TIGA KEBUTUHAN

”Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih…” (1Yohanes 4:16a )

Ada yang berkata bahwa perlu tiga hal agar seseorang bahagia. Pertama, ada sesuatu untuk dilakukan, yaitu pekerjaan yang berarti atau menolong sesama.Kedua, seseorang untuk dikasihi – seseorang yang kepadanya kita dapat memberikan diri kita, seperti suami atau istri, seorang anak atau seorang teman. Ketiga, sesuatu yang kita nantikan, seperti liburan, kunjungan dari seseorang yang kita kasihi, harapan kesehatan membaik, mimpi yang dapat menjadi kenyataan.

Hal-hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari hubungan kita dengan Yesus, karenakepuasan yang abadi hanya dapat ditemukan dalam Yesus, Anak Allah. Sehubungan dengan “sesuatu untuk dilakukan”, sebagai orang percaya, kita telah diberi karunia Roh Kudus untuk melayani Juru Selamat melalui pelayanan kepada sesama manusia (Roma 12 :1 – 16) dan dipanggil untuk memberitakan kabar sukacita ke seluruh dunia (Matius 28:19 – 20). “Seseorang untuk dikasihi” berarti kita harus mengasihi Allah karena Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19), dan kita harus mengasihi sesama “sebab kasih itu berasal dari Allah” (ayat 7). Berikutnya hal “sesuatu yang kita nantikan”, berarti suatu hari nanti kita akan diterima masuk ke dalam hadirat Allah selamanya, menikmati tempat yang sempurna yang sudah disediakan Allah secara khusus bagi kita. Menantikan saat dapat melihat Yesus dan menjadi seperti Dia (1 Yohanes 3: 2).

Yesus Kristus adalah segalanya yang kita butuhkan untuk mencapai kepuasan kekal. Tuhan sanggup memberikan apa yang kita butuhkan. Allah akan membuka dan mencurahkan berkatNya kepada orang yang mencari wajahNya. Undanglah Dia dalam hidup keseharian Saudara. Berkomunikasilah denganNya melalui doa dan membaca firman setiap hari. Tuhan akan memperbaharui hidup kita. Panggilan tertinggi bagi kita sebagai orang percaya adalah untuk mewujudkan dan menerapkan karakter Yesus yaitu mengasihi sesama. Seperti yang Injil nyatakan “kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Berdoalah demikian: “Ya, Yesus tolong dan topanglah aku dalam segala hal yang kulakukan untuk memenuhi 3 (tiga) kebutuhan, sehingga yang kukerjakan hanyalah untuk menunjukkan kasihku kepada Mu. Kiranya Engkau memberikan kemampuan agar menemukan kebahagiaan yang sejati.” (RPA)

Refleksi:
Di mana ada kasih, di situ ada kebahagiaan.

DIBERKATILAH ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN

“ Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan. Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akarakarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:78)

Banyak kasus bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban, menghadapi persoalan yang rumit dan kompleks. Persoalan kemiskinan, persoalan pengangguran, persoalan konflik rumah tangga, persoalan-persoalan lain, membuat hidup semakin berat. Kemana harus bersandar??? Petikan puisi untuk kita renungkan

KEMANAKAH HARUS BERSANDAR???

Ketika aku bangun pagi dan merenungkan kunci sukses hidup: Jendela kamar bilang: Lihat dunia di luar! Langit kamar berpesan: Bercita-citalah setinggi langit!! Jam dinding berkata: Tiap detik itu berharga. Cermin bilang: Berkacalah sebelum bertindak. Kalender bilang: Jangan menunda sampai besok. Pintu berteriak: Dorong keras, cepat pergi dan berusahalah. Tapi tiba-tiba…. Lantai berbisik: “Berlututlah dan berdoalah karena kunci kesusksesan kita harus dimulai dengan Doa. Kita belajar: bahwa tidak selamanya hidup ini indah, kadang Dia mengizinkan kita mengalami derita. Tetapi kita tahu bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita, sebab itu kita harus belajar menikmati hidup dengan BERSYUKUR. Kita belajar bahwa tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan, kadang Tuhan membelokkan rencana kita. Tetapi kita tahu bahwa itu lebih baik dari yang kita rencanakan, sebab itu kita belajar menerima semua itu dengan sukacita dan penuh syukur. Kita juga belajar bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali dan ditangisi, karena semua adalah rancanganNya yang akan INDAH PADA WAKTUNYA. Ketika kaki sudah tak kuat berlari….BERLUTUTLAH. Ketika tangan sudah tak kuat menggenggam.. LIPATLAH. Ketika hati sudah tak kuat menahan kesedihan… MENANGISLAH. Ketika hidup sudah tak mampu untuk dihadapi ….BERDOALAH. Karena dibelakangmu ada kekuatan yang tak terhingga. Di hadapanmu ada kemungkinan tanpa batas. Di sekitarmu ada kesempatan yang tiada akhir. Lebih dari itu di atasmu ada TUHAN YESUS YANG SELALU MENYERTAIMU. KASIH SAYANGNYA PADA KITA SEPERTI LINGKARAN TAK BERAWAL DAN TAK BERAKHIR.(RS)

