MEMINTA BUKAN UNTUK JADI KAYA

“Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.” (Amsal 23:40)

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15)

Andai, suatu saat Tuhan datang pada saya, dan menawarkan:   Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu?  Sebagian akan berkata, kebahagiaan, kesuksesan, kesehatan, panjang umur, mungkin juga saya butuh kekayaan atau banyak uang.  Coba perhatikan ketika seseorang ulang tahun, saat ‘make a wish’ atau melayangkan permintaan.  Keinginan yang berulang tahun, biasanya tidak jauh dari yang dikatakan tadi.  Sebagai pengusaha, mungkin akan berdoa, “Tuhan berilah aku modal yang besar, berikan aku untung yang banyak!” Sebagai pemimpin, mungkin berdoa, “Tuhan berikan aku kehormatan, kepintaran!”

Kita perhatikan Salomo (1 Raja-raja 3:5), ketika Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam, di Gibeon. Saat itu Tuhan menawarkan: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu”. Salomo tidak meminta umur panjang, kekayaan, nyawa musuh, atau hal-hal material lainnya. Tetapi, Salomo meminta agar Tuhan memberinya “hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Nya” (1 Raja-raja 3:9) atau “pengertian untuk memutuskan hukum” (1 Raja-raja 3:11).

Permintaan Salomo sangat berkenan dimata Tuhan, karena mengutamakan panggilan pelayanannya sebagai raja/pemimpin. Ia tidak meminta umur panjang, bila hatinya menjauh dari Tuhan.  Ia tidak meminta kekayaan, bila sikapnya menjadi tamak. Ia tidak minta kekuasaan, bila tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Salomo hanya meminta ‘hikmat Tuhan’, karena diperlukan dalam kehidupan, apalagi sebagai raja.  Hal yang luarbiasa, Tuhan bukan saja memberikan hikmat, namun memberikan bonus berupa kekayaan, umur panjang, dan kemuliaan (1 Raja-raja 3:13).   Wejangan dari (Amsal 23:4) Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.  Tentu ini merupakan pengalaman pribadi Salomo dan pengamatannya selama hidupnya. (TMZ)

 

Refleksi : Tuhan Yesus, aku memohon kepada-Mu, berikanlah kami hikmat untuk membedakan mana yang benar dan salah, yang berkenan kepadaMu.

 

KEPEDULIAN YANG DILANDASI BELAS KASIHAN

“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.  Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 6:35-36)

 Gembala adalah seseorang yang mengurus, menjaga, memelihara ternak.  Gembala domba merupakan suatu pekerjaan yang amat mulia dikalangan kaum Yahudi.  Pekerjaan penggembalaan dilakukan baik oleh pria maupun wanita.  Pekerjaan gembala adalah pekerjaan yang paling berat dan berbahaya. Ia diperlengkapi dengan mantel kulit domba, kantong, ali-ali dan kait.  Kawanan domba dibawanya ke padang rumput hijau di pagi hari, dan menjelang malam dikembalikan ke kandangnya.

 “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan”.  Hal yang dapat dipelajari dari sikap Tuhan Yesus kepada orang banyak adalah kepedulian yang dilandasi oleh belas kasihan. Sikap Yesus sepadan dengan yang pernah diucapkannya: ”Akulah gembala yang baik.  Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”.  Sikap peduli seperti ini,

tidak boleh dilupakan oleh kita, apalagi seorang pemimpin.  Pemimpin harus memiliki kepedulian kepada yang dipimpin (orang banyak), bukan mentang-mentang menduduki kedudukan tinggi, jangan merasa paling hebat, jangan merasa paling berkuasa.  Sikap peduli, harus didasari oleh hati yang belas kasihan, karena mereka butuh arahan, mereka butuh bimbingan, mereka butuh pelayanan, mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Dalam kehidupan sekitar kita, sering kita jumpai hal serupa, rumah tangga tercerai berai, anak-anak tanpa bimbingan orang tua, remaja terseret pergaulan negatif, orang tua kehilangan harapan.  Karena itu diperlukan gembala, pemimpin yang berbelas kasihan, yang menuntun ke padang rumput hijau, yang menyegarkan jiwa domba-dombanya. (TMZ)

 Refleksi : Tuhan Yesus, tolong aku untuk peduli terhadap sesama, seperti Engkau mengasihi mereka.  Jadikanlah  aku gembala yang baik, yang menuntun mereka kepada-Mu.

