TAHUN KEMENANGAN 2017

“…tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:17-18)

Di penghujung tahun seperti ini biasanya optimisme baru terbangun, meskipun bagi yang telah bertambah usia menjadi semakin ragu untuk menjadi bagian dari optimisme tersebut. Ini ibarat seorang anak remaja yang berdiri di tepian gunung atau dataran tinggi dan melihat lepas ke bawah begitu luas, begitu menakjubkan dan begitu banyak hal yang terlihat, seperti mimpi-mimpi yang belum tercapai dalam kehidupannya. Setiap awal tahun jiwanya membara untuk mencapai hal-hal yang menjadi impian dan belum dicapainya. Namun ketika usia terus merambat dewasa dan menjadi tua, tiba-tiba seseorang merasa seperti berdiri di dalam kabut dengan jarak pandang hanya 5-10 meter ke depan. Seolah-olah pengalaman mengajarkan bahwa kegagalan demi kegagalan tahun-tahun sebelumnya membuat dirinya dipaksa untuk hidup lebih realistis dan yang terburuk menjadi sangat pesimis bahwa tahun-tahun ke depan akan membaik.

Ayat di atas sangat tepat menjadi perenungan kita di akhir tahun ini. Ayat itu seolah-olah menjawab keraguan orang-orang yang menjadi tua dan belum mencapai harapan-harapannya, seperti dikatakan, “…masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Dan syaratnya adalah, “…tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.” Jika dibaca dalam pengertian lain pada bagian terakhir hampir sama dengan kata berserahlah, atau tetaplah berharap, atau selalu berpikirlah positif, atau yang paling aktual dalam kehidupan ini adalah tetaplah berusaha.

Memasuki tahun 2017 ini kita bisa belajar dari kisah hidup Kolonel Sanders, pendiri perusahaan waralaba ayam goreng yang sangat sukses saat ini. Ia pensiun sebagai Angkatan Darat Amerika, dan hidupnya pas-pasan mengandalkan tunjangan di hari tuanya. Anda tahu apa yang dilakukannya ketika kekelaman menyelimutinya? Ketika uang tunjangannya mulai menipis? ia menciptakan resep ayam goreng yang kemudian ditawarkannya. Usianya pada saat itu sudah 65 tahun, tidak lagi muda. Dan selama kurang lebih 2 tahun ia berkelana ke seluruh Amerika, tidur di dalam mobil tuanya menawarkan resepnya ke semua restoran dan harus menghadapi 1008 kali penolakan. Jangankan 1008 penolakan, 10 kali penolakan rasanya sudah ingin mati saja bukan? Dan ternyata di penawaran ke 1009 iya akhirnya memenangkan pertandingan tersebut. Resepnya dimodali sebuah perusahaan dan sampai saat ini KFC nama perusahaannyamemiliki kurang lebih 18000 outlet yang tersebar di 120 negara dengan penghasilan 15 miliar dollar Amerika setiap tahunnya.(AT)

Refleksi: Mari berharap tahun 2017 adalah tahun kemenangan bagi kita.

BERUBAH UNTUK MENGUBAH

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

 

Ada sebuah gambar menarik yang beredar di media sosial. Gambar seperti seorang pendeta yang sedang berkotbah di atas mimbar. Dalam gambar itu sang Pendeta mengajukan pertanyaan kerpada para jemaatnya,”Siapa yang mau perubahan.” Di dalam gambar itu nampak seluruh yang hadir mengangkat tangan. Lalu pada gambar kedua, pendeta itu mengajukan pertanyaan lagi, “Siapa yang mau berubah?” Dalam  gambar itu nampak tidak satupun di antara mereka yang tadinya mengangkat tangan, mengangkat tangan lagi menjawab pertanyaan itu.

