MASIHKAH SEPERTI YANG DULU?

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (I Korintus 9:27)

 Musa adalah figur penting dalam tradisi keagamaan Yahudi, juga dalam kekristenan. Ia adalah seorang pahlawan iman yang berani melawan kekuasaan Firaun yang sangat besar, kemudian memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir melewati sebuah mujizat dahsyat sepanjang sejarah suci bangsa Israel terbelahnya Laut Merah, dan menerima 10 perintah Allah yang menjadi landasan hukum bagi bangsa Israel yang baru berdiri. Tidak salah jika ia menjadi figur sentral tidak hanya agama Yahudi, Kristen, Islam atau agama-agama turunan semitik lainnya. Namun jika kita melihat kisah di akhir hidupnya justru terjadi sebuah peristiwa yang sangat tragis, bahwa ia tidak diijinkan oleh Tuhan untuk masuk ke dalam Tanah Perjanjian yang menjadi tujuan perjalanannya bersama bangsa Israel sejak awal.

Ayat di atas, menjelaskan hal yang sangat menarik dari kisah kehidupan Rasul Paulus. Dalam kaitan dengan garis akhir kehidupannya, ia ternyata menyampaikan sebuah kekuatiran yang kemungkinan mirip dialami oleh Musa. Yakni justru ia menjadi bagian yang ditolak dari perjuangannya sendiri. Kata ditolak berasal dari bahasa asli adokimos  yang artinya diskualifikasi atau gagal dalam sebuah ujian atau tes. Untuk itulah dikatakan, “…aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya…”

Seringkali dalam kepemimpinan ini, khususnya di akhir perjalanan kita malah gagal untuk menjadikan diri kita tetap berjalan sesuai dengan tujuan awal. Kita ingat pada sejarah bangsa Indonesia ketika Presiden Suharto  akhirnya justru harus dilengserkan dengan menyandang predikat nama yang kurang baik, padahal sebelumnya ia memiliki kesempatan untuk turun secara elegan menjadi negarawan yang dihormati. Hal yang sama mungkin bisa terjadi dalam kehidupan kepemimpinan kita. Hal yang mesti harus dipahami selain dari pada tetap menjaga integritas kepemimpinan hingga akhir adalah seorang pemimpin harus tahu kapan ia harus berhenti. (AT)

 Refleksi: Masihkah Anda seperti yang dulu?

 

 

KARUNIA ROH KEPEMIMPINAN

Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat:  pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin,dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.” (1 Korintus 12:28)

Mengapa ada banyak sekolah, pelatihan, dan program kepemimpinan tetapi tidak banyak yang berhasil menjadi pemimpin? Lulusannya pintar menyebut berbagai teori kepemimpinan, tetapi tidak berhasil menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang mereka yang disebut pemimpin, yaitu mereka yang memiliki pengaruh, ternyata pada akhirnya tidak berhasil menghadapi ketidak pastian dan kejutan peristiwa yang tidak terduga.

Bacaan kita menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati adalah karunia Roh. Itu bukan semata-mata pengetahuan, atau sesuatu yang bisa dipelajari. Tuhan lah yang menganugerahi kemampuan itu. Apa yang diajarkan di sekolah biasanya pengalaman masa lalu, padahal pemimpin diperlukan untuk menghadapi ketidakpastian dan kejutan masa depan. Peran hikmat dari Roh Allah menjadi mutlak. Oleh sebab itu, pemimpin perlu dipandu oleh hikmat untuk mengatasi persoalan hari ini, serta kuasa yang bersifat nubuat yang bisa mengatasi persoalan hari esok.  Juga dari bacaan di atas, kita menyadari bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin, asalkan ia mau mengejar karunia itu dari Allah (ay 31).  Allah bisa menganugerahkan roh kepemimpinan kepada siapa saja yang mau menyerahkan dirinya untuk hidup dalam pimpinan Allah.

