HIDUP SUATU MISTERI

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada
rencana-Mu yang gagal”
(Ayub 42:3).

Hidup kita dikelilingi misteri. Kita lihat dalam kehidupan sesehari. Mengapa saya mencintai dia bukannya orang lain? Mengapa saya lahir di keluarga ini? Kemana, kita akan pergi setelah kita meninggal? Mengapa ia meninggal pada usia muda?

Memandang hidup sebagai suatu misteri itu baik. Minimal, ada dua hal yang dapat kita lakukan :
1. Membuat hidup lebih bergairah, bersemangat untuk menjadikan segala sesuatu lebih baik. Begitu gembiranya ketika kita dapat menyelesaikan suatu Teka-teki silang, Sudoku, Rubric Cube atau permain semacam itu. Apalagi bila yang terselesaikan persoalan hidup yang selama ini menghimpit kita.
2. Menggali potensi dan talenta kita agar yang dulu misteri, lama kelamaan akan terbuka dan tidak menjadi suatu misteri lagi. Pertanyaan berikutnya, kenapa ada misteri? Jawabannya, supaya manusia tidak sombong. Sepintar-pintarnya manusia, dia memiliki keterbatasan. Tidak semua pertanyaan dapat ia jawab, tidak semua masalah dapat terpecahkan. Mengapa hal itu dapat terjadi? Bukan salah siapa-siapa, itu adalah kedaulatan Tuhan uuntuk membiarkan itu terjadi. Tinggal, apakah nama Tuhan dipermuliakan lewat sikap dan perbuatan kita. Kita mungkin tidak sepenuhnya mengerti kedaulatan Tuhan, tetapi yang pasti kita harus memaknainya bahwa:
1. Hidup kita berada di bawah kendali Tuhan. Tidak perlu putus asa, kecil hati tetapi tetaplah dapat mengendalikan diri.
2. Tidak bisa hanya mengandalkan kepandaian dan kehebatan kita.
3. Menerima segala sesuatu apa adanya. Masalah boleh saja terjadi, terimalah dengan rela hati. Jangan terlalu memaksakan diri bahwa segalanya harus saya selesaikan.

Berdamai dengan kenyataan itu indah, ketika kita tahu bahwa itu semua ada dalam rencana Allah. Apa pun misteri, kondisi atau pergumulan yang sedang kita alami, serahkan kepada-Nya, Sang Pemilik Kehidupan yang Sejati. (IH)

Refleksi:
Tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi dan janganlah bermegah terhadap apa yang akan kita alami. Semuanya berada dalam kendali Tuhan.

TIDAK ADA YANG KEBETULAN

kebetulan

“Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman Tuhan
semesta alam”
(Hagai 2:9).

Seorang pria Inggris telah menganggur sekian lama. Uang yang yang ada pada dirinya tinggal 1 dollar. Pada kebaktian hari Minggu, ia memberikan persembahan 50 sen dollar. Keesokan harinya, ia mendengar di kota sebelah ada lowongan pekerjaan untuk dirinya. Harga tiket kereta ke kota sebelah adalah satu dollar, sedangkan uang yang tersisa 50 sen dollar, tidak cukup untuk membeli tiket ke kota sebelah. Ia agak menyesal, mengapa ia kemarin mempersembahkan 50 sen dollar. Kemudian ia memutuskan untuk membeli tiket setengah jalan. Di tengah jalan, ia melangkah turun dan mulai berjalan ke kota sebelah. Belum melewati satu blok ia berjalan, ia mendapati ada suatu pabrik membutuhkan karyawan. Ia mendapatkan pekerjaan tersebut dan mendapatkan upah perminggu 5 dollar lebih besar daripada ia bekerja di kota sebelah. Pria ini bernama W.L. Douglas, yang kemudian menjadi seorang produser sepatu besar di dunia.

Seringkali kita menyesali apa yang telah dilakukan dan apa yang telah terjadi dengan diri kita. Tetapi, beberapa saat kemudian, kita menyadari Tuhan menyatakan berkat-Nya, sesuatu yang tidak terduga.