Ayat di atas sangat menarik, berbicara tentang perubahan seperti pertanyaan yang tidak terjawab dalam ilustrasi di atas. Dalam bahasa Inggris dituliskan dalam susunan yang cukup bagus … do not conform…but transform (Jangan menjadi serupa…namun berubahlah). Kata yang digunakan dalam bahasa Yunani untuk kata berubah adalah metamorphoó artinya perubahan dari dalam keluar jadi sebuah totalitas perubahan bukan perubahan di luaran saja. Kata ini juga biasa digunakan untuk menjelaskan perubahan kepompong menjadi kupu-kupu yakni methamorphosis, perubahan menuju ke sesuatu yang lebih baik.

 

Jika Kenneth Blanchard, seorang ahli manajemen yang menulis buku The One Minute Manager dan terjual hampir 13 juta copy dan diterjemahkan ke dalam 37 bahasa menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pengaruh, maka pengaruh yang tentu saja mengarah pada perubahan, pertanyaannya adalah apakah sang pemimpin sendiri sudah mengalami transformasi pada bagian pesan yang disampaikan melalui kehidupannya? Menarik jika melihat salah satu calon cagub DKI yang menghendaki syariah diterapkan di Jakarta, justru ia malah menjadi tersangka suap kasus Reklamasi Teluk Jakarta. Artinya ia sendiri tidak hidup di dalam pesan-pesannya yang justru pada akhirnya mempermalukan dirinya sendiri, termasuk dan orang-orang yang mendukungnya begitu saja. (AT)

Refleksi:

Perubahan pada diri sendiri awal dari perubahan di sekeliling Anda.

DIBERKATI MENJADI BERKAT

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.(Kejadian 12:2)

 

Sebagai bahan ilustrasi renungan hari ini, saya akan menjelaskan perbedaan dua jenis benda yakni balon dan selang. Balon jika diisi air pelan-pelan akan mengembang, menjadi besar, semakin besar sebab bahannya yang elastik, hingga sampai batas daya tampungnya, jika air terus dimasukkan maka balon itu pasti akan pecah. Berbeda dengan selang. Jika lubang selang dimasukkan air sebanyak apapun, selang tidak pernah membesar, ia tetap dalam kondisi yang sama, dan air yang masuk melalui lubangnya akan terus mengalir, berpindah tempat ke mana mata selang tersebut diarahkan.

Ayat di atas sangat menarik, dalam perikop tentang berkat Abraham. Ayat ini banyak digunakan sebagai tema-tema pelayanan gereja-gereja masa kini, dan juga menjadi sebuah bahan pemuridan yang sangat terkenal, yakni blessed to bless (diberkati menjadi berkat). Berkat dalam ayat ini diberikan kepada Abraham dalam kapasitasnya sebagai pemimpin rombongannya yang keluar dari Haran menuju tanah yang ditunjukkan Tuhan, seperti dikatakan oleh Tuhan, “…engkau akan menjadi berkat.” Dalam konteks Perjanjian Baru berkat tersebut adalah Yesus Kristus sendiri. Kita segenap orang percaya telah memperoleh berkat dalam Yesus Kristus sehingga di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya diharapkan kita akan menjadi berkat bagi sesama.

Memahami ilustrasi dan ayat di atas sangatlah menarik. Pertama seringkali dalam kehidupan ini kita hanya menerima berkat-berkat saja dan terus meminta kepada Tuhan, padahal sangat minim sekali yang  kita keluarkan atau menjadi berkat bagi orang lain. Ini adalah kekristenan balon yang bisa jadi suatu saat akan meletus atau terkena masalah sendiri, yang ketamakan itu sendiri juga sudah menjadi masalah karakter kehidupan. Sebaliknya sama seperti Abraham yang didaulat oleh Tuhan untuk menyalurkan berkat, ini adalah kekristenan selang di mana berkat yang diterima dari Tuhan disalurkan untuk memberkati kehidupan orang lain. (AT)

 Refleksi:

Periksalah kehidupan Anda. Apakah Anda adalah balon atau selang?

