ARTI BERTANYA

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat, ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7)

 Pada saat kita masih kecil, tidak jarang kita melontarkan pertanyaan untuk sesuatu yang menjadi perhatian. Paling tidak ada 3 pertanyaan yang diawali dengan kata “apa, mengapa dan bagaimana.” Memang demikian alam berpikir anak-anak. Selalu ingin mengetahui jawaban terhadap sesuatu yang ingin diketahui. Coba perhatikan, semakin bertambah usia, pengalaman dan pendidikan seseorang, cenderung ia semakin jarang bertanya. Mengapa demikian? Setidaknya ada beberapa penyebab, antara lain merasa diri  pandai, jenjang pendidikan tinggi, memiliki asumsi sendiri, dan lain lain. Ada pendapat, kalau banyak bertanya dianggap bodoh.

 Ketika kita bertanya, kita sedang melakukan pencarian. “Quaerere” ( Latin) adalah asal kata dari “Question” (Inggris) atau dalam bahasa Indonesia berarti  pencarian. Hubungannya dengan pembacaan kita adalah mencari melalui firman Tuhan (Matius 7 : 7), “ Carilah, maka kamu akan mendapat”. Sering kita melihat orang yang ingin mendapat sesuatu namum tidak ingin mencari. Orang ingin mendapatkan jawaban, tetapi malas bertanya. Padahal saat mereka tidak mencari dan tidak bertanya, mereka tidak berkembang bahkan berada dalam kebodohannya.

Ciri seorang pembelajar adalah tidak merasa diri pandai dan tidak pernah malu untuk bertanya, bahkan berupaya terus  memanfaatkan pertanyaan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Seperti kalimat bijak “Pengetahuan didapatkan saat kita mendapat jawaban yang tepat, namun kecerdasan kita dapatkan saat bisa memberikan pertanyaan yang tepat.” Kecerdasan diawali dari pengetahuan, sedangkan pengetahuan didapat dari pertanyaan. Seorang pelatih sukses kelas dunia berkata : “Orang- orang yang sukses memberikan pertanyaan yang lebih baik, sehingga merekapun mendapatkan jawaban yang lebih baik.” (ROP)

Refleksi : Jangan asal bertanya, melainkan ajukan pertanyaan yang tepat.

HIDUP YANG BERINTEGRITAS

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.(Matius 23:13)

 Saat ini sangat sulit mencari orang yang berintegritas. Orang yang hidupnya berintegritas selalu sama apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukannya. Di dunia ini lebih banyak orang pintar daripada orang baik. Demikian pula di kalangan para pemimpin rohani, terlebih mudah kita mencari hamba Tuhan yang pandai di mimbar daripada yang kaya teladan hidup rohani. Seringkali kita mendengar semakin dekat seorang bergaul dengan hamba Tuhan, semakin ia kecewa dengan kemunafikannya, karena apa yang diperbuat tidak sesuai dengan apa yang dikatakan.

Yesus mengenal dengan baik bagaimana kehidupan para pemimpin agama Yahudi: penindas, haus pujian, gila hormat, munafik, menjadi batu sandungan, dan membuat peraturan rohani yang tidak benar. Mereka yang seharusnya menjadi panutan ternyata memakai topeng kesucian rohani untuk menyelubungi kebobrokan dan kemunafikan. Maka Yesus memperingatkan para murid- Nya untuk tidak mencontoh mereka dan mengajarkan bagaimana seharusnya dedikasi murid-murid-Nya. Prinsip kebenaran bagi murid-murid-Nya bertolak belakang dengan prinsip dunia yang mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan semakin dihormati dan ditinggikan. Yesus justru mengajarkan bahwa seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Prinsip inilah yang seharusnya mendasari kehidupan para pemimpin, bukan jabatan dunia yang penting tetapi jabatan di mata Allah yang diraih melalui kerendahan hati dan kesediaan direndahkan. Semakin seorang murid belajar bagaimana menyangkal keakuan dan kehormatan diri, maka dia akan semakin meninggikan Yesus, Gurunya. Seorang pelayan menyediakan dirinya melakukan segala pekerjaan demi menyenangkan tuannya, demikianlah seorang pelayan Tuhan yang berdedikasi kerendahan hati.

