MENCERAIKAN SEORANG SAHABAT

“…seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib….siapa membangkit-bangkit
perkara, menceraikan sahabat yang karib.”
(Amsal 16:28b, 17:9b)

Ada berbagai tingkat persahabatan (misalnya sahabat biasa, sahabat karib, sahabat yang seperti saudara), ada berbagai bentuk persahabatan (kolega, hubungan bisnis, suami-istri, dll). Kondisi yang membahagiakan dan menguntungkan kedua pihak ini bisa dirusak oleh pengkhianatan dan sikap mengungkit-ungkit keburukan di masa lalu.

Firman Tuhan menekankan perlu dan pentingnya sebuah persahabatan, bahkan persahabatan dengan Allah. Di lain sisi, ada banyak bahaya dari persahabatan yang salah dan ada hal-hal yang dapat merusak persahabatan. Persahabatan yang baik bisa menjadi berkat Allah bagi kedua belah pihak, bahkan dipakai Allah dengan luar biasa untuk menjadi berkat bagi lebih banyak orang. Sebaliknya, persahabatan yang buruk dapat menjauhkan orang dari Sang Pencipta, yang berujung kematian kekal. Pengalaman Mahatma Gandhi yang ditolak orang Kristen di gereja memiliki dampak dalam pengakuan imannya. Persahabatan dapat memiliki dampak kekekalan. Oleh karenanya, kita perlu menyikapi dengan serius, berpikir, dan bertindak sebagai hamba Allah.

Setiap orang menjadi ujian bagi kita, apakah kita dapat menjadi sahabat bagi mereka. Meskipun demikian, ada suatu fenomena yang tersembunyi, bahwa ada kalanya seorang sahabat tidak pernah dikenal sebelumnya, misalnya pada perumpamaan orang Samaria yang baik hati. Mungkin juga kita menjadi sahabat yang tidak dikenal sebelumnya bagi orang-orang di sekitar kita, namun pikiran dan tindakan kita bisa berdampak kekekalan bagi mereka. Jika kemudian kita dikenali menjadi sahabat bagi mereka, maka peliharalah persahabatan itu. (PO)

Refleksi:
Sudahkah kita dipercaya seseorang untuk menjadi sahabatnya?

MENJADI SAHABAT ALLAH

didikan

“…lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu
kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut sahabat Allah”
(Yakobus 2:23b)

Menjadi seorang sahabat bagi seseorang membutuhkan pengorbanan, komitmen, dan tentu saja kepercayaan. Tidak mungkin kita menjadi seorang sahabat tanpa setidak-tidaknya memiliki tiga aspek tersebut. Aspek kepercayaan, tanpa optimisme akan kebaikan yang terlihat maupun yang belum terlihat samasekali, sulit untuk membuat orang mau menjadi seorang sahabat.

Yesus menyebut para murid-Nya ”sahabat”, karena mereka percaya kepada-Nya. Abraham pun disebut ”sahabat Allah” karena dia percaya kepada Allah. Mendiskusikan kata ”percaya”, bukanlah hal yang mudah. Karena berbagai keterbatasan manusiawi, kita perlu berhati-hati untuk menaruh kepercayaan kepada seseorang, maupun menerima kepercayaan dari seseorang. Konsekuensinya, menjadi seorang sahabat, apalagi sahabat Allah tidaklah mudah. Firman Tuhan haruslah menjadi pelita bagi kita, Roh Kudus menjadi pemimpin kita, dan diri kita harus menjalankan peran dengan ketaatan dan hikmat yang Tuhan berikan. Setelah persahabatan (tinjauan kedua belah pihak) terbangun, terciptalah kedekatan. Kedekatan ini tidak harus selalu dalam arti fisik. Karena itu, setelah menjadi sahabat Allah, kini kita menjadi alat Allah untuk memberitakan Kabar Kesukaan yang tidak terbatas pada ruang dan waktu.

