinan yang dikembangkan adalah kepemimpinan spiritual (model yang dikembangkan oleh Fry, dkk).  Kepemimpinan spiritual ini menggabungkan nilai, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi diri dan orang lain secara intrinsik, sehingga mereka menyadarinya sebagai sebuah panggilan melalui pemaknaan visi dan misi yang ada. 

 

Hal ini pula yang dilakukan oleh Yosua dalam pembacaan Alkitab pada hari ini yang diambil dari Yosua 1:1-18.  Dalam bagian ini Tuhan melalui Yosua menumbuhkan harapan akan panggilannya sebagai umat percaya melalui harapan akan pusaka yang akan dimiliki serta keberhasilannya yang berasal dari Allah sendiri (ayat 9).  Yosua menjadi contoh kepemimpinan spiritual, bagaimana ia menantang umat-Nya menangkap sebuah harapan yang menjadi keyakinan bersama menjadi sebuah visi (tanah perjanjian), dan visi ini menggerakan semua orang yang ada dalam bangsa itu untuk bertindak secara suka rela (tidak egois).  Harapan inilah yang menjadi bahan bakar bagi umat Israel melawan setiap bangsa yang dihadapi di tanah yang dijanjikan Tuhan bagi Israel.  Hingga kita membaca melalui kesaksian Alkitab harapan ini mendorong partisipasi umat mengikuti perintah Tuhan melalui Yosua untuk satu persatu menaklukan bangsa yang ada di sekitar tanah yang dijanjikan dan yang fenomenal meruntuhkan tembok kota Yerikho yang kokoh.

 

Kepemimpinan spiritual membawa dampak yang luar biasa.  Kuncinya terletak pada  adanya (1) harapan yang menciptakan (2)visi yang setiap orang memiliki rasa terpanggil dan membudayakannya menjadi dasar untuk (3) bertindak tiap-tiap anggotanya untuk tidak egois.  Demikian dengan kita, nama Maranatha mencerminkan harapan kita (Tuhan datanglah).  Harapan itulah yang menciptakan visi kita agar kita terpanggil menjadi bagian dari visi itu, dengan membudayakan nilai-nilai NHK yang ada menjadi dasar bertindak seluruh komponen yang ada untuk saling memperhatikan.  Dan nantikanlah impact yang luar biasa untuk kampus ini. (ITW)

Refleksi : Kepemimpinan spiritual membawa pada Harapan – Keterpanggilan Visi – sikap saling memperhatikan sebagai satu keluarga besar.

PEMIMPIN YANG ANDAL

Demikianlah hendaknya orang memandang kami:  sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.  Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. (1 Korintus 4:1-2)

 

Seperti apakah pemimpin yang andal tersebut?  Dalam benak kita mungkin pemimpin yang anda seperti ditunjukan para manager atau CEO perusahaan kelas dunia yang sukses.  Namun sebenarnya pemimpin yang andal seperti apakah yang ditunjukan oleh Alkitab?  Tentu pada akhirnya dalam melihat sosok seorang pemimpin atau orang yang andal atau orang yang dapat dipercaya kita dapat temukan dalam diri Yusuf yang mengatur segala miliknya tuannya Potifar. 

Dalam teks ini Paulus dan kawan-kawan yang sebenarnya merupakan pemimpin jemaat  dilukiskan sebagai  hamba-hamba Kristus.  Hamba yang digambarkan dalam surat ini huperetes dan semula berarti sebagai hamba pendayung  kapal Romawi/Yunani yang ditempatkan di posisi terendah. Dalam posisi hamba inilah tidak memiliki kesanggupan menetapkan arah mana yang akan dituju, selain sang nahkoda kapal itu sendiri dalam hal ini Kristus.   Gambaran kedua posisi Paulus adalah sebagai penatalayan atau oikonomos yang memiliki wewenang mengatur pegawai, membagikan perbekalan, mengatur hak-hak para pegawai dan pekerjaan mengatur lainnya (layaknya Yusuf di rumah Potifar).  Akan tetapi dalam posisi demikian Paulus menyebutkan, bahwa ia sendiri tidak memiliki hak melebihi yang memberi kepercayaan (TUHAN) atas penatalayan tersebut.  Dirinya tetaplah sebagai hamba yang mendapat kepercayaan dari tuannya.