Setiap pemimpin seharusnya memberikan teladan hidup yang benar dan memperhatikan hidupnya supaya layak di hadapan Tuhan. Kedudukan, posisi, atau jabatan itu sifatnya sementara tetapi karakter seseorang akan terus menempel dalam dirinya. Hidup yang berintegritas menuntut hidup dalam kejujuran. Hidup yang tidak munafik. Kesombongan karena memiliki pengetahuan yang mendalam tanpa aplikasi hidup sesuai firman Tuhan, akan membawa diri sendiri tersesat dari jalan kehidupan kekal. (RCM)

 

Refleksi : Perhatikanlah hidup kita dan milikilah hidup yang berintegritas

MELAYANI DALAM KELEMAHAN

Aku juga telah datang kepadamu  dalam kelemahan  dan dengan sangat takut dan gentar.” (1 Korintus 2:3)

 Ada orang-orang yang sebetulnya dapat memimpin tapi menolak untuk menerima tanggung jawab sebagai pemimpin karena dia pikir memiliki banyak keterbatasan. Hal ini dapat berarti bahwa dia sadar diri akan kapasitasnya tetapi juga dapat berarti negatif, yaitu merasa rendah diri dan takut untuk menghadapi kesulitan atau tantangan. Keterbatasan dan kelemahan dijadikan alasan untuk menghindar dari tangung jawab. Merasa nyaman dengan keberadaan yang sedang dijalaninya.

Kota Korintus adalah salah satu kota dimana Paulus cukup lama tinggal, yaitu satu setengah tahun lamanya. Ketika Paulus datang ke Korintus, ia tidak menyampaikan kata-kata yang indah, tetapi menyampaikan Firman hanya berdasar kekuatan Roh Kudus yang memimpin Paulus. Bahkan dikatakan bahwa Paulus datang ke jemaat Korintus dengan segala kelemahan, ketakutan dan kegentaran. Walaupun demikian, Paulus tetap menyampaikan Firman Tuhan dan mengajar jemaat di Korintus dengan segala keterbatasannya, dengan harapan jemaat Korintus juga semakin bertumbuh dan mereka pun dapat melihat Paulus yang dalam segala kelemahannya tetapi tetap setia mengerjakan panggilan pelayananannya. Paulus mengharapkan agar iman mereka tidak bergantung kepada hikmat manusia, tetapi bergantung pada kekuatan Allah. Dalam segala kelemahan tersebut, Paulus menyadari bahwa Tuhan selalu menyediakan apa yang diperlukan oleh Paulus dalam melakukan pelayanannya. Paulus menyadari bahwa Tuhan telah memperlengkapi Paulus dan menyiapkan Paulus untuk melayani. Apa yang Tuhan berikan justru adalah hal-hal yang selama ini tidak terpikirkan oleh Paulus. Tuhan memberikan hikmat, Tuhan memberikan perlindungan, dan Tuhan juga memberikan kemampuan kepada Paulus untuk dapat memberitakan Injil.

Jika Tuhan dapat memberikan apa yang tidak pernah dipikirkan oleh Paulus, tentunya Tuhan juga dapat  memberikan hal-hal kepada kita yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Selama kita memiliki motivasi yang benar di hadapan Tuhan, pasti Tuhan akan memperlengkapi kita dan tetap memberkati kita dengan berkat-berkat yang tidak pernah terpikirkan oleh kita. Sekalipun kita memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan. Yang penting adalah satu, motivasi kita adalah motivasi yang benar, yaitu untuk mengasihi Tuhan dan memuliakan Tuhan. (RCM)

