HIDUP BAGI KRISTUS

“ Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)

Pendeta Martin Luther King, Jr., Ph.D. (lahir dengan nama Michael King di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, 15 Januari 1929 – meninggal di Memphis
Tennessee, Amerika Serikat, 4 April 1968 pada umur 39 tahun) adalah penerima Nobel, pendeta Baptis dan aktivis HAM warga Afrika-Amerika. King adalah seorang pendeta di Gereja Baptis Montgomery, Alabama yang berjuang melawan diskriminasi rasial. Pada tahun 1963, King memimpin demonstrasi pemboikotan bus di Birmingham. Pemboikotan itu dilakukannya tanpa menggunakan kekerasan. Ia ditembak hingga meninggal dunia di sebuah hotel tempat dia menginap ketika ia melakukan aksi di Memphis pada 4 April 1968. Peluru yang ditembak menembus tulang rahang hingga ke otaknya.

Mengikut Yesus dibutuhkan komitmen yang tidak boleh dibuat main-main karena banyak tantangan yang akan dihadapi dan harus melakukan kehendakNya dengan taat. Ketaatan adalah suatu proses di mana seseorang bisa dikatakan layak untuk menjadi murid Yesus atau tidak. Menyangkal diri dan memikul salib adalah syarat mutlak yang harus dijalankan oleh setiap murid Yesus. Melalui penyangkalan diri dan pikul salib kita belajar untuk memiliki kerendahan hati dan punya hati yang teachable (bersedia diajar), supaya kita menjadi murid Yesus yang militan: tidak mudah lemah dan pantang menyerah.

Menjadi orang Kristen tidaklah mudah karena kita mengemban tugas yang tidak sembarangan. Ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Yesus Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, status kita adalah murid Yesus. Sebagai murid Yesus kita wajib melakukan semua perintah-perintah Yesus serta meneladani hidupNya. Kita diijinkan melewati ujian atau tantangan. Ini adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kita beroleh pujian, kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya. Dalam mengikut Tuhan Yesus kita pun harus memiliki integritas dan jangan sampai ada kepura-puraan. Tetap setia mengikut Kristus walaupun nyawa menjadi taruhannya seperti yang dilakukan oleh Pendeta Martin Luther King Jr. (RCM)

Refleksi:
Kesetiaan kepada kehendak-Nya menuntut ketaatan dan penyerahan diri secara total

SIAPAKAH SAUDARA TUHAN YESUS?

“ Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Matius 12:50)

Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya. Sebagai contoh, kalau seorang manajer mengangkat atau menaikkan jabatan seorang saudara, padahal ada orang lain yang lebih berkualitas namun bukan saudara. Manajer tersebut akan bersalah karena nepotisme. Praktek nepotisme telah ditunjukkan oleh penguasa Orde Baru dengan mengisi beberapa posisi kekuasaan strategis dari kalangan sanak keluarga dan kerabat terdekat. Akibatnya, nepotisme berkembang dan bermuara pada praktek korupsi dan bentuk konspirasi lainnya yang berujung pada penumpukan kekuasaan.

Hal yang perlu kita perhatikan adalah hubungan darah, dan pertalian keluarga antara manusia tidak punya makna penting di dalam Kerajaan Allah. Yesus berkata kepada orang banyak dan kepada orang-orang bahwa tak seorang pun yang berhak mengklaim dirinya hanya karena orang tersebut adalah kerabatnya. Hanya ada satu hal yang penting di dalam Kerajaan Allah, dan hal itu adalah kehendak Allah. Dan ini adalah pokok yang harus dipahami oleh semua orang Kristen. Satu-satunya hal yang penting di dalam Kerajaan Allah adalah kehendak Allah. Iman yang mengerjakan kehendak Allah. Iman yang tidak sekadar percaya bahwa kehendak Allah itu baik tetapi juga bergerak melakukannya.

