ALLAH MENGAKHIRI YANG DIMULAI

“Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6)

 

Seorang tukang kayu sebelum membuat kursi dia akan mendesain terlebih dahulu bentuk kursi yang akan dibuatnya.  Setelah memperoleh gambar, dia akan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan baru kemudian tukang kayu mulai bekerja. Dalam mengerjakan kursi, sang tukang akan: mengukur, menggergaji, memaku, memahat, mengaplas dan memplitur kayu tersebut. Proses pembuatan kursi memerlukan ketekunan sang tukang untuk menghasilkan kursi yang berkualitas.

 

Dalam nas ini Paulus bersyukur kepada Tuhan atas iman, kesetiaan dan pelayanan jemaat Filipi. Paulus memahami bahwa semua yang terjadi dalam jemaat Filipi adalah karena kesetiaan Allah. Iman dan kesetiaan manusia kepada Tuhan adalah wujud kesetiaan Tuhan kepada manusia. Kita bersyukur karena Allah yang memulai pekerjaan baik dalam hidup setiap pribadi akan terus menyempurnakan pekerjaan yang telah dimulainya itu. Tidak ada yang dapat menghalangi pekerjaan Allah, jika Allah yang memulai sebuah pekerjaan akan terus berjalan dalam kuasaNya sampai tergenapi.

 

Di Kampus Universitas Kristen Maranatha dengan kepemimpinan yang baru ada banyak hal yang akan dimulai. Berbagai rencana dan program yang baik akan segera dilaksanakan tentunya dengan sebuah harapan pogram yang dimulai dapat berakhir sampai tuntas dan berdampak bagi kemajuan kampus Universitas Kristen Maranatha. Sebagaimana Allah yang memulai dan mengakhiri, kita Imani bahwa program kerja yang baru yang segera dilaksanakan akan  disertai Allah. Percaya bahwa rancangan Allah bagi kampus Universitas Kristen akan tergenapi dan kita sebagai warga kampus dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan Universitas kita. (RZA)

 

Refleksi: Allah yang akan menyempurnakan setiap rencana program manusia.

AMANATKANLAH

“Dan barang yang telah engkau dengar daripadaku di antara banyak orang saksi, amanatkanlah kepada orang yang setiawan, yang akan berlayak mengajar orang lain pula.”(2 Timotius 2:2-TL)

Kardi berjalan dengan sangat berhati-hati membawa keranjang, langkah anak ini terhenti ketika seorang ibu menghentikan langkahnya. Sang ibu bertanya katanya,” Kardi, apa yang kamu bawa? sepertinya sangat berharga sekali sehingga cara membawamu sangat berhati-hati.” Lalu jawab Kardi, saya di suruh ibu untuk membawa pesanan 10 kg telur ke rumah Pak Lurah dan telur-telur ini tidak boleh ada yang pecah maka saya membawanya dengan hati-hati. Kardi berusaha menjalankan amanat orang tua dengan baik dan benar, dia sadar kepercayaan sang ibu menjadikan dia bersikap hati-hati, bukan berapa harga barang yang ia perhitungkan tetapi kepercayaan sang ibu menjadi alasan bagi dirinya. Amanat yang dimaksud adalah melaksanakan apa yang diberikan atau ditugaskan sesuai dengan tujuan yang dicapai.

 

Paulus sebagai bapak rohani Timotius menasihatkan untuk memberikan amanat kepada orang yang setiawan atau memercayakan apa yang telah diperoleh kepada orang yang dapat dipercaya. Paulus ingin firman Tuhan tidak berhenti dalam satu generasi saja, tetapi banyak orang yang dapat dipercaya dan cakap untuk mengajar orang lain. Apa yang dilakukan ini bukanlah sebuah paksaan tetapi kesadaran akan panggilan dalam pelayanan. Sebagaimana ilustrasi sebagai prajurit yang berfokus pada apa yang diintruksikan komandannya Ay 4;  Seorang olahraga ketika akan bertanding ia berlatih keras untuk memperoleh juara; Seorang petani yang bekerja keras untuk menikmati hasil usahanya. Inilah yang menjadi sukacita karena ada orang yang menerima amanat dan membagikan kepada generasi berikutnya.