Seorang sahabat bagi sesama dapat menuntun dia kepada keselamatan. Ada banyak orang yang belum mengenal Sang Juruselamat. Karena itu, kita perlu menjadi sahabat bagi semua orang agar menjadi berkat bagi mereka semua, seperti Bapa di sorga, yang baik kepada orang jahat maupun kepada orang benar.(PO)

Refleksi:
Sudahkah kita dipercaya seseorang juga mempercayai seseorang, sehingga kita menjadi sahabat bagi orang itu?

KEDUDUKAN DAN KERENDAHAN HATI

“…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,bahkan sampai mati di kayu
salib”
(Filipi 2:7-8)

Ketika staf rektorat, termasuk Rektor kita turut memeriahkan acara perayaan HUT Kemerdekaan RI, hampir semua orang membicarakan kedekatan para petinggi kampus dengan segenap warga kampus. Kerendahan hati seseorang pantang dibicarakan jika hal itu keluar dari mulutnya sendiri. Saat terjadi demikian,gugurlah kerendahan hati itu. Kerendahan hati adalah atribut yang dikenakan pada seseorang oleh orang lain.

Ketika Yesus membasuh kaki para murid-Nya, semua tercengang. Yesus yang penuhhikmat membalas keterkejutan para murid-Nya. ”kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan,… jikalau Aku membasuh kakimu, … maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yohanes 13:13-14). Paulus menganalisis kesenjangan terbesar antara ke- Allah-an dan ke-hamba-an Yesus serta menuliskannya dalam teks diatas. Belajar dari hal tersebut, siapakah diri kita bagi sesama. Bila Allah saja sudah merendahkan Diri-Nya, sudah sepatutnya kita pun saling merendahkan diri dihadapan sesama. Ketika status sosial, ekonomi, tingkat pendidikan, kasta, atau apapun membuat sekelompok manusia merasa lebih baik atau lebih tinggi daripada yang lain, ingatlah firman yang ditulis sang pengkhotbah, bahwa baik binatang maupun manusia, sama-sama akan mati (bdk. Pengkhotbah 3:18-20). Saya sendiri pernah melihat tumpukan kerangka manusia yang sudah berusia ratusan tahun di Toraja. Saya tidak tahu bagaimana status mereka selama hidup, tidak ada yang mengenali kerangka-kerangka siapa yang bercampur baur itu, apalagi atribut-atribut selama hidupnya. Ada pahlawan yang dikenal dan dimakamkan di tempat terhormat, tetapi ada juga pahlawan lain yang jasadnya saja tidak ditemukan, bahkan tidak diketahui namanya.

Ada banyak orang di sekitar kita yang belum kita kenal. Kenali dan hormatilah mereka yang sudah menjadi sahabat maupun yang akan menjadi sahabat. (PO)

Refleksi:
Sudahkah kita melayani orang-orang di sekitar kita dan mereka menyatakan bahwa kita melakukan itu semua dengan kerendah-hatian?

SAHABAT YANG LEBIH KARIB

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih
karib daripada seorang saudara.”
(Amsal 18:24)

Setiap orang pasti memiliki kerabat, baik berupa keluarga inti maupun saudara jauh. Tidak semua orang memiliki kerabat yang tinggal dekat dengannya, lebih jauh lagi, tidak semua orang memiliki kerabat yang baik dalam terang Firman Tuhan. Karena itu, beberapa orang mengalami apa yang disebut ”kesepian dalam keramaian”.

Keragaman manusia ciptaan Allah di sekitar kita membawa keindahan maupun keburukan, bahkan diri kita sendiripun merupakan bagian yang setara dalam keragaman itu. Sebagai mahluk sosial, selain mutlak membutuhkan kehadiran Allah dalam hidup kita, jangan lupa bahwa kita pun mutlak membutuhkan kehadiran sesama. Kita membutuhkan mereka dan mereka membutuhkan kita. Terhadap lingkungan di sekitar, kita harus selektif, karena pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Di lain pihak, kita pun harus menjadi teman yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, bahkan menjadi teman bagi kaum keluarga dan kerabat kita sendiri. Jangan mengaku saudara sedarah sedaging, tapi malah saling mencelakakan. Lebih jauh lagi, jangan mengaku saudara seiman tetapi sebenarnya hanya dalih ”suci” memperdaya saudara seiman lainnya. Ketika kita membutuhkan sesama maupun ketika sesama membutuhkan kita, hendaknya kebenaran Firman Tuhan menuntun dalam bertindak.