Refleksi:
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan

KASIH adalah DASAR SEBUAH RELASI

“Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua , yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-39)

Setiap bangunan rumah atau gedung memerlukan pondasi yang kuat dan kokoh. Jika pondasi bangunan tidak kuat maka bangunan akan mudah retak-retak dan tidak lama kemudian bangunan itu akan ambruk. Demikian juga sebuah relasi/ hubungan. Apakah hubungan pertemanan, persahabatan, persaudaraan atapun hubungan lainnya. Jika dasar sebuah hubungan tidak kuat dan kokoh maka hubungan/ relasi itu akan dengan mudah terkoyak, konflik dan ujungnya terjadi perpisahan.

Sepuluh hukum Taurat yang tertulis dalam Keluaran 20:1-17 berbicara tentang dasar/ pondasi sebuah hubungan. Hukum 1-4 adalah dasar hubungan antara manusia dengan Allah; hukum 5-10 adalah daasar hubungan antara manusia dengan manusia. Sepuluh hukum Taurat di atas diringkas oleh Tuhan Yesus menjadi dua hukum, yaitu hukum 1-4 disebut sebagai hukum kasih kepada Allah; dan hukum 5-10 disebut sebagai hukum mengasihi sesama manusia. Dan dua hukum ini diringkas lagi menjadi satu hukum, yaitu hukum Kasih. Hukum Inilah yang saya maksudkan menjadi dasar dan pondasi dari sebuah relasi/ hubungan. Jika kita sungguhsungguh mengasihi dan mencintai istri atau suami kita, maka badai apapun yang menerjang dalam pernikahan tidak akan menggoyahkan hubungan suami-istri. Relasi persahabatan seperti yang dialami Daud dan Yonatan dalam 2 Samuel 20, persahabatan yang didasari oleh Kasih. Yonatan melakukan apa yang dikehendaki oleh Daud, demikian juga Daud melakukan apa yang diinginkan Yonatan. Kisah persabahatan yang luar biasa, persahabatan yang melampaui hubungan darah dan daging. Yonatan rela berkorban kehilangan nyawanya demi melindungi dan membela Daud di hadapan Saul, ayahnya.

Yesus rela mengorbankan nyawanya demi untuk menyelamatkan kita dari hukuman karena dosa, ini semua karena cinta dan kasihNya kepada kita.

Jika Kasih yang menjadi dasar dan pondasi hubungan atau relasi , maka yang terjadi adalah hubungan yang saling menguatkan, membangun, mendukung, menasehati, mendoakan, menolong, dan mengampuni (RS)

Refleksi:
Jadikanlah diri kita sebagai HADIAH TERINDAH bagi keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar kita. Jadikanlah keberadaan kita sebagai virus KEBAIKAN DAN BAGIAN DARI KEUNTUNGAN

MANUSIA SEBAGAI MAHLUK SOSIAL

“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” (Galatia 6:1)

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk sosial. Hal ini terlihat ketika Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Kejadian 2:18. Ayat ini mau mengatakan bahwa manusia tidak bisa hidup seorang diri saja, ia bisa menjalani hidup ini dengan baik kalau ada orang lain yang menolongnya, mendampinginya, mendukung, menasehatinya, menegurnya, dan mendoakannya.