 

Universitas Kristen Maranatha sebagai lembaga pendidikan yang diberikan amanat oleh Allah sudah seharusnya dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan sebaik mungkin. Sebagai warga Universitas Kristen Maranatha marilah kita ambil bagian  dalam mengupayakan Tridarma Perguruan Tinggi sebagai amanat  Allah untuk kemajuan bangsa. (RZA)

 

Refleksi : Amanat adalah sebuah  kepercayaan untuk dilaksanakan.

“IN THE MARKET PLACE”

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22)

Kehidupan kita di dunia modern  yang penuh dengan tantangan sekarang ini membutuhkan kekuatan.  Tanpa kekuatan seperti itu tidak mungkin kita bisa  melangkah dalam sebuah dunia yang ganas yang kini hadir di hadapan kita. kita membutuhkan segenap kekuatan yang penuh baik dari dalam diri kita maupun kekuatan dari luar diri kita, bukan suatu kekuatan yang sporadis. Karena kalau kita hanya memiliki kekuatan yang  sporadis kita akan tergilas dan terlindas. Dalam konteks ini kekuatan spiritual sangat penting dan menjadi modal  bagi kita untuk tetap terus berjalan. Nilai=nilai dan ajaran agama yang sejak awal menjadi milik kita melalui berbagai proses transfer pengajaran dan pendidikan baik di keluarga, di gereja, lembaga pendidikan formal dan non-formal harus terus di kedepankan. Narasi dan teks spiritual tak boleh diabaikan dan dibiarkan tergeletak dalam dunia ide, terpenjara dalam memori kita. Tetapi itu semua harus diaktualisasikan menjadi penuntun, lampu, dan rambu dalam kehidupan kita.  Narasi dan teks spiritual itu harus menjadi SOP atau sistem dan prosedur dalam hidup kita.

Penulis Yakobus menasehati jemaatnya agar mereka tidak saja menjadi pendengar Firman, tetapi juga menjadi pelaku.  Mereka harus menjadi orang yang cepat mendengar tetapi lambat berkata-kata; dan juga lambat untuk marah.  Membuang segala sesuatu yang jahat dan kotor.  Tetapi terimalah Firman Tuhan dengan lemah-lembut dan tanamlah di dalam hati sehingga jemaat menjadi pelaku Firman dan tidak hanya menjadi pendengar saja.  Sebab jika seorang hanya menjadi pendengar saja ia sama dengan orang yang mengamati mukanya di cermin, lalu ia pergi dan melupakan wajahnya. Namun seseorang yang menjadi pelaku Firman, ia bertekun di dalamNya, ia sungguh-sungguh melakukannya maka ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Menjadi pelaku Firman harus kita praktekkan di kantor kita, di ruang aktifitas kita, dan di pusat-pusat kegiatan kita, di pasar, “in the market place”, “ in the world”.  Kegagalan kita selama ini adalah ketika kita mengurung narasi dan teks spiritual itu ke dalam koridor asesori, memenjara dia dalam dunia status dan tidak menjadikannya sebagai Roh kehidupan.  kita harus memiliki niat yang baik dalam merajut kehidupan, komitmen yang kuat, konsistensi, tekad,  dan kehendak yang tangguh. Kita mesti bergerak keluar dari “ghetto” dan bertindak holistik. (AE)

Refleksi: lakukan narasi dan teks spiritual sebagai kebutuhan hidup dan pemenuhan panggilan.