Allah mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita. Jangan pernah menyesali
kebaikan dan kepedulian yang telah kita lakukan. Allah melihat apa yang kita lakukan dan Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.

Bagian kita, bagaimana mempergunakan waktu, uang dan tenaga yang masih Tuhan percayakan kepada kita. Pada waktu semuanya melimpah, kita tidak dapat melihat bagaimana Allah bekerja mengubahkan kehidupan kita. Sebaliknya, ketika semuanya terbatas, semakin terampil kita mengaturnya dan syukur kepada Tuhan ketika berkat Tuhan melimpah ketika kita mengalami keterbatasan.

Refleksi:
Mensyukuri apa yang ada, bekerja dengan apa yang dimiliki dan nantikan berkat Tuhan atas kehidupan Anda.

RAHASIA ALLAH

misteri

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan
kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan
yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
(Pengkhotbah 3:11)

Dalam lagu yang dipopulerkan Ari Lasso dikatakan: S’gala yang terjadi dalam hidupku ini, hanyalah sebuah misteri ilahi. Tepat sekali. Dalam perjalanan hidup ini ada banyak perkara yang sukar untuk kita pahami. Selain karena keterbatasan pikiran dan logika , kecuali Allah memberikan pengertian atau menyingkapkannya, banyak hal akan tetap menjadi misteri sampai akhir hidup kita.

Benarlah apa yang ditulis oleh Pengkhotbah: manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Ibarat membaca buku, tidak semua halaman dapat kita baca dan kita pahami seluruhnya, tetapi toh kita mengatakan telah membacanya. Orang yang mengalami penyakit kronis, misalnya, mungkin sukar memahami bahwa Dia adalah Allah Penyembuh. “Mengapa Allah Penyembuh ini tidak menyembuhkan aku?” pikir mereka. Beberapa orang lain sulit memahami kematian orang yang mereka kasihi sekalipun mereka mengerti ada jaminan hidup kekal di dalam Kristus. Namun, dapatkah kita berpegang teguh pada janji firman-Nya: bahwa Dia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Memang sulit untuk meyakininya apalagi pda saat ini kita tidak memahami bahwa Dia tengah mengerjakan suatu karya yang mengagumkan bagi diri kita, sahabat Allah. Allah tidak menuntut umat-Nya untuk memahami segala sesuatu yang sedang terjadi di bumi. Allah hanya menginginkan umat-Nya percaya bahwa Dia memegang kendali, dan Dia menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Sekalipun ada banyak perkara yang masih menjadi misteri atau sukar kita pahami, tetaplah berpegang teguh pada janji-Nya. Maukah kita? (IH)

Refleksi:
Jangan mengandalkan kepada kemampuan kita yang terbatas, tetapi andalkan
kepada kebaikan Tuhan yang tidak terbatas.

DIDIKAN ALLAH

didikan

“ Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan
teguran, tersesat “
( Amsal 10:17)

Seorang dosen, sebelum mulai mengajar, ia memeriksa kehadiran mahasiswa yang mengikuti kuliahnya. Mereka yang biasa duduk di barisan depan biasanya adalah mahasiswa yang rajin. Mereka telah datang sebelum jam kuliah dan menunggu dosen membuka ruang kuliah. Kemudian mereka mengambil tempat duduk paling depan, duduk rapi siap menerima ilmu dan pelajaran. Dari 30-an mahasiswa di kelas itu, tentulah tak semuanya tertib Ada juga yang datangnya sering terlambat, duduk selalu di baris belakang, berisik selama pelajaran berlangsung, bahkan asyik dengan gadgetnya selama perkuliahan berlangsung. Kuliah hanyalah kewajiban agar dapat ikut ujian. Studi bagi mereka hanya dianggap beban.

