KOMUNITAS YANG MENGUBAHKAN

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” (Kolose 3:15)

Bagaimana cara kita mengubah dunia menjadi lebih baik? Terkadang kita memikirkan hal yang ekstrim. Namun banyak bukti nyata bahwa ternyata mengubah dunia menjadi lebih baik dapat dilakukan dari hal-hal kecil yang sederhana. Misalnya komunitas Taizé di sebuah desa kecil di Prancis. Jika Anda pernah mendengar istilah ‘doa Taizé’, berarti Anda sudah mengetahui sebagian kekhasan dari komunitas ini.

Komunitas ekumenis ini sering dikunjungi komunitas Kristen dan Katolik dari berbagai denominasi. Kegiatan sehari-hari mereka ‘hanya’ doa pagi/siang/malam, menelaah Alkitab, diskusi, lokakarya, dan melakukan tugas keseharian (masak, bersih-bersih, dsb). Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam doa pun sangat sederhana dan singkat, bisa dinyanyikan dengan maupun tanpa alat musik. Namun kesederhanaan itu mampu memikat banyak orang muda dari seluruh dunia untuk mencoba menjalani kehidupan di komunitas ini. Setelah kurun waktu tertentu, mereka kembali ke komunitasnya masing-masing di negara asal untuk membagikan pengalaman spiritual dan pengalaman berkomunitas mereka selama di Taizé.

Perjalanan spiritual yang dijalani dalam komunitas ini mencerminkan damai Kristus yang dapat dirasakan dalam keluarga kerajaan Allah. Tidak hanya dirasakan, namun damai itu memerintah di dalam hati masing-masing orang yang pernah menjalani kehidupan di sana. Bukan lagi kegelisahan hidup zaman modern yang menguasai hati dan pikiran, tapi indahnya hidup damai di dalam suatu keluarga dalam Kristus. Maka tidak heran banyak orang yang selalu ingin kembali ke komunitas ini berkali-kali.

Kita bisa mulai membentuk komunitas pembawa kedamaian tersebut bersama dengan orang-orang terdekat di sekitar kita. Bersyukurlah jika kita sudah memiliki komunitas yang membawa kedamaian, karena kedamaian bisa mengubah dunia di sekeliling kita menjadi lebih baik. Kiranya Maranatha juga bisa menjadi komunitas yang mengubahkan, memberi kedamaian, dan dirindukan orang. (II)
Refleksi:
Komunitas yang bertumbuh bukanlah komunitas yang mengejar kedamaian, namun komunitas yang membawa kedamaian.

BERTUMBUH KE ARAH KRISTUS BERSAMA SESAMA KITA

“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17)

Ada salah satu ungkapan yang paling saya ingat saat mengikuti Kelompok Tumbuh Bersama. Dikatakan bahwa “individualisme adalah bunuh diri rohani”. Ungkapan ini cukup ekstrim. Namun pada kenyataannya memang benar. Seseorang yang menutup diri dari hubungan sosial yang erat dengan sesamanya sebenarnya membunuh dirinya sendiri, karena artinya dia menolak dewasa. Jika kita melihatnya dari konteks hidup bersama, boleh kita katakan bahwa “bunuh diri massal” dari segi rohani terjadi apabila suatu komunitas tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan sesamanya. Banyak contoh nyata gereja-gereja yang terpuruk bahkan akhirnya mati ketika jemaatnya individualis, tidak hangat, dan tidak akrab baik di dalam jemaatnya sendiri maupun dengan lingkungan. Hal yang sama dapat terjadi di kampus jika kita tidak peduli satu sama lain.

Tidak dapat dipungkiri bahwa membuka diri terhadap orang lain berarti merelakan diri untuk rapuh. Ada kalanya terjadi pergesekan ketika kita dekat satu sama lain, karena kita semakin tahu apa yang kita sukai dari sesama kita dan apa yang tidak. Semakin dekat kita dengan sesama, ada keinginan agar orang lain sesuai dengan apa yang kita mau dan tidak ada perbedaan. Ibaratnya beberapa kelereng dimasukkan ke sebuah wadah yang lebar, ketika wadah itu kita persempit maka kemungkinan kelereng-kelereng itu saling bertubrukan akan semakin besar. Contohnya: tidak jarang Paulus dan Petrus bertentangan satu sama lain, misalnya dalam Galatia 2:11-14.