PEMIMPIN YANG SEBENARNYA

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. (Yohanes 10:11-12)

Ada yang mengatakan bahwa seorang pemimpin teruji ketika kesulitan datang. Jika baru bersenang-senang pada sebuah jabatan yang disandang, segala kata-katanya yang indah tidak membuktikan apa-apa. Sepertinya perkataan ini menarik untuk dicermati dari para pemimpin yang ada di sekeliling kita. Dalam batasan uji kompetensi dalam perusahaan terkait tingkat integritas seorang pemimpin adalah ketika ia berani mengambil keputusan yang benar, bahkan jika hal tersebut merugikan dirinya. Dan ia juga rela bekerja keras mengorbankan hal-hal yang berharga demi mencapai tujuan yang dikerjakannya.

Ayat di atas menjelaskan dua karakter gembala yang menjadi simbol kepemimpinan dalam kekristenan. Pertama adalah Gembala yang baik dan yang kedua Gembala upahan. Gembala upahan ini memiliki karakter yang tidak menyenangkan yakni, “…ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” Sepertinya ia tidak terlalu memperdulikan domba-domba yang dijaganya jika dibandingkan dengan nyawanya. Sebaliknya Gembala yang baik dikatakan, “…memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Bagi Gembala yang baik Kepemimpinan sepertinya lebih berharga dari pada nyawanya sendiri. Namun jika dilihat sekilas penampilan keduanya tidak jauh berbeda bukan?

Sekarang bagaimana dengan diri kita? Terkadang memang tidak bisa disalahkan, misalnya keluhan sebagai berikut, “…Ah gaji kecil, tanggung jawab besar.” Sulit untuk membantah adanya institusi atau perusahaan yang memeras tenaga para pemimpinnya. Perusahaan sedemikian biasanya tidak pernah melahirkan pemimpin yang berintegritas sebab kesalahan mereka sendiri sebagai wadah tidak menyediakan sarana dan fasilitas yang baik bagi para pemimpinnya. Namun dari sudut pandang yang sebaliknya integritas biasanya lahir dari dalam, tidak harus dipengaruhi sepenuhnya dari apa yang di luar dirinya. Pemimpin hebat seharusnya memang tinggal atau bekerja di perusahaan yang hebat, atau pemimpin hebat di mana saja seharusnya tetap berusaha untuk tampil hebat.(AT)

Refleksi: Anda pemimpin upahan atau memang dilahirkan sebagai pemimpin yang hebat?

ANUGERAH DAN KARISMA

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”(Lukas 1:28)

 

Diamond is diamond. Ini adalah sebuah perkataan hikmat yang sangat menarik yang menjelaskan bahwa apa yang baik pada diri seseorang akan selalu begitu keadaannya. Meskipun ia tertutup kotoran dan sampah, “berlian tetap adalah berlian”, tinggal menunggu waktu orang akan menemukannya, dan menjadikannya barang yang sangat berharga. Kenyataannya orang yang berkualitas seperti berlian dan dicari di mana-mana. Bahkan Tuhan sendiri mencari manusia yang berkualitas untuk menjadi ibu yang akan melahirkannya ke dalam dunia seperti Maria.

Ayat di atas sangat menarik menjelaskan siapa Maria. Kata yang dikarunia dalam bahasa asli Alkitab disebut charitoó yang sejajar dengan kata yang sama xárisma yang artinya anugerah atau karunia namun pada saat yang sama adalah sesuatu yang layak karena kondisinya. Dalam bahasa Indonesia seringkali digunakan kata karisma untuk menjelaskan pengertian daya tarik. Ketika malaikat menuturkan padanya bahwa ia akan melahirkan Yesus Kristus awalnya ia membantah, “…”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Namun apa yang dikatakannya di akhir dialognya dengan malaikat menunjukkan siapa Maria yang sebenarnya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Kembali seperti kata-kata hikmat yang mengatakan, “kesuksesan tidak akan menghampiri orang yang tidak bermental sukses. Atau kemenangan tidak akan menghampiri orang yang tidak bermental pemenang.” Hal yang sangat penting belajar dari kehidupan Maria dalam nats di atas adalah bahwa ia secara alamiah telah mempersiapkan dirinya untuk menerima sebuah amanah besar yang diberikan oleh Tuhan. Ia bahkan tidak berlarut-larut dalam penolakan dan keraguan namun melihat dirinya sebagai hamba Tuhan yang bertindak sesuai dengan porsinya yakni berjalan menurut kehendakNya. Hal yang menjadi permasalahan adalah ketika kita seringkali tidak mempersiapkan diri kita untuk mencapai kualitas seperti apa yang kita inginkan. Kita ingin menjadi pelajar yang sukses, namun tidak pernah belajar. Ingin menjadi dosen hebat tapi jarang membaca buku dan melakukan penelitian. Ingin menjadi pemimpin besar tapi berjiwa kerdil, dan lain sebagainya.(AT)

