BERTUMBUH DALAM KEDEWASAAN IMAN

grow

“ Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan
dan Juruselamat kita Yesus Kristus…”
(2 Petrus 3 : 18a)

Dalam sejarah kehidupan manusia pasti mengalami pertumbuhan fisik. Dari Bayi menjadi anak kecil, remaja, pemuda kemudian menjadi dewasa hingga menjadi seorang manula (manusia lanjut usia). Ukuran tinggi tubuh seseorang juga ternyata ada batasannya. Terkait dengan gen yang dimiliki, sekeras dan sesering apapun ia berlatih mengupayakan untuk berubah, mungkin pertumbuhannya tidak lagi meninggi tetapi ke depan atau ke samping. Berbeda dengan fisik, potensi dari pertumbuhan spiritual manusia tidak ada batasnya. Berapa tinggi yang kita inginkan tergantung pada kemauan, upaya dan seberapa banyak kita mengambil dan memanfaatkan sarana dan perlengkapan yang Allah sediakan untuk kita.

Pertumbuhan iman orang Kristen dimulai ketika ia mengaku percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ia dilahirkan kembali sebagai anak Allah dan menjadi anggota keluarga Allah. Sebagai bayi rohani, ia perlu terus menerus untuk bertumbuh menuju kedewasaan iman, seperti apa yang dikatakan dalam ayat diatas. Proses penyesuaian ini berkaitan dengan karya Roh Kudus yang menolong serta menanamkan karakter Kristus di dalam diri orang percaya sehingga semakin menyerupai Kristus (Roma 8:29).

Di sisi lain proses penyesuaian juga menuntut peran serta, tanggung-jawab bahkan kerja keras orang percaya. Rasul Paulus memberikan instruksi kepada Timotius “… Latihlah dirimu beribadah” (1 Tim. 4 : 7). Demikian juga nasihat dari Rasul Petrus supaya setiap orang yang percaya dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada iman mereka kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara dan kasih akan semua orang (1 Pet. 1 :5-7). Kita perlu memberikan perhatian kepada pengembangan hubungan kita dengan Tuhan, membaca Alkitab secara rutin setiap hari, rajin berdoa, menaati perintah Tuhan dan melayani sesama.

Setiap pertumbuhan memerlukan waktu. Walau fisik kita tidak lagi bertumbuh, mulai menyusut dan rapuh dimakan usia, manusia batiniah kita terus bertumbuh dan berkembang dalam segi emosi, karakter, dan spiritualitas. Menghasilkan buah-buah kebenaran yang memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Dengan demikian kita dikaruniakan hak penuh untuk memasuki kerajaan kekal. (MW)

Refleksi :
Pertumbuhan rohani sesorang merupakan proses seumur hidup.

MUDAH RETAK

Love-love-26537101-497-367

Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak, karena hari Tuhan akan
menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana perkerjaan
masing-masing orang akan diuji oleh api itu.
(1 Korintus 3 : 13)

Kita jarang memperhatikan sebuah logo bergambar “gelas yang terbelah dua dengan warna merah” yang tertera pada dus barang, maksudnya supaya mudah terbaca khususnya untuk barang pecah belah, semisal : gelas, piring atau barang-barang yang dinilai mudah pecah lainnya. Gambar/logo tersebut memiliki sebuah pesan bahwa kita harus memperhatikan ketika membawa atau menaruh dus tersebut dengan sangat hati-hati, tidak dibanting sebab di dalamnya ada barang yang mudah pecah (Fragile).

