FILADELFIA

“Peliharalah kasih persaudaraan!”
(Ibrani 13:1)

Tanpa direncanakan, suatu kali saya dan seorang ibu, dalam rangka pelayanan ke daerah transmigrasi, berkunjung ke sebuah persekutuan di Dumai, Pekanbaru. Saya diberkati dengan apa yang saya dapati disana. Anggota persekutuannya sungguh beragam. Mulai dari pimpinan perusahaan, karyawan biasa, bahkan pembantu rumah tangga. Mereka yang sudah mapan, yang sedang mencari pekerjaan , hingga yang masih kuliah turut dalam persekutuan itu. Bukan hanya dari pekerjaan atau status, tetapi juga terdiri dari suku atau etnis yang berbeda. Latar belakang mungkin berbeda, tingkat kedewasaan dan sebagainya juga berbeda. Tantangan hidup yang dihadapi berbeda, namun disana semuanya menjadi satu, sebagai saudara seiman, menjadi satu keluarga, bersama-sama memuji dan menyembah Tuhan, berbagi firman, kesaksian, pengalaman. Begitu akrab, begitu erat, sesuatu yang sangat jarang kita dapati dalam pola kehidupan masyarakat secara umum yang cenderung berkelompok dengan orang-orang yang memiliki persamaan baik dari segi usia, pekerjaan, status sosial dan sebagainya. Di sana mereka mengedepankan sebuah persamaan yang jauh lebih penting, dan dipandang indah di mata Tuhan, yaitu sama-sama saling bersaudara di dalam Kristus. Filadelfia, itu kata yang menggambarkan kasih persaudaraan seperti yang dipakai dalam Alkitab. Filadelfia berasal dari kata Fhileo yang artinya sebuah kasih tulus dan murni tanpa menuntut imbalan apa-apa, dan Delfho yang artinya suatu kerahiman yang membuat sebuah ikatan persaudaraan yang erat. Jika digabungkan maka Filadelfia berarti Kasih Persaudaraan. Ini adalah sebuah hal yang sangat penting di mata Tuhan, yang menuntut kita menyingkirkan segala perbedaan-perbedaan yang bersifat duniawi tetapi kemudian bersatu dalam kasih sebagai satu keluarga, sesama saudara dalam Kristus. Penulis Ibrani menyerukannya dengan ringkas, tegas dan jelas: “Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibrani 13:1). Inilah bentuk ikatan yang dikehendaki Tuhan. Latar belakang boleh berbeda, ras, suku, status,tingkat pendidikan dan sebagainya boleh berbeda, tetapi dalam Kristus semuanya bersaudara.

Di kampus kita temukan banyak orang yang berbeda status, ras, etnis, tingkat
pendidikan bahkan agama. Walaupun demikian mereka adalah bagian dari keluarga besar Universitas Kristen Maranatha. Kita semua adalah saudara(IH)
Refleksi:
Kita semua bersaudara, dengan demkian marilah kita saling mengasihi

SAHABAT YESUS

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan
kepadamu.” (Yohanes 15:14).

Lagu berjudul “What a Friend We Have in Jesus”, lagu yang ditulis sudah sangat lama pada pertengahan abad 1800-an oleh Joseph Scriven ini menegaskan bahwa Yesus adalah sahabat sejati yang paling luar biasa yang bisa kita temukan. Manusia kadang kala bisa mengecewakan kita, tetapi Tuhan yang begitu besar kasihNya, bahkan telah menebus kita semua agar bisa selamat masuk ke dalam KerajaanNya kelak. Lagu ini menegaskan bahwa Dia rindu untuk menjadi sahabat kita. Seorang sahabat berbeda dengan teman yang bisa datang dan pergi kapan saja. Seorang sahabat yang sejati akan selalu berusaha hadir bersama kita menjadi pendengar yang baik, menghibur, menguatkan dan memberi bantuan di kala kita butuhkan. Dan bentuk persahabatan seperti itulah yang diulurkan Tuhan kepada kita.