Refleksi: Persiapkan dirimu untuk menjadi sesuai apa yang menjadi kerinduan dalam hidupmu.

BELAJAR DARI KEPOLOSAN SEORANG ANAK

Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:14-15)

 Natal merupakan momen yang paling dinantikan oleh baik orang dewasa maupun anak kecil.Masa-masa menjelang Natal merupakan masa persiapan bagi sebagian dari kita.Sebagian dari kita sibuk menyiapkan hadiah Natal, sebagian lagi sibuk menyiapkan hidangan malam Natal bagi keluarga, sedangkan anak-anak kita acapkali menanti-nantikan momen menghias pohon Natal.

Saya ingat saat saya kecil, Natal merupakan momen yang paling saya nanti-nantikan, bahkan jauh lebih saya nantikan dibanding perayaan ulang tahun saya sendiri. Selain memiliki kesempatan untuk menghiasi pohon Natal, saya juga menantikan hadiah Natal yang akan saya terima, menikmati hari-hari libur sekolah saya, dan juga menikmati perayaan-perayaan Natal di sekolah maupun gereja.

Saat saya mulai beranjak dewasa, Natal tidak lagi seindah sedia kala.Natal selalu diikuti dengan berbagai tanggung jawab.Kegiatan menghias pohon Natal pun menjadi beban tersendiri.Mengapa sikap kita dapat berubah sedemikian drastisnya?

Sebagai seorang manusia yang terus bertumbuh, kita akan terus mengalami pendewasaan.Ada kalanya karena himpitan tugas dan tanggung jawab dan juga berbagai macam rintangan dan hambatan yang kita alami dalam proses pendewasaan, kita tidak lagi memiliki hati yang murni dan polos seperti seorang anak kecil. Kita cenderung melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan, dan oleh sebab itu cenderung mengesampingkan hal-hal yang bagi kita merupakan bagian dari masa kecil.Hendaklah kita renungkan apakah kita sudah menyambut kedatangan Tuhan Yesus dengan hati yang riang layaknya seorang anak kecil? (RL)

 Refleksi:

Sudahkah kita menyambut-Nya dalam hidup kita?Sambutan seperti apakah yang sudah dan ingin kita berikan pada Yesus?

 

KEPEDULIAN DAN PRESTASI KERJA

“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” (I Korintus 12:12)

 Di era yang serba cepat dan kompetitif ini, manusia dituntut untuk melakukan dan memberikan yang terbaik dari dirinya baik kepada institusi maupun masyarakat. Ada kalanya kita hanya memikirkan dan memasang target outcome, dan tidak mengindahkan proses. Padahal outcome yang baik tidak hanya diukur dari sisi kuantitatif saja, tapi juga kualitatif. Dan untuk mendapatkan hasil yang berkualitas, kita harus memperhatikan proses.Lantas proses seperti apa yang dapat menghasilkan outcome yang berkualitas? Selain kerja keras dan dorongan semangat, kepedulian merupakan salah satu hal penting yang seringkali dilupakan.Outcome yang dihasilkan oleh seorang karyawan yang hanya dianggap sebagai robot pekerja tentu saja berbeda dengan outcome yang dihasilkan oleh seorang karyawan yang diperlakukan seperti seorang anggota keluarga.

