TINGGAL SEBENTAR LAGI

“Ah Tuhan, ingatlah kiranya bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.” Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat.” (2 Raja-Raja 20:3)

Ada pertanyaan: apa yang kita lakukan jika mengetahui umur kita tinggal sebentar lagi? Umumnya kita akan lebih banyak berbuat baik, lebih rajin ke gereja, berdoa, membaca Alkitab, mungkin bersenang-senang selagi masih ada waktu. Atau kita justru bersikap masa bodoh dan tidak memedulikan apa yang akan terjadi. Karena merasa masih hidup sampai hari ini dan tidak memikirkan yang terjadi kemudian.

Berbeda dengan artis Angelina Jolie, yang pernah diberitakan di media beberapa waktu lalu, ketika ia tahu umurnya sebentar lagi karena potensi penyakit kanker dalam dirinya. Dia membuang sejumlah bagian tubuhnya agar terhindar dari penyebaran kanker dan menyusun daftar keinginan pribadi (Sampai saat ini Angelina Jolie masih diberi kesehatan dan tetap berkarya).

Alkitab juga mencatat reaksi yang berbeda-beda ketika orang menghadapi kematian. Dari kitab ini kita membaca adanya reaksi dari dua orang yang sedang sekarat, Ahazia dan Hizkia. Ahazia memilih untuk menanyakan nasibnya pada dewa Baal-Zebub (2 Raja 1), sedangkan Hizkia memutuskan untuk memohon belas kasihan Tuhan (2 Raja-raja 20). Ahazia akhirnya mati sebelum memiliki keturunan (2 Raja-raja 1:17) dan Hizkia ditambahkan usianya. Ia menggunakan masa hidup tambahan itu untuk berkarya bagi kerajaan-Nya (2 Raja-Raja 20:20).

Banyak orang akan mempunyai reaksi yang berbeda ketika mengetahui masa hidupnya tinggal sebentar lagi. Ada yang panik dan ada yang terdorong memanfaatkan kesempatan yang masih ada untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan diri sendiri. Ada juga yang meratapi nasib dan mengeluh, bahkan ada yang marah terhadap sang Pencipta. Kemarahan tersebut dapat membuat jarak dengan Sang Pencipta. Namun, kita memiliki pilihan yang lain, yaitu menggunakan setiap waktu yang ada untuk mengenal Dia, mendekatkan diri padaNya, serta menjadi berkat bagi sesama. Dengan demikian tidak ada lagi jarak antara kita dengan sang pencipta. Bukan hanya karena waktu kita tinggal sebentar lagi sehingga buat kita jadi rohani tetapi kerena memang kita ingin mengenalNya lebih dekat lagi. Jadi, apa yang perlu di takuti bila waktu kita tinggal sebentar lagi? (CSB)

Refleksi:
Dalam persekutuan dengan Allah, tidak lagi jarak antara kita dan Allah serta tidak ada lagi ketakutan akan kematian.

BERHIKMAT

Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas yang mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian. Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.
(Ayub 32:8-9)

Ada pendapat sebagian orang tua yang mengatakan bahwa butuh waktu lama bagi mereka (para orang tua) untuk memahami anak-anak mereka yang sudah mulai tumbuh dewasa. Waktu anak-anak masih kecil, mereka selalu menuruti apa yang dikatakan orang tua. Kini, sepertinya orang tua yang harus mulai belajar untuk menerima penolakan karena anak-anak sudah dapat berdiskusi dan mempertahankan pendapat mereka. Bahkan pada beberapa kesempatan, anakanak juga dapat menegur orangtuanya jika mereka melakukan kesalahan menurut pandangan anak-anaknya.

Apa yang dilakukan anak-anak tersebut tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan Elihu dalam kitab Ayub. Elihu tidak bisa menerima ketika Ayub menganggap dirinya lebih benar dari Allah dan ketiga sahabatnya yang selalu mempersalahkan Ayub. Sebagai orang yang jauh lebih muda, semula Elihu enggan mengemukakan pendapatnya karena merasa malu dan takut. Namun, roh di dalam manusia dan nafas Yang Maha Kuasa memberi Elihu pengertian (ayat 8,9) sehingga ia menegur Ayub dan ketiga sahabatnya. Hasilnya, mereka menundukkan diri dan bertobat. Tuhan memulihkan kembali Ayub dan ketiga sahabatnya.