Tuhan Yesus sendiri, yang adalah Tuhan dan Juruselamat, tidak melakukan segala sesuatu menurut diriNya sendiri melainkan menurut kehendak Bapa. Walaupun Yesus mempunyai kehendak, keinginan bahkan mempunyai otoritas secara pribadi, Ia tetap mengutamakan kehendak BapaNya karena Dia tahu bahwa kehendak BapaNya itulah yang terbaik. Kita pun harus tinggal di dalam firmanNya: membaca, mendengar dan merenungkan firmanNya, yang akan membuat kita semakin mengerti kehendakNya. Orang yang melakukan kehedak Tuhan hidup dalam kebenaranNya yaitu kebenaran akan firman Tuhan. Kebenaran firman Tuhan adalah kebenaran yang memerdekakan kita. Ketika kita melakukan kehendak Tuhan, kita akan menyenangkan hati Tuhan dan ketika kita menyenangkan hati Tuhan, firmanNya akan digenapi dalam hidup kita sehingga kita layak disebut saudara oleh Tuhan Yesus. (RCM)

Refleksi :
Saudara Tuhan adalah setiap orang yang hidup sesuai dengan kehendakNya

MENYERAHKAN HIDUP BAGI KRISTUS

“ namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)

William Tyndale (±1494 – 1536) adalah seorang pembaharu Protestan pada abad ke-16 dan cendekiawan yang menerjemahkan Alkitab ke Bahasa Inggris Baru Awal pada masanya. Walaupun ada beberapa kitab dalam Alkitab yang telah diterjemahkan sebagian atau lengkap dalam bahasa Inggris Kuno pada sekitar abad ke-14, terjemahan Tyndale adalah yang pertama yang diterjemahkan langsung dari naskah dalam bahasa Ibrani dan Yunani, dan yang pertama kalinya dalam sejarah sebagai terjemahan yang diperbanyak menggunakan mesin cetak sehingga dapat dibagikan secara luas. Pada tahun 1535, Tyndale ditangkap, dipenjarakan di kastil Vilvoorde di luar Brussel selama lebih dari setahun, diadili atas tuduhan ajaran sesat, dan dieksekusi dengan cara dibakar. Sebagian besar karya Tyndale pada akhirnya menjadi bagian dari Alkitab Versi Raja James (atau “King James Version”) yang dipublikasikan pada 1611. Alkitab Versi Raja James ini dikerjakan oleh 54 cendekiawan independen, ditujukan untuk merevisi edisi bahasa Inggris yang ada pada saat itu, dan naskahnya diambil sebagian besar dari terjemahan Tyndale. Hidup Tyndale seluruhnya diserahkan demi Kristus

Paulus tahu benar bahwa hidup yang dia sekarang miliki adalah milik dari Tuhan. Kehidupan seseorang sebelum/diluar Tuhan adalah hidup dalam perbudakan dosa hal ini berarti dosa menguasai dan menjadi tuan dari seseorang yang hidup diluar Kristus. Satu-satunya cara supaya seorang budak bisa dibebaskan adalah jika ada seseorang yang mau membeli budak tersebut. Yesus mati menyerahkan dirinya menjadi tebusan bagi kita, supaya kita yang beriman kepada Kristus dilepaskan dari kuasa dosa dan kemudian dijadikan milik Tuhan. Inilah alasannya mengapa Paulus berkata bahwa hidup yang dia jalani sekarang adalah hidup bagi Kristus; dia bukan hidup bagi dirinya sendiri, namun Kristuslah yang hidup dalam diri Paulus.

Kelepasan dari perbudakan dosa memang aspek penting dalam karya penebusan Kristus, namun ada aspek lainnya yang juga tidak kalah penting dari karya penebusan Kristus, yakni kita dibebaskan dari perbudakan dosa supaya kita menjadi milik Allah dan supaya kita melayani Allah. Ini menegaskan kepada kita tujuan dari karya penebusan Kristus; kita dibebaskan dari dosa bukan supaya kita menjadi orangorang yang kemudian hidup sebebas-bebasnya bagi diri kita sendiri, namun untuk hidup bagi Allah dan melayani Dia. (RCM)