Dari gambaran di atas jelas, bahwa pemimpin yang andal dalam konteks pembacaan kita pada saat ini ada dua hal pertama sebagai hamba (pendayung) dan Kristus sebagai Nahkodanya, kedua sebagai penatalay dengan Tuhan sebagai Tuannya.    Sebagai hamba (pendayung), pemimpin menyerahkan sepenuhnya kepada Kristus kearah mana tujuan lembaga yang dipimpinnya.  Sebagai penatalayan yang dapat dipercaya, tentu mengatur segala sesuatu berkaitan dengan asset-aset yang dipercayakan, mengatur hak-hak pegawai dan segala sesuatu yang dipercayakan kepadanya dengan didasari, bahwa dirinya bertanggung jawab kepada Kristus sang pemilik lembaga ini.   Demikianlah kiranya kita memandang pemimpin yang andal dipandang dari dua perspektif di atas. (ITW)

 

Refleksi : Pemimpin yang andal adalah hamba dan penatalayan Kristus yang dipercaya.

MENJADI PROFESIONAL

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan   dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23)

 

Dalam suatu percakapan dengan mahasiswa seni rupa yang begitu kecewa dengan hasil prototipe desainnya tidak sesuai dengan diharapkannya.  Percakapan tersebut sampai pada percakapan mengenai hasil kualitas pekerjaan tukang kayu tersebut yang dinilai tidak profesional.   Kata profesional dalam percakapan tersebut merujuk pada kualitas pekerjaan yang dihasilkan tukang kayu.  Untuk dikatakan profesional seseorang harus memiliki keahlian khusus (itulah sebabnya hasil pekerjaan berkualitas), dituntut juga tanggung jawab moral atas pekerjaannya.  Dengan demikian seorang yang mengaku dirinya profesional dituntut untuk melakukan pekerjaannya dengan segenap hatinya.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose menekankan untuk melakukan segala sesuatu dengan segenap hati didasari penghayatan, bahwa apa yang dilakukan adalah untuk Kristus sebagai majikan kita.  Dalam pemaknaan inilah kita sebenarnya sedang menempatkan pekerjaan kita dalam hubungan kita dengan Sang Pemberi dan Pemilik hidup, yaitu Tuhan kita.   Dengan sepenuh hati berarti tidak setengah-setengah, tetapi dengan penuh kesungguhan dan totalitas.  Motivasinya bukan sekadar untuk mendapatkan upah dari Tuhan, tetapi karena sudah mengenal, mengasihi dan rindu untuk menyenangkan Tuhan, itulah yang paling berharga bagi kita. 

Sikap mental yang didasari oleh pekerjaan kita untuk Tuhan (bukan untuk manusia) seyogianya menjadi sikap kita sebagai mahasiswa, karyawan, dan dosen  Universitas Kristen Maranatha.  Niscaya apapun yang dilakukan akan berbeda, karena hasil pekerjaan yang kita lakukan didedikasikan untuk Sang Pemberi dan Pemilik hidup yang mempercayakan pekerjaan tersebut kepada kita.  Ada kisah di negeri China, seorang dokter karena imannya kepada Kristus dialihtugaskan untuk membersihkan toilet setiap hari.  Ia pun menyulap toilet itu menjadi toilet paling bersih di kotanya.  Ketika ditanya tentang motif di balik tindakannya, ia berkata, “Saya selalu membayangkan bahwa Yesus akan datang  ke toilet yang saya bersihkan ini.”  Seberapa pun sederhananya tugas kita bila dikerjakan dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan, pasti hasilnya akan luar biasa.  Itulah yang kita sebut sebagai profesional mengerjakan dengan sepenuh hati sama seperti untuk Tuhan.(ITW)

 

Refleksi : Profesional adalah mengerjakan sebuah pekerjaan dengan sepenuh hati sama seperti untuk Tuhan.

SPIRITUALITAS DAN KESUKSESAN

Adakah Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon,  Barak,  Simson,  Yefta,  Daud  dan Samuel  dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan,  mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa,” (Ibrani 11:32b-33)

 

Sudhamek CEO Garuda Food seorang pengusaha sukses yang membangun bisnisnya dengan pendekatan spiritualitas yaitu “Sukses Itu Lahir Dari Kejujuran, Keuletan, dan Ketekunan yang Diiringi Doa.  Sebuah visi yang luar biasa untuk ukuran perusahaan yang memproduksi kacang dengan berbagai varian.  Namun visi yang sarat mengandung makna spiritualitas di dalamnya ini sanggup menggerakkan lebih dari 5000 orang-orang di dalam perusahaan tersebut mulai dari hulu hingga hilir.  Bagaimana visi ini mendorong  para petani kacang di hulu dan para tenaga penjualan di hilir untuk jujur, ulet, tekun dan tentunya dengan iringan doa agar dapat berhasil.  Hasilnya, luar biasa!  Berturut-turut menyabet Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA), Superbrands dan penghargaan-penghargaan lainnya.

