TEMUKAN AKAR MASALAH

“kepada Allah, yang firmanNya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.
Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?;
Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! – Dialah
pertolongan mereka dan perisai mereka. ”
(Mazmur 56 : 4 ; Mazmur 115 : 11)

Apakah kita sedang mengalami suatu permasalahan yang terus berulang walau kita sudah mencoba memperbaikinya? Bagaimana kita melakukan proses perbaikannya? Apakah kita sudah memulai dari mencari akar permasalahannya, ataukah kita hanya melihat dari permukaannya saja? Kalau kita hanya melihat permasalahan itu dari permukaan saja , maka kita hanya menguras energi untuk mengobati, namun tidak pernah melakukan pencegahan karena kita tidak melihat pada sumbernya.

Dalam Mazmur 56, diceritakan kepercayaan Daud, pada saat ia dalam kesusahan. Daud berseru memohon belas kasihan Allah, kepada Allah yang dia puji dan percaya, sehingga Daud tidak takut terhadap apa yang dilakukan manusia terhadap dirinya. Daud yakin dan tidak takut karena Allah ada di pihaknya. Mazmur 115juga menceritakan tentang kemuliaan hanya bagi Allah, ”orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN” Dia-lah penolong dan perisai kita, Ia akan memberkati orang-orang yang takut akan TUHAN, baik yang kecil maupun yang besar. Mari kita puji DIA sekarang ini dan selama-lamanya.

Sebagai manusia dan sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha, kita tidak pernah luput dari kesusahan. Yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam mengahadapi kesusahan itu, apakah kita takut dan percaya akan TUHAN ? apakah kita sudah berseru memohon belas kasihan Allah? Maukah kita menjadikan Dia penolong dan perisai kita ? Berkat dan pertolongan TUHAN sudah tersedia bagi kita. Apakah kita mau melepaskan beban itu dan menyerahkan kepada pertolongan TUHAN?(AG)

Refleksi:
Temukanlah akar permasalahannya, kemudian cabut dan buanglah

AWALI YANG BARU

“ …kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN,
Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi”
(Yosua 1 : 9b)

Mencoba hal baru, sama dengan membuka gerbang dan memasuki ruang yang mengandung resiko. Namun bila kita tidak melakukan apa-apa, mungkin saja akan menjadi lebih beresiko. Orang yang berhasil di dalam hidupnya adalah orang-orang yang berani mencoba, walau tidak sedikit kemungkinannya akan mengalami keadaan yang jauh lebih buruk. Hal itu merupakan sebagian dari proses untuk mencapai kemajuan yang jauh lebih baik dari keadaan semula.

Setelah Musa mati, TUHAN berfirman pada Yosua untuk bersiap dan pergi menyeberangi sungai Yordan menuju negeri yang diberikan pada orang Israel. TUHAN berjanji tidak akan membiarkan dan meninggalkan Yosua dengan pesan ”… kuatkan dan teguhkan hatimu dengan sungguh-sungguh dan bertindak hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan. Jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”

Seandainya perintah itu datang pada kita, bagaimana kita akan bereaksi? Kita belum tahu apa yang akan kita hadapi di tempat yang baru. Kecenderungan kita adalah menolak atau berusaha berdalih agar kita tidak usah pergi ke tempat yang baru. Kita sudah nyaman pada posisi yang lama. Kita enggan dan takut untuk memulai sesuatu yang baru. Namun seperti janji TUHAN pada Yosua, kalau kita mendapatkan janji itu, apakah kita siap keluar dari kehidupan kita saat ini? Apakah kita siap untuk tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan, dan apakah kita mau memegang janji itu dalam kehidupan kita? (AG)

Refleksi: Mari beranikan diri keluar dari zona nyaman.

MARI HADAPI RASA TAKUT

“Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan
dalam jiwaku ”
(Mazmur 138 : 3)

Ketika kita sedang berwisata menikmati alam, yang mungkin saja dilengkapi dengan gua-gua yang gelap bekas peninggalan tentara Belanda atau Jepang, apa yang kita rasakan saat tidak dibantu dengan alat penerangan? Kita menjadi takut untuk masuk dalam gua tersebut, karena gua itu gelap dan kita tidak tahu apa yang ada di depan kita. Tapi jika kita melihat ada setitik cahaya di depan, biasanya kita mempunyai keberanian menapakkan kaki memasuki gua tersebut.

