MENEMBUS BATAS

“Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku
mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam ”
(I Samuel 17:45)

Diusianya yang ke-8 tahun, dia mengalami depresi yang hebat karena kondisi fisiknya yang tidak sempurna, namun kemudian dia sadar bahwa hidup harus dia syukuri apapun keadaannya. Akhirnya, perlahan namun pasti, dia menjadi seorang motivator hebat dan berhasil memotivasi jutaan orang di seluruh dunia untuk terus meraih mimpi. Siapa yang tidak mengenal Nick Vujicic? Seseorang yang dilahirkan tanpa tangan dan kaki, tetapi memiliki keahlian yang melebihi orang normal (dapat bermain golf, berselancar, berenang, dll). Keterbatasan fisik Nick Vujicic tidak membuat ia menyerah pada keadaan.

Alkitab juga banyak menceritakan kisah dari tokoh-tokoh yang memiliki keterbatasan namun mereka berhasil menundukkan keterbatasan tersebut dan menjadi pahlawanpahlawan iman. Salah satu contohnya yaitu Raja Daud. Jika Daud diharuskan
membuat curriculum vitae, maka akan terlihat bahwa ia tidak memiliki banyak pengalaman dan latar belakang. Daud tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang raja. Kebiasaan Daud dalam menggembalakan kambing domba tidak dapat dijadikan referensi untuk memimpin sebuah bangsa yang besar. Bahkan tidak terbesit dalam benak nabi Samuel bahwa Daudlah yang dipilih Allah untuk menggantikan Saul. Dari latar belakang sosial, usia, kondisi fisik, dan pengalaman mungkin Daud tidak bisa dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Namun pada kenyataanya; Daud mampu menembus batas kemustahilan saat ia menghadapi Goliat, sang raksasa yang mampu mengintimidasi semua prajurit-prajurit gagah perkasa kepunyaan Saul. Daud tidak takut menghadapi Goliat yang jauh lebih besar dari dia. Ia membuktikan bahwa kebergantungan dan imannya kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub itulah yang meruntuhkan semua batas-batas yang terbentang dihadapannya. Perkataan Daud dalam I Samuel 17:17 merupakan deklarasi imannya kepada Allah. Dengan bermodal umban dan batu; Daud mengalahkan Goliat dan memukul mundur pasukan Filistin.

Bagaimana dengan kita? Adakah saat ini tembok-tembok keterbatasan menahan diri kita? Setiap orang pasti memiliki kelemahan, tidak ada manusia yang sempurna. Maukah kita menembus batas kelemahan dan keterbatasan kita? Jika kita percaya kepada Tuhan, kita pasti sanggup menembus batas tersebut. (YG)
Refleksi: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaanpekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu

TRANSFORMASI AGUSTINUS

“Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta
pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan
dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai
perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan
keinginannya.”
(Roma 13:13-14)

Roma 13:13-14 adalah sebuah nats yang sangat terkenal dan menjadi sebuah tonggak titik balik transformasi kehidupan seorang Agustinus di abad ke 4. St. Agustinus yang kita kenal sebelum mengalami pertobatan adalah seorang anak muda yang pintar, haus akan pengetahuan, namun juga ia adalah seperti anak muda kebanyakan saat itu dan sebagai anak pejabat kekaisaran Romawi hidup berada dalam kenyamanan, pesta pora, dan berbagai hal yang hanya memuaskan keinginan tubuhnya. Kondisi seperti ini membuat hati Monica ibunda Agustinus sangat sedih. Akan tetapi, Monica tidak pernah berhenti untuk terus mendoakan Agustinus, sampai pada suatu titik dimana Agustinus dilawat oleh FirmanNya melalui Surat Paulus kepada jemaat di Roma 13:13-14 ini.

Lawatan Kristus terjadi ketika Agustinus berada di kota Milan dengan maksud belajar ilmu retorika pada seorang Guru Besar Retorika terkenal Ambrosius. Ia mengalami pendengaran yang berkata “Ambil dan bacalah, ambil dan bacalah…!” dan seketika Agustinus mengambil dan membaca bagian dari surat Paulus kepada jemaat di Roma 13:13-14. Saat membaca “…Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Hatinya tergetar. Teks ini begitu menohok diri Agustinus, teks yang begitu relevan dengan kehidupannya. Paulus menulis 4 abad sebelum Agustinus, mengingatkan jemaat di Roma akan hari kedatangan Kristus, hari “Pembebasan tubuh” (Roma 8:23), hari penghakiman yang sudah hampir mendekat. Untuk itulah Paulus menghimbau jemaat di Roma untuk menanggalkan pesta pora , tetapi
sebaliknya mengenakan Kristus di dalam kehidupannya untuk saling mengasihi satu sama lain seperti Kristus.