Kita bahkan diajak untuk mengejar karunia-karunia utama tersebut, yang berarti kita tidak bisa duduk pasif dan menunggu.  Kita diajak aktif mulai memikul tanggung-jawab penugasan pembangunan tubuh Kristus. Panggilan ini dimulai dengan tanggung jawab kecil. Bila kita mengerjakanya dengan setia, maka Allah akan memberikan karunia yang memampukan kita menjalankan tugas dan tanggungjawab kita.  Allah kemudian mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar. Kalau kita memenuhi panggilan tersebut, maka Roh kepemimpinan akan dicurahkan pada setiap kita yang setia. Jadi selain untuk menyampaikan kebenaran akan karunia Roh kepemimpinan ini, tulisan rasul Paulus ini menyemangati kita untuk menekuni karir pemimpin pelayan. (AZL)

Refleksi: Apakah kepemimpinan hanya untuk orang tertentu? Tidak. Semua orang dipanggil untuk melayani sebagai pemimpin, asalkan ia mau mengejar karunia Roh kepemimpinan. Manusia diciptakan untuk memelihara dan mengatur dunia ini. Kita menyerahkan diri kita untuk dipakai Allah sebagai pemimpin pelayan.

SIAPA AKTORNYA?

“…dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” (I Samuel 18:7)

 

Ada sebuah kutipan dari Alexander the Great sebagai berikut, “I am not afraid of an army of lions led by a goat; I am afraid of an army of goat led by a lion.” (Saya tidak takut pada pasukan singa yang dipimpin oleh kambing; saya takut pada pasukan kambing yang dipimpin oleh singa).Kutipan ini sangat menarik muncul dari pemikiran salah satu penakluk terbesar dalam sejarah peradaban, yakni Raja Alexander the Great yang menjelaskan betapa dahsyatnya eksistensi seorang pemimpin itu.Bahkan singa-singa yang hebat tidak menakutkan dirinya jika yang memimpinnya adalah kelas kambing, sebaliknya ketika seekor singa memimpin kawanan kambing hal itu justru lebih menakutkan dirinya.Sungguh sebuah hikmat yang luar biasa lahir dari pengalamannya menaklukkan dunia.

Nats di atas menjelaskan sebuah kisah yang menarik tentang Raja Saul dan Daud.Keperkasaan Daud dalam perang ternyata mendapatkan respon baik dari masyarakat Israel.Namun jutsru Saul menjadi iri dan ketakutan melihat hal tersebut. Itulah sebabnya ia memerintahkan untuk membunuh Daud. Dalam kisah selanjutnya Daud melarikan diri, dan tinggal bersama dengan orang-orang buangan, para perampok, yang akhirnya menjadi pasukannya.Dibandingkan dengan Saul, semestinya Daud dan segala kekuatan yang dimilikinya bukan siapa-siapa. Namun satu hal yang menjadi penting di sini adalah bahwa Tuhan sudah memilih Daud akan menjadi Raja Israel melalui perantaraan Samuel. Itulah yang menakutkan Saul.

Belajar dari renungan ini, sangat penting kualitas pemimpin yang baik. Sebab kualitas itulah yang akan menjelaskan kekuatan yang sebenarnya dari sebuah proses kepemimpinan. Tanpa kualitas yang baik seorang pemimpin, maka apa yang dipimpinnyapun baik itu organisasi, perusahaan, atau kelompok apapun akan menjadi lemah. Sehingga tidak ada cara lain untuk memperkuat sebuah kelembagaan selain memperkuat kualitas dan kapasitas para pemimpinnya. Sebab jika tidak, hal itu akan berdampak secara langsung pada apa yang dipimpinnya, dan kepemimpinan yang buruk selain tidak dihargai malah mendapat cemoohan. Dan celakanya orang-orang yang berkualitas yang ada disekitarnya juga menjadi lemah dan tak luput jadi bahan ejekan. (AT)

Refleksi: Anda menjadi singa atau kambing?

