EMPAT SEKAWAN PEMBERANI

Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami , maka Ia akan
melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu,
ya raja;
(Daniel 3 : 17)

Pengaruh paham Individualisme telah mengakar kuat dalam dunia ini dewasa ini. Individualisme sangat menghargai individu dalam hal kebebasan dalam menyampaikan ide, berekspresi, hingga meyakini sesuatu termasuk beragama. Dengan demikian hal yang terkait dengan kondisi spiritualitas sering dipandang sebagai sesuatu yang tertutup dan masuk dalam ranah pribadi. Seseorang akan merasa sungkan menanyakan tentang kondisi kerohanian temannya, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang melampaui urusan pribadi. Padahal kenyataannya jiwa kita merindukan seseorang sahabat yang intim dalam membangun rohani masingmasing pribadi dalam sebuah komunitas.

Seperti halnya dicontohkan oleh keempat anak muda bersahabat bangsa Yehuda yang ikut dalam pembuangan yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya yang secara identitas ‘dipaksa’ diganti dengan identitas (nama) baru sebagai warga negara Babel. Akan tetapi, kondisi ini tidak memengaruhi kondisi kerohanian keempat sahabat ini, mereka berketetapan untuk tetap setia kepada Allah yang esa dan benar. Mereka berempat juga tidak lagi memiliki orang tua untuk membimbing diri mereka dalam mengambil keputusan, namun kasih kepada Allah dan hukum-Nya begitu tertanam dalam diri mereka sejak anak-anak. Selain itu juga sebagai komunitas mereka saling menjaga dan mengingatkan untuk tetap ada dalam jalur, bahwa mereka harus tetap beribadah kepada Allah. Dalam konteks bacaan kita, iman Hananya (Sadrakh), Misael (Mesakh) dan Azarya (Abednego) diuji apakah masih setiap menyembah Allah atau mengikuti sesembahan warga Babel. Teruji persahabatan mereka menimbulkan keberanian untuk tetap setia kepada Allah dan berketetapan tidak menyembah patung yang harus disembah berdasarkan ketetapan raja. Pernyataan iman mereka seperti yang dinyatakan dalam ayat 17 di atas.

Dengan demikian, kita memerlukan sahabat rohani yang senantiasa mengingatkan kita untuk selalu taat dan setia kepada Allah terlebih dalam menghadapi tantangan baru yang dihadapi saat ini, seperti tawaran karir yang tinggi asal mau menukar iman kita. Akan ada banyak tantangan setelah kita menjadi alumni UK Maranatha, kehadiran sahabat rohani diperlukan agar kita berani menghadapi tantangan tersebut. (ITW)

Refleksi:
Persahabatan Rohani Membangun Keberanian Menghadapi tantangan.

KEBERANIAN KARENA MILIKI PENGHARAPAN

Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak
dengan penuh keberanian
(2 Korintus 3:12)

Keberanian merupakan sebuah nilai keutamaan yang dikembangkan oleh Filsuf Aristoteles. Aristoteles mengatakan bahwa, ”The conquering of fear is the beginning of wisdom.” Kemampuan mengatasi rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan. Dalam hal ini seseorang yang mempunyai keberanian akan sanggup bertindak bijaksana tanpa dibayangi oleh ketakutan-ketakutan yang terus menghantuinya. Orang-orang yang memiliki keberanian akan sanggup menghidupkan harapan-harapan dalan kehidupannya dan sekaligus orang tersebut mampu memengaruhi secara positif kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Akan tetapi Rasul Paulus yang menulis kepada jemaat di Korintus dalam pembacaan di atas, menyatakankan bahwa kehidupan Kristen memiliki pengharapan kepada Allah dan selanjutnya pengharapan tersebut menghasilkan keberanian. Dengan penuh keberanian dalam bahasa Yunani parresia yang digambarkan sebagai keberanian untuk berbicara. Keberanian berbicara ini merupakan ciri khas orang Kristen mula-mula (bdg Kis 2:29) ketika orang tersebut menyatakan kesaksiannya kepada orang-orang Yahudi maupun non Yahudi (seperti halnya dilakukan oleh Paulus). Dengan demikian kunci keberanian yang dimiliki orang kristen mula-mula adalah pengharapan yang kuat di dalam Kristus yang telah memberikan jaminan akan kehidupan yang baru di dalam dirinya, yang selanjutnya mendorong seseorang tersebut untuk berani mengambil tanggung jawab kepada Allah dan sesamanya.