Tuhan sendiri melalui Kristus telah membuka diri untuk menjadikan kita sahabatsahabatNya. Dengan segala keistimewaan yang bisa kita dapatkan dari seorang sahabat di dunia, kita bisa mendapatkan jauh lebih dari itu lewat sosok Allah yang tak terukur dan tak terbatas kasih setiaNya. Yesus sendiri sudah mengatakan hal itu. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (ayat 13)

Kita mendapat kehormatan sebagai sahabatNya apabila kita menuruti dan melakukan perintahNya. Apa yang diperintahkan Yesus sebenarnya tidaklah banyak, dan itu bisa kita baca dalam ayat sebelumnya. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (ay 12).

Jika kita melakukan apa yang Dia perintahkan kepada kita, maka kita memperoleh kehormatan yang teramat sangat istimewa yaitu menjadi sahabat Yesus. Ada banyak sahabat Yesus di sekitar kita, dengan demikian kita bisa membangun suatu persekutuan sahabat Yesus. Itulah gereja Tuhan, persekutuan para sahabat Yesus, yang dikasihi Yesus dan yang saling mengasihi. Warga Universitas Kristen Maranatha adalah bagian dari umat yang Tuhan kasihi, tetapi tidak semuanya dapat disebut sebagaisahabat Yesus apabila mereka tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan yaitu saling mengasihi.(IH)
Refleksi:
Gereja Tuhan adalah persekutuan para sahabat Yesus apabila mereka saling mengasihi.

JADILAH SAHABAT

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17: 17)

Mencari sahabat itu susah-susah gampang. Bagi sebagian orang yang beruntung, mereka bisa memiliki banyak sahabat yang tidak saja hadir di kala senang, tetapi juga ada di waktu susah. Sebagian orang lagi masih
kesulitan untuk bisa mendapatkan teman berbagi sebagai sahabat yang sejati. Ada yang memang kesulitan untuk membuka diri dan bergaul, tetapi ada pula yang masih tetap kesulitan meskipun mereka sudah membuka pintu persahabatan denganorang lain. Seorang anak pernah mendefinisikan sahabat sebagai “seseorang yang tetap menyukai kita meskipun telah mengetahui segala sesuatu tentang diri kita” Semakin kita terbuka, semakin menjauh teman-teman kita. Semakin hari manusia semakin bersikap individualis. Manusia cenderung semakin tidak peduli terhadap sesamanya dan hanya mementingkan dirinya sendiri.

Dan hari-hari ini kita melihat begitu banyak orang yang merasa kesepian, merasa sendirian dalam memikul beratnya beban kehidupan. Kesunyian begitu mencekam, sedih rasanya ketika mendapati bahwa tidak ada lagi siapapun yang peduli terhadap penderitaan mereka. Mereka memerlukan seorang sahabat, orang yang mau menemani dia ketika semua orang meninggalkannya. “Seorang sahabat adalah orang pertama yang menemani kita ketika seluruh dunia meninggalkan kita” (Henry Durbanville)

Amsal 17: 17 menungkapkan seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. Memiliki sahabat yang selalu mendampingi kita dalam segala keadaan merupakan berkat yang sangat berharga dalam kehidupan. Dukungan, penghiburan, dan penguatan seorang sahabat sangat dibutuhkan ketika beban hidup yang berat menimpa kita.

Ada banyak orang di sekitar kita yang berbeban berat dalam kehidupannya. Ia membutuhkan seorang sahabat. Persahabatan harus dimulai dari diri kita. Kita harus berinisiatif mengembangkan hubungan dengan orang lain. Perlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika Anda ingin punya sahabat, Anda harus terlebih dahulu menjadi sahabat. Ketika Anda menjadikan dia sebagai seseorang sahabat, maka Anda pun jadi sahabat buat dia. Kemudian, Anda dapat pula jadikan sahabat dia menjadi sahabat Anda atau ia dapat menjadikan sahabat Anda sebagai sahabatnya juga.(IH)

Refleksi:
Aku pergi untuk mencari seorang sahabat, tetapi tak kutemukan seorang juga. Aku pergi untuk menjadi seorang sahabat, dan kutemukan sahabat dimana-mana.

 

INGIN PUNYA SAHABAT?