Mazmur 138 ini, merupakan nyanyian syukur Daud. Daud merasa tidak ada jarak yang membentang antara dia dengan TUHAN. Daud tinggal berseru dan TUHAN menjawabnya, TUHAN memberi kekuatan. Bahkan raja di bumi akan bersyukur kepada TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut TUHAN. Walaupun Dia tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan dikala Daud berada dalam kesesakan dan kemarahan musuhnya, ia merasakan tangan TUHAN yang terulur menyelamatkan dan menuntunnya. JanjiNya sungguh nyata dan kasihNya setia selamanya.

Selaku manusia yang lemah, mudah jatuh dalam pencobaan, kita sering kalah
dengan permasalahan yang menghampiri kita. Kita mundur dan tak berani melangkah maju. Kita takut! Maukah kita belajar seperti Daud, yang mau bersyukur dengan segenap hati. Bersujud untuk memuji namaNya dan berseru kepada Dia yang dapat menambahkan kekuatan dalam jiwa. Mari hadapi setiap permasalahan yang menghampiri dengan keyakinan bahwa kita tahu bahwa ada tangan yang terulur untuk menyelamatkan. Kasih setiaNya senantiasa menolong dalam menghadapi ketakutan yang kadang kita ciptakan sendiri.(AG)

Refleksi:
Segelap apapun jalan yang sedang kita lewati, ketahuilah kalau kita tidak pernah berjalan sendiri

RASA TAKUT

“ …. KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”
(Matius 28 :18b)

Rasa takut, merupakan sesuatu yang wajar di rasakan dan dialami oleh setiap manusia, terutama pada saat sedang menghadapi suatu permasalahan, ujian dan tantangan. Di mana emosi kita mendapat tantangan untuk kita tata dengan baik. Apakah emosi tersebut membuat kita jatuh, membuat kita gagal ataukah membuat kita kecewa kepada Tuhan?

Dalam Matius 28 : 18 – 20 , dikatakan bahwa ”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir Zaman.” Jelaslah disini bahwa sebagai manusia kita rapuh dan mudah terjatuh, terutama saat menghadapi suatu permasalahan, namun ada satu janji yang tak pernah ter-ingkar-i bagi kita yang mau setia menjadi muridNya. Kita diberi kemampuan untuk menjadi kuat dalam menghadapi setiap permasalahan dan tantangan. Kita diberi kemampuan untuk menata emosi agar tidak menjadi kecewa kepada Tuhan. Kita diberi keberanian untuk mengalahkan rasa takut.

Sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha, sejujurnya pasti kita pernah merasa kecewa. Hal ini dapat terjadi karena kita merasa tidak puas dengan apa yang kita inginkan atau harapkan. Tetapi pernahkah kita mencoba melihat ke dalam hati, pikiran dan diri kita, apa sebenarnya yang kita inginkan? Kadang itu semua berasal dari pola pikir kita sendiri, tanpa mau melihat pola besarnya, pola umumnya dan pola apa yang sudah menjadi ketentuan dan ditetapkan di kampus ini yang akhirnya membuat kekuatiran dan ketakutan dalam diri kita. (AG)

Refleksi:
Kekuatiran tidak menghilangkan masalah esok hari. Tetapi yang pasti telah menghilangkan sukacita hari ini

MENGAPA HARUS TAKUT?