Dapat disimpulkan bahwa antara pengharapan dan keberanian memiliki hubungan timbal balik. Tinggal bagaimana dengan kita? Sekali lagi pengharapan yang kuat di dalam Kristus adalah kunci kita memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan bertindak bijaksana. Pengharapan membawa kita kepada keberanian untuk menjadi sahabat dalam menyuarakan keadilan, membela yang tertindas, berpihak kepada yang lemah dan berani berkata jujur. Tinggal kita yang telah memiliki pengharapan di dalam Kristus, beranikah kita semua mengambil tanggung jawab kepada Allah dan sesama kita? (ITW)

Refleksi: Pengharapan di dalam Kristus membawa keberanian untuk bertindak bijaksana dan membawa dampak positif bagi teman-teman sekitar.

FROM ZERO TO HERO

“Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa,
tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead. Juga istri Gilead
melahirkan anak-anak lelaki baginya. Setelah besar anak-anak istrinya ini maka
mereka mengusir Yefta, katanya kepadanya: ”Engkau tidak mendapat milik pusaka
dalam keluarga kami, sebab engkau anak dari perempuan lain.”Maka larilah
Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; disana berkumpullah
kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan
dia.
(Hakim-hakim 11:1-3)

Penolakan memang sering kali berakibat fatal, terutama penolakan dari orangorang terdekat. Betapa banyak orang yang hancur hidupnya karena mengalami penolakan dari keluarganya dan orang-orang disekitarnya. Berbeda dengan Yefta, masa lalu Yefta memang kelam, ia bahkan menjadi memimpin perampok. Namun, hidupnya diubah menjadi luar biasa. Allah sungguh dahsyat karena mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan. Dia mengubah kesialan menjadi keberuntungan. Yefta menjadi hakim Israel, ia menjadi pemimpin umat Allah. Yefta menjadi pemimpin yang perkasa, bahkan namanya dicatat dan dikenang hingga hari
ini.

Apa yang mengubah Yefta from zero to hero? Apa yang membuat seorang perampok yang kejam, sampah masyarakat, menjadi orang yang sungguh-sungguh dipakai oleh Allah menjadi pemimpin bangsa Israel? Kunci yang dapat kita pelajari dari Yefta, (1) Yefta mau memulai kehidupan yang baru. Ia tidak mau terikat kepada kehidupan yang lalu. Ia bertekad mengubah hidupnya dan memulai sesuatu yang baru. (2) Yefta meminta pertolongan Tuhan, Hakim 11:11b,”…Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan Tuhan, di Mizpa.” Yefta menyadari keterbatasan dan kelemahannya. Ia tidak lagi mengandalkan dirinya sendiri. Ia melibatkan Allah dan datang kepada Allah dalam doa. (3) Yefta mengatasi permasalahan dengan tekun. Dalam kehidupan kita kadang-kadang masalah demi masalah datang silih berganti. Satu masalah belum selesai, masalah kedua sudah datang. Kita harus maju dengan keuletan dan ketekunan, walaupun banyak tantangan dan kesulitan. Jika saat ini kita merasa kita adalah orang yang biasa-biasa saja, bahkan sering gagal, jangan khawatir. Allah yang dahsyat sanggup mengubah kita.(LTT)

Refleksi:
Allah kita sanggup mengubah kegagalan menjadi keberhasilan, kesialan menjadi keberuntungan asal kita melibatkan Tuhan dalam segenap sisi kehidupan kita.