Transformasi Agustinus setelah membaca teks Roma 13:13-14 merupakan jawaban doa ibu yang setia untuk terus berdoa bagi anaknya. Agustinus menjadi St. Agustinus yang kita kenal sekarang sebagai salah seorang tokoh bapa gereja yang banyak menyumbangkan pemikirannya bagi gereja. Tentu bagi kita saat ini sebagai komunitas Maranatha sedang bergiat mencari pengetahuan, ada suara “ambil dan bacalah..!” Ya, bacalah Firman Tuhan, jadikanlah Firman Tuhan menjadi titik balik mentransformasi kehidupan saudara dan saya!(ITW)
Refleksi: Firman Tuhan mentransformasi kehidupan kita

TRANSFORMASI TOMAS

Tetapi Tomas berkata kepada mereka: “Sebelum aku melihat bekas paku pada
tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan
mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan
percaya. “
(Yohanes 20 : 25)

Faham empirisisme mulai berkembang pada abad pencerahan Eropa yang kemudian memicu perkembangan ilmu pengetahuan yang sedemikian pesat di berbagai bidang. Pengembangan ilmu pengetahuan yang didasari oleh faham empirisisme ini mendasarkan pengetahuannya dari pengalaman manusia. Sehingga dengan demikian pengujian sebuah pengetahuan harus dapat dibuktikan dengan cara pengamatan atau observasi langsung. Apabila hasil pengamatan atau observasi tersebut dapat menjawab asumsi dasar yang diajukan oleh suatu pengetahuan, maka pengetahuan tersebut dinyatakan memiliki nilai kebenaran.

Jauh sebelum faham empirisisme ini berkembang, Tomas salah seorang murid Tuhan Yesus memiliki pandangan semacam ini. Mengapa Tomas tidak langsung percaya dengan berita kebangkitan? Beberapa penulis menyampaikan alasan-alasannya diantaranya 1) Tomas tidak hadir bersama murid yang lain, ketika Yesus menampakan diri kepada mereka (ay 24 dan 19:23); 2) atau mungkin Tomas adalah seorang skeptis (ragu-ragu dan tak gampang percaya). Semuanya itu didasari oleh karena kematian Yesus! Akan tetapi segala sesuatu menjadi berubah, ketika Yesus sendiri hadir di tengah-tengah murid-murid dan terutama Tomas. Yesus tahu benar apa yang dialami oleh Tomas, Ia menegur dengan lembah lembut, dan reaksi yang luar biasa
dari Tomas dimulai dari sebuah pengakuan Tomas, bahwa Yesus sebagai Tuhan dan Allah-nya (sebuah pengakuan terbesar yang diucapkan oleh “si peragu”). Kejadian ini menjadi titik balik Tomas “si peragu” menjadi pembawa kabar keselamatan yang luar biasa mulai daerah Irak, Iran, sampai dengan India.

Bila Tomas 2000 tahun yang lalu ingin bukti empiris tentang kebangkitan Kristus. Bagi kita yang hidup jauh sesudah Kristus menjumpai Tomas, tentu mata hati imanlah yang lebih berperan melihat berbagai kejadian-kejadian dalam kehidupan kita dan bagaimana Kristus hadir di setiap kejadian dalam kehidupan kita. Biarlah kita senantiasa mengingat apa yang Yesus katakan, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya “ (ITW)
Refleksi: Kebangkitan Kristus mengubahkan kita!

MENJADI SETIA

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah
menemukannya.”
(Amsal 20:6)

Batasan benar dan salah, baik dan tidak baik dalam era serba pragmatis, relatif dan konsumtif menjadi buram. Saat ini penilaian banyak orang sudah menjadirelatif dalam segala sesuatu. Apa pun yang dikerjakan tidak bergantung pada standar yang sudah ditetapkan tetapi tergantung pada kepercayaan dan pandangan seseorang.