MENGALAHKAN RAKSASA

“Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”  (I Samuel 17:45)

Meskipun tidak banyak, ada beberapa kisah di dunia ini ketika orang-orang pinggiran, atau yang berkekuatan kecil, mampu mengalahkan lawan yang sangat besar.Salah satu catatan sejarah epik adalah tentang kisah perang Yom Kippur pada tanggal 6 Oktober 1973. Israel negeri yang baru berdiri harus berhadapan dengan 5 negara besar kawasan Timur Tengah yakni Irak, Suriah, Libya, Mesir dan Yordania di dataran tinggi Golan. Garis pertahanan Israel hanya berjumlah 180tank dan harus melawan kurang lebih 1400 tank Suriah. Di kawasan lain di sekitar terusan Suez, kurang dari 500 prajurit Israel berhadapan dengan 80.000 prajurit Mesir.Namun sungguh tidak terprediksi, Israel muncul sebagai pemenang dalam peperangan yang berlangsung selama 6 hari tersebut.

 

Ayat di atas menjelaskan kisah epik sejarah perang bangsa Israel lainnya dalam kitab Perjanjian Lama.Kisah ini adalah pertempuran antara bangsa Filistin yang dipimpin oleh raksasa Goliath.Bangsa Israel kocar-kacir menghadapi pasukan Goliath, hingga muncul Daud yang dengan keberaniannya menantang raksasa itu. Meskipun yang dihadapi Daud adalah lawan yang sangat besar, namun di dalam pikiran Daud ada yang lebih besar lagi yakni, “…nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel…” Keyakinan ini yang memunculkan keberanian untuk melawan Goliath, dan ternyata ia mampu mengalahkannya.

 

Mungkin tidak banyak orang yang memiliki pemikiran seperti Daud di sepanjang jaman.Sebab kebanyakan orang lebih mudah untuk merasa takut terlebih dahulu menghadapi “Goliath” dan mundur teratur dari pada hancur lebur. Namun bagi orang yang memiliki keyakinan yang besar seperti Daud, tidak ada hambatan di hadapannya yang jauh lebih besar dari pada apa yang dapat dilakukannya. Dalam konteks keimanan dalam perspektif pesan dari nats di atas, Tuhan semesta alamlah yang menjadi motivasi terbesar bagi kehidupan orang-orang yang dipilih untuk mengalahkan raksasa. (AT)

 

Refleksi: Apakah Anda orang yang dipilih untuk mengalahkan raksasa?

ONE MAN SHOW

“Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.” (Keluaran 18:21)

Dalam menjalankan kepemimpinan ada yang disebut dengan istilah one man show.Artinya sebuah kepemimpinan yang bertumpu hanya pada satu orang. Dan yang seringkali kepemimpinan ini terjadi bukan karena tidak ada yang bisa membantunya, melainkan si pemimpin itu sendiri senang melakukan hal sedemikian, sebab dengan demikian ia mendapatkan semua perhatian pada dirinya, atau ia kurang memahami sistem delegasi yang bisa membuatnya lebih mudah untuk menjalankan kepemimpinan sehingga berdampak lebih besar.

Dalam ayat di atas, ada hal yang menarik dialami oleh Musa. Dalam kepemimpinannya ternyata awalnya Musa menjalankan kepemimpinan one man show,artinya untuk semua permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Israel, ia sendiri yang menanganinya. Bayangkan saja ada ribuan bangsa Israel yang keluar dari Mesir dan Musa harus menghadapi permasalahan mereka satu demi satu. Melihat hal itu mertuanya Yitro memberikan masukan pada Musa, agar ia tidak melakukannya sendiri. Ia menyuruh menantunya tersebut untuk memilih, “orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap…” untuk membantunya menjalankan roda kepemimpinannya atas bangsa Israel.

“Bahkan Superman tidak bisa melihat jidatnya sendiri…” adalah sebuah ekpresi yang menarik bahwa betapa kepemimpinan tidak bisa dijalankan seorang diri. Majalah Charisma dalam sebuah artikelnya “Why Team Ministry is Better than One Man Show” menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan dalam tim menyelesaikan lebih banya, membuka potensi kepemimpinan bagi orang lain, membangun sebuah hubungan yang sehat, menghindarkan diri dari kultus individu dan yang terakhir mencegah terjadinya skandal. Jadi kepemimpinan one man show meskipun awalnya terlihat baik yakni cepat dan ringkas, namun pada ujungnya justru berpotensi mendatangkan bencana pada sang pemimpin sendiri. (AT)

 

Refleksi: Sudahkah anda menghasilkan pemimpin baru di dalam kepemimpinan anda?