Tidak ada seorangpun yang dilahirkan sama persis. Dalam beberapa hal persamaan membuat sejumlah orang dapat bersosialisasi lebih baik dan dekat, namun tidak berarti kita menutup diri terhadap yang lain. Karena keragaman itu, kita pun ditantang menjadi seorang teman atau sahabat yang baik di kampus ini.(PO)

Refleksi:
Sahabat seperti apakah kita bagi orang lain. Apakah mendatangkan kecelakaan, biasa-biasa saja, ataukah lebih baik dari seorang saudara?

ANUGERAH DARI SEORANG SAHABAT

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan
nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. …Aku menyebut kamu sahabat… ”
(Yohanes 15:13, 15b)

Ketika saya mengambil kursus bahasa Inggris di Harvard English College Bandung, saya berkenalan dengan sesama siswa, yang kemudian memperkenalkan dan membawa saya ke sebuah gereja yang memiliki program pemahaman Alkitab dalam bahasa Inggris. Beberapa waktu kemudian kami lulus dan dia mencari kerja entah di mana, sementara saya ”bertumbuh subur” di gereja tersebut selama hampir 7 tahun sesudahnya, semakin mahir berkomunikasi dalam bahasa Inggris, bahkan menjadi aktivis di gereja tersebut.

Riwayat sebuah pertemanan, atau lebih dekat lagi persahabatan dapat mengarahkan kita kepada banyak hal dan kemungkinan. Sembari memilah berbagai pilihan untuk maju, setiap orang perlu dibekali sikap hati berpegang pada kebenaran dan takut akan Tuhan. Dengan demikian, pilihan dan langkah kita dipimpin oleh Tuhan dan apa yang tersedia di hadapan kita dapat menjadi alat yang disediakan Tuhan untuk menggenapkan rencana-Nya dalam hidup kita. Sebaliknya, apabila kita menuruti keinginan daging, mengambil berbagai pilihan tanpa memikirkan masa depan, kita tidak akan berjalan dalam rencana-Nya yang terbaik. Tuhan Yesus menyebut kita sahabat dengan demikian kita menjadi sahabat-Nya. Persahabatan dengan Dia, yang rela menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, telah membawa kita kepada Allah dan kehidupan kekal.

Banyak orang di sekitar kita, baik warga kampus maupun warga masyarakat. Setiap orang terbuka dengan berbagai kemungkinan pergaulan. Kita perlu menemukan sahabat, serta berusaha menjadi sahabat yang baik bagi sebanyak mungkin orang. Hidup dalam perdamaian dengan semua orang bergantung juga pada kita. Mungkin kita dipakai Tuhan untuk membukakan jalan kekekalan kepada mereka.(PO)

Refleksi :
Paskah hari ini mendorong kita menjadi sahabat bagi sedikitnya seorang di kampus ini dan membuka kekekalan bagi dia?

KASIH SEORANG SAHABAT

“ Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan
nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
(Yohanes 15:13)

Semakin hari manusia semakin bersikap individualis. Manusia cenderung semakin tidak peduli terhadap sesamanya dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Mencari sahabat itu susah-susah gampang. Tidaklah mudah menemukan teman yang baik, apalagi teman yang setia pada segala keadaan. Bagi sebagian orang yang beruntung, mereka bisa memiliki banyak sahabat yang tidak saja hadir di kala senang, tetapi juga ada di waktu susah. Sebagian orang lagi masih kesulitan untuk bisa mendapatkan teman berbagi sebagai sahabat yang sejati. Dan hari-hari ini kita melihat begitu banyak orang yang merasa kesepian, merasa sendirian dalam memikul beratnya beban kehidupan.