Refleksi : Allah akan memperlengkapi dan memampukan kita untuk menjadi berkat bagi orang lain walaupun memiliki banyak kelemahan

KESOMBONGAN

Keangkuhan merendahkan orang,  tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.(Amsal 29:23)

 Ketika seseorang menjadi pemimpin dan memiliki segalanya serta merasa tidak membutuhkan yang lain bahkan tidak memerlukan Tuhan lagi maka dia akan terjebak dengan kesombongan. Blaise Pascal dalam salah satu ungkapannya pernah berkata bahwa salah satu sifat manusia adalah: “orang berdosa yang merasa dirinya benar.” Kesombongan tidak lain merupakan ‘pendewaan terhadap diri sendiri’, di mana seseorang menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang sepatutnya.

Seluruh ajaran Amsal, nasihat-nasihat bijaknya, sebenarnya menantang kita untuk memeriksa diri masing-masing secara jujur. Siapakah kita, orang benar atau orang bebal, akan terlihat dari cara kita menanggapi atau merespons nasihat-nasihat Amsal ini. Menurut Amsal, seseorang yang angkuh justru akan direndahkan sedangkan orang yang rendah hati akan menerima pujian. Ini paradok tapi kuncinya ada di balik pernyataan tersebut. Orang yang angkuh cenderung merasa diri lebih dan merasa tidak memerlukan  Allah sedangkan orang yang rendah hati justru mereka yang biasanya bergantung pada Allah karena menyadari kelemahannya.

Seorang pemimpin yang berpendidikan tinggi dan punya pengalaman segudang ternyata tidak menjadi jaminan bahwa kepemimpinannya akan berhasil dan kokoh. Justru seorang pemimpin yang punya kualitas moral yang baik akan memimpin dengan baik. Karakter yang diperlukan diantaranya adalah kerendahan hati. Dengan kerendahan hati ia menjalankan tugas kepemimpinannya, sehingga orang yang dipimpinnya tidak merasa disepelekan atau dianggap rendah. Ia tahu hak orang lemah. Dengan bijaksana, ia meredakan amarah orang-orang yang dipimpinnya. Dengan keadilan ia menghakimi orang lemah, sehingga kesalahan atau ketidakbersalahan dinyatakan dengan tegas. Ia memerintah berdasarkan hukum dan mengarahkan orang yang dipimpinnya juga berpegang pada hukum. Dengan demikian bukan hanya orang yang dipimpinnya yang dituntut menaati hukum, tetapi justru mulai dari dirinya sendiri sebagai pelaku hukum. Ia berhasil menegakkan hukum karena ia sendiri hidup berpegang pada hukum. Problem utama kita sebenarnya bukan kekurangan pemimpin yang pintar dan ahli dalam bidang pendidikan, tetapi dalam hal akhlak dan moral, diantaranya adalah soal kerendahan hati serta sikap takut akan Tuhan. (RCM)

Refleksi : Hati-hatilah terhadap dosa kesombongan

BERMEGAH DALAM KELEMAHAN

Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.(2 Korintur 12:9b)

 Pada awalnya Allah menciptakan manusia begitu sempurna. Manusia diberikan kuasa atas seluruh ciptaan Allah yang lainnya dan juga diberikan kebebasan. Namun manusia memberontak kepada Allah dan akhirnya berdosa sehingga tidak ada lagi manusia yang sempuna selain Yesus. Kita pun sebagai manusia-manusia yang hidup di masa kini memiliki begitu banyak kekurangan dan kelemahan.

Nats hari ini di tulis oleh Paulus sebagai seorang pemimpin yang menyadari akan kelemahannya. Jika aku lemah, maka aku kuat”. Pernyataan yang paradoks ini, kita kenal dalam perjalanan rasul Paulus setelah melampaui banyak penderitaan dalam upaya penyebaran Injil. Walau Paulus merasa tidak perlu untuk mengungkapkannya kembali, ia bermaksud agar terhindar dari sikap tinggi hati. Meskipun Paulus punya banyak alasan untuk bermegah diri.