Sebagai manusia kita seringkali ingin menghindari ketidaknyamanan itu. Namun bukankah kerajaan Allah bicara soal keluarga? Untuk mendewasakan seseorang, Allah menggunakan keluarga maupun ‘keluarga’ untuk mendewasakan kita. Untuk menajamkan besi, pandai besi menggunakan besi yang lain. Sama seperti yang saat ini terjadi di Indonesia, Allah menggunakan semuanya untuk mendewasakan kita sebagai suatu bangsa. Maukah kita terus bertumbuh bersama sebagai keluarga? (II)

Refleksi:
Allah menggunakan sesama untuk mendewasakan kita. Tanpa mau mengikuti
proses pendewasaan itu, berarti kita menolak hidup sebagai anak Allah.

IMAN DALAM KRISTUS YESUS

Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis:”Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17)

Martin Luther adalah sosok reformator yang sangat dikenal orang sampai saat ini. Ia seorang pastor Jerman dan ahli teologi Kristen. Pada tahun 1505 Luther memutuskan tinggal di biara dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam ketekunan mempelajari Alkitab akhirnya Martin Luther menyadari sebuah kebenaran dan mengajarkan bahwa manusia hanya bisa dibenarkan karena iman, semata-mata berdasarkan kasih karunia Allah. Martin Luther menentang ajaran pada waktu itu yaitu sistem indulgensi (surat penghapusan dosa) yang dijual oleh gereja pada waktu itu atau dengan kata lain gereja mengajarkan bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan uang atau koin.

Rasul Paulus menekankan bahwa kebenaran itu yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Kebenaran dalam bahasa aslinya dikaiosune (kebenaran, keadilan) yang menyatakan bahwa Allah membenarkan dan menyelamatkan orangorang berdosa. Manusia yang berdosa memang layak dimurkai tetapi Allah yang benar dan adil meluputkan dari murka karena pengorbanan Kristus di kayu salib. Kebenaran Allah dikaruniakan kepada setiap orang yang percaya untuk memiliki iman yang mendalam. Iman sangat mutlak diperlukan untuk dapat dibenarkan, karena iman maka manusia diselamatkan dari hukuman Allah yang kekal. Kebenaran Allah dinyatakan di dalam Injil Kristus, mulai saat orang percaya kepada Kristus dan ia harus terus menerus tetap menyerahkan diri kepada Tuhan.

Dari pergumulan iman Martin Luther yang lebih menghormati Allah tanpa kompromi dengan menentang sistem indulgensi. Ia sadar bahwa kebenaran dalam Alkitab tidak lain adalah suatu pemberian yang dianugrahkan kepada manusia, dan kebenaran itu harus disambut dengan iman. Hal ini memberi motivasi setiap kita sebagai pengikut Kristus untuk tetap semangat dalam iman kepada Kristus. Orang beriman
adalah orang yang menerima kehendak Allah dalam hidupnya dan mau senantiasa menaati perintah Tuhan. Hidup orang beriman tentunya mengalami transformasi dalam dirinya untuk dipakai Tuhan dalam mengubah dunia lebih baik. Kehadiran orang beriman menjadi berkat bagi siapapun dan dimanapun ia ditempatkan. Tidak ada kata keraguan dan keputusasaan dalam hidupnya untuk terus berjuang dalam memberi perubahan di dunia ini lebih baik. (RZA)
Refleksi :
Kebenaran bukan hasil usaha manusia tetapi pemberian Allah.

KONTRIBUSI SEORANG ANAK

“Disini ada seorang anak, yang mempunyai lima jelai roti dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yohanes 6:9)

Kehadiran seseorang dalam setiap komunitas bukanlah sebuah kebetulan,
tentunya setiap pribadi dapat berkontribusi jika ia mau terlibat dan mengambil bagian meskipun hal yang kecil. Tidak ada batasan usia maupun gender untuk bisa berperan dalam sebuah komunitas.