Melihat hal di atas spiritualitas tidak hanya berkutat di wilayah kehidupan rohani saja, namun kehidupan bisnis dewasa ini pun juga demikian.  Kesaksian Alkitab meneguhkan kita melalui Ibrani 11 ini, bagaimana para tokoh Alkitab membuktikan pengharapan yang mereka yakini tidak kosong.  Para tokoh Alkitab juga mengajarkan bagaimana mereka tidak hanya sekadar,  “Ya saya percaya!” sebagai sebuah slogan kosong, tetapi mereka dengan sepenuh hati memaknai dan mengerjakan keyakinan (iman) mereka dengan penuh keberanian mengalahkan musuh, mengamalkan kebenaran bahkan menutup mulut singa. 

Menjadi pelajaran kita hari ini adalah bagaimana nilai yang diyakini menjadi spirit,  menjadi penyemangat untuk berani menghadapi tantangan bagi para pahlawan-pahlawan iman (Ibrani 11) yang kemudian berhasil menjadi pemenang (sukses).   Nilai-nilai ini juga saat ini digali menjadi Spiritual capital dalam manajemen modern dewasa ini.   Kesanggupan memaknai dan menghidupi nilai-nilai yang dianut itulah yang menjadi kunci dari spiritual capital apapun agamanya yang diselaraskan dengan  tujuan organisasi.  Dengan demikian tujuan organisasi tidak dimaknai dalam pencapaian yang  materialistik (misalnya keuntungan belaka).  Demikian juga dengan Maranatha melalui nilai Integritas, Kepedulian dan Keprimaan menjadi Spiritual Capital yang berharga untuk mencapai tujuan Universitas.  (ITW)

Refleksi : Spiritualitas Bahan Bakar Mencapai Tujuan.

BELAJAR DAN PENGALAMAN MENGHASILKAN KEBERANIAN

“Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa  atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya,  maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.” (1 Samuel 17:34-35)

 

Lima puluh satu tahun yang lalu bapak-bapak pendiri Universitas Kristen Maranatha menyatukan hati untuk menerima  dan menjawab kerinduan mahasiswa Fakultas Kedokteran UKI Immanuel untuk mendirikan sebuah universitas Kristen di Bandung.  Tentu keputusan berani ini bukan sebuah keputusan yang bermodal nekad, tetapi sebuah keputusan yang didasari oleh keyakinan bahwa TUHAN pasti menolong. 

 

Apabila kita bertanya dari manakah keyakinan yang mendasari seseorang untuk bertindak berani mengambil tantangan sebagaimana halnya Bapak pendiri universitas ini?  Pembacaan Alkitab pada hari ini kita memperoleh informasi bahwa keyakinan itu datang dari proses belajar dan pengalaman yang diperoleh.  Belajar dan pengalaman itulah yang dialami Daud, sehingga ia menerima tantangan Goliat untuk bertarung.  Ayat 34-35 yang kita baca di atas menggambarkan bagaimana pengalaman Daud melawan binatang-binatang buas berbahaya.  Daud menerima pembelajaran dan pengalaman sekaligus melalui aktivitas sederhananya menggembalakan beberapa ekor domba yang dipercayakan kepadanya.  Inilah pembentukan Tuhan kepada Daud.  Tuhan memberikan tanggung jawab besar kepadanya walaupun jumlah hewan gembalaannya sedikit.  

 

Melalui pernyataan di atas tentu bukan asal berani saja, tetapi keberanian mengambil tantangan yang didasari dengan keyakinan. Dan keyakinan itu diperoleh dari proses belajar dan pengalaman yang dialami dalam kehidupan seseorang.  Melalui proses belajar dan pengalaman yang dialami oleh Universitas Kristen Maranatha selama 51 tahun membawa pada satu keyakinan kita untuk senantiasa dapat menatap ke depan menghadapi tantangan yang ada (MEA dan globalisasi). (ITW)

 

Refleksi : Mantapkanlah hati dan satu keyakinan bahwa Tuhan ijinkan agar Maranatha mampu menjawab setiap tantangan tersebut.