Tetapi Ia berkata kepada mereka: ”Aku ini, jangan takut! ”
(Yohanes 6 : 20)

Banyak orang merasa terkucilkan, dicemooh, dimusuhi, saat ia melakukan hal benar. Contohnya saat kita berhenti di perempatan Trafick Light, dan saat lampu baru kuning bahkan di perempatan jalan tertentu, dengan kondisi lampu merah pun, kita kadang di klakson dengan ramai yang bertujuan menyuruh kita segera jalan. Hal ini membuat kita harus merespon dengan secara positif atau negatif terhadap apa yang di alami. Tentunya saat kita mampu merespon secara positif, maka kita mempunyai kekuatan untuk bertahan, namun bila kita meresponnya secara negatif, maka yang kita alami adalah marah dan menjadi takut dalam bertindak dan melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita.

Dalam Yohanes 6 dikatakan, Ketika hari sudah mulai malam, mereka mau
menyeberang menggunakan perahu, sedang laut bergelora karena angin kencang. Mereka sudah mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, saat mereka melihat Yesus berjalan di atas air, sehingga mereka menjadi ketakutan. Tetapi Ia berkata : ”Aku ini, jangan takut!”. Mereka pun menaikkan Dia dan perahu sampai ke pantai yang dituju.

Kalau seandainya kita yang ada dalam perahu itu, dan kita melihat seseorang
berjalan diatas air dalam suasana gelap karena hari sudah malam, bagaimana reaksi kita ? dan bagaimana kalau dikatakan: ”Aku ini, jangan takut!”, apakah kita dapat langsung percaya? Sebenarnya kalau kita pelajari dengan baik, kita seringkali takut dalam menjalankan sesuatu yang benar diantara hal yang tidak benar. Kita ragu untuk mengatakan Tidak terhadap yang tidak benar, kita cenderung takut bila kita bertindak benar, karena lingkungan kita menghendaki untuk melakukan yang tidak benar. Kita takut dicemooh atau diejek oleh teman-teman yang melakukan kecurangan. Apakah hal ini akan dapat menyelesaikan permasalahan kita? (AG)

Refleksi:
Tidak ada yang perlu kita takutkan kecuali ketakutan itu sendiri

BERANI MENANG

“ Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh
Dia yang telah mengasihi kita. “
(Roma 8:37)

Dalam beberapa hari ini kita telah membahas tokoh-tokoh yang memiliki keberanian misalnya empat sekawan (Daniel, Hananya, Misael dan Azarya) pemberani, Ester yang berani mengambil risiko, Petrus dan Yohanes, serta Paulus. Tipe-tipe tokoh tersebut tergolong sebagai tokoh pemberani. Tokohtokoh tersebut merupakan tokoh yang menginspirasi kita untuk mengambil sikap berani. Kita mungkin senang dan sangat ingin mencapai sukses menghadapi tantangan kehidupan, akan tetapi kita tidak mau mengambil segala kemungkinan yang ada, takut gagal! Mungkin tipe orang seperti ini dalam pandangan lebih positif dikategorikan sebagai orang takut menang. Orang seperti ini biasanya tidak mau mengambil tantangan, tidak berani mengambil peluang yang muncul, merasa tidak mampu, dan menganggap diri sendiri sebagai orang yang tidak layak!

Baiklah kita belajar sekali lagi dari rasul ‘tangguh’, yaitu Paulus. Paulus menyatakan pada prinsipnya kegagalan seseorang dalam hidupnya bukan karena kekuatan luar atau kesulitan yang sangat hebat, tetapi karena kelalalaiannya untuk tetap tinggal dalam Kristus Yesus (ay 35-39, bandingkan juga Yoh 15:6). Dengan demikian kasih Allah hanya dinyatakan dan dialami di dalam Kristus Yesus hanya selama kita tetap tinggal dalam Kristus Yesus sebagai Tuhan Kita, maka ada kepastian bahwa kita tidak pernah terpisah dari kasih Allah(ay 39). Dengan begitu tantangan-tantangan yang dihadapi oleh orang-orang percaya, justru akan membuka peluang bagi kasih dan penghiburan Allah makin dinyatakan dalam kehidupan orang-orang percaya. Dan Paulus memastikan bahwa semua kesulitan tersebut akan diatasi dan bahwa kita akan menjadi lebih dari pada seorang pemenenang (ay 37) melalaui Kristus.