Rasul Paulus sebagai hamba Tuhan yang berhasil mendirikan jemaat/ gereja mulai dari Anthiokia sampai ke daerah Eropa –kota Roma- merasa bertanggungjawab untuk menjaga dan memelihara jemaat untuk hidup sesuai dengan kehendak Kristus pemilik gerejanya. Itulah sebabnya dalam surat-suratnya,Paulus memberikan nasehat-nasehat penting bagaimana seharusnya gereja atau umat Tuhan hidup dengan baik dan benar. Bagaimana jemaat membangun kehidupan bergereja dengan baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Beberapa nasehat penting yang tertulis dalam Galatia 6:1-3 adalah: Pertama, Jika dalam kehidupan berjemaat, ada
seorang anggota jemaat jatuh ke dalam dosa, maka tugas tanggungjawab anggota jemaat lain adalah memimpin, membimbing, dan menasehati dia dengan lemah lembut sampai ia bertobat atau kembali ke jalan yang benar. Kedua, Bertolongtolonganlah menanggung bebanmu. Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup yang dijalani oleh orang percaya tidaklah mudah, tetapi penuh dengan pergumulan dan persoalan. Persoalan-persoalan yang banyak dan berat membuat kita tidak sanggup menanggungnya dan memikulnya. Itulah sebabnya rasul Paulus menasehati jemaat untuk saling menolong satu dengan yang lain. Jika dalam kehidupan jemaat terjadi gaya hidup saling membantu dan saling menolong satu dengan yang lain, baik untuk lingkungan jemaat maupun di luar jemaat, maka jemaat sedang memancarkan kasih dan kemuliaan Allah dalam Kristus.

Kita sebagai orang percaya dipanggil untuk menjadi teman, sahabat dan saudara bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Mengapa kita lakukan itu? Dasarnya jelas dan sederhana yaitu karena Allah dalam Yesus Kristus yang telah menjadi sahabat, teman, saudara yang menolong hidup kita. (RS)

Refleksi:
Ketika kita dipertemukan dengan orang yang membutuhkan pertolongan, itu berarti Tuhan sedang memberikan kesempatan kepada kita.

MENGOSONGKAN DIRI

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,” (Filipi 2:5)

Keangkuhan dan kesombongan manjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sejarah kehidupan manusia membuktikan betapa banyak manusia yang jatuh dalam dosa kesombongan dan kecongkakannya. Raja Nebukadnezar yang diceritakan dalam kitab Daniel 4 direndahkan oleh Allah menjadi seperti binatang, makan makanan binatang oleh karena dosa keangkuhan dan kesombongannya. Allah menentang orang yang sombong dan congkak (1 Petrus 5:5) dan mengasihi orang yang rendah hati.

Yesus Kristus yang adalah Allah sendiri telah mendemonstrasikan tentang ketaatanNya dan kerendahan hatiNya kepada kita. Dia tidak mempertahankan ke-Allahannya, tidak mempertahankan kemuliaanNya, tidak mempertahankan keagunganNya sebagai Allah, tetapi Ia telah mengosongkan diriNya dan merendahkan diriNya. Ia mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia seperti manusia pada umumnya, hanya Dia tidak berdosa.

Kerendahan hati berarti kita menundukkan diri kepada Allah dalam Kristus. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat (1 Petrus 5:6). Kerendahan hati berarti kita tidak merasa berhak mendapatkan perlakuan yang lebih baik daripada yang diterima oleh Yesus Kristus. Yesus saja telah menerima perlakuan sangat buruk meskipun Ia tidak berdosa. Kerendahan hati berarti tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kerendahan hati berarti tidak menuntut hak-haknya, meskipun kita memiliki segudang hak. Kerendahan hati berarti mengetahui dan sadar bahwa kita bergantung sepenuhnya kepada anugerah Allah untuk segala pengetahuan dan kepercayaan kita. Kerendahan hati berarti mengetahui dan dengan sadar bahwa kita tidak sempurna, masih banyak kekurangan dan kelemahan. Itulah sebabnya kita perlu terbuka dan dengan senang hati menerima kritikan dan teguran.

Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (Lukas 14:11). Kita patut berdoa:“Ya Bapa, kami merendahkan diri di bawah tangan-Mu yang kuat. Tunjukkanlah bahwa kami sama sekali tidak berdaya tanpa Engkau, dan tunjukkan manisnya rahmat-Mu, yang tidak sepatutnya kami terima. Mampukan kami untuk berjalan dalam kelemahlembutan dan roh yang rendah hati untuk memberitakan keagungan Kristus. Dalam nama Yesus kami berdoa.Amin” (RS)
Refleksi:
Kristus adalah teladan yang sempurna untuk kerendah-hatian

ALLAH MENGASIHI DUNIA

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Pada umumnya orang akan mengasihi dan menghormati orang lain/ sesamanya karena orang itu mengasihinya dan menghormatinya. Orang berbuat baik kepada orang lain, karena orang lain juga telah berbuat baik kepadanya. Demikian juga sebaliknya orang tidak akan mengasihi dan menghormati orang lain apabila orang itu tidak menghormati dan mengasihinya terlebih dulu. Hal ini biasa terjadi dalam kehidupan ini, di dunia ini.