Kita mempunyai Tuhan Yesus yang bukan saja sebagai Juruselamat hidup kita, tapi juga menjadi sahabat sejati kita. Bahkan Tuhan sendirilah yang memilih kita menjadi sahabatNya. Tidak hanya itu, Ia pun rela mengorbankan nyawaNya bagi kita. Teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi di dunia ini sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita. Tetapi Yesus berjanji untuk tetap menyertai kita. Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari. Kalau kita percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat apa pun pergumulan yang ada, kita akan
sanggup berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Persahabatan adalah sesuatu yang sangat penting, bukan karena sangat menyentuh aspek psikologis seseorang sebagai pribadi, melainkan persahabatan menyentuh langsung konteks kehidupan bersama. Orang yang bersahabat biasanya saling menjaga, peduli satu sama lain, berbagi kesulitan dan kegembiraan bersama. Kasih yang sejati memberikan nyawa kepada sahabatnya. Kepada sahabat artinya kepada dia yang dengannya saya sungguh terlibat, seperasaan dan sehati. Dalam konteks yang lebih luas, memberikan nyawa kepada sahabat adalah memberikan seluruh diri kita, perhatian kita kepada mereka yang menderita, yang miskin, yang terkena bencana, berjuang bersama sesama yang mengalami kesusahan, dan menjadi senasip dengan mereka. Perlu diingat juga, bahwa tidak semua pemberian nyawa adalah tanda kasih. Motivasi atau alasannya sangat menentukan. Mari kita berbagi kasih kepada para sahabat kita, siapapun mereka karena Yesus sudah lebih dahulu mengasihi kita. (RCM)

Refleksi:
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam
kesukaran

KASIH SEJATI

“ yang walaupun dalam rupa Allah , tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-
Nya sendiri , dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan
manusia . Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan
taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.. ”
(Filipi 2:6-8)

Ada sebuah video tentang kisah cinta sejati dari sepasang suami istri yang telah mengikat cinta mereka setelah 50 tahun. Video tersebut menceritakan tentang Bill dan isterinya Glad yang cintanya tidak pernah memudar. Meskipun Glad sudah mulai sakit-sakitan dan begitu renta, Bill yang terbilang memiliki kesehatan lebih baik tak lantas meninggalkan Glad dalam kondisi renta. Bahkan Bill lah yang setiap hari melakukan segala hal ketika Glad bangun, mulai dari memandikan Glad, memakaikan baju, dan menggosok giginya. Semua dilakukannya sebagai sebuah cinta yang besar untuk sang istri, Glad. Dalam video tersebut diungkapkan oleh Bill bahwa hari itu adalah hari perayaan pernikahan mereka yang ke 50 tahun.

Kasih Allah kepada manusia tidak memudar walaupun manusia sudah melawan Allah. Karena begitu besar kasih Allah sehingga Dia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Kristus menjadi sama dengan manusia, bahkan dalam rupa seorang hamba. Paulus tidak menyebutkan bahwa Kristus meninggalkan atribut ilahiNya atau hakekat keallahanNya. Yang dikemukakan Paulus dalam ayat ini adalah suatu paradoks ilahi, Kristus yang adalah Allah rela untuk menjadi manusia dan mengambil rupa seorang hamba. Dalam bagian ayat-ayat ini, Paulus menggunakan bahasa puitis untuk melukiskan kerendahan hati Tuhan Yesus untuk diteladani oleh jemaat Filipi.

Pengosongan diri Kristus itu hendaknya kini memberdayakan semua orang Kristen untuk memiliki prinsip hidup yang sama secara nyata. Hidup Kristus itu berkuasa untuk mengubah kita yang beriman kepada-Nya untuk menolak pementingan diri sendiri, demi untuk menyukakan hati Allah. Dalam sepanjang hidup dan masa pelayanan-Nya selama tiga setengah tahun di bumi, Dia yang sekalipun adalah Allah yang sejati, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Inilah cara Allah membawa manusia masuk dalam kepenuhan-Nya melalui penyangkalan dan pengorbanan-Nya agar orang mendapatkan berkat dan anugerah Tuhan. Kristus telah membayar harga yang termahal yang dapat dilakukan dengan menyerahkan nyawa-Nya sendiri di atas kayu salib menjadi tebusan bagi banyak jiwa. Selamat memperingati Hari Jumat Agung (RCM)

Refleksi: Kasih sejati terwujud dari kasih Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib

SAHABAT ATAU MUSUH?

“ Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa
persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah ? Jadi barangsiapa
hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”
(Yakobus 4:4)

Warren Buffet mengatakan “Berkawanlah dengan orang-orang yang lebih baik darimu. Pilihlah sahabat-sahabat yang memiliki kepribadian lebih baik darimu, maka anda akan mencoba melakukan hal yang sama”. Sahabat yang baik adalah mereka yang selalu berusaha membagikan contoh paling baik bagi hidup. Mereka menjadi inspirasi bagi sahabatnya untuk berkembang. Ketika mereka berkembang, mereka akan mendorong sahabatnya untuk ikut berkembang. Karena itu adalah hal yang manis ketika para sahabat mampu sukses bersama.

Persahabatan dengan dunia merupakan perzinaan rohani, yaitu ketidaksetiaan kepada Allah dan janji komitmen kita kepada-Nya. Banyak orang beranggapan bahwa musuh Tuhan adalah orang yang tidak mengenal Tuhan. Benarkah demikian? Bacaan hari ini menegur kita karena di kalangan orang-orang yang mengaku diri Kristen, justru Yakobus nyatakan sebagai musuh Tuhan. Di dalam kemurahan-Nya, Allah tidak akan membiarkan umat-Nya mengalami kehidupan sesat demikian. Ia telah memperbarui roh kita dan mengingini roh kita sepenuhnya sebab Ia, Allah yang cemburuan adanya. Ia menuntut agar kita merendahkan hati dan menerima pentahiran dari Allah, sungguh-sungguh bertobat serta melawan Iblis dan dunia. Banyak orang mengaku “Kristen”, tetapi hatinya bukan Kristen. Mereka biasanya adalah penentang penentang Allah. Perilaku mereka sehari-hari justru mencemarkan kekristenan dan mempermalukan nama Allah. Tentu tak seorang pun dari kita mau disebut sebagai musuh Allah. Maka satu-satunya pilihan bagi kita adalah tunduk kepada Allah. Dengan menundukkan diri kepada Allah, maka tidak ada tempat lagi yang kita sediakan bagi Iblis dan diri sendiri. Tunduk kepada Allah berarti bertobat
sungguh-sungguh yaitu bertobat dengan hati yang remuk di hadapan Tuhan. Menjadi Kristen bukan berarti segala hawa nafsu dan keinginan kita dimatikan. Justru sebaliknya ketika kita mengambil keputusan menjadi orang Kristen maka kita mendapatkan 2 musuh yang kuat dan tangguh: nafsu kedagingan yang semakin menentang iman kekristenan di dalam diri kita dan hal-hal dunia yang berusaha mempengaruhi kita dari luar. Kita harus menyadari bahwa nafsu kedagingan dan halhal dunia bertentangan dengan Allah. Mencintai dan memuaskan keinginan duniawi berarti menentang Allah. Roh-Nya telah dianugerahkan-Nya di dalam diri kita untuk
membekali kita menghadapi musuh. (RCM)

Refleksi:
Sahabat Allah adalah orang yang bergaul akrab dengan Allah

KASIH TANPA BATAS

“ Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala
sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”
(I Korintus 13:7)

Gubernuh DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama di tuntut oleh sekelompok orang untuk dipenjarakan karena tuduhan menistakan agama. Menghadapi hal tersebut, ia tetap tenang dan tidak membenci orang-orang yang bermaksud ingin memenjarakannya. Sebagai seorang pengikut Kristus, Basuki Tjahaya Purnama sudah siap menghadapi apapun juga. Kasihnya kepada sesama manusia didasari oleh kasih kepada Tuhan