BERBAHAGIA DI TENGAH UJIAN

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh
ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap
imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh
buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan
suatu apapun.”
(Yakobus 1:2-4)

Mungkin kita akan bertanya-tanya, bagaimana kita bisa berbahagia bila usaha atau bisnis kita macet, anak kita atau kita sendiri sakit keras, atau ada orang memfitnah kita hingga membuat usaha kita bangkrut. Rasanya sangat sulit, bahkan tidak mungkin kita tetap berbahagia ketika pencobaan datang menerpa. Kita bisa belajar dari Rasul Yakobus, ia memberikan beberapa kunci untuk mengubah pencobaan yang kita alami menjadi kemenangan.

Kunci pertama, sikap yang optimis. Orang yang optimis melihat kesempatan didalam kesempitan. Ingat kisah Kaleb dan Yosua. Mereka adalah orang yang optimis, mereka berkata bahwa musuh mereka memang besar, tetapi Allah yang bersama mereka jauh lebih besar daripada musuh mereka. Dengan Allah bersama mereka, pasti bisa mengalahkan musuh. Mereka melihat bahwa kesempitan manusia merupakan kesempatan bagi Allah untuk menyatakan kuasa-Nya. Karena itu, memiliki sikap optimis dalam Tuhan sangat penting, terutama ditengah zaman yang semakin tak menentu itu.

Kunci kedua, Pikiran yang mengerti. Kita harus mengerti bahwa kesulitan yang datang adalah proses untuk mendewasakan kita.

Kunci ketiga, Hati yang percaya. Mazmur 23:4,”sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat- Mu, itulah yang menghibur aku.” Ketakutan ini akan membuat kita tercekik dan tidak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, janganlah khawatir ditengah kesulitan. Yakinlah bahwa Allah beserta kita. Saat ini, jika kita mengalami tantangan dan kesulitan, milikilah tiga hal di atas dan kita akan melihat bahwa rencana Tuhan indah pada waktunya.(LTT)

Refleksi:
Jika Allah di pihak kita, kita dapat mengatasi setiap masalah, karena Dia lebih besar dari segala pencobaan yang kita hadapi.

KEKUATAN DALAM KESESAKAN

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya,
sebab Ia yang memelihara kamu.”
(1 Petrus 5:7)

Saat ini banyak tantangan yang kita alami dalam kehidupan. Masalah ekonomi, politik, bencana alam, atau penyakit, bahkan penindasan terhadap orangorang beriman. Kita harus percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita sampai kesudahan alam. Lalu, bagaimana supaya kita mendapat kekuatan untuk menghadapi semua tantangan hidup yang menyesakkan dan menakutkan tersebut?

Hal-hal yang bisa mendatangkan kekuatan bagi kita, adalah: (1) Pengucapan syukur. Taktik yang digunakan iblis untuk melemahkan kita adalah dengan memberikan penderitaan. Ingat Ayub yang diberkati Tuhan secara luar biasa tiba-tiba mengalami penderitaan yang begitu dahsyat. Iblis tidak dapat mengalahkan Ayub. Senjata yang digunakan Ayub untuk mengalahkan iblis adalah mengucap syukur. Ayub 1:21,“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya, TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” (2) Ingat akan janji Allah, di tengah kesulitan dan masalah, peganglah janji Allah bahwa Dia akan memberikan pahala kepada orang-orang yang tetap setia beribadah kepada Allah. Selalu ada pengharapan bagi orang-orang benar. Jika saat ini Anda mengalami kesulitan atau penderitaan, anda tidak perlu merasa tertekan dan depresi. Percayalah bahwa Allah akan menolong,”Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7); (3) Kekuatan dalam doa, beberapa waktu yang lalu ada berita tentang pengeboman sebuah gereja di Pangandaran. Namun jemaat disana percaya akan perlindungan Tuhan dan mereka berdoa bersama. Pangandaran yang menjadi target pengeboman tidak jadi meledak karena bom itu telah meledak terlebih dahulu di perjalanan. Allah berkuasa melindungi gerejaNya lewat iman dan doa-doa yang mereka naikkan. Saat kesulitan dan kesesakan menghadang, bahkan datang bertubi-tubi dalam hidup kita, ingatlah ada kekuatan dalam ucapan syukur, dalam janji Allah, dan dalam doa. (LTT)

Refleksi: Janganlah takut! Dalam Kristus kita akan mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan untuk melewati setiap masalah dalam kehidupan.