 

OPTIMISME, HARAPAN, DAN KEYAKINAN

“ Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.” (Roma 12:12)

Salah satu bahaya yang mengancam kehidupan adalah sikap pesimis, yaitu perasaan ketiadaan pengharapan. Seorang yang pesimis adalah seorang yang tidak lagi antusias dalam menjalani kehidupan.  Tidak ada gerak, tidak ada gagasan, tidak ada kreativitas dari seseorang yang telah dihantui pesimisme. Seorang yang pesimis akan mengikuti saja kehidupan apa adanya, mengalir begitu saja dan tanpa semangat. Bayangkan jika sebuah komunitas atau sebuah bangsa diisi oleh orang-orang atau oleh masyarakat yang pesimis. Pesimisme dapat disebabkan oleh berbagai hal.  Dapat disebabkan karena perasaan kecewa, tekanan, jarak yang jauh antara kenyataan dan harapan dan lainnya.  Karena itu sikap optimis perlu  terus dipupuk dan dipelihara sejak anak-anak  sampai dewasa, bahkan sepanjang umur hidup manusia. Sikap optimis akan menentukan arah dan mendorong kehidupan kita mencapai masa depan yang diharapkan.

Firman Tuhan hari ini memberi dasar tentang sikap hidup optimis dan berpengharapan. Rasul Paulus memahami benar penderitaan, kesulitan, dan persoalan-persoalan hidup yang dialami oleh jemaat di Roma sebab iman mereka kepada Yesus.  kunci untuk menghadapi penderitaan, kesulitan, dan tantangan hidup adalah bersukacita dalam pengharapan. Bersukacita dalam pengharapan itu ibarat “api” dalam diri yang dapat terus membakar dan memberi semangat untuk tidak menyerah. Apalagi bila disertai sikap sabar dan tekun dalam doa.  Tetap menatap ke depan dan menengadah ke atas.

Optimisme, yakin, dan berpengharapan harus menjadi bagian integral dari kedirian  kita. Firman Tuhan hari ini mengingatkan dan mengajak kita selaku umat Tuhan yang di tempatkan dalam pengabdian di UK.Maranatha untuk mengembangkan sikap optimis dalam mengisi kehidupan ini. Sikap optimis diperlukan bagi kita mahasiswa agar mampu menyelesaikan studi tepat waktu, bagi karyawan dan dosen sikap optimis diperlukan agar mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab secara prima dan professional. Optimisme itu ibarat “bahan bakar” yang memungkinkan mobil bergerak dan berjalan mencapai tujuan. Tanpa bahan bakar mobil atau kendaraan sebagus apapun tidak ada gunanya, selain hanya menjadi pajangan dan hiasan. Hele Keller mengatakan:”optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence.” Kita diingatkan pada 3 kata kunci: optimisme, harapan, dan keyakinan. (AE)

Refleksi: Miliki optimisme, harapan,  dan keyakinan maka hidup ini akan menjadi berarti.

MAHKLUK SOSIOLOGIS

“ Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului  dalam memberi hormat” (Roma 12:10)

 

Sejak awal kekristenan memberi dasar teologis yang kokoh dan fundamental bahwa manusia, sebagai ciptaan Allah yang termulia bukanlah sosok yang hidup sendiri, menyendiri, dan hanya memikirkan kepentingan sendiri. Manusia merajut dan mengisi kehidupannya bersama orang lain, bersama fihak lain. itulah sebabnya manusia pertama diciptakan Tuhan berduaan, yaitu sebagai laki-laki dan perempuan. Manusia bukan mahkluk individualistik, manusia adalah mahkluk sosiologis.  Manusia disebut manusia hanya karena ia berinteraksi, berelasi, berkomunikasi, bekerjasama dengan manusia yang lainnya. Keduaan manusia mencerminkan kesetaraan gender yang sejak awal sebenarnya “inheren” dengan penciptaan manusia. Dalam mengungkapkan diri sebagai mahkluk sosiologis manusia berinteraksi, bersinergi oleh karena mereka sadar bahwa mereka diutus oleh Tuhan untuk berkarya di bumi Tuhan telah ciptakan dengan amat baik.