Nats pada hari ini merupakan bagian dari Alkitab yang berbicara tentang kasih. Kasih itu lekas memaafkan dan melupakan kesalahan orang terhadap dirinya, tidak suka mempercakapkan atau membuka kesalahan orang lain. Kasih akan menutupi semuanya di balik tirai. Tidak ada maksud untuk menyebarluaskan atau mengumumkan kesalahan-kesalahan seorang saudara, sampai saatnya memang harus di buka. Tidak mengumumkan kesalahan-kesalahan itu untuk mempermalukan dan mencela mereka, namun menutupinya dari perhatian masyarakat luas, serta tetap setia kepada Allah. Kasih itu sabar menanggung segala sesuatu, ia akan membiarkannya berlalu dan menahan semua kesakitan tanpa amarah atau menyimpan dendam, bersikap sabar terhadap hasutan, tetap teguh dan menahan semua kesulitan, walaupun sangat terguncang. Menahan semua bentuk sakit hati dan kata-kata yang menyakitkan, dan tetap bertahan di bawah semua caci-maki, fitnah, penjara, pengasingan, tahanan, penganiayaan, dan kematian

Kasih itu suka mempercayai yang baik dari semua orang, untuk menjaga pendapat yang baik tentang orang lain. Kasih penuh ketulusan, cenderung mencari yang terbaik dari segala sesuatu, serta menampilkan wajah yang terbaik dari segala suatu itu. Kasih akan menilai segala sesuatu dengan baik dan percaya semuanya baik, sejauh memiliki alasan yang cukup. Ia lebih suka menaruh rasa percaya melampaui penampilan yang ada untuk mendukung suatu pendapat yang baik. Kasih tidak akan segera mengakhiri suatu perkara dengan keputusasaan, tetapi tetap mengharapkanperubahan dari keadaan manusia yang paling jahat.

Ciri dari ajaran Tuhan Yesus adalah kasih. Kekristenan akan tampak di depan dunia ini, jika para pemeluknya digerakkan dan dihidupkan oleh kasih seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Marilah kita mempraktikan saling mengasihi di lingkungan Universitas Kristen Maranatha dan dimanapun kita berada. (RCM)

Refleksi:
Kasih itu diwujudkan dalam kegiatan dan kelakuan, bukan sekadar suatu perasaan batin atau kata-kata yang diucapkan saja.

HIDUP UNTUK SESAMA

“ Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi
kebaikannya untuk membangunnya.”
(Roma 15:2)

Bunda Teresa, yang dikenal sebagai Santa Teresa dari Kalkuta. Bunda Teresaseorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India. Ia mendirikan Misionaris Cinta Kasih (bahasa Inggris: Missionaries of Charity; M.C.) di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 47 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia mendapat gelar beata (blessed dalam bahasa Inggris) oleh Paus Yohanes Paulus II dan diberi gelar Beata. Kehidupan Bunda Teresa didedikasikan untuk mengasihi sesama.

Kota Roma pada waktu surat ini ditulis adalah kota megapolitan yang besar, di mana penduduknya saat itu saja kira-kira sudah mencapai satu juta orang. Di kota besar, tentunya ada banyak kesenjangan antara orang yang kaya dan yang miskin, orang yang kuat dan yang lemah, orang yang kedudukannya tinggi dan kedudukannya rendah, dan kebanyakan orang Roma bersifat individual dan kurang peduli terhadap sesama. Tetapi Paulus ingin agar jemaat di Roma memiliki sikap yang tidak egois, melainkan mau peduli terhadap orang lain. Paulus ingin agar orang yang kuat juga mau menanggung orang yang lemah dan bukannya malah menindas orang yang lemah. Paulus menekankan bahwa jemaat Tuhan seharusnya tidak mencari kesenangan diri sendiri, tetapi kesenangan orang lain. Hal ini tentunya bukan mencari kesenangan dalam arti yang tidak baik, tetapi mencari apa yang menyenangkan orang lain untuk kebaikan dan yang membangun jemaat serta berkenan kepada Allah

Kita juga diingatkan untuk melayani sesama dengan mencari kesenangan dan kebaikan sesama kita. Hal ini sangat sulit untuk dilakukan, karena berkaitan dengan hakekat dosa dimana kita hidup dengan berpusat pada diri sendiri dan mencari kesenangan diri. Melayani yang sejati tidak berpusat pada diri sendiri melainkan berpusat pada Tuhan Yesus. Marilah kita melayani sesama kita dengan mencari tahu kesenangannya dan memakai kesenangan tersebut untuk membangunnya secara rohani. (RCM)

Refleksi:
Melayani sesama demi Kristus perlu penyangkalan diri