Karena itu keberanian kita untuk menghadapi segala tantangan sebagai orang percaya itulah yang Tuhan inginkan dari kita. Sebagai pengikut Kristus keadaan beratnya kehidupan seperti kesulitan mencari pekerjaan, bisnis yang berat, jodoh atau bahkan kemiskinan dalam konteks kehidupan di negara kita menjadi semakin bertambah berat dengan status kita sebagai orang kristen. Sekali lagi yang Tuhan inginkan dari kita adalah (1) tetap terpaut di dalam Tuhan, ranting tetap menempel pada pokoknya; (2) menghadapai tantangan yang berat tersebut di dalam Tuhan. Maka kita akan lebih dari orang-orang yang menang! (ITW)

Refleksi:
Para Pemenang adalah para pemberani!

BERANI MENGHADAPI HIDUP

“ Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak
putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan,
namun tidak binasa. “
(2 Korintus 4 : 8-9)

Filsafat aliran Hedoneisme memandang kehidupan pada satu sisi, yaitu kehidupan yang kita jalani saat ini ada dalam keadaan senang. Ya, kesenangan itulah yang menjadi patokan utama dalam menjalani kehidupan, demikian filsafat yang dikembangkan oleh Epikurus (270 sM). Bahkan Epikurus menyatakan, “Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati.” Jika kita memegang pandangan yang demikian, bagaimana dengan orangorang yang sehari-hari bergelut berpeluh berjuang di dalam segala penderitaannya demi mempertahankan kehidupannya? Pertanyaan ini diberikan tidak bermaksud mengganggu kegiatan mengisi akhir pekan yang telah ada rencanakan sebelumnya untuk berlibur dan mungkin sedikit bersenang-senang. Akan tetapi renungan ini dimaksud agar kita dapat berefleksi dari segala kesulitan-kesulitan hidup yang dialami oleh orang-orang lain atau bahkan kita sendiri.

Baiklah kita mulai refleksi kita dengan melihat kehidupan Rasul Paulus. Bila kita membaca bagian perikop 2 Korintus 4:1-15 secara lengkap bagaimana kehidupan Paulus dalam memberitakan Injil Kristus menghadapi berbagai macam kesulitan. Dalam hal inilah Paulus ingin membagikan kepada kita sekalian, sebagai orang yang telah percaya kepada Kristus segala kesulitan atau kelemahan dijalani, karena manifestasi kuasa Ilahi yang luar biasa. Dalam diri orang-orang percaya tersebut manifestasi kuasa Ilahi dinyatakan melalui kelemahan orang-orang percaya tersebut. Dalam setiap penderitaan yang dialami, orang percaya akan menjadi lebih dari pada pemenang (Roma 8:37), dan melalui penderitaan tersebut tersebut membuka peluang untuk menerima kasih karunia Kristus yang melimpah-limpah dan mengijinkan kehidupan Kristus nyata dalam tubuh kita. Segala bentuk kesulitan, penderitaan, penindasan, dan himpitan atau mungkin kemiskinan sekalipun, tidak membuat kehabisan akal dan putus asa.

Dengan demikian di dalam setiap kesulitan hidup yang dialami orang percaya, jika anda tetap ada seperti pada keadaan anda sekarang hal ini boleh jadi manifestasi kuasa Ilahi telah dinyatakan dalam kehidupan anda, berbahagialah! Akan tetapi, bila kehidupan anda saat ini ada berlimpah berkat, berbahagialah! Dengan kelimpahan anda, menjadi berkat bagi banyak orang yang ada dalam kesulitan sebagai wujud manifestasi kuasa Ilahi dinyatakan dalam diri anda. (ITW)

Refleksi:
Apapun kondisi anda saat ini, jalanilah dengan tuntunan Tuhan.