Pada waktu pelayanan Yesus bersama para murid, banyak orang berbondong-bondong datang kepada-Nya. Yesus berkata kepada Filipus: Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan? Respon Filipus roti seharga 200 dinar (1 dinar = upah kerja 1 hari, roti seharga 200 hari kerja atau 8 bulan kerja, 25 hari kerja per bulan) tidak akan cukup memberi makan orang banyak. Berbeda dengan Andreas yang menemukan seorang anak yang membawa 5 roti dan 2 ikan dan kemungkinan akan menolong situasi yang dihadapi pada waktu pelayanan Yesus. Meskipun Andreas juga sempat berkata apa artinya itu untuk orang sebanyak ini.

Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk disitu demikian juga dengan ikan. Sungguh luar biasa terjadi mujizat terjadi apa yang diberikan anak itu bisa mengenyangkan 5000 orang laki-laki dan sisa 12 bakul penuh.

Terkadang dalam sebuah komunitas, kita membatasi potensi yang ada dalam setiap pribadi dan mungkin meremehkan potensi orang lain karena melihat latar belakang orang itu. Sikap memandang orang lain lemah dan tidak memberi kesempatan orang lain untuk berkontribusi adalah sikap yang tidak sesuai dengan Yesus ajarkan. Setiap pribadi memiliki potensi dalam dirinya karena Tuhan menciptakan pribadi yang unik. Setiap pribadi dapat berkontribusi apapun dalam kehidupan ini

Dalam setiap komunitas kehadiran seseorang hendaknya memberi kontribusi yang positif sehingga orang-orang disekitarnya akan merasakan manfaatnya. Sebagai warga Universitas Jristen Maranatha, kita harus memiliki keyakinan bahwa setiap kita memiliki potensi dan kesempatan memberkati orang lain. (RZA)
Refleksi:
Yakinkan diri bahwa kita memiliki potensi untuk memberi kontribusi bagi sesama.

KERELAAN MELEPASKAN

“Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.” (1 Samuel 18:4)

Sebuah ungkapan dari mother Teresa “Janganlah mengharapkan TEMANMU sebagai orang yang sempurna.” Tetapi, “bantulah TEMANMU agar menjadi seorang yang sempurna.“ Itulah persahabatan yang sejati. Ungkapan ini mengambarkan bahwa setiap orang yang rela berkorban bagi orang lain adalah seorang sahabat sejati.

Persahabatan Daud dan Yonatan cukup emosional, hal ini bisa terlihat pada waktu Yonatan memberikan jubah, baju perang, pedang, panah dan ikat pinggangnya. Ia memberikan hak kepemilikannya kepada Daud sahabatnya, Yonatan dengan rela memberikan hak tahta kerajaan Israel karena Ia tahu Daud akan menggantikan ayahnya Saul. Yonatan tidak merasa disaingi oleh Daud karena Allah yang telah memilih Daud dengan perantaraan Samuel yang mengurapi Daud (1 Sam 16:1).Persahabatan mereka dimulai dari peristiwa Daud yang mengalahkan Goliat orang

Filistin. Tidak ada seorangpun yang berani untuk melawan Goliat seorang pendekar Filistin, tetapi Daud dengan berani mendatangi Goliat dengan nama TUHAN semesta alam dan Tuhan memakai Daud untuk mengalahkan Goliat. Yonatan sebagai sahabat Daud bukan saja menyerahkan hak kepemilikannya tetapi juga memberitahukan bahwa ayahnya Saul telah berikthiar untuk membunuhnya dan meminta Daud untuk berhati-hati.

Sikap untuk merelakan hak kepemilikan untuk diambil orang lain bukanlah tindakan yang mudah. Dibutuhkan kebesaran hati dan pengakuan bahwa kehendak Tuhan jauh lebih utama daripada keinginan pribadi. Tidak semua orang selalu siap untuk rela melepaskan hak kepemilikannya kepada orang lain, hal ini karena diperlukan proses yang lama untuk bisa melakukannya. Terkadang tidak mudah bagi kita untuk dapat menerima orang lain ditempatkan untuk mengantikan posisi kita, memberi kesempatan orang lain untuk lebih berkembang, atau menolong orang baru untuk mengerjakan tugasnya dengan baik.