 

3 KUNCI SUKSES ALA DANIEL

“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya.  Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (Daniel 6:11)

 Daniel seorang pemimpin yang memiliki roh yang luar biasa.  Pada waktu itu dia dipilih oleh raja Darius, seorang raja Media-Persia.  Dia dijadikan salah seorang dari 3 Pejabat Tinggi Raja.  Dia membawahi 120 Wakil Raja dan mengasuh wakil-wakil raja ini.  Suatu saat, 2 pejabat tinggi (rekan kerja) dan 120 wakil raja ini bermufakat untuk menjatuhkan dia, karena dia adalah seorang tawanan namun dijadikan pemimpin.  Mereka iri, karena raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.  Walau Daniel mendapat masalah besar, dia memiliki 3 kunci sukses untuk menjadi pemimpin di tengah segala rintangan dan ancaman.

Kunci sukses pertama : Berdoa.  Dia sadar kemampuan yang dimilikinya bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi diberikan oleh Allah untuk memberkati semua orang.  Dia lebih bersandar kepada penciptaNya yang menjadi sumber hikmat, pengetahuan.

Kunci sukses kedua : Memuji Allah.  Walau ditengah persoalan, rintangan, masalah besar sekalipun, dia tetap bersyukur memuji Allah.  Dia percaya kepada Allah, persoalan merupakan bagian dari hidup, rintangan adalah tantangan, masalah merupakan ujian untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.  Dia percaya, Allah dapat mengatasi semuanya.

Kunci sukses ketiga : Tetap melakukan kedua hal itu seperti biasa, artinya Tekun/Konsisten/Setia.  Jangan hanya ketika susah, kita datang padaNya. Berdoa dan memuji Allah harus menjadi bagian hidup orang yang percaya.

Dimanapun kita berada, kondisi apapun kita ditempatkan, kita dapat berkarya bagi sesama untuk kemuliaanNya.  Bersandar kepada Tuhan dalam menjalankan tugas, bersyukur kepadaNya atas potensi, talenta, kesempatan yang diberikanNya untuk berkarya, dan konsisten melakukan mandat yang dipercayakanNya apapun kondisinya. (TMZ)

 

Refleksi : Kita adalah pemimpin, minimal memimpin diri sendiri atau keluarga.  Sudahkah kita memberikan teladan yang baik seperti Yosua.

MEMAHAMI ‘BLIND SPOT’ SEORANG PEMIMPIN

“Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.” (Amsal 15:22)

 Istilah ‘Blind-Spot’ diartikan titik buta, dimana kita tidak bisa mengetahui keberadaan disekitar kita. Misalnya saat kita mengemudikan kendaraan, beberapa bagian menjadi daerah buta karena tidak terlihat oleh pengemudi, seperti bagian belakang, bagian samping kiri dan kanan, bagian atas dan bawah.  Karena memang benar-benar buta maka hal ini sangat beresiko sekali terjadinya kecelakaan. Oleh karena diperlukan ekstra waspada dalam berkendaraan baik sepeda motor maupun mobil.  Keberadaan cermin ataupun sensor pada kendaraan, membantu pengemudi untuk melihat keadaan sekelilingnya.

 Raja Salomo, seorang pemimpin yang terkenal pada zamannya, menyadari betul bahwa banyak hal yang tidak terlihat (blind spot) di sekitarnya.    Seperti yang dikatakannya, “rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan tetapi terlaksana kalau penasihat banyak”.  Pertimbangan dari penasihat-penasihat sangat diperlukan untuk melaksanakan sebuah rancangan.  Seorang pemimpin tidak bisa berjalan sendiri tanpa ada penasihat-penasihat.  Dikatakan rancangannya akan gagal bila tanpa pertimbangan dan tidak akan terlaksana tanpa para penasihat.  Penasihat ibarat cermin ataupun sensor yang memberikan penglihatan, peringatan, panduan kepada seorang pemimpin.