Sebuah institusi layaknya satu tubuh, ada kepala, mata, kaki, dan organ-organ lain yang memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Kepala tidak akan bisa berjalan tanpa kaki, dan kaki tidak akan bisa melihat tanpa mata. Demikian juga kita sebagai anggota dalam sebuah institusi, kita adalah satu tubuh.Ibaratnya jika kaki kita terluka, mata hendaklah melihat, tangan hendaklah mengobati dan mulut hendaklah menghibur.

Untuk menghasilkan outcome yang berkualitas, hendaklah kita tidak hanya menuntut rekan kerja kita untuk bekerja tanpa memperhatikan kondisi fisik, mental dan spiritual dari masing-masing anggota.Tapi hendaklah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah (I Yoh 4:7). Dan layaknya pohon yang dirawat dan dipupuk dengan baik, niscaya akan menghasilkan buah yang baik juga. Hendaklah kita juga saling mengasihi saudara-saudara yang bekerja bersama kita, niscaya prestasi yang berkualitas akan lahir dari orang-orang yang penuh dengan kelimpahan kasih. (RL)

 Refleksi:

Sudahkah kita mengasihi dan menunjukkan kepedulian pada rekan kerja kita?

 

KETELADANAN

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalama kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (ITimotius 4:12)

Ada kalanya kita dipanggil untuk memimpin pada usia yang masih muda, dan sebagai seorang manusia, sering sekali kita merasa takut untuk menerima panggilan tersebut, apalagi jika orang-orang yang akan kita pimpin ternyata lebih senior dan lebih kaya akan pengalaman daripada kita. Tapi kita tidak pernah tahu kapan dan dimana Tuhan akan memanggil kita untuk memimpin. Kita juga tidak bisa memilih siapa dan bagaimana karakter orang-orang yang akan kita pimpin. Lantas haruskah kita takut dan menolak panggilan tersebut?

Besi menajamkan besi, begitu juga manusia menajamkan sesamanya.Tuhan menempatkan orang-orang dengan berbagai jenis latar belakang dan karakter untuk mengasah kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih utuh lagi. Lewat interaksi dan juga gesekan yang terjadi, kita akan belajar untuk melihat tidak hanya dari satu sudut pandang saja, tapi kita juga akan belajar untuk melihat dan memahami perspektif yang berbeda serta hal-hal yang melatarbelakangi terbentuknya perspektif tersebut.

Justru saat kita dipanggil untuk memimpin, di sanalah kita harus lebih banyak belajar dari rekan-rekan yang kita pimpin, belajar dari rekan-rekan yang sudah mengalami pahit getirnya kehidupan, belajar untuk membuat keputusan yang objektif dan pragmatis.Tidak hanya yang muda harus belajar dari yang lebih senior, tapi yang lebih seniorpun hendaknya rendah hati dan bersedia untuk belajar dari yang lebih muda.Pemimpin senior biasanya lebih berhati-hati dalam membuat keputusan, tapi cenderung konservatif, sedangkan pemimpin yang muda biasanya lebih kreatif dan inovatif, tapi ada kalanya tergesa-gesa dalam membuat keputusan.

Sebagai seorang hamba yang dipanggil untuk memimpin, kita harus belajar dan menunjukkan keteladanan kita tidak hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesuciaan.Kita harus belajar dari keteladanan yang telah Yesus contohkan bagi kita semua. (RL)

 Refleksi:

Keteladanan seperti apakah yang sudah kita berikan di tengah-tengah keluarga dan masyarakat?

KARYA KESELAMATAN YANG BERDAMPAK

“… supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya diantara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Filipi 2:18)

 

Hari Rabu tanggal 4 Mei 2016 mungkin menjadi hari bersejarah bagi beberapa orang rekan yang terpilih dan dipercaya menjadi pemimpin di Universitas Kristen Maranatha. Karena hari itu merupakan pelantikan Wakil Rektor 1, 2, 3, 4, Sekretaris UMUM dan pelantikan Dekan serta Wakil Dekan 1 & 2. Menjadi bersejarah bukan saja karena pelantikannya disaksikan tamu undangan tapi juga ada janji untuk melakukan tugas kepemimpinannya secara baik, penuh bertanggung jawab dan mau tidak mau  para pemimpin ini akan selalu dilihat  dan dinilai oleh orang lain bagaimana ia menjalani hidupnya.