Paulus telah mengalami peristiwa pertobatan yang hebat. Para ahli menafsirkan bahwa peristiwa ini adalah kisah perjumpaan Paulus dengan Kristus, waktu Paulus berada dalam perjalanan ke Damaskus. Bagi Paulus semua pengalaman adikodrati tersebut tidak melahirkan kebanggaan diri. Ia malah membanggakan kelemahannya, dengan berpendapat `supaya aku jangan meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu suatu utusan iblis. Berulang kali Paulus memohon kepada Tuhan agar beban itu diangkat dari dirinya. Namun Paulus kembali harus tunduk pada otoritas Tuhan, karena dalam hambatan inilah kuasa Tuhan semakin disempurnakan di dalam diri Paulus .

Kasih karunia adalah kehadiran, kemurahan, dan kuasa Allah. Ini merupakan suatu daya, suatu kekuatan sorgawi yang dikaruniakan kepada mereka yang berseru kepada Allah. Semakin besar kelemahan dan pencobaan kita karena Kristus, semakin besar kasih karunia yang akan diberikan Allah untuk melaksanakan kehendak-Nya. Apa yang dikaruniakan-Nya akan selalu cukup bagi kita untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, melayani-Nya, dan memikul penderitaan dan “duri” di dalam daging itu. Selama kita mendekatkan diri kepada Kristus, maka Kristus akan mengaruniakan kekuatan dan penghiburan sorgawi-Nya. Kita harus bangga dan melihat nilai kekal dalam kelemahan kita, karena dengan demikian kuasa Kristus ada bersama kita dan diam dalam diri kita sementara kita menempuh hidup ini menuju ke rumah sorgawi kita?  (RCM)

Refleksi : Kita dapat bermegah dalam kelemahan karena kekuatan dari Allah

TIDAK MELIHAT, TETAP PERCAYA, DIBERKATI

“Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu.  Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.” (2 Raja-raja 5:14)

 Sempat menggerutu, gusar, marah, tapi akhirnya Naaman taat juga untuk mandi di sungai yang airnya kotor demi kesembuhannya yang merupakan mujizat dari Allah.  Ada sesuatu yang tidak dia lihat, karena itu dengan enggan dia mentaati perintah yang menguji iman dan ketaatannya itu.  Sesungguhnya bukan air sungai Yordan itu yang menyembuhkan, bukan?

Untuk menyelesaikan masalah kita, terkadang Allah mengarahkan kita melalui jalan atau cara yang tampaknya konyol, tidak masuk akal, atau bahkan tidak mungkin.  Rencana-Nya di luar kemampuan manusia untuk melihat dan  menyelaminya.  Masalahnya tidak terdapat pada cara, atau apapun yang bisa kita lihat dan pikirkan, melainkan pada perlunya iman kepada Dia yang bisa melakukan segala sesuatu lebih cepat daripada kejapan mata dan melakukan segala sesuatu dari ketiadaan (“creatio ex nihilio”).  Kita mungkin tidak melihat jalan keluar, tetapi kita tetap harus beriman kepada Dia, yang dapat melakukan lebih dari apa yang dapat kita pikirkan.

Semua yang kita kerjakan di Universitas Kristen Maranatha perlu diuji dalam terang firman Tuhan. Apabila ada hal-hal yang tidak sesuai, marilah kita mendiskusikannya. Hanya kedaulatan Tuhanlah yang tidak perlu dipertanyakan lagi, sekalipun kita tidak melihat apa-apa. (PO)

Refleksi : Tidak perlu melihat atau mengerti untuk taat kepada Allah.