Nats Alkitab hari ini bagian dari perikop “ nasehat untuk hidup dalam kasih”. Paulus memberi nasehat kepada jemaat di Roma supaya mereka tidak menjalani hidup dengan berpura-pura. Tetapi sebaliknya mereka harus menampilkan perilaku hidup dalam kasih.  Perilaku hidup dalam kasih adalah perilaku hidup yang saling menghormati, yang sabar, yang tekun, saling membantu dan memberi tumpangan, memiliki simpati dan empati, dan juga hidup dalam perdamaian dengan setiap orang.

Kehidupan manusia  sebab itu sejatinya dinafasi oleh roh kepedulian, roh sinergi, roh aliansi, roh kebersamaan, dan roh kasih sayang yang semuanya mengatasi perbedaan apapun yang dimilki. Perbedaan suku, ras, agama, antar golongan, afiliasi politik, idiologi, denominasi keagamaan, strata sosial dan lain sebagainya tidak akan mampu mereduksi atau meniadakan kesatuan manusia sebagai mahkluk sosial.  Bahwa dalam kehidupan nyata manusia tetap terdapat keragaman, keberbagaian, faksi-faksi, dan kelompok-kelompok berdasarkan latar-belakang tertentu, hal itu mesti dipahami sebagai kekayaan dan rahmat dari Tuhan yang tidak boleh menjadi sesuatu yang destruktif. Tetapi harus menjadi elemen penguat bagi kemanusiaan yang utuh, satu, solid, dan berkeadaban. Di sini kita selaku sivitas akademika UK. Maranatha diingatkan kembali pentingnya dikembangkan terus-menerus sikap care, peduli. Bukan sikap yang “ignoran”, apatis, masa bodoh, dan tidak peduli.(AE)

Refleksi: Dengan mengembangkan sikap peduli berarti kita tengah membangun kemanusiaan kita.

SHARING TALENTA

“ Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama.”

(1 Korintus 12:4-7)

Kehidupan  manusia dilimpahi anugerah yang teramat besar dari Tuhan yang Maha Kuasa. Anugerah yang tiada terbandingkan, tiada terukur, dan tak pernah dapat disetarakan dengan wujud apapun. Diciptakan sebagai “imago Dei” atau”image of God” memberikan makna bahwa manusia diciptakan sebagai mahkluk yang mulia dan baik, sekaligus padanya diberikan mandat untuk menjaga dan memelihara kehidupan. Di sanalah letak keunikan dan keistimewaan manusia dibandingkan dengan mahkluk ciptaan Allah yang lainnya.  Bakat, talenta, potensi, kompetensi, dan kekuatan dianugerahkan Allah kepada manusia agar manusia mampu menjalankan dengan optimal misi yang dimandatkan dan diamanatkan kepadanya. Semua yang Allah anugerahkan itu harus dirawat, dipelihara, dan dikembangkan bahkan dibagikan kepada sesama demi kebaikan dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.  .  Bakat, talenta, potensi, dan kompetensi yang dimilikinya bukan untuk merusak kehidupan dengan mempraktekkan ketidak-adilan, kekerasan, dan keserakahan, tetapi itu dipakai untuk kemuliaan bagi nama Tuhan.

Paulus dalam nats firman Tuhan ini mengajak kepada jemaat di Korintus untuk mengenal identitasnya, yaitu sebagai orang yang sudah mengenal Allah. Sebagai orang yang telah mengenal Allah mereka tidak boleh tertarik lagi kepada berhala-berhala. Dalam rupa-rupa karunia yang mereka miliki, mereka tetap harus ingat bahwa semua karunia yang ada pada mereka digunakan untuk kepentingan bersama.  Kenapa? Karena mereka tetap satu Tuhan dan satu Roh. Tetenta dan karunia harus disharingkan untuk membangun kehidupan bersama.