Allah mendemonstrasikan kasih yang luar biasa, yaitu kasih yang tanpa pamrih, kasih yang tanpa batas, kasih yang walaupun. Itulah yang kita kenal sebagai kasih agape. Allah mengasihi manusia yang telah berdosa, telah melawan Allah, dan kejahatannya seringkali sampai di luar batas kemanusiaan. Walaupun demikian, Allah terus mengasihi manusia sampai manusia sadar, menyesal, dan kembali kepada Allah. Allah memilih Abraham supaya melalui keturunannya, yaitu umat Israel, bangsabangsa diberkati, bangsa-bangsa mengenal Allah. Allah mengutus para nabi-Nya supaya melaluinya bangsa-bangsa kembali kepada Allah. Kota Ninewe adalah contoh bagaimana bangsa ini bertobat, kembali menyembah Allah pencipta langit dan bumi. Puncak kasih Allah kepada manusia adalah Allah sendiri datang ke dalam dunia di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus hadir di tengah-tengah manusia, melayani manusia, menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa dan menyelamatkan manusia dari hukuman Allah. Inilah kasih Allah yang walaupun manusia berdosa, jahat dan melawan Allah, Allah mengasihinya, Allah menerimanya, Allah mengampuninya. Inilah dasar iman dan kepercayaan kita. Syarat untuk menerima pengampunan dosa, menerima keselamatan dari adalah manusia bertobat, percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi ( Yohanes 1:12). Manusia harus merespon inisiatif Allah. Jadi iman Kristen adalah Allah datang ke dunia, manusia menyambut inisiatif Allah.Allah telah mengasihi kita, dengan cara memberikan Anak TunggalNya menjadi jalan penebusan bagi kita. Tugas dan tanggung jawab kita adalah menyatakan dan mewartakan kasih Allah itu kepada saudara-saudara kita yang belum mengenal kasihNya supaya mereka mengenalNya dan diselamatkanNya. God Bless (RS)
Refleksi:
Perbuatan baik yang kita lakukan tanpa memandang identitas orang atau
latarbelakang orang yang menerima perbuatan baik kita.

CITRA DAN GAMBAR ALLAH

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan
manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; lakilaki
dan perempuan diciptakanNya mereka.”
(Kejadian 1:26-27)

Kemajuan IPTEKS memampukan manusia untuk berkarya dan mencipta banyak barang, namun demikian barang yang manusia ciptakan tidak dibuat sesuai dengan gambar dan rupa si pembuatnya. Barang-barang dibuat pada umumnya sesuai dengan harapan pasar atau konsumen. Tidak demikian ketika Allah menciptakan manusia. Ketika Tuhan Allah menciptakan manusia; manusia diciptakan oleh Tuhan Allah sesuai dengan rupa dan gambar Allah. Manusia lakilaki dan perempuan adalah adalah gambar dan rupa Allah. Yang disebut manusia gambar dan rupa adalah adalah manusia laki-laki dan perempuan, itu berarti tidak ada jenis lain. Manusia sebagai gambar dan rupa Allah memiliki arti sebagai berikut:
Pertama, manusia sebagai gambar dan rupa Allah memiliki dan mewarisi sifat dan dan karakter Allah. Jika Allah adalah Kasih, maka manusia sebagai gambar dan rupa Allah juga memiliki kasih. Jika Allah adalah pengampun dan sabar, maka manusia juga memiliki kesabaran dan pengampunan. Namun demikian manusia bukanlah maha tahu dan maha kuasa, karena manusia bukanlah Allah. Manusia tetap manusia sebagai ciptaan Allah. Kedua, manusia sebagai gambar dan rupa Allah mencerminkan Allah, mencerminkan kemuliaan Allah sebagai penciptanya. Seluruh tingkah laku dan eksistensi manusia mencerminkan kemuliaan, kebesaran dan keagungan Allah, bukan sebaliknya merusak citra dan gambar Allah. Ketiga, manusia sebagai gambar dan rupa Allah memiliki kemampuan untuk membangun relasi dengan penciptanya, yaitu Tuhan. Kasih adalah dasar relasi yang dibangun antara manusia dengan Allah. Keempat, manusia sebagai gambar dan rupa Allah berarti manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih taat kepada Allah atau taat pada dirinya sendiri dan kuasa iblis. Manusia bukanlah robot, tetapi manusia yang memiliki kehendak bebas untuk memutuskan sesuatu. Namun demikian, kehendak bebas juga disertai dengan tanggung jawab; atau kebebasan yang bertanggungjawab. Jika manusia mengambil keputusan melawan kehendak Tuhan, maka Allah akan meminta pertanggung jawabannya. God Bless (RS)


Refleksi:
Sebagai gambar dan rupa Allah, kita memiliki tanggungjawab untuk selalu
membangun relasi yang harmonis dan intim dengan Allah.