Dalam Amsal ini umat Tuhan diajarkan untuk memiliki perilaku yang baik dan setia. Perilaku yang bermanfaat bagi orang lain. Raja Salomo mengamati banyak orang yang menyebutkan kebaikannya tetapi kenyataannya dalam kehidupan seharihari sulit menemukan orang yang setia. Hal ini menunjukan bahwa natur manusia yang berdosa dan cenderung melakukan perbuatan jahat. Dalam ayat sebelumnya dikatakan rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, hati manusia begitu kotor sehingga sulit membersihkannya. Namun bersyukur, pengorbanan
Kristus di atas kayu salib yang mampu membersihkan hati nurani manusia yang berdosa dan melepaskan manusia dari belenggu maut. Hati yang diperbaharui memampukan manusia untuk setia dan taat melakukan kebenaran Fiman Allah. Kesetiaan seseorang tidak ditentukan dengan situasi dan kondisi serta tidak bisa diukur dengan waktu yang pendek. Seseorang dikatakan setia bila ia didapati melakukan kebaikan dalam jangka panjang dan teruji sekali dalam berbagai situasi. Semakin banyak tantangan di zaman ini, semakin sukar kita menemukan orangorang yang kesetiaannya teruji. Berbagai macam motivasi orang melakukan kebaikan tetapi kecenderungan banyak orang akan dapat melakukan kebaikan ketika segala sesuatu berjalan dengan baik. Tantangan dunia kerja yang membuat para karyawan melupakan makna dari sebuah kesetiaan. Begitu juga dengan pemimpin di dunia kerja yang karena persaingan bisa saja melupakan dan mengabaikan makna kesetiaan yang diberikan oleh stafnya.

Kesetiaan adalah salah satu karakter Tuhan. Jadi, kita sebagai warga kampus Universitas Kristen Maranatha seharusnya memiliki kesetiaan. Apapun posisi kita, biarlah lingkungan di mana kita berada mendapati kita sebagai orang yang setia. (RZA)
Refleksi: Buktikan kesetiaanmu kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari

KOMITMEN

”Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti
engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana
engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan
Allahmulah Allahku.”
(Rut 1:16)

Arti komitmen adalah sikap yang menyatakan sebuah kesanggupan untuk berbuat sesuatu. Orang yang berkomitmen maka ia bersedia untuk melaksanakan janjinya tidak hanya pada saat ini, tetapi akan berkelanjutan dan dilakukan secara terus menerus. Sebuah makna yang sangat mendalam karena komitmen yang sungguh-sungguh akan selalu didasari oleh kasih yang tulus dan tanpa kepura-puraan.

Komitmen yang diambil Rut untuk mengikut Naomi terlihat pada ikrarnya pada Naomi bahwa bangsa Naomi adalah bangsa Rut dan Allah Naomi adalah Allah Rut juga. Walaupun Rut disuruh pulang supaya tidak mengalami kesusahan lagi dan mengikuti iparnya Orpa tetapi Rut tetap bertekad untuk mengikut Naomi. Hal ini merupakan ungkapan keyakinan iman Rut yang pada mulanya orang yang tidak mengenal Allah tetapi mengakui Allah (YHWH) yang disembah bangsa Israel. Naomi sebagai mertua
memiliki pengaruh yang besar atas Rut sehingga Rut sangat mengasihi dia. Rut sebelumnya memiliki latar belakang sebagai penyembah berhala. Selain itu, faktanya
adalah selama 10 tahun menjadi istri Mahlon dan hidup berdampingan dengan keluarga Elimelekh, Rut menyaksikan betapa keluarga ini memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Kedekatan hubungan itu tercermin dari pola kehidupan mereka setiap hari. Itulah sebabnya, tanpa ragu lagi, ia menyatakan komitmennya untuk mengikuti Naomi.