Dalam bacaan Firman Tuhan hari ini kita diingatkan kembali bahwa kehidupan manusiapun sama halnya dengan barang yang mudah pecah tersebut, sangat rentan terhadap godaan kehidupan yang akan memecah kehidupan kita. Pada zaman ini ada banyak permasalahan kehidupan yang begitu menyita perhatian dan waktu kita. Coba kita melihat dan renungkan betapa seorang manusia juga memiliki kerentanan dalam keberadaannya menjalani kehidupan. Alkitab menyaksikan bahwa manusia adalah mahluk hidup yang diciptakan Tuhan secara sempurna dengan sistem kerja anatomi tubuh yang rumit. Jika kita perhatikan banyak sekali anggota tubuh manusia yang ditiru untuk berbagai kepentingan untuk hal yang baik maupun untuk hal yang buruk. Apakah yang harus kita lakukan berkaitan dengan kesempurnaan kita itu? Sebagai manusia yang telah diciptakan dengan Kuasa-Nya sudah selayaknya untuk selalu bersyukur kepada Dia yang telah memberikan kesempatan kepada kita dalam menikmati anugerah-Nya. Kehidupan yang sedang kita jalani saat ini seringkali kita pakai untuk hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya. Walaupun keberadaan ciptaan-Nya itu sangat rapuh terhadap apapun juga, akan tetapi Dia berjanji untuk menjaga dan senantiasa memberikan kemampuan dan kekuatan kepada kita dalam melayani-Nya. Jadi walaupun manusia tidak steril terhadap banyak hal tetapi Allah sangat mengasihi umatNya dan memperlengkapi kita dengan Kuasa-Nya. Dia pasti menolong kita apapun keadaan dan latar belakang kita. Ia mau menerima kita apa adanya. Kita bangga memiliki Allah seperti Tuhan Yesus. Ingatlah bahwa kita ini adalah tanah liat yang mudah retak tetapi ditangan Sang Penjunan, kita dibentuk menjadi tembikar yang sangat berharga. Untuk itu, Dia memiliki hak penuh dalam membentuk kita sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha kita diingatkan kembali walau kita memiliki segala keterbatasan dalam berkarya Allah pasti memampukan kita memberikan yang terbaik bagi kampus ini. (MW)

Refleksi:
Apakah yang ingin kita kerjakan dengan kemampuan kita ini?

SURAT CINTA KEPADA SAHABAT

“Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan
mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya
kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua”
(2 Korintus 2:4)

Menuliskan surat yang berisikan pesan-pesan yang menyenangkan dan membanggakan tidaklah sulit. Tetapi menuliskan surat yang berisikan teguran dan peringatan-peringatan akan kehidupan bukanlah hal yang menyenangkan. Demikianlah perasaan Rasul Paulus ketika menuliskan surat kepada jemaat di Korintus. Paulus ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting bagi pertumbuhan rohani jemaat di Korintus. Dia mulai tulisannya dengan mengingatkan hubungan diantara mereka; bagaimana Paulus senantiasa berterusterang dan jujur kepada mereka. Meskipun Paulus sering disalah mengerti dan diragukan pelayanannya, Paulus dengan sabar dan penuh kash mengingatkan mereka tentang bahayanya guru-guru palsu yang menyesatkan orang-orang yang dikasihinya, yaitu jemaat di Korintus. Menyatakan kebenaran ini bukanlah suatu hal yang menyenangkan bagi Paulus, namun Paulus menunjukkan kasih dan perhatiannya supaya mereka tidak disesatkan oleh pengajar-pengajar palsu. Paulus ingin memastikan bahwa mereka memahami niat baik dan kasih yang tulus yang ditunjukkannya melalui suratnya. Amsal 27:6 mengungkapkan bahwa “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (Ams. 27:6). Kadangkadang kita tahu bahwa teman kita sedang mengambil keputusan atau pilihan yang keliru. Jika kita membiarkan saja, maka kita sedang tidak menunjukkan kasihkepada dia. Kita menunjukkan kasih dan kepedulian kita ketika kita membagikan keprihatinan kita sehingga menolong teman kita melakukan dan menjadi seseorang yang terbaik bagi Allah. Sebaliknya jika kita tidak melakukan apa-apa untuk memperingatkan dia,
maka kita sebenarnya lebih peduli tentang diri kita (disukai dan diterima) daripada kepada apa yang akan terjadi kepada teman kita jika kita membiarkan dia melakukan pilihan salah yang diambilnya. (RO)

Refleksi:
Apakah kita akan memilih menyatakan kebenaran dengan kasih, atau menunjukkan seolah-olah kita mengasihi teman kita dengan menyembunyikan kebenaran?