Sebagai warga kampus sudah seharusnya kita akan selalu siap dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan kerja kita. Sikap selalu memberikan dukungan kepada rekan kerja untuk maju dan berkembang harus senantiasa ada dalam hidup kita. (RZA)
Refleksi :
Pribadi yang mengenal Kristus adalah memberikan dukungan orang lain untuk menjadi lebih baik.

DAMPAK KEHADIRAN YESUS

Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kita Suci kepada kita?” (Lukas 24:32)

Pengalaman penulis pada waktu bertemu dengan orang yang seide atau memiliki kesamaan dalam pola pikir maka tidak terasa bahwa waktu obrolan sudah memakan waktu yang panjang. Hal yang sama bisa terjadi kepada siapapun ketika seseorang bertemu dengan teman lama akan bercerita panjang lebar sampai lupa waktu.

Dalam nats yang kita baca pengalaman para murid Yesus yang menuju ke kampung Emaus. Mereka hendak pulang karena mengalami kekecewaan terhadap Guru mereka yaitu Yesus yang mengalami kematian. Pengharapan para murid terhadap Yesus akan menjadi raja yang memerintah pada masa itu tidaklah menjadi sebuah kenyataan. Dalam perjalanan para murid tidak sadar sedang bercakap-cakap dengan Yesus sampai pada waktu Yesus memecah-mecahkan roti di rumah mereka. Mereka berkata bukankah kita berkobar-kobar berbicara dengan orang itu? Sungguh kehadiran Yesus memberikan semangat kepada para murid yang mengalami kesedihan dan kekecewaan. Kehadiran Yesus mampu memberikan pencerahan pemikiran para murid bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan dan akan bangkit pada hari yang ketiga.

Dalam kehidupan ini, seringkali kesedihan dan kekecewaan dapat membuat seseorang tidak bisa memandang ke depan dan sekitarnya dengan jernih. Orang yang mengalami frustasi dan putus asa akan mematikan semangat hidup dan cenderung untuk tidak mampu untuk menikmati kehadiran Tuhan. Kesedihan dan kekecewaan yang menyelimuti pikiran akan membuat ia tidak peka akan kehadiran Allah. Ia akan terkungkung dengan masalah yang dihadapi tanpa melihat Tuhan yang lebih besar dari masalah itu. Betapa pentingnya bagi kita untuk dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek hidup ini. Apapun pengalaman kekecewaan sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha tidak memberikan dampak yang negatif dan membuat semangat kinerja kita menurun. Kehadiran Yesus yang ada dalam kehidupan kita menyemangati segala sesuatu yang akan kita kerjakan dan terlebih untuk memberitakan kabar sukacita Kristus bagi yang mau menerimaNya. (RZA)
Refleksi :
Kehadiran Yesus memberi dampak positif dalam hidup umat-Nya.

BELAJAR MENAHAN DIRI

“Lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. (1 Samuel 24:7)

 

Sikap untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan dapat terjadi dimana pun dan kapan pun. Karena kecenderungan orang akan selalu memanfaatkan Kesempatan yang ada untuk bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Tidak ada larangan bagi siapapun untuk mengambil kesempatan yang ada tetapi jika tujuannya hanya untuk menyenangkan atau menguntungkan diri sendiri dan tidak berdampak baik bagi orang lain, hal itu bukanlah yang dikehendaki Allah.

Dalam nats hari ini, menceritakan Daud seorang yang diurapi oleh Nabi Samuel untuk kemudian hari menjadi raja tidak memanfaaatkan kesempatan untuk membunuh Saul. Daud bisa menahan diri untuk tidak membunuh raja Saul dan juga mencegah orang-orang untuk bangkit untuk menyerang raja Saul. Dengan perasaan berdebardebar Daud memotong punca Saul sebagai bukti bahwa ia mampu membunuh raja Saul. Kemudian Daud berseru dari belakang dan berkata bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu, ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karera pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. Sebuah sikap yang penuh hormat kepada raja Israel. Daud bisa menahan diri untuk mengalahkan musuhnya yang tidak berdaya. Hal ini sangat jarang terjadi karena biasanya ketika musuhnya di depan mata maka langsung dibunuhnya. Daud tidak berbuat dosa walaupun raja Saul mengejar-ngejar untuk membunuhnya. Daud adalah seorang yang mengenal Allah dengan sungguh dan seorang yang diurapi Tuhan sehingga ia dimampukan untuk menguasai diri terhadap hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Allah.