Seringkali ada anggapan antara generasi tua dan generasi muda ada jurang pemisah. Orang tua tidak mengerti apa yang dirasakan anak muda. Tetapi di sisi lain menjadi orang yang berusia lanjut kerap dirujuk sebagai teladan dan panutan generasi muda. Anak-anak muda sebagai generasi penerus memerlukan sosok orang tua yang mengerti, menyelami dunia dan pergulatan mereka pada zaman ini. Dengan demikian, para orang tua perlu membuka diri bahwa dari anak-anak muda pun Tuhan dapat mengajarkan banyak hal. Sebab, hikmat Tuhanlah yang menentukan kematangan kita. Tidak ada lagi jurang pemisah karena hikmat Tuhan. (CSB)

Refleksi:
Makin bertambah usia, hendaknya tetap terbuka terhadap hikmat Tuhan melalui siapapun.

KEMBALI (YANG DAHULU DAN YANG SEKARANG)

“Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku disini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa”
(Lukas 15:17-18)

Dengan kemajuan teknologi media sosial, kita dapat menemukan kawan yang sudah lama tidak berjumpa. Ada sebuah cerita, seorang kawan menghubungi kawan lainnya melalui media sosial. Setelah bernostalgia dan menanyakan kabar, mereka bertukar informasi tentang kondisi terkini. Alangkah terkejutnya kawan yang satu ketika mengetahui kawannya tersebut, sudah lama jauh dari Tuhan dan tidak aktif lagi dalam pelayanan. Padahal dulu keduanya sama-sama aktif dalam pelayanan baik di gereja maupun di sekolah. Dulu temannya itu adalah orang yang termasuk paling semangat jika melaksanakan hal-hal yang rohani. Sepanjang pembicaraan, teman tersebut menceritakan keadaaannya sekarang serta membandingkan dengan keadaan dulu.

Mendengar kisah dari dua orang sahabat tersebut, kita dapat membandingkan dengan kisah anak yang hilang. Teman yang jauh dari Tuhan dan si anak yang hilang, sama-sama menyadari keadaan mereka yang jauh dari Tuhan. Akan tetapi anak yang hilang tersebut memutuskan untuk bertindak, ‘Aku akan…’ (ayat.18). Inilah yang membedakan antara anak yang hilang dan teman yang jauh dari Tuhan tersebut. Teman tersebut hanya mengeluh sambil mengenang kesuksesan masa lalunya, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memulihkan dan memperbaiki keadaan. Sementara anak yang hilang memutuskan untuk bertindak. Anak yang hilang mengetahui ada jarak yang dibuat akibat kesalahannya, tapi dia berusaha mendekatkan kembali jarak yang jauh tersebut.

Meskipun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita atau membiarkan kita seorang diri, mungkin saja kita merasa jauh dari Tuhan. Jika begitu yang dapat dilakukan adalah “bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan…” (Wahyu 2:5), bukannya meratapi keadaan sekarang. Meratap tidak akan mengubah apa-apa, tetapi pertobatan menyadarkan kita kembali akan penyertaanNya. Mendekatkan yang jauh dan menjadikannya sebuah keakraban. Seperti bapa dalam perumpamaan Yesus sampaikan, Ia sudah menanti dan siap memeluk kita. (CSB)

Refleksi:
Tidak cukup hanya menyadari keadaan kita, kita perlu melakukan sesuatu untuk mengubahnya.

TIDAKKAH KAU MENGENAL AKU? (TUHAN ALLAHMU)

“Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.”” (Yohanes 14:9)

Beberapa orang tua yang menyekolahkan anaknya keluar kota atau bahkan ada yang keluar negeri pasti merasa “kehilangan anak tersebut”. Karena anak yang sehari-hari bersama-sama, yang dilihat setiap hari menjadi tidak bersama-sama lagi. Mungkin komunikasi yang dilakukan setiap hari melalui telepon atau media komunikasi lainnya, tetapi keberadaan anak yang menjadi jauh membuat seperti ada sesuatu yang hilang. Orang tua yang menyekolahkan anaknya keluar kota atau keluar negeri tidak tahu persis bagaimana kehidupan si anak disana: bagaimana kondisi sekolahnya, tempat tinggalnya, lingkungannya, siapa teman mainnya, bahkan yang paling penting bagaimana persekutuannya dengan Tuhan. Setiap liburan sekolah sang anak mungkin dapat pulang, namun kehidupannya di tempat yang lain itu tetaplah “rahasia” bagi orang tua.