Ada cerita menarik pada tahun 1972, pengusaha Mesir bernama Farahat kehilangan jam tangan seharga 11.000 dolar ( lebih dari seratus juta rupiah). Tanpa diduga seorang pemulung dekil menemukan dan mengembalikan jam itu. Farhat bertanya mengapa si pemulung tidak menyimpan dan menjualnya. Si pemulung menjawab, Kristus Tuhan, meminta saya untuk selalu jujur. Kepada para jurnalis, Farahat berkata, “saat itu saya belum mengenal Kristus, tapi saya berkata kepada si pemulung bahwa saya melihat Kristus dalam hidupnya. Dan karena kesaksian ini, saya akan menyembah Kristus yang ia sembah.”

Rasul Paulus pada suratnya di Filipi meminta setiap orang mengerjakan bagiannya dengan baik. Ketika yang  dkerjakannya  berdampak untuk orang lain, ia  sedang turut berkarya dalam rangka misi Allah, keselamatan umat manusia.  Mengerjakan keselamatan dengan baik, baik ada atau pun tidak ada orang yang melihat. Sebagai anak Allah tidak perlu harus mendapat pengakuan dulu dari orang lain akan keberadaannya baru mengerjakan keselamatan. Yang paling utama karya keselamatan tersebut haruslah berdampak bagi orang lain, sehingga orang tersebut dapat melihat kehadiran Yesus dalam hidup kita. (CSB)

 Refleksi: Setiap orang punya panggilan untuk mengerjakan karya keselamatan, tinggal apakah kita mau mengerjakan karya keselamatan tersebut atau tidak.

PENGARUH KEPEMIMPINAN (Yosua 1: 1-9)

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab Engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka” (Yosua 1: 6).

 

Mungkin ada orang yang mengatakan : “suatu kesempatan ketika kita menjadi pemimpin/pembicara/orang yang berbicara di depan banyak orang, karena disitulah kesempatan kita untuk dapat mempengaruhi orang lain / banyak”. Berbicara di depan banyak orang bisa dilakukan oleh seorang guru, atau seorang dosen. Seorang guru atau dosen dapat mempengaruhi orang lain melalui apa yang kita sampaikan. Apalagi bila posisi sebagai seorang pemimpin, bukan tidak mungkin setiap hal yang kita katakan akan diikuti oleh bawahan.

 

Yosua pada nats Yosua 1: 1-9 diceritakan menjadi pemimpin setelah Musa meninggal. Tugas yang diemban Yosua tidak mudah, merebut tanah Kanaan. Tuhan meminta Yosua untuk meneguhkan panggilanNya dengan tetap hidup sesuai dengan firman Tuhan karena tugas Yosua adalah memimpin bangsa Israel  untuk masuk dan mendiami tanah yang dijanjikan. Dengan tugas Yosua sebagai pemimpin ada hal yang ingin Tuhan sampaikan:

-          ada tujuan yang akan dituju menurut kehendak Tuhan;

-          ketika menempuh  tujuan tersebut, tanpa menyimpang ke kanan / kiri;

-          mengajarkan orang yang dipimpin agar mengikuti kepemimpinannya;

-          memiliki hati yang kuat & teguh karena Tuhan akan tetap menyertai.

Menjadi pemimpin adalah suatu kehormatan tetapi bukanlah hal yang mudah. Karena dia harus tahu dengan pasti tujuannya, menjalankan kepemimpinannya dengan cara benar supaya ketika dia memimpin bisa memberikan pengaruh yang baik dan berdampak kepada yang dipimpinnya. (CSB)

Refleksi:

Maukah kita memberikan pengaruh yang baik bagi orang-orang disekitar kita baik kita sebagai pemimpin atau pun bukan.