Seberapa kuat diri kita untuk bisa menahan diri terhadap hawa nafsu, yang
cenderung hanya untuk menyenangkan diri dan belum tentu dikehendaki oleh Tuhan. Banyak kesempatan dalam setiap hal untuk seseorang melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Ada yang mencoba melakukan pembunuhan karakter dengan perkataan yang menyakitkan, ada orang yang mencari muka di hadapan pimpinan untuk menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya, ada orang yang dengan terang-terangnya menjatuhkan kinerja sesama rekan kerja. Mari belajar menahan diri dalam segala hal supaya kita tidak melakukan dosa tetapi hidup yang menjadi
berkat orang lain. (RZA)

Refleksi:
Penguasaan diri adalah hasil dari perubahan hidup oleh Roh Allah.

TUHAN UNTUK SEMUA ASPEK KEHIDUPAN

“Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat;
dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan
sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya” (1 Raja 10:23;11:6)

Renungan kita hari ini diambil dari kejatuhan Salomo. Raja Salomo adalah raja yang bijak. Ketika dihadapkan pada masalah kepengurusan di negaranya, Salomo menggunakan hikmat yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Tetapi ketika dihadapkan kepada masalah mengurus kehidupannya sendiri, Salomo tidak menggunakan hikmat yang dari Tuhan. Dia menginginkan banyak hal. Dia tidak mau dibatasi. Dia ingin bebas. Dia membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsunya dan menikahi banyak wanita termasuk wanita yang menyembah berhala. Wanitawanita, yang Tuhan telah peringatkan kepada bangsa Israel untuk tidak bergaul dengan mereka (Yos 23:7) apalagi menyembah allah mereka. Perbuatan Salomo telah membuatnya melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (1 Raja 11:6).

Tulisan-tulisan Salomo baik itu di Pengkotbah maupun Amsal telah banyak berbicara tentang bahaya dosa. Jangan menyimpang dari ajaran Tuhan merupakan tema yang sering kita lihat di kedua buku tersebut. Bagaimana mungkin orang yang tahu begitu banyak bisa melakukan hal yang jahat di mata Tuhan? Dosa membuat kita tertarik ke dalamnya, dan dibutakan sehingga tidak bisa melihat lagi dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah.

Pelajaran yang bisa kita diambil dari renungan hari ini adalah, orang yang sebijak Salomo bisa menyimpang jalannya dari Tuhan karena ada bagian dari kehidupannya yang tidak mau dikendalikan oleh Tuhan.

Kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan. Berhati-hati di setiap langkah kita. Adakah bagian dari hidup kita yang tidak mau diserahkan kepada Tuhan? Bagian dari hidup kita yang ingin bebas, tidak mau dikendalikan oleh Tuhan? Janganlah bagian dari kehidupan itu yang menjadi batu sandungan sehingga menyimpang dari jalan Tuhan. Mari kita bawa ke hadapan Tuhan dan akui bahwa Dia adalah raja. Segala kehendak-Nya berlaku dalam semua aspek dalam kehidupan kita. Biarlah segala kemuliaan hanya untuk Tuhan. Amin. (AS)

Refleksi:
Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat 6:24)

HARI INI

“ Hal itu harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur, Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita daripada waktu kita menjadi percaya” (Roma 13:11)

Suatu hari, seseorang dihadapkan pada sebuah pertanyaan : “Kamu ini manusia dulu atau manusia esok?” Dia berpikir, lalu mengubah pertanyaan itu menjadi apakah kamu selalu menikmati masa lalu atau lebih merencanakan masa depan? Bagaimana dengan hari ini? Apakah menikmatinya?

Bila kita tidak menikmati hari ini dan mensyukurinya, hidup akan berlalu begitu saja. Bila kita selalu berorientasi kepada masa lampau dan menyesali masalah yang telah berlalu, maka kita akan ketinggalan untuk menyaksikan keajaiban Tuhan pada hari ini. Setiap hari Tuhan memberi banyak kesempatan bagi pertumbuhan spiritual seseorang.