BERANI MENGADVOKASI

“ Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada
Tuhan, walaupun aku debu dan abu. “
(Kejadian 18:27)

Seorang Yap Thiam Hien menjadi nama yang melegenda di Indonesia, karena dikenal memiliki keberanian dalam membela hak-hak kliennya. Beliau membela berbagai kalangan tanpa pandang bulu, ia membela seorang tokoh partai terlarang yang pada jamannya dihindari untuk dibela, dan bahkan ia membela kasus pidana seorang anti tionghoa. Untuk itulah ia dikenal sebagai seorang “Pembela Segala Umat.” Yap memang sering kalah di pengadilan, sebab ia membela klien bukan untuk menang, melainkan untuk membela demi keadilan, kebenaran dan kemanusiaan kliennya. Yap membela bukan untuk kebebasan orang yang telah mengakui perbuatannya, akan tetapi pembelaannya ditujukan untuk memastikan segala hak yang dimiliki orang tersebut tidak ada yang terlanggar di dalam proses pengadilan.

Jika Yap memperjuangkan keadilan di pengadilan manusia, dalam pembacaan kita hari ini kita membaca bagaimana Abraham dengan gigih berjuang melakukan upaya ‘advokasi’ kepada Allah Sang Hakim Maha Adil untuk beberapa orang benar di Sodom dalam hal ini Lot sekeluarga. Abraham dalam doanya tersebut memohon agar Allah tidak membinasakan kota Sodom karena ada orang-orang benar di kota itu. Keberanian atau lebih tepatnya sebagai sebuah kelancangan Abraham kepada Allah melalui pernyataannya “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. “ Akan tetapi, Allah menjawab doa Abraham sekali pun bukan dengan cara yang diharapkan Abraham. Allah tidak menghukum orang-orang benar turut dihukum bersama dengan orang jahat, dalam hal ini Allah menyelamatkan Lot dan anak-anak perempuannya. Demikianlah Allah menyelematkan yang benar, dan membinasakan yang jahat. Dalam hal inilah keadilan Allah sang Hakim Maha Adil dinyatakan dalam kasus kota Sodom ini. Selain keberanian Abraham dalam memperjuangkan keadilan bagi orang-orang benar di kota Sodom dalam doa syafaatnya.

Tantangan bagi orang-orang percaya saat ini adalah dapatkah orang-orang percaya memainkan perannya seperti apa yang dilakukan oleh seorang Yap Thiam Hien atau Abraham. Orang-orang percaya dituntut keberaniannya untuk menjadi pemrakarsa keadilan ditengah-tengah masyarakat. Minimal keadilan di lingkungan kita terdekat.  (ITW)

Refleksi:
Allah Maha Adil mendorong Orang Percaya Berlaku Adil

BELAJAR DARI PETRUS DAN YOHANES

“ Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa
keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal
keduanya sebagai pengikut Yesus.”
(Kisah 4 : 13)

Ada yang menyatakan bahwa agama merupakan lembaga yang dibangun berdasarkan pada seperangkat nilai ideal, dan prinsip yang diyakini berdasarkan dari Tuhan atau sesuatu yang transenden. Agama menawarkan arah hidup dan kondisi yang sangat ideal bagi pemeluknya, misalnya hidup penuh rahmat Allah, dekat dengan Tuhan bebas dari masalah menyiksa kehidupan dll. Akan tetapi dalam kehidupan manusia justru sulit sekali mewujudkan hal-hal yang ideal tersebut, akhirnya manusia terjebak pada rasa frustasi, merasa selalu berdosa dan tak berdaya. Akhirnya orang-orang di level grassroot sampai beberapa oknum pemuka agama bertindak menggunakan ajaran dan prinsip moral agamis untuk membenarkan hal-hal bejat yang dilakukannya, misalnya kekerasan atas nama agama, ‘main hakim sendiri’ dengan menggunakan ayat-ayat suci dll. Mereka bertindak dibalik jubah kesucian dan kefasihan mengutip ayat-ayat suci, namun penuh cela di hati dan kehidupannya sehari-hari.