Refleksi:
Seluruh kehidupan kita adalah milik Kristus

RESPON ATAS KEBAIKAN ALLAH

“ aku suka melakukan kehendak-Mu , ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mazmur 40:8)

Apa perasaan anda ketika berada dalam keadaan terjepit kesulitan hidup, lalu datanglah pertolongan dari seseorang? Tentu pertolongan itu menjadi sesuatu yang sangat melegakan sekali bukan? Pastinya anda sangat berterima kasih terhadap orang tersebut. Anda mungkin akan bersedia melakukan apapun untuk membalas kebaikannya. Perasaan yang sama juga diungkapkan oleh Daud terhadap Tuhan. Mazmur 40 adalah ungkapan hati Daud atas keselamatan yang telah dinyatakan oleh Tuhan atas hidupnya. Sikap dan perilaku Daud merupakan teladan bagi kita. Dia sadar bahwa ketika dia mencari pertolongan Allah, Allah telah mengangkat dia dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa, serta menempatkan dia di tempat yang aman.

Pertolongan Allah dalam hidupnya membuat Daud memiliki alasan baru untuk memuji Allah. Pengalaman mendapat pertolongan Tuhan itu juga membuat Daud semakin mempercayai Allah. Pengalaman itu juga membuat Dia memiliki kerinduan untuk bersaksi tentang perbuatan Allah yang ajaib, keunggulan Allah, keadilan Allah, kesetiaan Allah, kasih Allah, dan kebenaran Allah. Dari satu sisi, Daud menyadari kesalahan atau dosanya. Dari sisi lain, Daud juga menyadari rahmat (belas kasihan) Allah. Kesadaran akan pertolongan Allah pada masa lampau serta pengenalan akan Allah membuat Daud selalu bersandar dan berharap kepada pertolongan Allah dalam hal-hal yang menyangkut masa depannya. Daud mengingat salinan Taurat yang diberikan kepadanya ketika ia dinobatkan sebagai raja. Dan ini menyiratkan tanggung jawab besar yang diberikan Allah kepadanya. Di sini Daud menyatakan bahwa ia tunduk terhadap Taurat yang diterimanya itu. Penulis Ibrani menafsirkan ucapan Daud di sini sebagai ramalan datangnya sang Mesias (Ibrani 10:5-7)

Raja Daud sungguh menyadari begitu banyak hal yang Tuhan telah perbuat dalam hidupnya. Perbuatan/kebaikan Tuhan terhadap Daud tidak terhitung dan Allah melakukan hal-hal yang ajaib. Hal-hal Ajaib disini melihat kembali bagaimana Daud dalam tahun-tahun pengasihan, hidup yang selalu diburu, dikejar-kejar untuk dibunuh, dan jauh sebelumnya keajaiban pada waktu Daud masih remaja diperhadapkan dengan Goliat, sehingga hal ini dapat dikatakan karya Tuhan yang begitu indah dan ajaib, dan semuanya begitu nyata dan banyaklah rencana-rencana Allah yang begitu agung dan mulia. Raja Daud bertekad untuk mengabarkan keadilan Tuhan, kesetiaan Tuhan, kasih Tuhan, kebenaran Tuhan, dan keselamatan dari
Tuhan. (RCM)

Refleksi:
Persembahkanlah hidupmu sebagai respon atas kebaikan Allah

KEBESARAN HATI

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”
(Yohanes 3:30)

Petinju Mohammad Ali ternyata tidak hanya dikenal sebagai ‘Si Mulut Besar’,namun ia juga memiliki jiwa yang besar dan kecintaan terhadap sesama. Disebut ‘Si Mulut Besar’ karena setiap kali Ali naik ring, dia selalu memotivasi diri dengan kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat, seperti ‘Saya hebat!’, ‘Sayamampu bertanding dengan baik!’, Saatnya saya menjadi yang terbaik!’. Mungkin metode ini terkesan sombong tapi itulah yang dilakukan Ali sebelum ronde pertama dimulai. Bahkan masa mudanya Ali terkenal sangat sombong. Namun seiring dengan bertambahnya usia, teman-teman pergaulan yang bertambah luas, serta tingkat kematangan berpikir memproses seorang Ali menjadi rendah hati dan berjiwa besar. Hingga pada akhirnya ia harus berjuang melawan penyakit Parkinsonnya, dia tetap menjalankan misi-misi sosial dan kemanusiaan.