Tak heran, bila Salomo menjadi Raja Israel yang sangat terkenal, karena hikmatnya yang luar biasa. Dikatakan bahwa orang dari segala bangsa mendengarkan hikmat Salomo, dan ia menerima upeti dari semua raja-raja di bumi, yang telah mendengar tentang hikmatnya itu (1 Raj 4:34). Ia lebih bijaksana dibanding tokoh-tokoh bijak dari Mesir, Arab, Kanaan, dan Edom (1 Raj 4:31).   Walau proses naik tahtanya yang tidak mulus, namun akhirnya Salomo yang naik menjadi Raja Israel, dengan dukungan penuh dari Panglima Benaya, Imam Zadok, dan Nabi Natan.  Tentu dibalik semuanya itu, Tuhanlah yang ambil bagian dalam kehidupan Salomo. (TMZ)

 Refleksi : Tuhan bimbinglah kami, saat kami merancang, membuat proyek, mengerjakan pelayanan.  Jadikan kami pemimpin sejati yang bekerja keras dan menyenangkan hatiMu.

 

PENYERTAAN TUHAN SETIAP SAAT

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda:  Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (Yesaya 7:14) …dan mereka akan menamakan Dia Imanuel –yang berarti: Allah menyertai kita.” (Matius 1:23)

 Dari kedua ayat tadi yang ditulis oleh 2 orang berbeda (Nabi Yesaya dan Matius), dalam selisih waktu 700 tahun.  Ada kata yang menarik dalam kedua kitab itu : Imanuel yang berarti Allah menyertai kita.

Kata “Imanuel” dipakai juga ketika Allah menyertai Abraham,  Kej 21:22 Aku menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan.  Allah menyertai juga Musa, Kej 33:15  ..jika Engkau sendiri tidak membimbing kami.  Bahkan Tuhan Yesus mengucapkannya, dalam Mat 18:20 Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Mengapa Allah mau menyertai kita? Bila ditelusuri maka kata Imanuel, terdiri dari Im = (menemani, mengawal, menjaga, mengelilingi).  Mannu = (manna/roti surga, memberikan roh kehidupan, napas kehidupan, memberikan kehidupan pada tubuh).  Sedangkan El = (Elohim, Allah yang maha kuasa di sorga dan di bumi).  Berarti Allah mau agar Roh KehidupanNya dapat menemani, mengawal, menjaga, mengelilingi dan ada di dalam kehidupan kita sehari-hari.  Suatu kehormatan yang luarbiasa, Allah semesta alam, Allah yang maha kuasa, mau menyertai kita.  Ini suatu anugrah yang besar yang harusnya kita syukuri.  PenyertaanNya tidak tanggung-tanggung, terus-menerus sampai kepada akhir zaman.  Sebagai orang percaya, sebetulnya dapat hidup tenang, walau sekitar kita bergoncang, mengancam setiap saat, karena kita memiliki Allah yang mengawal setiap saat.  Sepanjang sejarah dilihat dari Alkitab, penyertaan Allah memang tiada henti-hentinya, mulai dari penciptaan, kejatuhan manusia dalam dosa, kehidupan bangsa Israel,   kehidupan Tuhan Yesus, kehidupan gereja, sampai nanti akhir zaman.

Masalahnya seringkali kita mengabaikan penyertaan Tuhan,  tidak mau dipimpin olehNya, menjauhkan diri dari hadiratNya, mengambil jalan sendiri, lepas dari komunitasNya.  Mari kembali…!(TMZ)

 

Refleksi : Ingat selalu bahwa penyertaan Tuhan senantiasa sampai kepada akhir zaman, jangan abaikan tuntunan-Nya setiap saat.