Sebuah poster yang bertuliskan demikian, “Kelanggengan ada pada hari ini.” Sekarang, inilah saatnya kita hidup dan bertumbuh. Hidupilah hari ini. Ingatlah akan Tuhan Pencipta. Setiap hari kita menerima segala yang dibutuhkan bagi pertumbuhan. Yakinlah Tuhan Maha Mengetahui dan kita harus menghargai pemberianNya. KasihNya yang hadir setiap hari adalah anugerah yang sempurna. Kita dapat merasakan bahwa Tuhan senantiasa menjaga dalam kedamaian dan ketenangan.

Undanglah Roh Kudus untuk menopang hidup di hari ini. Roh Kudus dapat bekerja melalui “hati” yang mengasihi Tuhan dan sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Kita harus memikirkan kesejahteraan orang lain, melihat dan menjawab mereka yang kesusahan, mendengarkan sungguh sungguh kesulitan orang lain, dan menuturkan Kabar Baik dari Allah, menyentuh mereka yang berputus asa, serta berjalan di jalan yang adil.

Perhatikanlah bahwa kehadiran dan tuntunan Roh Kudus akan membantu kita
menjalani hari ini dengan penuh kegembiraan dan kedamaian. (RPA)
Releksi:
Yesterday is history, tomorrow is mystery and today is a gift.

BANGUN DARI KELESUAN

“Lesu aku karena berseru seru, kerongkonganku kering, mataku nyeri karena mengharapkan Allahku” (Mazmur 69:4)

Menjadi lesu dapat terjadi karena berbagai peristiwa, seperti aktivitas yang terus menerus, interupsi demi interupsi, tuntutan tuntutan yang harus dipenuhi, agenda kegiatan yang bersifat rutinitas, kegagalan dan sebagainya yang terus menerus menghantam kehidupan kita. Semua itu dapat mendorong kita untuk berteriak sekeras kerasnya : “ Aku kalah dan mau menyerah saja!”

Kecenderungan demikian menunjukkan klimaks dari kelesuan seseorang yang mengarah pada kondisi membahayakan. Keputusan seperti mengaku kalah, bertekuk lutut pada keadaan menunjukkan rasa putus asa dan tidak memiliki semangat untuk bangkit lagi. Adalah wajar merasa lelah. Namun bila dipelihara dapat menjadi kesalahan besar, bagaikan seorang petugas yang bertanggung jawab menjaga pos keamanan kemudian meningggalkan posnya begitu saja, padahal situasi sedang genting.

Bentuk lain yang dapat membuat kita lesu adalah seperti yang dialami Daud, menjadi letih karena dikecam sehingga, “Lesu aku karena mengeluh setiap malam aku menggenangi tempat tidurku dengan air mata aku membanjiri ranjangku. Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.”(Mazmur 6:7,8). Hal lainnya bisa menimbulkan kelelahan dalam belajar, seperti dalam Pengkhotbah 12:12 “Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan.” Dari pengalaman yang diuraikan di atas memperlihatkan bahwa kekuatan seseorang ada batasnya. Kelelahan dapat mengakibatkan keterpurukan. Semakin lama kelelahan menerpa, maka semakin banyak kita menghadapi bahaya. Keadaan lelah – lesu yang mengancam jiwa kita diibaratkan seperti tenggorokkan kering yang dapat mencekik harapan, impian, motivasi, optimisme dan gairah kita.

Dalam Yesaya 50: 4, dengan kata kata yang membesarkan hati, Yesaya yakin Tuhan dapat membaharui orang yang letih lesu. Allah akan menggantikan keletihan kita. Ambillah waktu untuk hening sejenak. Allah hanya meminta kita datang menghampiriNya dengan segenap pikiran dan hati, mendekat dan berbicara, mendengar suaraNya. Lakukanlah segera! “Ingatlah selalu akan Dia,…supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa” (Ibrani 12:3). (RPA)

Refleksi:
Bangkitlah dari kelesuan yang dapat menjadikan kita putus asa dan terpuruk.