HILANG KENDALI, HILANG HARGA DIRI

saling-menolong111

“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh
temboknya”
(Amsal 25:28)

Bobby duduk sendirian di ujung tempat tidurnya. Dia menarik-narik rambutnya dengan kesal. Kepalanya menunduk penuh penyesalan. Ketika kepalanya tengadah ke atas langit-langit lalu ke dinding-dinding kamarnya, dia bisa melihat bekas kepalan tangannya meninggalkan bekas pada dinding, begitu pula dia dapat melihat kotoran sepatu yang menempel pada langit-langit kamarnya. Sekarang hanya penyesalan dan perasaan tidak berdaya yang dirasakannya. Sambil mengingat-ingat kejadian pagi tadi. Ketika berjalan menuju gerbang sekolah dia mendengar ada temannya yang menyebutkan namanya. Tanpa bertanya lagi, dia melayangkan bogem mentah ke wajah temannya tersebut. Dia menyangka bahwa temannya sedang mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang dirinya. Ternyata setelah diklarifikasi, dia salah memhami situasi yang sedang terjadi. Akibatnya dia harus menjalani hukuman skorsing dari kepala sekolah; dan ini adalah kejadian yang kesekian kalinya terjadi. Bobby selalu diliputi perasaan marah yang ingin dilampiaskan kepada siapa saja yang memicu kekesalannya. Akibatnya, Bobby semakin dijauhi oleh teman-temannya. Sedikit sekali orang yang mau mengambil resiko untuk berteman dengannya. Kalaupun ada yang mau berteman, mereka akan menjaga jarak. Tentu saja, Bobby harus mengalami kehidupan yang penuh dengan kesepian. Tidak ada orang yang mau berbagi cerita dengannya. Dia pun enggan untuk membagikan masalah pribadinya kepada orang lain. Dia menganggap dirinya adalah seorang yang gagal dan tidak berarti. Dia yakin tidak ada orang yang menyukai perilakunya; dan tidak ada orang yang menyukainya. Dia percaya bahwa dirinya bukanlah orang yang tepat untuk dikasihi. Tetapi dia juga tidak mau dikasihani orang lain. Betapa kehidupan yang sangat memprihatinkan yang sedang dijalaninya. Tetapi untuk-untuk orang seperti Bobby lah Tuhan yesus datang untuk memberikan pengharapan akan kasih Allah. Bobby merindukan ada seseorang yang dapat menolongnya keluar dari masalahnya. (RO)

Refleksi :
Perhatikanlah, apakah ada orang-orang seperti Bobby di sekitar kita. Mereka
membutuhkan orang lain untuk merasakan kasih Kristus.

KABAR BAIK KEPADA KERABAT

images

“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah
mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang sengsara, dan
merawat orang-orang yang remuk hati”
(Yesaya 61:1a)

Salah satu tradisi yang banyak dilakukan oleh orang-orang di Indonesia adalah tradisi pulang kampung. Pulang ke kampung halaman merupaka momen paling mengesankan bagi kebanyakan orang. Itu sebabnya lalu lintas laut, darat, maupun udara sangat ramai ketika hari Lebaran tiba. Tradisi yang sama juga dilakukan oleh orang-orang Filipina yang tinggal di luar negeri. Pada bulan Nopember dan Desember setiap tahunnya akan banyak Balik Bayan alias pemudik yang pulang ke tanah kelahiran mereka untuk merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga. Kejadian yang sama dilakukan oleh Yesus sedang mengunjungi tempat Dia dibesarkan, yaitu Nazaret. Tentu saja banyak orang yang mengenal Dia sebagai anggota keluarga Yusuf dan Maria. Sebagian mungkin sangat mengenalNya
ketika masih anak dan remaja. Tentu saja sebagai teman sekampung mereka ingin mengetahui kabar baik yang akan disampaikanNya. Yesuspun diberikan kesempatan untuk membacakan Kitab Suci pada hari Sabat di sinagoga. Yesus, yang baru saja memproklamirkan tugas dan panggilanNya setelah menghadapi pencobaan Iblis membacakan kitab Yesaya, yang menubuatkan kedatangan Mesias.

Kedatangan Mesias merupakan kabar baik yang sangat ditunggu-tunggu oleh orang Yahudi. Namun mereka tidak pernah menyangka bahwa seorang pemuda dari kampung Nazaret lah yang menjadi Mesias yang dinubuatkan itu. Dengan indah dan terus terang Dia menyatakan bahwa nubuatan Nabi Yesaya telah digenapi dengan kedatanganNya. Kedatangannya adalah untuk memberikan pembebasan bagi orangorang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, pembebasan bagi orang-orang tertindas, dan untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang. Namun kabar baik itu tidak diterima begitu saja oleh orang-orang sekampungnya. Beberapa diantara mereka meragukan, bahkan ada yang marah-marah mendengarkan pengajaran yang “tidak biasa” itu. Namun Yesus menyadari bahwa tidak mudah untuk menyatakan kebenaran. Maksud baik seringkali mendapat respon yang tidak baik. Sekalipun demikian, Yesus melanjutkan misi untuk menyampaikan kabar baik yang perlu didengar oleh orang-orang yang tertindas, buta, dan terbelenggu.(RO)

Refleksi :
Sudahkah kita memberitakan kabar baik tentang keselamatan dalam Yesus Kristus kepada kerabat dan sanak saudara kita yang belum mendengar?