Dari perenungan kitab Yohanes diceritakan tentang Filipus yang sehari-hari
bergaul dengan Tuhan tetapi yang mengejutkan dia tidak mengenal siapa Tuhan. Mengherankan karena harusnya Filipus dapat secara langsung menanyakan perihal Tuhan yang ia tidak pahami. Seharusnya kebersamaan dengan Yesus membuatnya cerdas dan berhikmat. Tetapi, dari teguran Tuhan kepadanya (ayat 9), tampaknya Filipus belum mengenal siapa Tuhan sesungguhnya. Dan bukan hanya Filipus yang demikian, melainkan Thomas juga. Pertanyaan Thomas pada ayat 5 menunjukkan ketidaktahuannya tentang siapa Tuhan dan apa tujuan-Nya datang ke dunia ini.

Firman ini menjadi refleksi bagi kita: apakah kita sudah betul-betul mengenal Dia Sang Juruselamat kita? Pada “hari terakhir”, Tuhan secara terus terang menyatakan banyak orang yang “tidak pernah dikenal oleh-Nya”, padahal mereka mengaku telah “bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Nya” (Matius 7:23). Apabila kita berpikir: kehilangan segala sesuatu termasuk kehilangan anak memang suatu kerugian besar, maka “kehilangan Dia” jauh lebih besar dan sungguh tidak terbayangkan. (CSB)

Refleksi:
Berusahalah untuk sungguh-sungguh mengenal Allah, sebab tidak semua orang berhasil mendapatkanNya.

MANUSIA DAN DOSA

“…terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari
rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan
dihasilkan bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;”
(Kejadian 3: 17b-18)

Peristiwa Adam dan Hawa jatuh dalam dosa dan terusir dari Taman Eden membuat jarak antara manusia dan Tuhan. Terusirnya manusia dari Taman Eden adalah konsekuensi dari dosa. Selain rusaknya hubungan Allah dan manusia serta antara manusia dan sesamanya, dosa juga merusak hubungan antara manusia dan alam tempat tinggalnya. Bumi menjadi tempat yang terkutuk, bahkan menumbuhkan semak berduri. Bencana alam mewakili betapa tak bersahabatnya bumi terhadap manusia penghuninya. Hal ini menjadi kontras dengan keadaan Taman Eden yang indah dan nyaman.

Manusia berusaha untuk mengeksploitasi bumi dengan cara apapun. Dengan rakus manusia mengeruk isi perut bumi hingga bumi makin rusak dan makin panas. Belum lagi terjadi efek rumah kaca, banjir karena penebangan hutan yang tidak bertanggungjawab, sungai yang penuh sampah, juga pencemaran laut dan bumi oleh limbah zat logam berat. Banjir yang terjadi di beberapa daerah beberapa waktu ini dapat menjadi keadaan yang tidak bisa diprediksi oleh manusia. Manusia tidak menjalankan mandat untuk mengeksplorasi bumi demi kesejahteraan bersama, melainkan telah menjadikannya sasaran eksploitasi keserakahan demi memuaskan hawa nafsu mereka.

Sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus dan menjadi ciptaan baru, ada perubahan yang seharusnya kita lakukan. Dari manusia yang berdosa menjadi manusia baru, dari yang sebelumnya memiliki jarak dengan Tuhan sekarang berubah menjadi intim. Begitu juga yang diharapkan dari hubungan dengan bumi ini. Kita perlu menjaga bumi ini dengan cara-cara sederhana. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, menjaga dan mencintai alam yang sudah diberikan pada manusia. Bumi yang Tuhan ciptakan ini adalah bumi yang patut kita rawat untuk kebutuhan generasi selanjutnya. Jarak yang diciptakan manusia karena dosa diubah menjadi kedekatan untuk menjaga milik-Nya. (CSB)
Refleksi: Keberdosaan manusia membuat ada jarak dengan Tuhan. Mendekatlah kepada Kristus Sang Pencipta.