“BLIND SPOT” YANG TERBUKA DI AKHIR KISAH

“…Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil…

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 1:21, 42:5)

 Ayub mengira semua bencana yang dialaminya adalah perbuatan Allah.  Benarkah? Tentu tidak.  Seandainya benar itu perbuatan Allah pun, Ayub tetap tidak menyangkal Allah.  Itu “blind spot” pertama Ayub.  “Blind spot” ke-2 adalah dia tidak mengenal Allah secara pribadi, sehingga dia menanggung beban iman yang lebih berat.

Kita mengetahui dengan lengkap dari Alkitab, ada skenario apa di balik kisah penderitaan Ayub (pasal 1).  Sementara itu, dari sisi Ayub sendiri pada awalnya tidaklah demikian.  Sepanjang penderitaannya yang sudah mencapai titik putus asa, Ayub “dibiarkan” Tuhan tetap tidak melihat dan memahami apa yang terjadi.  Iblis mencoba menjatuhkan Ayub, tetapi Allah mengijinkan Ayub diuji.  Terpujilah Tuhan kita.  Selanjutnya, berusahalah untuk semakin mengenal Dia melalui Firman dan ketekunan kita menempuh hidup, karena hal ini akan semakin menguatkan iman kita dan memberikan damai sejahtera yang melampaui akal.

Kita tidak harus mengerti apa yang kita alami dan kita tidak perlu memaksa Allah, meskipun akal budi kita mencari dan terus mencari.  Yang dibutuhkan adalah iman dan kesetiaan. Allah pasti membuka semua pada akhirnya.

Adakah hal-hal yang tidak kita mengerti sedang terjadi dan kita alami di Universitas Kristen Maranatha ini?  Setialah berkarya bagi Tuhan, karena pertanggungjawaban akan dituntut secara pribadi oleh Tuhan.  Teladanilah Ayub yang tetap setia sampai ujian itu berakhir dan jangan berdosa. (PO)

Refleksi : Melihat atau tidak, mengerti atau tidak, percayalah kepada Dia dan jangan menyangkali-Nya.

 

“BLIND SPOT” DIABAIKAN BERAKHIR PETAKA

“Lalu setelah perempuan itu berhari-hari merengek-rengek kepadanya dan terus mendesak-desak dia, ia tidak dapat lagi menahan hati, sehingga ia mau mati rasanya.” (Hakim-hakim 16:16)

 Di balik kekuatan super pada fisiknya yang berasal dari Allah, Simson memiliki kelemahan utama yaitu tidak memiliki prinsip ketika digoda oleh wanita-wanita cantik.  Godaan pertama datang dari perempuan cantik dari Timna yang menyebabkan bocornya jawaban teka-teki yang dipertaruhkannya.  Kegagalan berikutnya, ketika ia menghadapi Delila yang menyebabkan dia meninggalkan perjanjian dengan Allah.

Di dalam kisah Simson, kita tidak menemukan adanya orang yang menegur kelemahannya, orang yang menyadarkannya akan “blind spot”. Tuhan pasti punya rencana di balik kejatuhan Simson.  Sebagai anak-anak Allah yang menjalani hidup sebagai murid Kristus, kita semua senantiasa diberi makanan rohani dan memiliki persekutuan dengan sesama anak-anak Allah. Kita didorong untuk mencari dan tinggal di dalam lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan iman kita, saling membangun dan menguatkan.  Konsep persekutuan perlu dipelihara dan dikembangkan.  Semoga dengan cara demikian, berbagai bahaya yang tidak terlihat oleh kita, maupun berbagai peluang dan talenta yang juga tidak disadari dapat kemudian dikenali.

Apakah kita memiliki persekutuan yang baik di kampus ini?  Memang di dalam hidup kita sehari-hari, pergaulan yang baik menjadi kebutuhan, karena pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik.  Pergaulan dan persekutuan yang sehat dapat membawa kita semakin dekat kepada Allah dan mencapai potensi maksimal kita di dalam hidup ini. (PO)

 Refleksi :

Marilah kita terbuka terhadap diri sendiri. “Blind spot” seperti apa yang terbuka pada hari ini?