JANGAN TAKUT!

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan
roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
(II Timotius 1:7)

Melihat situasi dan kondisi yang terjadi sekarang ini, banyak orang mengalami berbagai ketakutan: takut mengalami kegagalan, takut tidak mampu membiayai anak-anak sekolah, takut setelah lulus sekolah/kuliah tidak memiliki pekerjaan, takut tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, takut menghadapi hari esok, dan banyak hal lain yang ditakutkan oleh sebagian besar orang.

Ketakutan adalah tanggapan emosi terhadap suatu ancaman, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Dari sudut psikologi, ketakutan adalah wajar. Ketakutan adalah salah satu emosi dasar manusia selain kebahagiaan, kesedihan, dan kemarahan. Namun ketakutan akan menjadi suatu masalah yang besar bila dibiarkan berlarutlarut atau berkepanjangan, karena ketika kita terus dikuasai olehnya, sukacita dan damai sejahtera kita akan dirampas.

Firman Tuhan di dalam II Timotius 1:7 mengatakan bahwa Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Artinya rasa takut bukanlah dari Tuhan. Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita hidup dalam ketakutan. Sekalipun berada di tengah dunia yang penuh tantangan ini, tidak ada alasan untuk takut. 1 Yohanes 4:4b mengatakan, “sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.” Ibrani 13:5b, mengatakan: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Yesaya 41:10, mengatakan, “ janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Di segala keadaan, bahkan dalam situasi terburuk sekalipun, yakinlah kita tidak bergumul sendiri. Tuhan selalu beserta kita dan penyertaan-Nya itu sungguh sempurna. Agar tidak takut, kita senantiasadekat dengan Tuhan. “Sebab hanya dekat Allah saja aku tenang.” (Mazmur 62:2). Hanya Tuhanlah yang sanggup memberikan ketentraman dan rasa aman bagi kita. (LTT)

Refleksi:
Janganlah takut, sebab janji penyertaan Tuhan adalah ya dan amin, dan Tuhanlah yang sanggup memberikan kita ketentraman dan rasa aman.

SEPERJALANAN BERSAMA (Bagian 2)

“Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung
bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan
mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka
sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati
mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.”
(Lukas 24:13-15)

Melanjutkan renungan sebelumnya, mulai ayat 29, terlihat respons kedua murid yang mengundang orang asing (dibaca: Yesus) untuk tinggal bersama dengan mereka, adalah luar biasa dan sangat tepat. Bagi kebanyakan orang mengundang orang asing untuk tinggal di rumah karena hari sudah gelap, itu hal yang biasa. Makna sosialitas yang dihayati oleh kebanyakan masyarakat. Apalagi, di dalam perjalanan itu, orang asing sudah menjelaskan kepada mereka tentang isi Kitab Suci dari Kitab-kitab Musa hingga kitab-kitab para nabi. Namun disatu sisi, jika ditelaah lebih pada ekonomis, boleh jadi undangan kepada orang asing ini, dilihat sebagai upah. Apalagi undangan itu sangat mendesak, dirasa dua murid sebagai utang budi atau utang ilmu Kitab Suci.

Selanjutnya, jika kita melihat dari konsep ‘orang asing’ (dibaca: Yesus), undangan dua murid itu memberikan kesempatan atau waktu kepada Yesus untuk membuka misteri Allah bagi kedua murid untuk mengambil sikap percaya akan Allah dalam diri-Nya. Maksud undangan inilah yang benar dan sungguh terjadi. Bahwa misteri Allah tentang kebangkitan Yesus itu terungkap. Sehingga kedua murid itu merasa menyesal, malu, ‘bodoh’ karena Yesus dibilang mereka orang asing. Sikap mereka selanjutnya mengambil keputusan untuk percaya akan kebangkitan Yesus. Ada pertobatan dari dua murid tersebut.