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Amsal 18: 24)

Walter Winchell, seorang wartawan dan juga komentator radio kenamaan Amerika berpendapat tentang arti seorang sahabat: “Sahabat adalah seseorang yang menghampiri Anda, menemani Anda, di saat orang lain meninggalkan Anda.” Artinya seorang sahabat yang sejati itu bukan hadir di kala senang saja, melainkan juga saat susah. Alkitab lebih jelas menyatakannya “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,” Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang berada di ‘bawah’ atau sedang jatuh. Karena didasari oleh kasih yang tulus, seorang sahabat akan tetap berada di sisi sahabatnya di segala keadaan dan mau menerima keberadaannya secara utuh apa adanya.

Seorang teman dapat mencelakakan, contohnya Yudas Iskariot , meski secara kasat mata ia mencium Yesus, namun sesungguhnya ia menikam dari belakang dan mengkhianati Dia. Sikap yang ditunjukkan Yudas adalah bentuk pertemanan yang palsu, penuh kepura-puraan karena ada motivasi yang terselubung, biasanya untuk kepentingan sendiri.

Ada banyak teman di sekitar Anda, tetapi belum tentu ia seorang sahabat. Bagaimana mengenali bahwa ia benar-benar sahabat, bukan sekedar seorang teman? Apabila ia sekedar menunjukkan simpatinya ketika Anda mengalami kesulitan, ia cuma sekedar teman. Atau ia mendekat Anda ketika ia ada kepentingan tertentu, ia mungkin juga cuma sekedar teman. Tetapi bila ia menunjukkan empatinya, merasakan apa yang Anda rasakan, bahkan bila ia menyatakan apa yang dapat ia lakukan untuk dapat menolong Anda, ia dapat Anda jadikan sebagai seorang sahabat.

Di kampus ada banyak orang yang berinteraksi dengan Anda. Betemanlah dengan mereka semua. Ada beberapa orang pantas menjadi sahabat Anda(IH)

Refleksi:
Kasih seorang sahabat tak lekang oleh waktu, penuh komitmen dan teruji
kesetiaannya,; semua dilakukan bukan karena terpaksa, tapi penuh kerelaan.

KESETARAAN DAN SAHABAT

“Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi. Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabatsahabatnya,

mereka menjauhi dia” (Ams. 19:6-7)

Dalam suasana pemilihan kepala daerah yang secara serentak dilakukan di
Indonesia, secara kasat mata dapat kita saksikan betapa persahabatan sejati sulit ditemukan dalam dunia politik. Dua orang pemimpin partai yang tadinya berseteru, kemudian menjadi sekutu untuk menghadapi lawan politik dari partai atau koalisi lain. Perbedaan falaafah dasar partai pun tidak jarang dikorbankan demi mencapai kemenangan. Yang lebih mengerikan adalah menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan kandidat lain. Seakan-akan meniru dan mengaminkan cara-cara yang dilakukan oleh kandidat presiden dari salah satu negara maju, yang secara vulgar menyerang rival nya dengan berbagai isu yang membuka aib pribadi, keluarga, kelompok, mapun partai pengusung. Rakyat pendukung partai pun ikut-ikutan dalam gerakan yang masif dan demonstratif karena keyakinan akan perubahan nasib maupun masa depan negara. Tidak jelas, apakah benar atau salah, semua aktivitas mendukung para calon pemimpin melibatkan dana yang sangat besar. Kedermawanan palsu dan motivasi yang jelas untuk memenangkan hati pemilih dipertontonkan secara jelas. Uang adalah motivasi terbesar manusia untuk melakukan sesuatu. Dengan uang, kenyamanan hidup dapat diperoleh. Dengan uang, keleluasaan dalam memilih kenikmatan hidup bukan hanya sekedar mimpi. Orang kaya akan disanjung setinggi langit jika dia rela untuk membagikan miliknya. Tetapi apa yang akan terjadi ketika hartanya sudah tidak ada lagi? Penulis kitab Amsal mengungkapkan bahwa orang miskin dibenci oleh semua saudarnya, bahkan dijauhi oleh sahabat-sahabatnya. Kemiskinan dapat dipahami terutama dalam hal kekurangan secara materi dan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari, hari, kebutuhan sandang, sperti pakaian layak pakai, kebutuhan perumahan untuk menetap, dan kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Artinya, kekurangan akan barang-barang dan pelayanan dasar kelayakan hidup manusia. Kemiskinan juga mencakup kurangnya pemenuhan kebutuhan sosial berupa keterkucilan, ketergantungan dan ketidakmampuan berpartisipasi di masyarakat. Yesus mengingatkan bahwa kita perlu saling menolong dengan tulus membantu yang berkekurangan. Karena orang miskin menurut dunia, bisa saja kaya dalam iman dan menjadi pewaris Kerajaan Surga. (ROR)