MEMBERI SEMANGAT

images

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah
mengeringkan tulang”
(Amsal 17:22)

Masih mengenai kebahagiaan. Salah satu sifat orang yang bahagia adalah melakukan tindakan-tindakan yang memberi semangat kepada orang lain. Kata-kata yang mendorong dapat digunakan untuk membahagiakan orang lain. Apa yang dapat Anda lakukan ketika menemukan bahwa teman dekat, rekan kerja, pasangan, saudara kandung, atau bahkan anak Anda terlihat murung karena mereka gagal mencapai yang dicita-citakan, atau mereka menyadari bahwa mereka talah melakukan kesalahan besar dalam hidup mereka. Apakah Anda akan menyalahkan dia? Atau, Anda mencoba memberikan penjelasan rasional yang sangat masuk akal mengenai penyebab dan akibat dari kegagalan atau kesalahan yang telah diperbuatnya? Atau, Anda akan mengingatkan dia mengenai Firman Tuhan yang akan menolong dia memiliki perspektif yang kekal, sekalipun itu mungkin akan menambah rasa bersalahnya, dan Anda merasa telah melakukan hal yang benar dan percaya bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang membawa dia kepada kebenaran? Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah memberikan semangat bagi orang yang kita kasihi. Semangat yang akan menolong dia untuk tidak menyerah atau berputus asa. Semangat yang akan menyadarkan dia bahwa setiap orang mempunyai kemungkinan untuk melakukan kesalahan dalam hidup; dan bahwa setiap orang juga memiliki kemungkinan untuk mengalami kegagalan. Dari pada fokus kepada kesalahan ataupun kelemahan yang menyebabkan kegagalan, lebih baik dia fokus kepada kekuatan dan kemungkinan untuk mengatasi kegagalannya dengan baik. Sebab kegagalan bukanlah akhir dari segala sesuatu. Orang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah mengalami kegagalan, melainkan orang yang bangkit dari kegagalannya dan mencoba lagi. Tidak mungkin juga ada orang di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan. Sama seperti yang seharusnya kita lakukan, kita mendorong orang yang kita kasihi untuk belajar dari kesalahannya dan mencoba lagi dengan upaya yang lebih baik. Hati yang gembira datang dari hati yang bersyukur akan kasih karunia dan kedaulatan Tuhan dalam hidupnya. (RO)

Refleksi :
Apakah Anda mau menjadi obat yang manjur hari ini? Mari kita memberikan
semangat kepada orang lain hari ini.

SENYUM KEBAHAGIAAN

“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati
mematahkan semangat”
(Amsal 15:13)

Kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh semua orang. Beberapa orang bahkan menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup. Begitu pentingnya kebahagiaan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kebahagiaan. Hati yang gembira membuat muka berseriseri. Dalam terjemahan bahasa Inggris, dikatakan: “a happy heart makes the face cheerful” artinya hati yang bahagia membuat wajah berserti-seri. Kebahagiaan alias happines membuat wajah menjadi ceria dan berseri-seri. Tetapi apa yang dapat membuat manusia bahagia. Salah satu aliran psikologi yang saat ini banyak diminati oleh para ilmuwan maupun praktisi psikologi, yaitu psikologi positif, telah melakukan banyak penelitian yang menunjukkan bahwa manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika mereka mengembangkan tujuh hal berikut: persahabatan, tindakan menolong orang lain, menjaga kesehatan fisik, mengembangkan kebaikan dan kekuatan pribadi, menjaga kehidupan rohani dan makna hidup, meningkatkan penghayatan akan proses mencapai sesuatu (flow), dan mengembangkan pola pikir positif.