ALLAH SUMBER KEHIDUPAN

“Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kejadian 2:7)

Teori ‘evolusi’ yang digagas oleh Charles Darwin menyimpulkan asal-usul
manusia. Nenek moyang manusia dapat berasal dari monyet/ kera. Menurut teori ini binatang inilah yang memiliki banyak kemiripan dengan manusia; kemudian melalui proses waktu, binatang yang tidak sempurna ini berkembang menjadi sempurna, itulah manusia. Alkitab jelas memiliki pandangan yang berbeda.

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa asal-usul manusia bukanlah dari kera, tetapi berasal dari debu tanah, kemudian Allah menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia. Demikianlah manusia menjadi makhluk hidup.

Apa maknanya debu tanah itu ? Pertama, debu tanah mau menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki harga apa-apa tanpa Allah. Debu tanah bukan barang yang istimewa, tetapi masuk kategori kotor, rendah, dan tak berharga. Kedua, debu tanah mau menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa tanpa Allah. Ketika Tuhan Allah menghembuskan nafas hidup,; demikianlah manusia menjadi makhluk hidup. Sebelum Tuhan Allah menghembuskan nafas hidup, manusia hanya
seonggok tanah yang tidak ada arti dan kekuatan apapun. Apa artinya? Pertama, Ayat ini mau mengatakan bahwa Allah adalah sumber kehidupan manusia, tanpa Allah, manusia tidak bisa hidup. Hidup manusia bergantung kepada Allah sebagai sumber kehidupan. Kedua, ayat ini mau mengatakan bahwa Roh Allah tinggal di dalam diri manusia. Roh inilah yang memampukan manusia untuk berkomunikasi melalui doa dan pujian kepada Allah.

Apa yang dapat kita pelajari dari firman di atas? Pertama, kita mestinya menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa kita penuh kekurangan, keterbatasan, lemah, dan tak berharga. Kesadaran ini mendorong kita untuk sungguh menaruh harapan hanya kepada Tuhan. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, dan terkutuk orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri. Yeremia 17:5-8. Kedua, tanpa Tuhan kita tidak bisa hidup. Hidup dan mati kita tergantung pada Allah. Kata Yesus: “Akulah pokok anggur, dan kamu adalah ranting-rantingnya. Barangsiapa
tinggal tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”. Yohanes 15:5 (RS)
Refleksi:
CHRISTIAN ( Without Christ, I Am Nothing)

KEYAKINAN SESAMA PEZIARAH: MENJADI SENJATA KEBENARAN

“ Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjatasenjata kebenaran”.(Roma 6:13 )

Di sebuah negeri hiduplah 2 orang pengrajin, yang seorang pengrajin emas dan yang lainnya pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, sebab ini adalah pekerjaan yang diwariskan turun temurun. Telah banyak hasil karyanya misalnya cincin, kalung, gelang, dan perhiasan-perhiasan lainnya. Setiap akhir bulan mereka membawa hasil pekerjaaan mereka ke kota, pada waktu hari pasar. Mereka menjual hasil karyanya, sekaligus mereka berbelanja untuk keperluan sehari-hari. Kebetulan pada minggu depan akan berkunjung ke pasar, tamu agung kerajaan. Mereka akan membeli barang-barang logam yang dijual di
pasar. Kedua pengrajin ini bekerja untuk menghasilkan karya dalam jumlah yang banyak. Pengrajin emas bekerja ala kadarnya sehingga hasil ukirannya tidak bagus dan kusam. Ia begitu yakin karena terbuat dari emas pasti akan laris. Sebaliknya pengrajin kuningan berkerja dengan tekun tanpa mengenal lelah. Ia mengukir dengan baik dan hasil karyanya berkilau-kilauan. Hari pasar tiba, ternyata semua orang memborong hasil karya pengrajin kuningan termasuk juga pembesar kerajaan karena hasil hasil ukirannnya bagus. Sebaliknya tidak demikian dengan pengrajin emas, tidak ada yang tertarik dengan hasil karyanya.