Dan, ketika nilai akhir diumumkan, mereka yang mengikuti perkuliahan secara tertib biasanya mendapatkan nilai yang baik. Padahal selama perkuliahan tidak semuanya diantara mereka adalah mahasiswa yang cerdas yang dapat menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan dosen. Perasaan senang bahwa upaya dihargai oleh mahasiswa peserta didiknya dapat mendorong dosen tersebut untuk membantu mahasiswa yang rajin dan tertib agar ia dapat memperoleh nilai yang baik. Bagaimana dengan mereka yang tidak rajin dan tertib. Sang dosen yang sayang pada muridnya tidak mau membiarkan dia makin jatuh dalam kesalahan. Hukuman dapat mengingatkan dia, agar mau berubah dan bisa berprestasi seperti murid lainnya.

Terkadang kita tidak mengerti mengapa kita harus mengalami hal seperti ini, masalah yang tidak ada habis-habisnya dan tidak pernah terselesaikan. Amsal mengajarkan kepada kita bahwa itu suatu teguran, suatu didikan agar kita dapat menemukan jalan kehidupan, Kehendak Allah untuk hidup yang kita jalani. Allah ingin membukakan rahasia kehidupan ini lewat didikan dan teguran.

Sebagai insan pendidikan, teguran dan didikan berlaku untuk semua pihak. Bukan saja untuk mahasiswa, tetapi juga untuk para dosen, pimpinan bahkan termasuk juga untuk pengurus Yayasan.

Refleksi:
Orang bodoh menolak didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia adalah orang bijak.

MENJADI ORANG YANG DIPERCAYAKAN RAHASIA ALLAH(2)

buka hati untuk tuhan

“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah
memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
(1 Kor 9:27)

Untuk menjadi teladan, Rasul Paulus sendiri melakukan dan mempraktekkan Firman Tuhan yang diberitakannya. Dia sendiri melatih dan mendisiplinkan hidupnya agar dapat hidup seturut dengan kehendak Bapa di surga.

Seorang olahragawan akan berlatih dengan giat agar dia memperoleh hasil yang maksimal dan berhak menyandang predikat juara. Latihan harus dilakukan setiap hari dengan penuh kedisiplinan. Latihan yang dilakukan pada awalnya terasa berat, tetapi pada akhirnya sang olahragawan akan menikmati hasilnya pada saat pertandingan tiba. Dia akan memperoleh kemenangan jika dia benar-benar melatih tubuhnya dengan baik. Bukan suatu hal yang mudah bagi kita untuk dapat menjadi teladan pada jaman sekarang. Begitu banyak godaan dan kompromi yang senantiasa mencoba untuk menjauhkan hidup kita dari Tuhan.

Tetapi untuk bisa menjadi teladan dalam sikap dan perbuatan kita, perlu adanya latihan. Melalui kehidupan sehari-harilah kita bisa melatih hidup kita. Tolak semua kompromi yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dalam pekerjaan/studi kita. Jangan berlaku curang dalam studi, terutama pada saat ujian tiba. Dengan menjadi teladan, maka kita menjadikan diri kita orang yang dapat dipercaya. Tuhan menyingkapkan rahasiaNya kepada orang-orang yang dapat dipercaya (Dan 2:47). Semakin baik kita melatih kehidupan rohani kita, semakin besar kapasitas yang Tuhan percayakan kepada kita, semakin banyak pula rahasia-rahasia kerajaan sorga yang akan disingkapkan.

“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.” 1 Kor 4:2

Kampus adalah tempat kita berlatih. Pertandingan terjadi dalam kita menapakkehidupan sesehari.