Jika pada renungan sebelumnya terlihat Allah berinisiatif, maka kita sebagai manusia pun perlu mengundang-Nya. Tidak perlu gengsi, jika kita merasa membutuhkan Tuhan, dapatlah menggunakan istilah kedua murid ini “mendesak.” “Desaklah” Tuhan untuk menghampiri kita. Demikian pula dengan kehidupan sehari-hari. Kadang rasa kesepian itu hadir bukan karena tidak ada orang yang dapat membantu, tetapi karena kita yang menutup diri dari bantuan sahabat kita. Terbukalah pada sahabatmu, jangan malu. Sebab sesungguhnya sahabatmu siap menolongmu. (AL)

Refleksi: Jangan merasa kesepian, sebab selalu ada sahabat yang siap menolongmu.

SEPERJALANAN BERSAMA (Bagian 1)

“Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung
bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan
mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka
sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati
mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.”
(Lukas 24:13-15)]

Pada saat yang sama dengan kebangkitan Tuhan, Dua orang murid ini pun keluar dari rumah tempat tinggal mereka, tetapi bukan bersama murid yang lain ke kubur Yesus namun keduanya ini justru pergi ke Emaus. Jiwa dua murid ini, pun ‘panas’, ‘menggelora’, ‘emosional’ sehingga sangat mempengaruhi perjalanan hidup dan segala keputusan yang mereka ambil. Dalam sejarah Yahudi, Emaus adalah salah satu kota jajahan Romawi.

Lalu pada ayat 14, perhatikan kalimat: ‘bercakap-cakap’. Bercakap-cakap berarti berbicara tanpa putus. Isi percakapan mereka ialah tentang situasi yang sedang terjadi pada diri Yesus. Juga kedua murid itu pun membicarakan situasi apa yang terjadi dan akan terjadi, jika Yesus sudah tidak ada lagi di antara mereka (dibaca: para rasul dan para murid). Sangat boleh jadi bahwa mereka melihat situasi para rasul dan murid yang lain, bahwa belum siap kepergian Yesus.

Sepanjang perjalanan kedua murid yang sedang bercakap-cakap tentang situasi yang terjadi pada Yesus dan situasi yang sedang dan akan mereka alami itu, seseorang (dibaca: Yesus) datang kepada mereka. Inisiatif datang kepada dua murid dalam perjalanan ini adalah seseorang tersebut. Tanpa dua murid ini mengundangnya, Dia datang dan mau mengetahui apa yang sedang dua murid itu perbincangkan. Seseorang itu kemudian jalan bersama mereka. Dua murid sedang bercakap-cakap artinya mereka sedang berdiskusi, tukar pikiran apa yang mereka pahami tentang kematian Yesus dan kebangkitan-Nya.

Banyak hal dalam hidup ini yang tak terpahami terjadi dalam kehidupan manusia. Jangan kuatir Allah-lah yang berinisiatif mengadakan perjumpaan dengan manusia, karena Ia menganggap kita sebagai sahabat-Nya. Demikian juga dengan kita dan sesama. Ada banyak rekan yang sedang mengalami kegalauan. Janganlah menunggu mereka meminta bantuan. Berinisiatiflah dan hampiri mereka.(AL)

Refleksi:
Sahabat yang baik adalah sahabat yang berinisiatif hadir bagi sesamanya.

MENOLONG SESAMA MELIHAT KEKEKALAN

“Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang
kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu,
berjalanlah !””
(Kisah Para Rasul 3:6)

Kisah Para Rasul merupakan kitab yang menunjukkan bahwa sejarah gerejamula-mula benar-benar terjadi tepat seperti yang Yesus firmankan sebelum Dia terangkat ke sorga: “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, … sampai ke ujung dunia” (Kis. 1:8). Jadi, semua tindakan para rasul dan jemaat waktu itu adalah dalam rangka menjadi saksi Kristus, baik melalui tindakan mujizat maupun tindakan yang tampaknya biasa-biasa saja. Seperti tindakan Rasul Petrus.