 

BESAR KARENA SIKAP YANG BENAR

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Matius 20:26-27)

 

Dunia kepemimpinan erat kaitnya dengan kekuasaan.  Menurut teori kekuasaan Kurt Lewin (1890-1947) menyatakan bahwa kekuasaan adalah kemampuan potensial dari seseorang untuk mempengaruhi yang lain dalam sistem yang ada. Pertanyaannya untuk tujuan apa kekuasaan tersebut digunakan untuk mempengaruhi tersebut? Meskipun kekuasaan pada hakikatnya sama, namun tujuan yang berbeda menentukan apakah kekuasaan itu telah digunakan dengan benar atau belum.

Ayat di atas adalah jawaban Yesus pada permintaan ibu dari anak-anak Zebedeus yang menginginkan, ketika Yesus nanti memimpin kerajaanNya, anak-anaknya akan duduk di sebelah kiri dan kanannya. Ini adalah sebuah gambaran yang lumrah, keinginan seorang ibu agar anak-anaknya mendapatkan kehidupan yang mulia. Pengertian posisi di sebelah kiri dan kanan pada masa itu, bahkan dalam pengertian dunia modern saat ini sama, yakni sebuah posisi penting yang mewakili kekuasaan yang sangat besar. Namun sayang ibu ini kurang memahami apa makna kepemimpinan di dalam pemikiran Yesus Kristus. Sehingga jawaban yang diberikan Yesus justru di luar dugaan yakni, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”Sikap kepemimpinan yang dikehendaki oleh Yesus yang sudah diteladankan ternyata adalah sikap melayani.

Jika dilihat sekilas kepemimpinan yang melayani ini nampaknya kurang menarik atau malah terkesan rendahan, “Masak bos menjadi pelayan?”

Namun ternyata dalam pemikiran dunia bisnis modern perihal melayani justru telah diterapkan secara maksimal dalam pendekatan total costumer service, yakni sebuah model pelayanan pelanggan yang mengutamakan kepuasan yang maksimal. Semakin baik sebuah perusahaan mengaplikasikan layanan ini, maka semakin besar kepercayaan konsumen pada perusahaan tersebut, yang artinya akan menghasilkan sebuah transaksi bisnis yang jauh lebih besar lagi yang diakibatkan secara langsung dari kepercayaan tersebut. Sehingga tidak salah jika mengukur dampak sebuah proses kepemimpinan, dari sinilah kekuatan kepemimpinan yang sesungguhnya berada. (AT)

Refleksi: Sudah siapkah Anda menjadi pemimpin besar? Sudah siapkah Anda melayani orang lain?

TANAH YANG YANG BAIK

“Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.”(Markus 4:8)

 

Perumpamaan yang diajarkan Yesus ini sangat menarik.Berkisah tentang seorang penabur yang menaburkan benih tanaman.Ternyata dari semua tempat yang dicobanya untuk menaburkan, benih yang jatuh di tanah yang baiklah yang tumbuh dengan subur.Di sini, artinya bukan hanya benihnya yang penting, sebab sepertinya sebaik apapun benih itu ketika jatuh ke tempat yang salah, seperti dikisahkan benih-benih itu tidak tumbuh, atau tumbuh dan mati dengan cepat. Jika berbicara dalam konteks kepemimpinan maka hal yang penting selain dari kualitas individunya adalah tempat di mana ia berpijak. Apakah tempat berpijak itu sudah baik dan mendukung seseorang untuk bertumbuh sebagai pemimpin atau justru menghimpitnya?

Dalam ayat ini kata yang digunakan untuk menjelaskan kata baik dalam bahasa Yunaninya adalah kalos.Kalos tidak hanya menjelaskan baik namun juga elok.Dari pengertian kata tersebut bisa diartikan adanya segi penataan yang serasi yang lebih dari sekedar baik saja.Dan di tanah yang baik dan elok inilah benih yang ditaburkan tersebut ternyata mendapatkan kualitas pemberdayaannya dengan sangat baik bahkan dikatakan, “…ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.”Sungguh sebuah perumpamaan yang sangat luar biasa.