Menjadi nasihat bagi kita apakah kepercayaan kita akan Allah memberi pengaruh yang positif bagi sekeliling kita. Orang yang sudah menikmati kasih Allah dalam hidupnya tentunya dapat membagikan kasih Allah kepada orang lain. Sebagai warga kampus seharusnya memiliki komitmen bersama untuk mengimplementasi nilai hidup kristiani sebagaimana yang sudah menjadi kebijakan institusi bagi warga kampus. Tidak ada yang saling menunggu untuk melakukan komitmen yang sudah disepakati bersama.(RAP)
Refleksi: Berkomitmen berarti bersedia untuk melaksanakan janji secara terus menerus

TETAP BERBUAT BAIK

“Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari
perdamaian dan berusaha mendapatkannya. “
(1 Petrus 3:11)

Nelson Mandela adalah seorang negarawan dari Afrika Selatan. Dia seorang aktifis yang harus memperjuangkan persamaan hak antara warga kulit hitam dan kulit putih. Pada waktu itu ada kesenjangan sosial kemasyarakatan, dan kesenjangan pendidikan antara kedua belah pihak. Segala sesuatu hanya boleh dikuasai oleh warga kulit putih, bahkan sampai warga kulit hitam tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan. Situasi ini tentu tidak disetujui oleh Nelson Mandela yang juga berkulit hitam. Ia memberontak melawan orang-orang berkulit putih sehingga ia harus dipenjara pada tahun 1963. Selama 27 tahun beliau dipenjara dan pada tanggal 11 Februari 1990 Nelson Mandela dilepaskan dan kemudian menjadi presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan.

Hal yang sangat menarik dan patut dibanggakan adalah Nelson Mandela ketika menjadi seorang pemimpin kembali, ia tidak membalas kepada orang-orang yang telah melakukan kejahatan terhadap dirinya. Ia menolak usulan dari panglima tentaranya untuk menangkap dan memenjarakan lawan-lawan politiknya. Prinsip yang ada dalam hidupnya adalah ‘aku memaafkan kejahatan kalian padaku.’ Sungguh sikap yang sangat terpuji dan jarang terjadi dalam realita kehidupan sekarang ini.

Petrus mengingatkan jemaat, bahwa sekalipun mereka mengalami penderitaan karena beriman kepada Yesus, jemaat agar tidak memadamkan semangat untuk melakukan apa yang benar dan baik sesuai dengan kehendak Allah. Aniaya yang dialami orang percaya sebagai sebuah kesempatan untuk memurnikan iman mereka. Tidak perlu mundur dan takut karena panggilan Allah dalam kehidupan kita.

Hari ini kisah Nelson Mandela memberi inspirasi kepada kita untuk tidak pernah berhenti memperjuangkan kebenaran. Memang berjuang sendiri melawan sistem yang tidak adil bukanlah hal mudah tetapi jika itu memang panggilan setiap kita maka tidak ada yang bisa menghambat seseorang untuk maju. Sebagai orang percaya melakukan sesuatu yang baik adalah menjadi bagian hidup, mari kita budayakan hidup benar dilingkungan kerja kita sehingga damai sejahtera boleh dirasakan oleh orang-orang yang di sekitar kita.(RAP)
Refleksi: Pancarkan damai dengan berbuat baik kepada sesama

PENGORBANAN

“dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain
lebih utama dari pada dirinya sendiri;”
(Filipi 2:3)

Seorang direktur keamanan bernama Richard Rescola di gedung Morgan Stanley yang letaknya sangat dekat dengan gedung kembar yang luluh lantak akibat serangan 9/11 di Amerika Serikat. Dia saat bencana ini terjadi, tetap bertahan sampai orang terakhir berhasil dievakuasi. Akibatnya Rescola meninggal di tempat. Namun pengorbanannya telah berhasil menyelamatkan setidaknya 2.500 orang.

Dalam nas di atas rasul Paulus memberikan nasihat kepada jemaat untuk tidak mencari kepentingannya sendiri tetapi mendahulukan kepentingan orang lain juga. Jemaat Filipi dihimbau untuk tidak melakukan apapun yang didasari oleh ambisi egois yaitu keinginan untuk meninggikan diri sehingga menyebabkan persaingan dan akhirnya menimbulkan pertikaian. Hal lain jemaat berusaha untuk bersatu yaitu mendekatkan satu sama lain. Tidak saling menghina satu dengan yang lain sehingga menyebabkan kebencian diantara jemaat. Sebagai orang yang ada di dalam Kristus, tidak ada lagi individualisme, yang ada adalah orang yang rela untuk mengutamakan orang lain. Sebagaimana Yesus yang telah datang ke dunia dengan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Sikap seperti Yesus yang telah datang menjadi manusia mengajarkan kita dalam melayani yaitu lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya. Landasan utamanya adalah rela berkorban bagi orang lain dan cara praktisnya adalah menganggap orang lain lebih baik adalah dengan melihat kebaikan atau kelebihan orang lain.