“BLIND SPOT” DIRI SENDIRI

“Lalu Allah berfirman : “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan…Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, … kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri,…” (Yunus 4:10-11)

 Yunus menyayangkan layunya pohon jarak yang ditumbuhkan Allah untuk menaunginya. Pohon yang berusia sehari saja. Yunus lupa bahwa Allah-lah yang menciptakan penduduk Niniwe. Yunus tidak menyadari betapa Allah mengasihi penduduk kota  yang sungguh sadis itu dan ingin orang-orang kejam itu bertobat dan diselamatkan.  Yunus tidak rela mereka bertobat, dia mau mereka dihukum seberat-beratnya.

Kebencian menyelinap diam-diam, sehingga tanpa sadar kita sudah dibawa jauh dari sifat kasih seorang anak Allah. Renungan kita pada hari ini membuka “blind spot” kita. Jikalau kita menyayangi karya kita, terlebih lagi Allah mengasihi ciptaan-Nya sekalipun telah rusak. Selagi masih terbuka pintu keselamatan, Allah menginginkan tidak seorangpun binasa, melainkan semua orang bertobat.

Jujurlah kepada diri sendiri, periksalah,  adakah seseorang di kampus ini yang tidak kita sukai.  Alasannya kita masing-masing tahu dan mungkin sangat beralasan jika kita tidak menyukai ulah orang itu.  Renungan kita pada hari ini mengingatkan bahwa Allah mengasihi kita semua, bahkan orang-orang yang tidak kita sukai.  Seharusnya kita pun mengasihi mereka dan mengharapkan pertobatan mereka. (PO)

Refleksi : Marilah kita terbuka terhadap diri sendiri; “blind spot” apa yang terbuka pada hari ini; berbuatlah yang terbaik bagi Tuhan.

TIDAK MENYADARI DOSA

“ Kemudian berkatalah Natan kepada Daud : “Engkaulah orang itu!…”

(2 Samuel 12:7)

Mengejar ambisi seringkali membuat seseorang menghalalkan segala cara, bahkan mungkin menganggap Tuhan pasti bisa memaklumi.  Pada kasus raja Daud yang sangat terobsesi untuk memiliki Batsyeba, telah diperbuat suatu plot jahat yang merupakan dosa yang begitu besar di mata Allah. Daud terlena, sampai nabi Natan menegurnya dengan halus (dengan perumpamaan), diikuti tudingan langsung yang sungguh mengejutkan Daud, yang serta merta sadar dan bertobat.

Ada beberapa hal yang kita dapatkan melalui kasus raja Daud tersebut, sehubungan dengan kesalahan yang kita sendiri tidak melihat atau menyadarinya.

  • Sadari kemungkinan ada hal-hal negatif maupun positif yang tidak kita lihat atau sadari pada diri kita.
  • Kita membutuhkan orang lain yang melihat kesalahan kita itu, orang yang rela memberitahukannya kepada kita, orang  yang memiliki hikmat tentang cara, waktu, dan tempat yang tepat untuk mengutarakannya kepada kita.
  • Kebesaran hati kita untuk menerima kenyataan tentang diri kita, segera bertobat,  lalu secepatnya bertindak melakukan koreksi.

Di dalam kehidupan berkampus di Universitas Kristen Maranatha ini, setiap orang hendaknya menjaga sikap dan menggali potensi yang ada pada diri masing-masing, namun siaplah pula untuk diberi tahu tentang kelebihan maupun kekurangan kita, prestasi maupun kesalahan kita oleh rekan kita.  Jadilah pula seorang sahabat yang baik bagi sesama civitas academica Universitas Kristen Maranatha dengan memberitahukan “blind spot” sesama kita. (PO)

Refleksi :Terbuka dan bersyukurlah bila “blind spot” kita diketahui dan jadilah sahabat yang menolong rekan kita untuk memberitahu “blind spot” mereka.