Jadi memahami teks ini, kadangkala memang bukan manusianya yang buruk.Namun seringkali justru adalah institusinya.Jika di suatu tempat ada krisis kepemimpinan, maka biasanya tidak selalu orangnya yang buruk melainkan wadahnya yang menjadi salah satu faktor paling besar yang menghalangi orang-orang berkualitas untuk bertumbuh dengan baik.Sehingga dengan demikian sangat diperlukan tindakan atau keberanian menata ulang keorganisasiannya, ruang hidupnya, sehingga dengan demikian “benih-benih” tersebut bisa bertumbuh bahkan berbuah dengan sangat baik. (AT)

 Refleksi: Sudahkah lembaga Anda mendukung secara maksimal orang-orang yang memiliki jiwa kepemimpinan?Jika belum, jangan salahkan orangnya jika tidak ada pemimpin yang lahir darinya.

MELEMPAR JUBAH KEPEMIMPINAN

“Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. “ (1 Raja-raja 19: 19)

 Peristiwa pergantian kepemimpinan adalah moment penting dalam sebuah organisasi baik pemerintah maupun swasta. Biasanya dalam rangka menyambut hari-hari pemilihan kepada daerah (Pilkada) begitu banyak orang yang terlibat untuk mensukseskan acara suksesi kepemimpinan. Hal yang baik adalah seorang pemimpin mempersiapkan generasi pemimpin berikutnya dan ikut mendukung setiap program kerja yang baik untuk kesinambungan organisasi atau lembaga.

 Tindakan Elia melempar jubahnya menunjukkan simbol permintaan Elia kepada Elisa untuk menjadi penerus pelayanannya. Respon Elisa dengan lemparan jubah adalah segera meninggalkan lembunya dan berlari mengikuti Elia. Sebuah sikap antusias dalam merespon panggilan Tuhan, Elisa tidak menunjukkan keberatan atas panggilan Tuhan dalam dirinya. Elisa lahir dari keluarga seorang petani dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjadi seorang nabi yang penuh kuasa tetapi Allahlah yang berdaulat untuk memilih dan memanggil Elisa. Keputusan Elisa untuk meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk melayani Tuhan bersama Elia adalah sebuah komitmen. Semangat dan komitmen Elisa dibuktikan dengan ia mengambil pasangan lembu dan menyembelihnya serta memasak daging dan memberikan kepada orang banyak untuk memakannya. Lalu ia bersiap mengikuti Elia.

Upaya yang dilakukan seorang pemimpin untuk mempersiapkan suksesi pemimpin adalah bukti dari kualitas kepemimpinan yang dimiliki seorang pemimpin. Namun jangan lupa bahwa Allah berdaulat dalam setiap kehidupan dan  kepemimpinan, hal ini bisa kita lihat bahwa pertemuan Elia dan Elisa bukanlah sebuah kebetulan tetapi moment yang Tuhan siapkan untuk persiapan pemimpin berikutnya. Mari kita tetap melakukan bagian kita dalam mempersiapkan pemimpin berikutnya dan juga percaya bahwa Tuhan akan menolong dalam semua hal yang kita kerjakan termasuk dalam suksesi kepemimpinan. (RZA)

Refleksi : Allah berperan dalam mempersiapkan pemimpin.

Tongkat Estafet

“Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu.” (Yosua 1:1)

 Seorang bapak tua memanggil anak laki-lakinya, dalam pertemuan itu ia membawa sekantong biji-bjian. Bapak tua berkata kepada anak lakinya: anakku, umurku sudah tua dan aku tidak sekuat dulu lagi aku memiliki harapan besar kepadamu, sudah lama aku menyimpan kantong biji-bijian ini dan hari ini aku mau menyerahkan kepadamu untuk dikembangkan. Seorang bapak yang mempunyai harapan besar agar anak laki-lakinya meneruskan pekerjaan yang sudah lama digelutinya yaitu menjadi petani yang berhasil. Dia bukan hanya menyiapkan sekantung biji-bijian tetapi juga menyiapkan seorang penerus yang bisa dipercaya.