Refleksi:“..yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. ” 1 Kor 2:7

MENJADI ORANG YANG DIPERCAYAKAN RAHASIA ALLAH(1)

buka hati untuk tuhan

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus,
yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. ”
(1 Korintus 4:1)

Pada jaman perjanjian lama, nabi merupakan orang yang dipakai Tuhan untuk menyampaikan suaraNya. Para nabi senantiasa menjaga hubungan yang intim dengan Tuhan, sehingga mereka sangat peka akan suara Tuhan. Dan setiap rahasia Allah senantiasa Tuhan ungkapkan melalui hamba-hambanya para nabi. “Sungguh, Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. ” (Amos 3:7)

Pada saat ini pun Tuhan telah mengaruniakan Roh KudusNya bagi setiap umat yang percaya kepadaNya, sehingga melalui RohNya itulah Tuhan dapat berbicara kepada setiap umatNya. Ketika kita melatih hidup kita dan membangun keintiman dengan Tuhan, maka kita melatih kepekaan kita untuk mendengar suara Tuhan. Tuhan akan menyampaikan segala hikmat dari surga melalui hidup kita. Tuhan akan menyingkapkan segala rahasia yang tidak pernah disampaikan sebelumnya melalui hidup kita.

Bangunlah persekutuan pribadi dengan Tuhan. Saat teduh dan doa pribadi setiap hari akan membawa kita kepada perjumpaan dengan Allah. Kita juga akan temukan rahasia-rahasia Allah yang luar biasa. Tingkatkan hubungan pribadi kita dengan Tuhan hari demi hari. Jangan hanya puas dengan tingkat hubungan kita dengan Tuhan saat ini. Jadikan Tuhan sahabat kita (Yoh 15:15). Seorang sahabat akan menceritakan segala rahasia dalam hidupnya. Tidak ada yang tertutup dalam suatu persahabatan.

Refleksi:

Sudahkah hari ini kita berjumpa dan berbicara dengan Sahabat kita dalam doa, pembacaan Alkitab dan pekakah kita akan

RAHASIA ALLAH

“ Supaya hati mereka terhibur dan mereka bersaksi dalam kasih, sehingga mereka
memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia
Allah, yaitu Kristus “
( Kolose 2:2)

Banyak orang menyukai cerita atau tayangan misteri, seperti cerita fiksi Harry Potter demikian juga acara-acara di televisi tentang pengungkapan misteri rumah atau lokasi yang dianggap angker. Mengapa mereka senang? Sebab di dalamnya ada misteri yang menggelitik para pembaca dan penonton untuk ikut berpikir memecahkan misteri itu, dan ingin mengetahui bagaimana sang pengarang membongkarnya di akhir cerita. Misteri memang menarik bila akhirnya, apa yang menjadi misteri berhasil disingkapkan oleh penulisnya.

Paulus juga ingin memberitahukan kepada kita bahwa Allah mempunyai rahasia atau misteri menyangkut Israel, masa depan Israel dan Gereja Tuhan. Kepada umat-Nya, Allah menyingkapkan berbagai misteri melalui Kristus (ay.2). Rahasia ini perlu diungkapkan karena iman jemaat Kolose kala itu sedang diperhadapkan kepada sebuah ancaman yang dapat membelokan jemaat dari iman mereka pada Kristus. Bagi rasul Paulus, penting sekali untuk memiliki iman yang sejati dan bagaimana sikap kita kepada Yesus. Apakah kita memandang Yesus Juruselamat kita ibarat harta yang tak ternilai harganya, ataukah kita lebih puas dan lebih menyukai harta lain di luar Yesus? Di sinilah pentingnya mengenal Yesus dan memperhatikan ajaran-Nya.

Kita terkadang begitu cepat merasa puas dengan kehidupan kita sekarang, merasa cukup sudah menerima dan mengenal Yesus. Apalagi merasakan sudah sejak lahir menjadi Kristen, dan selama ini sudah aktif dalam pelayanan. Hal-hal itu membuat kita enggan untuk memperhatikan dan mendalami ajaran-Nya. Padahal di dalam Dia segala kehendak dan karya Allah akan diungkapkan sehingga kita beroleh hikmat. Kristus adalah pengungkapan rahasia Allah dan perwujudan hikmat Allah. Ia mengajarkan cinta kasih kepada setiap orang. Kita perlu berjumpa dengan-Nya secara pribadi agar mengalami pembaruan moral dan memiliki hidup yang bermakna serta beriman kepada Dia.(IH)