Rasul Petrus pasti tidak berbohong ketika ia mengaku tidak membawa uang, dan jelas bahwa uang bukan satu-satunya kebutuhan pengemis lumpuh itu. Yang luar biasa dalam kisah ini bukanlah pada fakta bahwa Petrus memiliki karunia mukjizat, melainkan pada fakta bahwa Petrus memberikan apa yang ia miliki pada saat itu untuk menjamah hidup orang lumpuh tersebut. Tuhan memakai sentuhan Petrus yang disertai iman untuk mendemonstrasikan kuasa-Nya. Orang banyak heran dan takjub (ayat 8-11), dan kesempatan berita kekekalanpun menjadi nyata (ayat 12-26).

Setiap hari kita berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki beragam kebutuhan. Sebagai anak-anak Tuhan, apa yang dapat kita lakukan? Mari memohon hikmat dan kreativitas untuk membagikan apa yang kita punyai sesuai kebutuhan spesifik orangorang yang kita jumpai. Apapun perbuatan atau pemberian kita (uang, nasi bungkus, baju layak pakai, pembezukan, mobil jemputan, telinga yang mendengar, kata-kata yang menghibur, sentuhan kasih, keterampilan medis, dll.), haruslah dilakukan dalam rangka menolong orang lain menjawab kebutuhan dan melihat kekekalan. (AL)

Refleksi:
Bantulah orang lain melihat kekekalan.

APA ITU KEKEKALAN?

“dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada
mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam
sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu
dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di
depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat.”
(Lukas 10:9-11)

Kekekalan tidak dapat dipisahkan keselamatan. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, keselamatan ditulis dalam kata “Soteria” yang memiliki beberapa pengertian :
1. Keselamatan dari macam-macam bahaya atau tekanan, atau kesulitan  (Kis.7:25, Kis.27:31, Ibr.11:7)
2. Keselamatan dalam arti medis atau kesehatan (Mark. 5:34, Yak. 5:15, Mark.2:17).
3. Namun di atas semuanya kata keselamatan (Ibr. ‘Yasha’, Yunani ‘soteria’) paling sering digunakan untuk pembebasan atau penjagaan dari seluruh bahaya-bahaya rohanian atau berkat-berkat rohani. (
II Kor.7:10, I Tes. 5:9, Ibr. 5:9, Kis. 4:12, Luk.19:10, Ef. 2:8, Kis. 16:30)

Dari pengertian diatas terlihat bahwa keselamatan dalam perspektif perjanjian baru bukan sekadar keselamatan dalam pengertian ke-akan-an (future) tetapi keselamatan juga dalam perspektif ke-kini-an (present). Terlalu menekankan aspek masa depan memiliki bahaya tersendiri membuat orang lupa bahwa hidup setiap hari harus terus berjalan. Keseimbangan melihat keselamatan akan membantu agar memiliki kehidupan yang berkualitas dan humanis dimasa kini.

Jadi, apa itu kekekalan? Jika melihat korelasinya dengan definisi diatas, kekekalan dalam perspektif iman Kristiani adalah kehadiran kerajaan Allah yang ultimate dalam kehidupan keseharian. Kemampuan menghadirkan kuasa yang mencelikkan dan membebaskan, orang-orang tertawan dan terbelenggu. Menyatakan supremasi Injil yang membebaskan kehidupan manusia dari tekanan, kesulitan, keterbelakangan, dan kesakitan sehingga mampu menerima berkat-berkat rohani yang bersama dengan itu. (AL)

Refleksi:
Sudah saatnya Kekristenan tidak saja melihat konsep kekekalan, keselamatan, dan kerajaan Allah secara holistik agar menjadi pribadi yang siap menjadi sesama bagi sesamanya.