SIAP MENERIMA BERKAT TUHAN MELALUI KETAATAN

“Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: Pergilah . . . ke negeri yang akan Kutunjukkan . . . ; Aku akan memberkati engkau . . .Lalu pergilah Abram” (Kejadian 12:1-4)

 Kita sedang hidup di zaman di mana keegoisan manusia muncul. Tidak heran, karena Alkitab sudah mempersiapkan kita bahwa “pada hari-hari terakhir” manusia akan hidup semakin “mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (2 Timotius 3:1-4). Apakah seperti itu yang terlihat di sekitar kita? Abram mengingatkan kita untuk tidak mencintai diri sendiri , tidak memberontak, sebaliknya hidup “menuruti Allah”.

Dalam renungan sebelumnya dijelaskan mengenai ketaatan Yesus sebagai motivasi-Nya dalam kasih untuk menghadapi pengorbanan-Nya di kayu salib. Semua itu membawa berkat terbesar bagi kita.

Hari ini kita dapat memperhatikan ketaatan Abram dan hasilnya “olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 12:3).  Ketaatan Abram adalah persiapan Abram menerima berkat Tuhan. Zaman ini kita terbiasa mendengar kata “berkat” dan berdoa agar diberkati. Ini tidak salah, kalau dalam konteks keseimbangan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan juga berjanji kepada Abram, “Aku akan . . . memberkati engkau serta membuat namamu masyhur” (Kejadian 12:2) dan “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau” (Kejadian 12:3). Tetapi jangan lupa bahwa ada ayat sebelumnya yang memerintahkan Abram, “Pergilah . . . “, kemudian Abram setelah menerima perintah dan berkat Tuhan, “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya” (Kejadian 12:4).

Ingat bahwa saat Abram melakukan perjalanannya belum ada transportasi seperti saat ini. Perjalanannya sukar dan lama serta dia sudah berumur 75 tahun! Dari situ kita belajar, ketaatan – sebagai persiapan menerima berkat Tuhan – tidak mengenal usia. (CG)

Refleksi:  Jangan hanya berdoa ‘berkatilah aku’. Lihatlah dalam hal apa anda sudah taat kepada Tuhan. Pasti berkat Tuhan mengikuti orang yang hidupnya taat.

DISADARI DAN DIANUGERAHKAN KEMAUAN MENGATASI BLIND SPOT

“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13)

 Saya kenal baik dengan seorang pemimpin beberapa organisasi. Dia berhasil dalam bidang-bidang yang dipimpinnya, dan menjadi mentor berbagai group, sesuai dengan kecerdasan majemuk dan talenta yang Tuhan berikan kepadanya. Dialah seorang pelopor di bidangnya, yang berhasil mencapai beberapa achievement sebelum ada seorang pun di Indonesia yang dapat mencapainya. Pemimpin ini adalah lulusan Universitas Kristen Maranatha juga. Sebagai alumni, dia minta waktu untuk saya mendoakannya. Dia mengaku bahwa walaupun dia punya hubungan baik dengan orang-orang yang dipimpin, namun ada seseorang dalam hidupnya yang dia hindari. Tetapi dia mengatakan, “Saya ingin mengasihi orang itu.”

 Waktu orang ini menyampaikan keinginan tersebut dari lubuk hatinya, saya teringat akan kata-kata di Filipi 2:13. Saya kemudian mendoakannya dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti menganugerahkan kemampuan itu kepadanya karena itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Menarik, bahwa kurang lebih dua minggu setelah itu, dia meminta saya mendoakannya agar semakin rendah hati. Sekali lagi, dia dapat membedakan saat-saat bertindak tanpa rasa angkuh karena Roh Kudus menyadarkannya bahwa ada peristiwa dimana dia kurang menunjukkan kerendahan hati. Dalam ayat 5-8 rasul Paulus menceriterakan kebenaran akan kerendahan hati Yesus, yang “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati” (ayat 8). Atas dasar kerendahan hati dan ketaatan-Nya, rasul Paulus menasihatkan kepada kita “hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.”