Refleksi:
Berdamai dengan kenyataan itu indah, ketika sadar bahwa itu semua ada dalam rencana Allah

MISTERI KEHIDUPAN

misteri

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai
dengan FirmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu,
yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa”
(Lukas 2:29-31)

Seorang anak melihat seekor burung mati dan bertanya kepada ibunya, “Mengapa burung itu mati?” Ibunya menjawab, “Karena burung itu hidup. Semua yang hidup, akhirnya akan mati.” Anaknya kembali bertanya, “Kenapa semua yang hidup harus mati?” Ibunya menjawab dengan hikmat, “Kematian menunjukkan bahwa hidup itu berharga. Karena itu, jangan menyia2kan hidup pemberian Tuhan.”

Adalah seorang yang bernama Simeon. Ia hidup benar dan saleh. Ia menantikan Penghiburan bagi Israel. Ia menantikan Mesias dengan penuh kerinduan. Bagaimana ia menata harapannya? Ia peka terhadap suara Roh Kudus dan ia mendapatkan janji dari Roh Kudus bahwa ia akan bertemu dengan Mesias.

Ketika Simeon berjumpa dengan bayi Yesus, janji Roh Kudus ini digenapi dan ia begitu bersyukur bahwa hidupnya sungguh berharga –telah berjumpa dengan Sang Mesias- hingga ia siap apabila saat itu ia dipanggil pulang oleh Tuhan.

Ibu dalam cerita diatas dan kisah Simeon mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini sungguh berharga. Pekalah terhadap kehadiran Roh Kudus dalam hati kita. Roh Kudus ingin agar kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan agar kita semakin memahami apa rencana Allah dalam kehidupan kita. Rencana Allah akan tergenapi dalam kehidupan kita apabila kita mengalami ‘keintiman’ dengan Sahabat kita, Sang Mesias. Usia, yang masih Tuhan anugerahkan kepada kita, baiklah kita sikapi dengan suatu iman bahwa Allah masih memberikan kesempatan untuk memenuhi janji-Nya bagi diri kita masing-masing sebelum kita dipanggil pulang menghadap Dia. Roh Kudus akan membuka misteri kehidupan bagi kita. (IH)

Refleksi:
Pergunakanlah waktu yang ada. Menguasai waktu berarti belajar hidup.

MEMBERITAKAN TAHUN RAHMAT TUHAN

rahmat Tuhan

“ untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan
penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang
tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”
(Lukas 4:19).

Sebait puisi yang ditulis oleh Rieke Diah Pitaloka (aktivis sosial) tentang betapa senangnya Tuhan melihat anak-anakNya melakukan sesuatu buat orang-orang tertindas.

Kubuka jendela kamar,
Tuhan menyapa
“apa yang kau inginkan hari ini?”
“Tuhan, kataku, “merdekakan jiwajiwa tertindas”
Tuhan tersenyum di semerbak mawar


Demikian juga ketika Tuhan Yesus menyampaikan nubuatan nabi Yesaya bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang kepada mereka yang sedang beribadah di Nazareth, mereka membenarkan dan heran akan kata-kata indah yang diucapkan Tuhan Yesus. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Yesus ditolak dan diusir oleh orang-orang yang mengenal Dia sejak kecil. Kisah Tuhan Yesus ditolak di Nazareth (Lukas 4:24-30) menyatakan suatu kontras. Betapa orang yang semula begitu senang mendengar berita gembira tentang akan adanya kelepasan dari ketertindasan, segera berubah menjadi kemarahan, ketika hal itu mungkin tidak akan terjadi pada diri mereka tetapi kepada orang lain yang Tuhan lebih berkenan.

Bukankah, hal itu sering terjadi dalam kehidupan kita? Betapa senangnya ketika kita berhasil atau mendengar ungkapan-ungkapan yang memotivasi kita untuk berhasil. Perasaan itu segera berubah menjadi kemarahan dan menyalahkan seseorang ketika ada seseorang mengatakan kepada kita bahwa keberhasilan itu mungkin bukan merupakan bagian kita. Padahal seharusnya kita bertanya dan mawas diri (introspeksi) mengapa keberhasilan itu tidak terjadi dalam diri kita.