Menjadi pertanyaan bagi setiap kita yang sudah mengenal Kristus dan mau hidup seperti Kristus adalah apakah kita tidak hanya memperhatikan kerohanian diri sendiri tetapi juga memperhatikan kerohanian orang lain? Apakah kita sudah berusaha memberikan nasihat dan mendoakan orang-orang yang ada dalam unit kerja kita masing-masing. Kita bisa melihat kisah nyata Richard Rescola yang hidupnya untuk melayani orang lain. Kita pun bisa bekerja dengan penuh pengorbanan karena Yesus sebagai contoh teladan kita untuk melayani dengan baik. (RAP)
Refleksi: Menjadi seperti Yesus yang tidak mencari kepentingan pribadi.

KEBERANIAN DALAM DIRI OBAJA

“Sebab itu Ahab telah memanggil Obaja yang menjadi kepala Istana. Obaja itu
seorang yang sungguh-sungguh takut akan TUHAN.
(1 Raja-raja 18:3)

Dalam acara “Tolong” di salah satu stasiun TV terlihat bahwa kecenderunganorang yang selalu menolong sesamanya adalah orang yang telah mengalamikesusahan dalam hidupnya seperti tukang jamu, penarik becak atau paraburuh. Sikap orang yang selalu siap menolong sesama adalah salah satu ciri yangseharusnya dimiliki oleh orang yang takut akan Allah. Seorang yang takut akan Allah,ia akan berusaha menaati perintah Allah.

Nama “Obaja” memiliki arti pelayan Tuhan. Sejak kecil Obaja seorang yang takut akan Tuhan (ay 12). Meskipun Obaja tinggal di tengah lingkungan penyembah berhala, tetapi ia tetap giat melayani Tuhan dengan cara memelihara 100 orang nabi Tuhan. Sebagai kepala istana raja Ahab di Israel, Obaja seorang yang tetap menghormati raja Ahab dengan mengikuti perintahnya untuk mencari sumber mata air dan rumput. Obaja tidak meninggalkan tugasnya sebagai kepala istana dan kewajiban imannya.

Keberanian dalam mengambil sikap sangatlah penting dan tentunya akan ada konsekuensi yang akan dialami oleh orang yang berani. Obaja seorang yang tulus dan semangat melayani Tuhan. Dia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan sehingga dia tidak memikirkan keselamatannya, dia memberikan pertolongan kepada nabi-nabi Tuhan yang akan dilenyapkan oleh ratu Izebel dengan cara
menyembunyikan nabi-nabi Tuhan dengan memberikan makanan kepada 100 orang nabi Tuhan. Ia lebih takut kepada Tuhan dari pada Raja yang memiliki kuasa untuk menangkap dan membunuhnya.

Sebagai warga Universitas Kristen Maranatha sudah seharusnya kita dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan dengan baik dan benar. Apapun tugas dan tanggung jawab yang diemban setiap pribadi hendaklah dikerjakan dengan optimal. Tidak ada yang menjadi hambatan bagi siapapun jika hidupnya dilandasi oleh takut akan Tuhan. Ia akan berusaha melakukan yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan walaupun itu berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan dirinya. Ia akan menunjukkan kinerja yang terbaik dan tidak terpengaruh dengan situasi dan kondisi. (RZA)
Refleksi: Hidup benar adalah hidup yang mentaati Firman Allah

MEMPERHATIKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN

dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri,
tetapi kepentingan orang lain juga”
( Filipi 2:4 )

Dahului kala di sebuah kota kecil hidup seorang yang kaya raya dan terpandang. Pada suatu hari ia mengadakan pesta dan banyak sekali orang yang ia undang datang ke pesta itu. Belum lama pesta itu dimulai turun hujan yang sangat lebat dan akibatnya halaman di rumah orang tersebut tergenang air dan menjadi sangat becek. Siapapun tamu yang datang terlambat perlu berhati-hati supaya tidak tergelincir dan jatuh. Mungkin karena tergesa-gesa karena terlambat seorang bapak tua jatuh tergelincir. Bajunya menjadi sangat kotor dan berlumpur. Semua orang di atas teras yang melihat peristiwa itu spontan tertawa dan situasi itu membuat sang bapak tua ragu untuk masuk ke dalam rumah karena merasa malu. Seorang pelayan yang melihat kejadian tersebut segera melaporkan kejadian itu kepada tuan pemilik rumah. Maka sang tuan rumah keluar menemui bapak tua itu dan membujuknya untuk masuk, tetapi bapak tua itu menolak untuk masuk. Tiba-tiba di luar dugaan semua orang yang ada di tempat itu sang tuan rumah menjatuhkan dirinya ke dalam kolam lumpur yang sama. Setelah itu ia berdiri menggandeng lengan tamunya, dan
mereka berdua dalam keadaan kotor penuh lumpur masuk ke ruang pesta. Tak seorangpun berani mentertawakan mereka.