Kondisi di atas bukan hanya cerminan kehidupan kita sekarang. Kondisi serupa pun terjadi 2000 tahun yang lalu, mana kala Petrus, Yohanes beserta murid-murid Kristus lainnya menerima kepenuhan Roh yang mendatangkan hikmat, dan keberanian untuk memberitakan kebenaran Allah (ay 8). Mereka dengan penuh keberanian menawarkan nilai-nilai baru yang sebenarnya juga merupakan penggenapan apa yang menjadi harapan Yudaiseme selama ini yaitu sang Juruselamat melalui kebangkitan Kristus (ay 12). Rahmat Tuhan diwujudkan melalui fenomena karunia kesembuhan dan hikmat pengajaran yang begitu luar biasa yang dilakukan para Rasul itulah yang mengguncangkan orang-orang saat itu, disebutkan kira-kira lima
ribu orang laki-laki menjadi percaya (ay 4). Perubahan spiritual yang radikal di kalangan grassroot orang-orang Yahudi saat itu membuat kalangan pemuka agama kelangkabut (frustasi), dan dengan memakai otoritas keagamaan yang dimilikinya mereka menghakimi Petrus dan Yohanes.

Kondisi orang-orang yang menjadi percaya saat itu mengalami lawatan dan
hadirat Tuhan, frustasi dan ketidakberdayaan lepas. Beranikah kita seperti Petrus dan Yohanes menghadirkan Rahmat Allah di tengah-tengah kehidupan manusia, membela yang lemah, menegakan keadilan, menyembuhkan yang sakit dan berbagai tindakan lainnya melalui karunia yang diperoleh dari bangku kuliah dan talenta yang diberikan Allah bagi kita untuk dilakukan bagi sesama? (ITW)

Refleksi:
Roh Kudus memberi Keberanian untuk menghadirkan Rahmat Allah

KEBERANIAN ESTER MENGAMBIL RISIKO

“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan
berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya,
baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa
demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan
dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati. “
(Ester 4 : 16)

Keberanian merupakan salah satu karakter keutamaan (virtue) yang dikembangkan oleh bangsa Yunani jauh 2400 tahun yang lalu. Keberanian menurut para filsuf klasik Yunani merupakan jalan tengah antara sikap gegabah dengan sikap pengecut. Terlalu berani atau lebih tepatnya dikatakan sebagai sikap yang sembrono atau gegabah, dinilai bukanlah sikap berani. Sikapnya yang terlalu berani mendatangkan kerugian bukan saja untuk dirinya sendiri, tetapi sikap sembrono ini juga dapat merugikan orang lain. Jadi seseorang dikatakan berani adalah seorang yang memiliki sikap jalan tengah antara gegabah dan pengecut tersebut, sikap jalan tengah ini muncul dari daya nalar yang dimiliki seseorang yang sanggup memperhitungkan untung dan rugi suatu tindakan bila dikerjakan.

Dalam pembacaan kita pada hari ini kita melihat tindakan berani yang dilakukan Ester (ay 16) bagi bangsanya, dengan meminta semua orang Yahudi berpuasa untuk Ester yang akan menghadap raja dengan risiko ia mati, karena tindakannya merupakan sebuah tindakan yang berlawanan dengan undang-undang yaitu raja berkenan menemui seseorang jika raja sendiri ingin bertemu dengan orang tersebut (Sekalipun Ester sendiri adalah seorang Permaisuri Raja). Keberanian Ester mengambil risiko dalam kasus ini bukan semata-mata hasil untung rugi dari nalarnya, dan sikap keberaniannya ini pun bukan sebuah sikap pasrah menerima takdir yang buta, namun sikap keberaniannya ini merupakan sebuah refleksi dari keyakinannya terhadap kehendak dan kebijaksanaan Allah seperti halnya dalam Daniel 3:17,18..

Melalui pembacaan di atas ternyata keberania tersebut bukan asal berani secara sembrono, tetapi (1) keberanian dihasilkan dari perhitungan yang matang melalui nalar, (2) keberanian juga merupakan refleksi dari keyakinan atas kehendak dan kebijaksanaan Allah dinyatakan dalam kehidupannya. Jelaslah bahwa keberanian adalah wujud pertimbangan nalar dan refleksi iman kita. (ITW)

Refleksi:
Keberanian = Perhitungan Rasional yang matang + Refleksi Iman