Charles Dickens pernah memberikan pernyataan tentang siapakah sebenarnya orang yang disebut terbesar itu. Ia berkata, “Ada orang besar yang menjadi besar denganmcara mengecilkan dan merendahkan orang lain. Tetapi, seorang besar sejati adalah seorang yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar.” Hampir setiap orang ingin menjadi nomor satu dan terkemuka. Tidak semua orang mempunyai kebesaran hati untuk menjadi orang nomor dua.

Yohanes Pembaptis memahami benar arti sebuah kebesaran sejati. Di saat begitumbanyak orang mulai ribut dan membanding-bandingkannya dengan Yesus, Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kebesaran hatinya. Pernyataannya bahwa Yesus harus makin besar, tetapi ia harus makin kecil menunjukkan betapa ia tidak berusaha membesarkan dirinya sendiri. Ia tahu panggilan Tuhan baginya sebagai pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang (ay. 28). Tujuan hidupnya adalah mengarahkan hati orang-orang kepada Yesus, Sang Mesias, dan bukan kepada dirinya sendiri.

Bagaimana dengan kita? Bagaimana reaksi kita ketika di hadapan kita berdiri orangorang yang siap menggantikan posisi kita? Apa reaksi kita ketika banyak orang mulai membanding-bandingkan kemampuan kita dengan orang lain? Apakah kita mulai terganggu? Seorang besar sejati tentu tidak akan terganggu dengan semua itu. Sebaliknya, ia akan menunjukkan kebesaran hatinya untuk membuat orang lain merasa dirinya besar. Ia akan memberi dukungan dan turut senang dengan keberhasilan orang lain.(YG)
Refleksi: Seorang yang memiliki kebesaran hati akan terbebas dari godaan untuk bersaing.

PENGAMPUNAN

“di dalam DIA kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa”
(Kolose 1:14)

Ketika terjadi perang dunia kedua, Corrie ten Boom dan keluarganya ditangkap dan dikirimkan ke tempat tawanan Nazi atas tuduhan menyembunyikan orangorang Yahudi di tempat mereka. Di tempat tawanan mereka disiksa secara kejam. Akibatnya, ayah dan saudara perempuan Corrie meninggal di tempat tawanan tersebut, dan Corrie pulang seorang diri ke rumah. Setelah perang berakhir, ia pergi ke Jerman untuk berkhotbah. Usai berkhotbah khusus tentang pengampunan, seorang pria paling kejam di Raversbruck, tempat ia dan saudara perempuannya disiksa mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Aku telah menjadi Kristen”, ia menjelaskan. “Aku tahu bahwa Tuhan telah mengampuniku untuk hal-hal kejam yang pernah kulakukan. Tetapi aku juga ingin mendengar hal itu dari mulut anda. Maukah Anda mengampuniku?” Konflik bergejolak di hati Corrie. Bayangan jenazah saudara perempuannya terihat dibenaknya. Ia ingin berteriak,”Yesus, aku tidak dapat mengampuni orang ini, tolonglah aku.” Namun akhirnya ia memutuskan untuk mengampuni pria tersebut. la mengulurkan tangannya kepada pria itu dan berkata, “Aku mengampunimu Saudara, dengan segenap hatiku.”