Firman Tuhan hari ini memberikan dasar yang kokoh, fundamental, dan legitim bahwa manusia tidak boleh terpenjara pada kepentingan individualisme, tetapi mesti diperuntukkan dalam mengembangkan relasi dan beramal bagi orang lain. Firman Tuhan mengajarkan dan mendorong kita agar mewujudkan sikap ukhuwah (persaudaraan) terhadap sesama dan lingkungan tempat kita hidup.  Dalam konteks mengembangkan relasi itu maka sharing telenta kepada sesama menjadi hal yang sangat teologis.  Anugerah yang Allah berikan kepada manusia dalam beragam bentuk semestinya digunakan  sebesar-besarnya  untuk kemaslahatan masyarakat.(AE)

Refleksi: Sharing talenta merupakan kekuatan besar yang dapat dikerjakan di UK.Maranatha menuju Maranatha yang lebih baik. 

MENGGESER FOKUS

“Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: ’Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.’ …. Kata Yesus kepada Simon: ’Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”(Lukas 5:8,10)

Film “The Blind Side” mengangkat perjalanan hidup Michael “Big Mike” Oher seorang pemuda tunawisma dari keluarga berantakan dan hidup tanpa masa depan. Setelah beberapa kali kabur dari keluarga yang bersedia mengasuhnya, dia bertemu keluarga Tuohy. Seiring waktu, Mike menjadi bagian keluarga tersebut. Semua anggota keluarga itu mendukung Mike dalam mengenal diri serta membangun kepercayaan diri dan relasi sosial. Dengan fokus kepada kekuatannya yaitu naluri melindungi yang sangat kuat, Ny. Anne dan keluarganya mendorong dan memfasilitasi Mike menjadi pemain bola. Sepanjang perjalanan itu, keluarga Tuohy mengalami berbagai persoalan: disalahmengerti, dicemooh, mengalami persoalan hukum, bahkan mendapatkan ancaman serius. Tetapi, komitmen dan pengorbanan keluarga Tuohy mengubah hidup Michael Oher. Kini dia terkenal sebagai seorang pemain liga nasional profesional.

Ketika memanggil murid-murid-Nya yang pertama, Yesus tidak memilih mereka karena popularitas atau rekomendasi orang terpercaya. Tidak juga dari kelompok elit dengan status intelektual dan sosial terpilih yang merupakan modal penting bagi keberhasilan tugas yang akan mereka emban. Murid itu sendiri sadar bahwa mereka tidak layak, tetapi Yesus menunjukkan fokus-Nya pada potensi besar dalam diri mereka. Memimpin mereka memang bukan perkara mudah. Kita tahu besarnya penerimaan, kesabaran, dan ketekunan Yesus dalam mendidik dan melatih para murid. Pada akhirnya terbukti bahwa kasih Kristus dan penyertaan Roh Kudus mengubah dan memampukan orang-orang yang tadinya tak masuk hitungan menjadi pemimpin besar.

Hidup dalam budaya yang kurang menyokong apresiasi, kita seringkali blank saat diminta membuat daftar kekuatan seseorang. Kita lebih mudah menyusun daftar kekurangannya, apalagi jika dia pernah melakukan kesalahan. Karena kita percaya bahwa setiap individu dikaruniai talenta unik yang batasnya tak terukur, kita mesti membiasakan fokus kepada kelebihan dan potensi orang lain serta berkomitmen mendukung pertumbuhannya. Apapun keadaan mereka saat ini, pada saatnya mereka akan menjadi orang-orang yang memberi dampak penting bagi organisasi dan masyarakat. (JS)

Refleksi:     Siapa yang terlintas dalam pikiran Anda seorang yang tak menonjol atau dicap sebagai pembuat masalah? Bagaimana kemungkinan melibatkannya di dalam Tim Anda?