Rasul Paulus dalam surat kirimannya kepada jemaat Filipi memberikan nasehat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus. Sebagai jemaat yang hidup di dalam Kristus diingatkan mempunyai ciri penghiburan kasih, senantiasa sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. Tidak mencari kepentingan diri sendiri, pujian. Tetapi hendaknya rendah hati dan menganggap orang lain lebih utama daripada dirinya sendiri. Tidak memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Nilai-nilai moral-etis hidup jemaat sebagaimana yang dinyatakan di atas didasarkan oleh Kristus yang adalah serupa dengan Allah tetapi tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah sebagai yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri, menjadi hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Memperhatikan kepentingan sendiri merupakan kecenderungan yang mungkin bisa dikatakan “alamiah” pada diri seseorang. Tetapi sebagai mahkluk yang diciptakan “serupa dan segambar dengan Allah” dan sebagai orang yang sudah ditebus dengan harga yang mahal oleh Kristus, kita dipanggil tidak sekedar untuk memperhatikan
kepentingan sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain.(AE)
Refleksi: Jadilah seorang yang solider, bukan soliter.

IMAN TIDAK MEMANDANG MUKA

“ Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan
kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.”
( Yakobus 2:1 )

Konfusius pernah berkata:” perlakukanlah semua orang seakan-akan sedang menghadapi seorang tamu besar”. Perkataan Konfusius ini memiliki dua makna, di satu pihak ia mengingatkan tentang kecenderungan sikap kita yang suka membeda-bedakan orang karena berbagai sebab dan latar-belakang. Tetapi di pihak lain bermakna sikap yang “egaliter” yaitu sikap yang tidak membedakan orang apapun alasannya. Dalam pergaulan kita sadari sering membeda-bedakan orang menurut berbagai pertimbangan yang kita buat sesuai dengan “selera”. Kita bedakan orang atas alasan kedudukan, pangkat, status, materi yang dimilki, suku, bangsa, etnis, bahkan agama. Pembedaan ini tentunya berangkat dari penilaian “subjektif” kita terhadap seseorang dengan penilaian dari apa yang kasat mata, kulit, penampilan, dan hal lain yang kelihatan. Barangkali inilah budaya “shame culture” yang menilai seseorang dari kulitnya yang terlihat, yang lahiriah. Berbeda dengan sikap “guild culture” yang menilai seseorang secara batiniah ( baca: dari dalam) dan bentuk tanggung jawabnya.

Penulis Yakobus menasehatkan jemaat Tuhan ( baca:orang beriman) supaya menjalani pergaulan hidup dalam berelasi dengan sesama dengan tidak memandang muka. Sebab jika ada seseorang yang masuk dalam kumpulanmu dengan memakai cincin
emas dan pakaian yang indah kamu persilahkan duduk di tempat yang terhormat, sedang kepada orang miskin kamu berkata, berdirilah di sana di lantai dan di bawah kakiku maka kamu sudah menjadi hakim dengan pikiran yang jahat. Penulis Yakobus bahkan mengingatkan bahwa Allah sendiri memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris kerajaan Allah. Bahkan penulis surat Yakobus mengingatkan jemaat, bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan menyeset kamu ke pengadilan. Kita diingatkan untuk menjalani kehidupan dengan menerapkan hukum utama sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab:”kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Dengan melakukan itu maka kita berbuat kebaikan.

Allah yang kita kenal adalah Allah mengasihi semua orang tanpa memandang muka, bahkan para gembala dan orang-orang miskin dimuliakan Allah. Marilah kita melakukan hal yang serupa dengan Allah yaitu membangun relasi tanpa memandang muka.(AE)
Refleksi: adalah panggilan kita untuk menjadi gereja yang kudus dan “am”.