 

Nas hari ini dijelaskan bagaimana Musa mempersiapkan Yosua menjadi pengganti dirinya. Tentunya Tuhan lebih mengetahui keadaan Musa yang berusia 120 tahun dan tidak memungkinkan untuk melaksanakan tugas selanjutnya. Tuhan berfirman kepada Yosua bahwa Tuhan akan berada di depan dan menyertainya sehingga Yosua akan dapat memimpin mereka untuk menyeberangi sungai Yordan dan dapat mengalahkan lawannya. Yosua melaksanakan perintah Tuhan dengan iman percaya akan janji Tuhan bahwa setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu dan Tuhan Allahmu menyertai engkau, kemana pun engkau pergi.

 

Tongkat estafet adalah sebuah hal penting yang seharusnya dipersiapkan dengan baik yaitu dengan memberikan kepercayaan kepada generasi berikutnya untuk memimpin. Pemimpin yang baik sudah seharusnya menyadari ada batasan waktu dalam masa kepemimpinan seseorang sehingga sangatlah penting sebuah regenerasi. Universitas Kristen Maranatha sebagai organisasi yang baik sudah seharusnya menyiapkan pemimpin-pemimpin yang cakap dan takut akan Tuhan. Tidak ada hal sia-sia jika regenerasi dilakukan setiap saat. (RZA)

 

 

Refleksi : Menyiapkan seorang pemimpin yang cakap dan takut akan Tuhan adalah tugas seorang pemimpin.

Semangat dalam Melayani

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” (Roma 12:11)

 

“Golden Shoes” adalah sebuah judul film yang menceritakan semangat seorang anak berusia sebelas tahun dalam mewujudkan cita-citanya. Christian Leordn tokoh dalam film tersebut adalah seorang pemungut bola pada sebuah sekolah sepakbola anak-anak. Harapannya yang besar untuk menjadikan dirinya sebagai seorang pemain bola internasional terwujud oleh karena kegigihan dan kerja kerasnya. Ia tidak patah semangat ketika diolok-olok oleh teman-temannya ataupun menyerah menghadapi kesulitan dalam berlatih. Kerja keras dan semangatnya membuahkan hasil, ia menjadi salah satu pemain bola ternama di USA. Cristian Leordn hanyalah sebuah cerita film tetapi semangat dan kegigihannya dalam meraih cita-cita menginspirasi bagi para penontonnya.

 

Nas hari ini mengingatkan kepada jemaat roma secara tegas supaya tidak kendor dalam kerajinan, ketekunan dan kesungguhan bagi orang percaya. Selain itu juga orang percaya  harus memiliki semangat atau roh yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Kata “roh”  artinya  semangat. Kata “menyala-nyala” artinya menjadi panas (mendidih seperti air, bercahaya). Secara kiasan menyala-nyala berarti menjadi bersemangat atau serius, dengan kesungguhan hati. Kata “layanilah” artinya melayani, menjadi budak secara sukarela. Tuhan artinya Pemilik, Pemelihara, Penguasa.  Jadi orang percaya harus memiliki semangat yang menyala-nyala untuk bekerja bagi Tuhan sang pemilik hidup. Semangat seorang hamba yang dapat mewujudkan hati tuannya senang, semangat tidak menuntut upah tetapi melayani karena kasih dan tanggung jawabnya kepada tuannya.

 

Semangat, ketekunan, dan kegigihan sangatlah diperlukan dalam mengemban tanggung jawab yang Tuhan percayakan bagi kita warga kampus Universitas Kristen Maranatha. Allah menghendaki kita sekalian terus mengobarkan semangat, ketekunan dan kegigihan sehingga menghasilkan karya yang terbaik untuk kemajuan Universitas tercinta dan bagi kemuliaan Allah. (RZA)

 

Refleksi:

Miliki semangat untuk terus berkarya dan  menjadi berkat bagi sesama.