KEINTIMAN DALAM REALITAS

“Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang
menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.”
(Amsal 14:21)

Dunia Teologi Spiritualis pernah memiliki seorang tokoh modern bernama Henri Jozef Machiel Nouwen yang berkata “Kita tahu bahwa tanpa keheningan, katakata kehilangan makna. Tanpa mendengarkan berbicara tak memulihkan. Tanpa jarak, kedekatan tak dapat menyembuhkan.” Selama lebih dari dua dasawarsa, Nouwen mengajar di beberapa institusi pendidikan yang terkemuka, seperti Universitas Notre Dame, Universitas Yale, dan Universitas Harvard. Suatu hari penulis spiritualitas lain bernama Jean Vanier mengutus seorang ibu untuk mengunjungi Henri dan membantu kehidupan sehari-hari pastor muda ini. Sebelumnya, Henri Nouwen sempat menulis nama Jean Vanier yang dikaguminya di dalam sebuah bukunya walaupun ia belum pernah berjumpa dengan tokoh in.

Ibu itu tinggal di kediaman Henri selama beberapa minggu, mengurusi kebutuhan sehari-hari Henri. Dan Henri terus menunggu, pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Jean Vanier melalui utusannya itu. Namun hingga hari terakhir, tak ada pesan apapun yang disampaikan oleh ibu itu. Rupanya, kehadiran ibu itu sendirilah yang menjadi pesan yang ingin disampaikan oleh Jean Vanier.

Pengalaman tersebut rupanya sangat membekas bagi Nouwen. Singkat cerita, Nouwen kahirnya memutuskan meninggalkan karier akademisnya yang cemerlang dan bergabung dengan komunitas L’Arche Daybeak di Ontario, Kanada. Komunitas yang khusus melayani pria dan perempuan dengan disabilitas intelektual ini sangat memikat hati Nouwen. Dalam persahabatan tersebut, Nouwen menembukan cinta Ilahi yang otentik. Salah satunya adalah persahabatan Nouwen dengan seorang pemuda yang hidup dengan disabilitas intelektual yang paling parah. Adam Arnett namanya.

Dalam artikel yang ditulis oleh Philip Yancey, “The Holy Inefficiendy of Henri
Nouwen,” dimajalah Christianity Today, disebutkan betapa terkesannya Yancey atas karya spiritualitas Nouwen yang mendedikasikan setiap jam dari kehidupannya untuk merawat Adam yaitu “memandikan dan mencukur kumis [Adam], menggosok giginya, menyisir rambutnya, menuntun tangannya ketika ia berusaha menyantap makan pagi. Tindakan-tindakan sederhana yang diulang-ulang itu baginya telah nyaris menjadi seperti sebuah meditasi.” (AL)
Refleksi: Persahabatan intim harus hadir dalam realitas.

KEINTIMAN YANG MEMBEBASKAN

“ …dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. ”
(Matius 28:19b)

Masih seputar pemikiran Leonardo Boff, ia mengemukakan peranan Trinitaris dalam kehidupan Kerajaan Allah. Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah satu. Ketiganya tidak berdiri sendiri-sendiri. Ketiganya saling melengkapi dan memenuhi dalam karya keselamatan. Dalam saling memberi diri tanpa batas, utuh dan tanpa bersyarat. Bapa mengutus Yesus sebagai penebus dan Roh Kudus sebagai roh penguat. Ketiganya pula berbeda dalam wujud tetapi satu tujuan. Persekutuan Orang Percaya mencerminkan kekuatan persekutuan Trinitaris yang saling melengkapi sebagai satu tubuh. Kekuatan Orang Percaya terletak saat ia mengambil nilai-nilai yang ditampilkan oleh konsep Trinitaris. Tampilan ini bersumber dari intisari dari penyelamatan manusia yang melibatkan tiga Pribadi tersebut. Adapun ajaran Trinitaris mempengaruhi keberadaan Gereja dijelaskan sebagai berikut:

• Kehidupan Orang Percaya yang terdiri dari banyak anggota mampu membentuk persekutuan umat Allah. Masing-masing anggota Gereja menjalankan peran dan tugasnya sesuai dengan keperluan seperti kaum klerus dan kaum awam.
• Dalam ajaran Trinitas tidak terlihat perbedaan mencolok antara ketiga Pribadi.Persekutuan yang sempurna, perikhoresis yang sempurna satu di dalam yang lain, satu dari yang lain, satu untuk yang lain. Dalam Gereja, ada banyak perbedaan seperti umat Allah yang terdiri dari berbagai suku, budaya, negara, etnis yang berasal dari seluruh dunia.