KUMPULAN PEMIMPIN

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (1 Petrus 2:9)

Di antara perusahaan terkemuka yang sebelumnya adalah pemimpin dunia kini kehilangan pasar dan bahkan bangkrut. Umumnya, mereka adalah perusahaan teknologi yang akrab dengan inovasi. Produknya beragam dan kekuatan jaringan penjualannya masif. Mereka menginvestasikan modal yang sangat besar untuk mengelola relasi dengan pelanggan. Mereka tidak kekurangan sumber daya, malah berkelimpahan. Lalu, apa yang membuat mereka ditinggalkan konsumen dan akhirnya gagal? Kesimpulan para analis mengarah kepada satu sebab, yaitu mereka terlambat merespon perubahan! Pengalaman ini mengamini kata bijak Jack Welch: “If change is happening on the outside faster than on the inside the end is in sight.”

Perubahan yang semakin cepat dan radikal membutuhkan respon yang semakin tanggap pula. Tidak lagi masuk akal menjadikannya hanya tanggungjawab orang yang memiliki jabatan formal. Menunggu arahan atasan dalam merespon perubahan semakin tidak memadai. Dibutuhkan inisiatif serta kapasitas beradaptasi di semua lini. Setiap orang mesti accountable atas peran dan tanggungjawabnya dalam melaksanakan misi organisasi. Itu berarti setiap individu harus menjadi pemimpin yang mampu memahami pelanggan, mengerti perubahan yang terjadi di sekitarnya, serta mampu mewujudkan harapan pelanggan melalui peningkatan layanan organisasi.

Petrus menegaskan bahwa setiap orang percaya adalah pemimpin. Sebagai imam-imam kerajaan Allah, setiap kita bertanggungjawab melayankan misi Allah dengan menggunakan dan mengembangkan karunia rohani masing-masing. Pelayanan kasih Kristus membutuhkan kepemimpinan setiap orang.

Dengan semangat untuk melayani, mari tumbuhkan dan bangun kepemimpinan dalam diri setiap insan Maranatha. Dengannya kita mampu menjawab tantangan jaman. Melalui karya-karya warga Maranatha, buah pelayanan kita sebagai institusi pendidikan tinggi bukan saja semakin dirasakan oleh masyarakat tetapi mentransformasi kehidupan. (JS)

 

Refleksi:     Bagaimana Anda memahami “Kamulah imamat yang rajani” dalam konteks peran dan tanggungjawab Anda saat ini?

BERTINDAK KREATIF

“Maka raja berkata kepada Yusuf, “Allah telah memberitahukan semua ini kepadamu, jadi jelaslah bahwa engkau lebih cerdas dan bijaksana dari siapa pun juga. Engkau akan kuangkat menjadi gubernur, dan seluruh rakyatku akan mentaati perintahmu. Hanya aku sajalah yang lebih berkuasa daripadamu.” (Kejadian 41:39-40 BIS)

Ketika suatu daerah kembali dihantam musibah banjir yang melumpuhkan aktifitas warga, Pemimpin daerah tersebut bereaksi dengan mengajak masyarakat berdoa. Pokok doanya lugas, yaitu memohon Tuhan tidak menurunkan hujan sekaligus. “Kalau hujan sedikit, banjir juga sedikit,” tutur Sang Pemimpin. Cerita berbeda datang dari daerah sebelah. Sadar dengan persoalan serupa yang mengancam kehidupan dan penghidupan warga, pemimpin mereka berpikir dan bekerja cerdas untuk menyingkap misteri banjir tahunan. Mengantisipasi prediksi curah hujan tertinggi, mereka bekerjasama dengan berbagai pihak dalam meningkatkan kapasitas drainase, sungai, dan waduk, termasuk memastikan ketersediaan pompa-pompa untuk memindahkan air ke tempat yang diinginkan. Tak hanya itu, mereka juga membuat rencana kontijensi yang siap diaktifasi saat potensi bencana menjadi nyata.