Lalu orang itu kembali meminta saya mendoakannya. Sambil meneteskan air mata, dia ingin belajar hidup taat kepada Tuhan, dan itu membawa sukacita dalam hidupnya, sekalipun melalui pengorbanan. Dia belajar mengikuti teladan Yesus. Setiap langkah ini merupakan lapisan-lapisan hatinya yang tadinya adalah blind spot  kemudian disadarkan oleh Roh Kudus. (CG)

 Refleksi: Izinkan Roh Kudus membantu kita menyadari blind spot dan memberi kemauan agar hidup dalam kasih, kerendahan hati, dan ketaatan.

TIDAK MENYADARI ADANYA BLIND SPOT

Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. (Filipi 1:6)

Sesudah kordinator buku renungan Pelita Maranatha mengirimkan notulen rapat yang memberitahukan tema edisi Pelita Maranatha ini, saya tunggu selama beberapa minggu untuk informasi tema dan tanggal yang ditentukan sebagai tanggung jawab saya. Saya terus memperhatikan notulen rapat yang menyebutkan bahwa para penulis akan diberitahu tema dan tanggal masing-masing melalui e-mail atau sms. Saya tunggu, tunggu, dan tunggu hingga akhirnya saya menerima e-mail lagi beberapa minggu kemudian untuk mengingatkan deadline pengiriman penulisan renungan. Pada saat itu, baru saya menanyakan tema dan tanggal yang menjadi bagian tugas saya. Jawaban langsung dikirimkan kepada saya. Tahu-tahu informasi itu sudah ada di notulen rapat. Satu topik yang diberikan kepada saya adalah, ‘Menyadari Blind Spot sebagai Pemimpin.’ Saya tertawa dalam hati. Saya sendiri tidak menyadari selama beberapa waktu itu bahwa topik saya adalah menyadari blind spot. Saya tidak membaca dengan seksama semua informasi yang telah disampaikan melalui e-mail sebelum itu. Saya menjadi sadar bahwa sebelum itu saya tidak menyadari bahwa saya memiliki blind spot, yaitu untuk menyadari blind spot-ku sendiri. Melalui hal ini, saya kemudian sadar berapa sering saya tidak baca informasi di WhatsApp atau Line dengan seksama karena kesibukan saya dalam berbagai tugas sebagai dosen dan pelayanan. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman atau membuat sang pengirim pesan mengulangi informasi yang telah disampaikannya.

Ayat ini sungguh adalah ayat yang indah untuk mendoakan orang lain dengan ucapan syukur. Mendoakan saudara seiman, termasuk pemimpin kita dengan ucapan syukur, dalam kasih, dan dengan sukacita. Bukan dengan sikap penghakiman. Ayat 3 menunjukkan kebiasaan rasul Paulus mengucap syukur atas saudara-saudara seiman dan mendoakan mereka dengan sukacita (ayat 4) dengan keyakinan bahwa Tuhan akan meneruskan pekerjaan yang baik, dalam diri mereka dan pelayanan mereka (ayat 5, 6). Walaupun sadar bahwa mereka tidak sempurna dan masih memiliki blind spot, dia mendoakan dengan ucapan syukur, sukacita, dan keyakinan.

Kadang-kadang kita atau pemimpin kita, tidak langsung sadar akan blind spot tertentu, seperti saya ceritakan di atas. Tetapi kita tetap bisa merangkul mereka dan mendoakan mereka dengan ucapan syukur. (CG)

Refleksi:  Doakan pemimpin kita dengan ucapan syukur, kasih, sukacita dan keyakinan bahwa Tuhan bekerja terhadap blind spot mereka.