Dalam konsep Trinitas, Boff menekankan tentang keterbukaan dalam persekutuan. Dalam persekutuan yang harmonis, semua bagian harus terlibat aktif dalam hubungan sosial dan personal tanpa membeda-bedakan. Keberadaan Gereja diakui apabila ia mampu terbuka pada situasi dan kondisi baik yang terjadi di dalam tubuh Gereja maupun yang terjadi di luar tubuh Gereja. Gereja yang terbuka juga berarti membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus. Setiap umat Allah terbuka pada kelangsungan hidup yang mengutamakan cinta kasih. (AL)
Refleksi:
Belajar dari Trinitas berarti belajar untuk membebaskan sesama

KEINTIMAN DALAM ILHAM SANG TRINITAS

“ …dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. ”
(Matius 28:19b)

Menurut Leonard Boff, pemahaman yang tepat tentang Trinitas tersebut seharusnya menjadi kritik tetapi sekaligus menjadi inspirasi bagi komunitas masyarakat manusia. Baginya, apa yang terjadi dalam komunitas masyarakat manusia secara umum justru menunjukkan kesalahpahaman tentang Trinitas, atau dengan kata lain tidak Trinitarian. Misalnya, status ayah identik dengan orang yang memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang membuat keputusan dalam keluarga. Paternalisme adalah model bagi hubungan keluarga dalam masyarakat luas. Dengan kata lain, bahkan secara gamblang Boff menegaskan bahwa masyarakat cenderung membenarkan setiap bentuk otoritarianisme, paternalisme, tirani, atau individualisme otonom dalam hubungan politik, ekonomi, gerejawi, seksual, dan kekeluargaan. Hal ini berakar pada pemahaman Trinitarian yang monoteistik, yakni pemahaman yang terlalu menonjolkan peran suatu Pribadi saja.

Selain menjalankan fungsi kritis, persekutuan Trinitaris juga merupakan sumber ilham bagi praktek kehidupan masyarakat, khususnya bagi kaum Kristen yang berjuang demi suatu perubahan sosial dalam masyarakat. Dalam konsep Trinitaris setiap Pribadi dari tiga yang berbeda menerima perbedaaan yang lain. Hal ini menggambarkan bahwa sikap menerima yang lain dan memberi diri merupakan gambaran tentang perbedaan dalam persekutuan. Dalam Trinitas tidak ada dominasi satu pihak, tetapi merupakan konvergensi dari ketiganya dalam sikap saling menerima dan memberi. Mereka berbeda namun tak ada yang lebih besar atau lebih kecil, yang dahulu dan kemudian, yang berkuasa dan yang ditindas.

Karena itu, menurut Boff sebuah masyarakat yang diilhami oleh persekutuan Trinitaris tidak pernah mengafirmasi adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakat atau dominasi kelompok sosial tertentu terhadap yang lain. Oleh karena itu, masyarakat yang hidup dalam inspirasi Trinitas akan menjadi masyarakat yang ditandai oleh persaudaraan dan kemitraan. Di sana ada ruang bagi kebebasan dan martabat manusia untuk bertumbuh. Hanya masyarakat yang hidup dalam semangat sebagai saudara dan saudari yang bisa mengklaim diri mereka sebagai gambaran dan cerminan dari persekutuan Trinitas. (AL)
Refleksi:
Keintiman berarti kesetaraan tanpa dominasi

PERIKHORESIS

“ …dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. ”
(Matius 28:19b)

Istilah perikhoresis berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti saling merangkul dan meresapi. Menurut Boff dalam konsep Yunani istilah ini memiliki makna ganda yakni pasif dan aktif. Dalam artian pasif, satu terkandung dalam yang lain, tinggal dan ada dalam yang lain, sebuah situasi yang nyata dan statis. Jika dikenakan dalam arti Trinitas, maka satu Pribadi berada dalam yang lain, dikelilingi dari segala sisi oleh yang lain. Artinya keduanya menempati ruang yang sama saling mengisi dengan kehadiranNya. Dalam artian aktif, yakni saling resap dan saling anyam antara satu Pribadi yang lain dengan Pribadi yang lain atau dalam Pribadi yang lain. Konsep ini hendak mengungkapkan proses hubungan yang hidup dan abadi antar Pribadi- Pribadi Ilahi, di mana satu Pribadi meresapi dan menjiwai Pribadi ilahi yang lain.