 

Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa orang yang bertekun akan memperoleh kesuksesan. Rasul Paulus menasehatkan kepada jemaat di Roma yang ia surati supaya senantiasa bertekun. Bertekun dalam hal apa? Bukan bertekun dalam dosa, tetapi supaya bertekun menjadi senjata-senjata kebenaran. Apa argumentasi bertekun menjadi senjata kebenaran? Karena jemaat sudah dibenarkan oleh Kristus.Jemaat sudah di tempatkan pada kondisi yang baru dan kondisi yang baru itu sematamata karena karya Tuhan bagi jemaat. “ manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi
kepada dosa”.(ayat 6).

 

Karena itu, warga UKM dalam penghayatan dirinya selaku sesama peziarah perlu menyadari diri terus menerus sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus, dan dampak dari penebusan itu, kita harus menjadi alat (baca:senjata) yang memberitakan dan menyatakan kebenaran. (AE)
Refleksi:
Konsekuensi penebusan oleh Kristus atas diri kita berimplikasi pada tugas menyatakan kebenaran.

KEYAKINAN SESAMA PEZIARAH: HIDUPNYA TELAH DIKUDUSKAN

“ Letakkanlah periuk itu kosong di atas bara api, supaya itu dibakar dan
tembaganya menjadi merah, sehingga kotorannya hancur di dalamnya dan
karatnya hilang” (Yehezkiel 24:11 )

Dalam buku “88 ilustrasi rohani” tulisan Andreas Sudarsono terdapat ilustrasi yang berjudul”membersihkan panci”. Panci yang sudah kita pakai untuk memasak makanan tentu menjadi kotor. Bila makanannya sudah dipindahkan ke tempat yang lain atau sudah habis di makan, maka pada bagian dalam panci tersebut akan berbekas sisa makanan, dan pada bagian luarnya akan terkena jelaga. Bila panci tersebut akan digunakan kembali untuk memasak, tentu harus dicuci terlebih dahulu. Bagian-bagian panci yang kotor khususnya bagian dalam dari panci tersebut harus dicuci bersih, sebab bila tidak makanan akan cepat busuk dan rusak dan jika kita memakannya dapat menimbulkan racun dan penyakit terhadap tubuh kita. Demikian pula dengan sikap hidup kita. Dari luar bisa saja kelihatan jujur,
alim, saleh, sabar, penuh kasih, tetapi bagaimana dengan hatinya? Hati kita perlu dibersihkan juga dari sifat-sifat yang tidak baik, karena bagaimana juga sikap batiniah kita akan mempengaruhi dan menentukan tingkah laku kita.

 

Ayat 11 bahan bacaan kita hari ini merupakan bagian perikop pasal 24:1-14 yang berjudul: lambang kuali yang berkarat. Nabi Tuhan Yehezkiel menasehatkan umat yang seperti kuali dengan karatnya begitu tebal dan tidak mau hilang meskipun dicuci bahkan ketika dibakar dalam api pun tidak bisa hilang. Mengapa demikian? Karena umat sudah menajiskan diri dengan kemesuman dan kenajisan. Relasi dan hubungan pribadi dengan Tuhan terputus dan rusak sehingga mengakibatnya terputus dan rusaknya hubungan dengan sesama. Sesungguhnya Tuhan ingin mentahirkan umat, tetapi umat tidak menjadi tahir dari kenajisannya karena perberontakan dan penolakannya terhadap Tuhan. Namun Tuhan Allah adalah Tuhan yang menyatakan bahwa hal itu akan datang dan Tuhan akan membuatnya.
Tuhan menyatakan:” bahwa Aku tidak akan melalaikannya dan tidak merasa sayang, dan juga tidak menyesal. Aku akan menghakimi engkau menurut perbuatanmu. Peringatan Yehezkiel ini adalah peringatan supaya umat taat dan bersedia untuk “dibersihkan” oleh Tuhan seperti periuk yang dibakar dan tembaganya menjadi merah sehingga kotorannya hancur dan karatnya hilang.Sebagai sesama peziarah spiritual yang tengah melakukan perjalanan, kita diingatkan dan disadarkan bahwa kita sudah dibersihkan dan dikuduskan oleh Tuhan Yesus Kristus, dan semua itu terjadi atas inisiatif dan kehendak Tuhan yang dinyatakan bagi kita. (AE)

Refleksi:
Dikuduskan karena anugerah, karena itu hendaklah kamu kudus.