Menarik sekali bahwa memiliki satu atau lebih sahabat dapat memberikan kebahagaiaan dalam hidup, sekalipun sahabat-sahabat kita itu tidak saling berhubungan satu sama lain. Sahabat yang siap sedia memberikan penghiburan pada waktu kita sedang bersedih; sahabat yang bersedia mendengarkan ketika kita sedang ingin mencurahkan isi hati atau pendapat kita; sahabat yang merasa nyaman mencurahkan isi hati dan pikirannya kepada kita karena dia mempercayai kita. Sahabat yang akan siap sedia mendengarkan kita dan memberikan kata-kata yang membesarkan hati. Hal yang juga menarik adalah bahwa seseorang akan lebih merasakan kebahagiaan ketika dia menyediakan kebahagiaan itu; menyediakan diri untuk mendengarkan, menolong dan mendorong orang lain untuk berbahagia daripada mendapatkan kebahagiaan itu sendiri. Alkitab juga mengajarkan “lebih berbahagia orang yang memberi daripada yang menerima. (RO)

Refleksi:
Buatlah orang lain bahagia dengan senyuman Anda hari ini.

TUHAN MELEPASKAN

“Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan
melepaskan mereka dari segala kesesakannya”
(Mazmur 34:18)

Adakalanya kita mengalami kejadian yang sangat menyesakkan. Pernahkah
Anda mengalami peristiwa kematian yang sepertinya bertubi-tubi? Belum habis dukacita karena meninggalnya sahabat terdekat, pesan dukacita datang lagi dari anggota keluarga. Selanjutnya, seorang dari komunitas kita kembali ke rumah Bapa di surga. Kabar lainnya, mengenai penderitaan karena gangguan kesehatan yang diderita oleh snak saudara, teman, atau rekan sekerja kita. Apabila semuanya itu terjadi dalam waktu yang berdekatan, maka kita akan mengalami kesesakan; kesedihan yang mendalam, berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam hati dan pikiran kita. Mengapa seorang yang masih muda belia dipanggil Tuhan begitu cepat. Mengapa seorang yang baik dan sangat berbakat hidupnya tidak lama? Apakah Tuhan tidak ingin supaya hidupnya menjadi berkat bagi lebih banyak orang lagi? Berbagai pertanyaan yang tidak bisa kita jawab menimbulkan kesesakan dalam hidup kita. Belum lagi masalah-masalah pribadi yang harus kita hadapi dan selesaikan. Semakin menambah kesesakan dalam hidup. Dalam keadaan seperti itu, yang kita perlukan adalah datang kepada Tuhan. Janji Tuhan, sebagaimana dituliskan oleh Pemazmur adalah bahwa Tuhan akan melepaskan orang benar dari kesesakannya. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan dia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu. (Mazm. 34:19-20). Janji itu hanya akan digenapi kepada orang-orang benar, yang berteriak minta tolong kepadaNya. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Sesungguhnya, malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orangorang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Orang yang takut akan Dia tidak akan berkekurangan. Tiu semua merupaka janji TUHAN yang dapat dipercaya. Dia sanggup melepaskan kita dari segala kesesakan kita, apabila kita datang kepadanya, berseru-seru, bahkan berteriak minta tolong. Itulah yang TUHAN inginkan dari kita.
Datang kepadaNya. (RO)

Refleksi:
Apakah Anda sedang mengalami kesesakan? Datanglah kepadaNya, maka Dia akan melepaskan Anda dari segala kesesakan

DICARI: SAHABAT BERHIKMAT

“Semangatku patah, umurku telah habis, dan bagiku tersedia kuburan.
Sesungguhnya, aku menjadi ejekan; mataku terpaksa menyaksikan tantangan
mereka”
(Ayub 17:1-2)

Penderitaan yang dialami Ayub adalah sebuah perjalanan rohani yang menggambarkan ujian akan keyakinan Ayub kepada hikmat Tuhan. Ketiga teman Ayub yang menyertai pergumulan Ayub, dikenal sebagai orang-orang berhikmat. Dialog yang bersifat nasihat kepada Ayub yang sedang mengalami berbagai pencobaan hidup, membawa Ayub kepada titik terendah dari semangat hidupnya.