Jadi, dalam konsep perikhoresis ini ada suatu dinamika hubungan resiprokal dan saling meresapi di antara Pribadi-Pribadi Ilahi tersebut. Dalam kitab suci ungkapan yang bermakna perikhoresis ini juga sering diwartakan oleh Yesus sendiri. Misalnya, “Aku dan Bapa adalah satu”(bdk. Yoh.10:30), atau “Aku dalam Bapa dan Bapa dalam Aku”( Yoh 14:11; 17-21). Menurut Boff model persekutuan perikhoresis merupakan model yang tepat untuk mengungkapkan wahyu Trinitaris sebagaimana yang
diwartakan dalam injil.

Trinitas menciptakan suatu persekutuan yang terbuka. Seorang pribadi manusia hendaknya tidak berlindung dalam dunia sempit hubungan interpersonal sehingga ia tidak dapat menjalin hubungan dengan yang lain, hubungan sosial dan historis, hubungan transpersonal dan struktural. Menjadi dan berada dalam suatu persekutuan tidak boleh jatuh ke dalam konsep keterasingan personalisme. Kritik ini berkaitan erat dengan kehidupan jemaat. Dalam suatu jemaat hendaknya ada keakraban satu dengan yang lain dan saling menyapa dengan nama dan saling mengisi dalam kehidupan. Jemaat yang terbentuk haruslah jemaat yang terbuka bukan suatu jemaat yang tertutup. (AL)

Refleksi: Keintiman dimulai dengan persahabatan.

INTIM KARENA PERJUMPAAN

“ Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu
dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia.”
(Kisah Para Rasul 11:24)

11 Juni dalam tradisi Gereja Katolik adalah sebuah perayaan menghormati Santo Barnabas. Barnabas berasal dari Siprus, keturunan Yahudi dari suku Lewi. Nama aslinya Yosef tetapi oleh para rasul diganti menjadi Barnabas berarti Putra Penghiburan. Dalam Bahasa Aram bar naḇyā berarti Putra Nabi. Dari makna nama ini, memang sangat melekat dengan personalitasnya. Ia berjumpa dengan Paulus dan membawanya kepada para murid serta menceritakan kisah pertobatan Saulus menjadi Paulus dalam perjalanan ke Damsyik. Ketika Paulus berada di Tarsus, Barnabas menjemputnya dan membawanya ke Antiokhia. Di Antiokhia, Tuhan Allah Roh Kudus sungguh-sungguh bekerja di dalam diri mereka. Pada suatu ketika, sambil berpuasa dan berdoa, Roh Kudus menaungi mereka dan berkata: “Khususkanlah Barnabas dan Paulus bagiKu untuk tugas yang telah kutentukan bagi mereka!” Setelah berpuasa dan berdoa, mereka meletakkan tangan ke atas kedua orang itu dan membiarkan keduanya pergi. Mereka berlayar ke Siprus. Di Antiokhia, untuk pertama kali para pengikut Kristus di sebut Kristiani.

Kisah kehidupan Barnabas sangat inspiratif. Ia memiliki keberanian untuk keluar dari Yerusalem untuk menjadi rasul di Antiokhia. Ia juga berani menjumpai Paulus yang barusan bertobat dan mempertemukannya dengan para rasul. Menjadi pewarta khabar sukacita memang membutuhkan keberanian. Di samping keberanian Barnabas, ia juga menunjukkan semangat rela berkorban bahkan nyawanya pun dikorbankan bagi Yesus. Sikap ini yang patut kita ikuti. Menjadi misionaris yang membawa kasih Allah kepada banyak orang di negeri-negeri lain membutuhkan keberanian dan pengurbanan diri. Allah Roh Kudus sendiri mengatakan: “Khususkanlah Paulus dan Barnabas untuk tugas yang telah kutentukan”. Tugas untuk mengajar, mempertobatkan, menginjili bangsa-bangsa.

Sebagaimana kehidupan Barnabas yang berani keluar dari lingkungannya, demikianlah kita seharusnya keluar dari kenyamanan kita dan bergerak menjadi penghibur bagi orang lain dalam setiap perjumpaan kita dengan sesama. (AL)

Refleksi:
Tuhan yang maha baik, jadikanlah kami penghibur yang berani keluar dari zona nyaman kami dan menjumpai orang lain.