Peristiwa penolakan Yesus di Nazareth mengajarkan kepada kita, bahwa sebenarnya keberhasilan telah Allah sediakan pada kita karena kita telah melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Tetapi kemudian kita kecewa dan tidak dapat menerima ketika ada yang menyampaikan kelemahan-kelemahan kita. Dan akhirnya keberhasilan tidak berpihak lagi pada kita dan institusi kita. Allah sediakan kepada mereka yang mau ditegur dan mau melakukan perbaikan (IH)

Refleksi:
Roh Kudus mengungkap kelemahan-kelemahan kita, tetapi juga membantu kita dalam kelemahan-kelemahan yang kita miliki untuk tetap berkarya bagi kemuliaan Allah.

MELAYANI DENGAN HATI

melayani

“…Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara”
(Lukas 10 : 41b)

Teks diatas merupakan respon dari Tuhan Yesus terhadap Marta ketika ia sedang sibuk melayani. Marta merasa telah melakukan hal yang benar dalam hal melayani Tuhan Yesus yang saat itu bertamu bersama para murid-Nya. Marta merasa keberatan melayani seorang diri, sementara Maria saudaranya hanya duduk menemani Tuhan Yesus.

Pertanyaannya, apakah pelayanan yang Marta lakukan terhadap Yesus itu salah ? Tentu saja tidak ! sebab jika Marta juga seperti Maria, maka siapa yang akan melayani para tamu undangan dengan menghidangkan makanan dan minuman ? Dalam hal ini jelas Tuhan Yesus tidak mempersalahkan Marta. Yesus menegur sikap Marta dalam melayani, sebab Marta tidak melayani dengan hati yang tulus. Marta melakukan sebagai suatu kewajiban saja. Marta memang sibuk, tetapi kesibukannya itu hanya untuk mencari perhatian, popularitas dan pujian semata. Mungkin kita pernah membaca sebuah uangkapan yang bijak “the heart of service is serving by heart”. Artinya bahwa inti dari sebuah pelayanan adalah melayani dengan hati. Lebih tegas lagi, itu disebut pelayanan jika kita melakukannya dengan sepenuh hati, dengan semangat, dengan kesungguhan dan tidak mengeluh. Tuhan menciptakan manusia sedemikian rupa, sehingga apabila jiwanya mulai terbakar oleh semangat, maka kemustahilan akan lenyap. Semangat tersebut disebut Anthusiasm atau antusiasme, yang berasal dari bahasa Yunani, En dan Theos, artinya : “ada Tuhan di dalam.”

Thomas Alfa Edison dalam sejarah penemuannya melakukan hal yang mustahil. Bagaimana tidak? Dalam melakukan percobannya, Thomas mengalami ribuan kali kegagalan, akan tetapi dia terus melakukan dengan kesungguhan hati sampai berhasil dan karyanya dapat dinikmati hingga hari ini. Bola lampu telah berhasil mengubah dunia. Semangat dan pengorbanannya sungguh luar biasa. Thomas sempat berucap seperti ini “seandainya satu-satunya hal yang dapat kita wariskan kepada anak cucu kita adalah kualitas antusiasme, maka sesungguhnya kita telah mewariskan kepada mereka harta yang tak ternilai harganya!”

Apa yang Tuhan Yesus katakan kepada Marta, berlaku juga terhadap pelayanan kita di masyarakat, rumah, gereja maupun di Universitas Kristen Maranatha. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok kita saja tetapi juga untuk masyarakat umum. Maria memiliki sikap yang tepat, dia duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengar perkataan-Nya. (MW)

Refleksi :
Kita perlu melakukan tugas dan hal-hal yang penting dengan sepenuh hati, dengan semangat dan ketulusan hati kita.