Ungkapan bahwa semangatnya patah dan umurnya telah habis menggambarkan apatisme hidup yang sangat jelas. Patah semangat atau apatisme dapat membawa kepada upaya bunuh diri.Teman-temannya yang diharapkan bisa memberikan semangat hidup kepadanya ternyata membuatnya semakin terpuruk secara mental dan secara rohani. Ayub bicara tentang kematian. Pada ayat 10 pasal 17 ini, Ayub menegaskan lagi bahwa umurnya telah lalu, rencana-rancananya telah gagal, begitu juga dengan cita-cita atau impian-impian yang pernah dimilikinya. Dia berharap akan ada orang yang membangkitkan harapan baginya. Harapan untuk hidup. Harapan untuk sebuah hikmat yang akan menolongnya untuk keluar dari penderitaannya. Tetapi dia tidak menemukannya, bahkan diantara sahabat-sahabatnya. Dia bertanya, “Siapakah yang melihat adanya harapan bagiku?” Sungguh suatu keadaan yang menunjukkan kerapuhan hidup seorang yang memiliki reputasi yang sangat baik di bumi dan di surga; di antara umat manusia maupun di antara para malaikat. Bahkan Allah, Yang Maha Tinggi mengakui kualitas hidup seorang Ayub. Namun, pada saat ini, Ayub menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Dia tidak lagi berharap akan masa depan yang lebih baik. Dia tidak lagi berharap pada pemulihan kekayaaan maupun kondisi keluarganya. Nasehat para sahabatnya hanya berlaku bagi kehidupan yang saat ini dialaminya di bumi, bahwa jika dia tidak menjadi kaya dan berhasil dalam hidupnya, maka pastilah ada sesuatu yang salah dengan kehidupan Ayub. Pastilah dia sudah melakukan dosa yang sangat besar kepada Allah. Para sahabat Ayub tidak mengatakan apa-apa mengenai kehidupan sesudah kematian. Mereka hanya menilai Ayub dari keberhasilannya semasa hidup.(RO)

Refleksi :
Kita seharusnya tidak menilai hidup dari prestasi, keberhasilan, kekayaan atau kemakmuran semasa hidup, karena Allah menjanjikan kehidupan yang kekal bagi orang-orang yang percaya kepadaNya.

Koneksi

Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang
malang dan mendekat tahun-tahun yang kau katakan:
“Taka da kesenangan bagiku di dalamnya!”
(Pengkhotbah 12:1)

Manusia modern saat ini sangat tergantung pada teknologi. Penggunaan gadget di Indonesia, tidak dapat dipungkiri telah menjadi kebutuhan yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia. Saat kita terbangun dari tidur ataupun sebelum tidur apa yang dicari, apa yang pertama kali dilakukan? Membuka gadget. Gadget seakan menjadi segalanya bagi manusia modern. Lebih baik tertinggal dompet dibandingkan tertinggal gadget. 3 (tiga) hal yang ditakuti manusia saat ini: no signal, low battery, dan buffering. Tidak ada signal berarti tidak ada koneksi, kalau tidak ada koneksi berarti tidak dapat terhubung dengan dunia maya. Koneksi menjadi sesuatu hal yang penting yang dapat menghubungkan kita dengan dunia luar.

Teknologi membuat kita demikian mudah terhubung dengan teman, sahabat, saudara, keluarga di tempat yang jauh sekalipun. Namun sayangnya hal ini membuat kita seringkali malahan menjadi tidak terkoneksi dengan orang yang berada di dekat kita. Sekarang ini sering kali kita dapat menemukan sebuah pemandangan yang menarik, ayah, ibu, anak makan bersama di rumah makan namun satu sama lain tidak saling berkomunikasi. Mereka sibuk dengan gadget masing-masing, sehingga orang jauh terasa dekat namun orang dekat serasa tidak ada. Memang ironis, keberadaan koneksi internet telah menggeser cara pandang manusia. Kita jadi lebih mengedepankan koneksi lainnya dibandingkan dengan koneksi dan pengenalan dengan Pencipta.

Kita seringkali melupakan koneksi yang sangat penting. Koneksi makhluk ciptaan dengan Sang Pencipta merupakan hal yang hakiki dalam kehidupan manusia. Koneksi yang terus menerus dengan Sang Pencipta membuat kita ciptaanNya tahu akan blueprint yang dirancang bagi kita secara personal. Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Pencipta, melalui koneksi dengan Pencipta, kita mengetahui gambar dan rupa Allah yang khusus bagi pribadi lepas pribadi. Koneksi dengan Sang Pencipta pun membawa kita pada kesadaran bahwa sungguh Dialah Allah, Tuhan, dan Juru Selamat Penebus kita.(LS)

Refleksi:
Sudahkah saudara memiliki koneksi yang baik, akrab, dan intens dengan Sang Pencipta?