Menyimak kisah Yusuf dan saudara-saudaranya harusnya juga refleksi kehidupan kita. Ada banyak orang yang mengatakan bahwa untuk memaafkan bukanlah semudah teori-teori ataupun khotbah-khotbah. Namun apapun alasan yang boleh kita sampaikan, kisah dari Yusuf mengingatkan kita bahwa pengampunan bukanlah seperti hukum ataupun aturan yang harus atau tidak, mau atau tidak mau untuk dilakukan, namun mengampuni adalah gaya hidup orang yang percaya kepada Tuhan. Hidup kita dalam iman kepada Kristus adalah karena pengampunan oleh karena kasih Allah yang besar. Ragam kondisi situasi kehidupan yang akan kita lalui dalam hidup ini, suka atau tidak suka kita akan diperhadapkan pada situasi untuk mengampuni tanpa memperhitungkan besar kecilnya kesusahan yang ditimbulkan bagi kita. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni “Tujuh puluh kali tujuh kali”, ini bukan soal menghitung berapa yang telah diampuni dan berapa yang belum diampuni, namun ini berarti bahwa pengampunan itu tidak ada batasnya.(YG)
Refleksi: Mengampuni adalah gaya hidup Allah, dengan mengampuni maka kita sedang
mempraktekkan gaya hidup Allah.

MAKNA KENAIKAN KRISTUS

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, AKU menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”
(Matius 28:19-20)

Orang Kristen pada abad pertama merupakan kaum minoritas bahkan kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan bawah seperti budak, nelayan, dan orang miskin. Sedikit sekali pejabat-pejabat tinggi, konglomerat, atau orang-orang penting di dalam masyarakat yang beriman kepada Yesus Kristus. Dari antara 12 murid Yesus, kita melihat begitu banyak nelayan yang dipanggil. Yesus menjadi teman dari pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Ia menerima orangorang yang dibuang oleh masyarakat.

Raja Konstantin mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan setelah 300 tahun pengaruh kekristenan dan mulailah masa dimana gereja mengalami penganiayaan, pengucilan, pembunuhan, dan penyiksaan. Begitu banyak martir yang mengalirkan darah, mati syahid bagi kepercayaan dan iman kekristenan yang mereka yakini. Siapakah yang memberikan kekuatan? Bagaimana mereka bisa bertahan bila tidak ada penolong yang setiap saat berada dengan mereka?, Siapa yang berada di tengah-tengah mereka? Siapakah Penolong itu? Dialah Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memberikan kuasa ditengah – tengah penderitaan, penganiayaan, dan segala kesulitan sehingga mereka tetap beriman teguh kepada Yesus Kristus.

Dari peristiwa Pengorbanan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus ke surga kita melihat bagaimana kesempurnaan kuasa dari Allah, bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan dan Allah yang Esa. Sehingga tidak ada yang harus kita ragukan lagi dari Allah. Pengenalan kita akan Pribadi Yesus Kristus semakin diteguhkan melalui peristiwa kenaikan-Nya ke surga karena Kristus memperlihatkan kepada dunia bahwa DIAlah penguasa langit dan bumi bahkan alam maut tidak berkuasa atas diri-Nya. Kematian yang menjadi masalah terbesar bagi manusia bukanlah masalah bagi Kristus. Adakah masalah kita yang lebih besar daripada kematian?

Bukan hanya itu, kenaikan Yesus Kristus ke surga juga menunjukkan bahwa misi-Nya untuk menebus dosa kita sudah selesai (Yoh 17:4-5). Jadi, sama seperti kebangkitan-Nya, maka kenaikan Yesus ke surga juga merupakan fakta / faktor yang menjamin keselamatan orang percaya. (YG)

Refleksi:
Dengan mengingat kenaikan-Nya ke surga, kita kembali menyadari bahwa Ialah pemenang, pemberi Roh Kudus, sekaligus pendoa syafaat yang mengerti kesengsaraan kita.

MENGHARGAI KASIH KARUNIA ALLAH

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil
usahamu, tetapi pemberian Allah”
(Efesus 2:8)

Amazing Grace, how sweet the sound, That saved a wretch like me…. “Amazing Grace” adalah sebuah himne Kristen yang paling terkenal di dunia. Liriknya ditulis oleh penyair Inggris yang juga seorang pendeta bernama John Newton (1725-1807). Lagu Amazing Grace ini membawa pesan bahwa hanya pengampunan dan penebusan yang memungkinkan orang terlepas dari dosa - dosa dan bahwa jiwa dapat dibebaskan dari keputusasaan melalui kasih karunia Allah. Keselamatan yang kita peroleh sebagai orang percaya bukanlah hasil dari perbuatan kita tetapi karena iman dan kasih karunia Tuhan.