TANTANGAN DALAM MELAKUKAN PEKERJAAN

“ …Mereka akan membiarkan pekerjaan itu, sehingga tak dapat diselesaikan. Tetapi aku justru berusaha sekuat tenaga” (Nehemia 6:9b)

 Suatu perbuatan yang baik, belum tentu secara langsung dapat diterima oleh orang lain. Bahkan tidak jarang, suatu perbuatan yang baik, dengan motivasi yang murni, dicurigai mempunyai maksud-maksud yang tersembunyi. Dan yang lebih menyedihkan, kalau kecurigaan itu justru muncul dari orang yang bekerja sama untuk melakukan hal-hal yang baik. Hal itulah yang dialami oleh Nehemia, pada saat ia berencana membangun tembok kota Yerusalem yang hancur.

Siapakah Nehemia? Nehemia adalah seorang pegawai tinggi di istana Arthasasta (2:1). Nehemia diutus untuk memperbaiki tembok Yerusalem, namun mendapat tantangan dari beberapa pejabat yang ingin menggagalkan pembangunan tembok tersebut. Bahkan Nehemia difitnah dan direncanakan untuk dibunuh.

Tantangan yang dihadapi Nehemia bukan hanya berasal dari lawan-lawannya. Bahkan dari kalangan imam Yahudi sendiri mencelanya. Nehemia bisa mengatasi semua lawan sehingga tembok Yerusalem dapat diselesaikan. Hal itu terjadi karena ia menyandarkan pekerjaannya pada Allah (6:16). Dengan bantuan Allah, Nehemia mampu menyelesaikan pekerjaannya.

Dalam melaksanakan tugas, baik sebagai pemimpin maupun karyawan, kita selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan, baik dari luar maupun dari dalam. Namun hal itu tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk mundur. Kecurigaan, iri hati, dan sebagainya, dapat terjadi. Namun sebagai pengikut Tuhan kita harus menyadari tantangan itu dan tetap berusaha menjalankan tugas yang mulia dengan tetap bersandar pada kekuatan Allah. (ROP)

RefleksiAndalkan Tuhan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.

PENGENDALI PIKIRAN

“ Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” ( Ibrani 4:12)

 Pernahkah kita menyadari bahwa melalui kata-kata dapat menimbulkan akibat yang sangat dahsyat bagi kehidupan kita:  Keberhasilan atau kegagalan. Kata-kata adalah cerminan dari hati dan pikiran kita. “Sikap dalam hati dan pikiran kita lebih penting daripada hal yang tampak di luar”(Anonim).

Sebagai ilustrasi, setiap orang pernah bermimpi. Dalam mimpi buruk mungkin seseorang berjumpa dengan orang-orang yang tidak disukai dan yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Sebaliknya, dalam mimpi baik muncul perasaan sukacita, cahaya yang menyinari langkah kehidupan seseorang. Mimpi-mimpi seperti itu menunjukkan hal apa yang ada di pikiran kita. Pikiran  merupakan misteri yang tersembunyi, sekalipun diungkapkan dalam ekspresi berupa senyuman. Pikiran sifatnya individual atau pribadi yang tidak mungkin di ganggu oleh orang lain. Melalui pikiran, kita juga memiliki kemampuan untuk memperkirakan keberhasilan atau kegagalan.

Melalui ayat di atas, sebagai manusia tidak ada yang bisa membaca isi pikiran Allah, namun kita bisa merasakan pengaruh pikiran-Nya terhadap kita. Bagaikan kecambah yang tumbuh dari tanah gembur, berawal dari perkataan kemudian terungkap melalui  tindakan, semuanya muncul dari tanah pikiran kita yang paling dalam.

 

Sikap yang baik atau yang buruk dari kita ditentukan oleh pengendalian diri kita. Kurangnya pengendalian diri dapat menyebabkan kegagalan dan dapat menghancurkan diri sendiri bahkan menghambat kemajuan.

Oleh karena itu alangkah baiknya kita bersedia mengkoreksi penyebab kegagalan bahkan keberhasilan pada masa lalu. Walaupun keberhasilan dapat terjadi melalui  mujizat, tanpa mengurangi keyakinan kita pada Allah sang Pencipta. (ROP)

Refleksi : Saudaralah yang pegang kendali.