Dalam kisah tentang masa kelimpahan dan masa kelaparan di tanah Mesir, kita mendapat gambaran bagaimana Yusuf melepaskan negeri itu dari kebinasaan. Dengan pimpinan Roh Allah, Yusuf mampu melihat jauh ke depan dan menyusun rencana kreatif dan sistemik untuk menghadapi situasi yang akan terjadi. Rencana Yusuf benar-benar kredibel sehingga diterima dan didukung oleh Firaun dan pejabatnya. Pada akhirnya, rencana Yusuf tidak saja menyelamatkan Mesir tetapi merealisasikan rencana Allah di dalam dan melalui hidup keluarganya.

Berpandangan jauh ke depan serta berpikir dan bekerja dengan konseptualisasi merupakan karakter pelayan-pemimpin. Mereka bukan sekedar reaktif pada suatu peristiwa dan tidak terjebak dengan pola lama atau kelaziman. Mereka memandang situasi dari perspektif visi dan struktur sistemik sehingga mampu menemukan terobosan serta mengatasi masalah secara struktural.

Menghadapi isu penting dalam pribadi, keluarga, kampus, atau masyarakat, sepatutnya kita memohon hikmat untuk mengerti kehendak Allah serta memahami masalah secara konseptual dan sistematik. Melalui itu kita menemukan tugas yang mesti kita emban dalam menuntun diri dan orang-orang kepada masa depan yang lebih baik. (JS)

Refleksi:     Bagaimana berpikir konseptual dan sistematis membuat Anda lebih menyadari peran dan tanggungjawab di dalam suatu masalah? 

MENGINDAHKAN TEGURAN

“Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat.” (Amsal 10:17)

Belum lama ini, sebuah organisasi mahasiswa ternama marah besar setelah mendengar keluhan terkait korupsi yang menyitir nama organisasi mereka. Tak berusaha menangkap esensi teguran faktual itu, mereka rusuh melayani ego kelompoknya. Dengan emosi, mereka menyalahkan pembuat pernyataan dan mencari pembenaran atas fakta bahwa sejumlah kader/alumni mereka terjerat tindak pidana luar biasa itu. Demo anarkistis menjadi amuk massa serta berujung dengan korban luka, kerusakan sarana, dan tambah merosotnya reputasi organisasi mereka. Di belahan dunia lain, ketika sekolah-sekolah bisnis yang menghasilkan pemimpin global menerima kritik pedas atas krisis ekonomi yang mengguncang dunia, pemimpin sekolah bisnis tersohor merespon dengan mengatakan: “Ini saatnya bagi institusi ini untuk introspeksi.”

Indeks persepsi korupsi Indonesia terus menurun sejak KPK dibentuk tahun 2003, namun korupsi masih menjadi persoalan utama bangsa kita. Merajalela sekian lama, korupsi menjadi terstruktur dan masif, bahkan menjadi kebiasaan dan menyangkut (hampir) semua sendi kehidupan. Orangpun berseloroh, melakukan korupsi itu bagai naik kendaraan dengan melanggar aturan lalu lintas. Kalau tertangkap, itu namanya apes! Intinya, orang tidak merasa korupsi sebagai pelanggaran hukum serius. Mengatasi kebobrokan ini tambah sulit karena banyak orang merasa tidak terkait dengannya.

Sebagai pelayan-pemimpin kita mesti melihat masalah bangsa di dalam diri kita, di dalam institusi kita, dan bukan di luar sana. Pemulihannya mesti dimulai dari sini, dari dalam diri kita, dari dalam institusi kita, bukan dari luar sana! Sesungguhnya, keluhan dan teguran di atas juga bagi institusi kita. Kita diingatkan untuk mencari, menyadari, dan mengakui kontribusi negatif bagi praktek korupsi di negeri tercinta ini.

Saatnya kita secara serius mengidentifikasi praktek keseharian di kampus yang dianggap lumrah namun sebenarnya adalah persemaian bibit perilaku koruptif.  Kita wajib membereskannya sebagai komitmen mengatasi masalah terbesar dari bangsa ini dan mengarahkan kita semua ke jalan kehidupan.(JS)

 Refleksi:     Sejauh mana Anda merasa terkait dengan kelemahan struktural masyarakat dan bangsa kita?