Rasul Paulus sangat membenci kekristenan dan ia berupaya untuk memburu serta membunuh para pengikut Yesus. Namun bukan karena perbuatan Paulus, ia memperoleh kasih karunia Tuhan. Dalam sekejap hidupnya berubah haluan menjadi Rasul Yesus Kristus. Kasih karunia berarti kita yang sebenarnya tidak layak (karena dosa), menjadi layak di hadapan Tuhan (Bnd. Roma 3:22, 6:23). Kasih karunia memampukan kita menjalani hidup ini dengan luarbiasa, hal yang kita tidak mungkin bisa kita kerjakan dapat kita capai dengan pertolongan Tuhan.Keselamatan bukan datang karena inisiatif kita berbuat baik kepada Allah. Keselamatan datang karena inisiatif Allah yang memberikan cinta kasih-Nya secara cuma-cuma. Siapapun yang menerimanya dalam iman, ia menyambut dan menerima kasih karunia itu. Amazing Grace! Kita orang-orang berdosa yang seharusnya dihukum & dimurkai oleh Allah (Ef 2:-5) diselamatkan oleh kemurahan-Nya. Bukan karena perbuatan baik kita, tapi karena kasih karunia-Nya semata.

Pertanyaannya, bagaimana sikap kita menyambut kasih karunia yang berharga itu? Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta yang mati martir karena melindungi warga Yahudi dari serangan pasukan Nazi pernah menuliskan bahwa sikap seseorang menyambut kasih karunia Allah bisa dengan cheap grace atau costly grace. Ada orang yang menganggap remeh kasih karunia Allah tanpa sikap pertobatan dan penyembahan kepada Allah (cheap grace). Ada yang ingin “membalas” kasih karunia Allah yang sangat berharga dan mahal dengan hidup menyenangkan hati Allah (costly grace). Bagaimana kita menjalani hidup ini dan sejauh apa kualitas iman kita menunjukkan bagaimana kita menghargai kasih karunia Allah.(YG)
Refleksi:
Sudahkah kita menyambut & menghargai kasih karunia Allah yang sangat mahal dan tak terbayar dengan melakukan setiap pekerjaan baik yang Allah percayakan dalam hidup kita?

TIGA KESALAHAN

“Setiap orang yang mau mengikut AKU, ia harus menyangkal dirinya, memikul
salibnya dan mengikut Aku”
(Matius 16:21-26)

Dalam ayat bacaan di atas, dikisahkan tentang Yesus yang sedang menceritakan kepada murid-muridNya apa yang akan terjadi nanti, yaitu bahwa DIA harus menderita sengsara dan mati di atas kayu salib. Petrus, sang murid yang berapi-api segera menunjukkan respons atas perkataan Yesus. Tetapi sayang sikap dan perbuatan Petrus ternyata keliru di mata Yesus, sehingga dengan keras ia dihardik oleh gurunya. Tiga kesalahan Petrus menjadi ciri dari sebagain besar sikap orang percaya.

1. TIDAK MAU MEMIKUL SALIB
Petrus menarik Yesus ke samping dan berkata bahwa Yesus tidak boleh menjalani semua penderitaan itu. Gambaran anak Tuhan yang tidak mau menderita karena pikul salib. Mereka tidak mau mengalami pergumulan/masalah dalam perjalanan imannya. Ingin hidup kekristenan yang nyaman dan bebas hambatan. Cari berkat dan tidak mau pikul salib. Firman Tuhan tidak mengajarkan bahwa hidup hanya dipenuhi dengan berkat-berkat, sukses, kaya, dll. Tetapi Tuhan juga mengajar bahwa akan ada salib yang harus dipikul.

2. MOTIVASI YANG SALAH
Mengapa Petrus melarang Yesus untuk disalibkan? Sebab ia berpikir bahwa jika Yesus disalibkan, maka ia tidak akan dapat ditolong dan dikenyangkan lewat mujizat-mujizat yang Yesus kerjakan. Banyak orang percaya beribadah kepada Tuhan hanya semata-mata karena ingin diberkati jasmaninya. Yesus dijadikan sarana untuk kaya, berhasil, dan mendapatkan jabatan, keamanan.

3. LEBIH MENGUTAMAKAN LOGIKA DARIPADA KEBENARAN FIRMAN TUHAN
Saat Petrus mendengar pemberitahuan Yesus tentang penderitaan dan kematian- Nya, pikiran Petrus terlalu terbatas dan manusiawi. Menurut logika Petrus, salib harus dihindari; menurut akal Petrus, kematian di salib adalah suatu kemalangan bahkan kutuk. Banyak kali, orang percaya ketika menghadapi masalah/pergumulan; cenderung menggunakan akal dan kekuatan sendiri untuk menganalisis dan mencari jalan keluar daripada bertanya kepada Tuhan (YG).

Refleksi:
Buatlah agar aku menghayati sengsara-Mu ya Tuhan, agar dapat mengenal keindahan yang benar, serta kasih abadi, yang akan membuat iman kepercayaanku penuh tanpa keraguan.

KASIH YANG MENGUBAHKAN

“Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati, ”Kuatkanlah hati, janganlah
takut! Lihatlah Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran
Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu”
(Yesaya 35:1-10)

Perubahan berarti transformasi dari keadaan yang sekarang menuju keadaan yang diharapkan di masa yang akan datang; suatu keadaan yang lebih baik. Nabi Yesaya memberitakan kepada bangsa Yehuda yang hidup dalam pembuangan bahwa Allah akan mengubah hidup mereka menjadi lebih baik dari apa yang dialami saat itu. Kondisi orang-orang Yehuda saat itu digambarkan dengan istilah : ”padang gurun yang sunyi senyap, laksana padang kering dan padang belantara” artinya : harapan-harapan untuk hidup dan selamat sangat kecil sekali; kehidupan yang tidak mungkin dibuat oleh tangan manusia dan memang, setiap kali mereka berusaha mengubah hidup mereka, pasti selalu gagal.

Di tengah-tengah ketidakmungkinan terjadi perubahan inilah, Nabi Yesaya justru menegaskan bahwa orang-orang Yehuda akan mengalami sebuah perubahan yang
sangat besar dimana penderitaan, ratap tangis mereka akan berubah menjadi sorak sorai, hidup mereka yang kering dan gersang akan menjadi subur, hidup mereka yang tidak damai, menjadi sangat tentram. Demikian pula sakit penyakit akan dilenyapkan dari tengah-tengah mereka, sehingga yang buta akan melihat, yang tuli akan mendengar, yang lumpuh akan melompat seperti rusa dst. Tangan dan kuasa siapa yang mampu membawa perubahan sehebat itu? Ayat 4 menjawab pertanyaan ini dengan sangat jelas bahwa hanya TUHANlah yang sanggup membawa perubahan. “Katakanlah kepada orang-orang yang tawar hati, ”Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu.”

Kegagalan Adam dan Hawa dalam menaati perintah Allah di taman Eden menyebabkan semua manusia berdosa. Kejatuhan manusia ke dalam dosa merupakan sejarah kegagalan terbesar manusia. Namun Allah berkenan kepada manusia, Ia mengampuni, Ia menutupi semua dosa, Ia meredakan murka-Nya, Ia menghidupkan kembali, Ia memberi sukacita, Ia menunjukkan kasih setiaNya, Ia menyelamatkan, Ia memberi damai dan keadilan. Hanya kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dapat mengubah hidup manusia. Hanya kasih Allah yang dapat menjadikan saudara dan saya berubah ke arah yang lebih baik dan lebih sempurna. (YG)
Refleksi: Dunia menawarkan kasih namun hanya kasih Kristus yang sanggup menyelamatkan dan mengubahkan.