Refleksi:
Janganlah kita memandang orang karena hartanya.

AYUB & SAHABATNYA

“Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabatsahabatnya,
dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala
kepunyaannya dahulu”
(Ayub 42:10)

Salah satu ciri khas anak kecil adalah selalu bertanya “mengapa”? Benarlah anggapan bahwa anak-anak selalu ingin tahu segala hal, sedangkan orang dewasa selalu ingin mengetahui tentang penderitaan. Memang dunia ini penuh dengan hubungan sebab akibat. Misalnya, pemanasan global disebabkan oleh mencairnya gumpalan-gumpalan es di kutub Utara bumi. Degradasi moral di berbagai negara adalah akibat dari penggunaan teknologi yang tidak bijaksana dan kurang dipersiapkan. Bahkan ada yang membuat sinyalemen bahwa perang suku di Afrika adalah akibat ulah negara-negara adidaya yang saling berebut kekuasaan atas dunia. Dalam konteks yang lebih kecil, kemakmuran hidup seseorang dianggap adalah akibat kerja keras dan motivasi yang tinggi serta etos kerja yang sangat baik dari orang tersebut. Itu sebabnya, tidak masuk akal jika seseorang yang memiliki moral yang sangat baik, hubungan keluarga yang sangat bahagia, serta kemampuan manajemen bisnis yang mumpuni seperti Ayub, mengalami penderitaan hidup
yang sangat mengenaskan. Sahabat-sahabatnya berusaha membantu Ayub untuk menemukan jawaban atas penderitaannya. Dengan berbagai hikmat dan pengertian
yang mengandalkan kekuatan pikiran manusia disertai keterbatasan wawasan mereka, para sahabat Ayub kembali kepada suatu teori bahwa orang baik akan mendapatkan apa yang baik, sedangkan penderitaan adalah akibat dari perbuatan yang tidak baik. Sebenarnya Ayub memiliki pandangan yang relatif sama dengan para sahabatnya, kecuali Elihu yang mengungkapkan pendapatnya bahwa mungkin saja Tuhan mengijinkan segala penderitaan Ayub terjadi untuk memurnikan hidupnya. Elihu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ketika Allah kemudian menyingkapkan maksudnya, bahwa TUHAN tidak bermaksud mengijinkan Ayub menderita supaya dia mengetahui jawabannya, melainkan supaya dia mengenal Allah lebih dekat lagi. (ROR)

Refleksi: Kadang Allah mengijinkan penderitaan untuk kita alami supaya kita mengenal dia lebih dekat lagi dan lebih bergantung kepadaNya. Kita mungkin tidak selalu bisa menemukan jawaban atas pertanyaan kita.

DAUD, ABNER & YOAB

“Ketika Abner datang kepada Daud di Hebron bersama-sama dua puluh
orang, maka Daud mengadakan perjamuan bagi Abner dan orang-orang yang
menyertainya”
(2 Sam. 3:20)

Abner adalah seorang jenderal dan pemimpin pasukan dari raja Saul. Dia memiliki kemampuan militer yang sangat baik. Untuk jangka waktu yang tidak terlalu lama, Abner pernah menjadi pemimpin pasukan di bawah pemerintahan raja yang lemah. Kepribadian Abner dikenal sebagai seorang yang cenderung mementingkan diri sendiri. Dengan usahanya sendiri, dia ingin menyatukan kerjaaan Israel dan keerajaan Yehuda. Dia menolak untuk bekerja sama untuk mewujudkan rencana Allah. Sedangkan Daud adalah seorang raja yang diurapi Allah untuk mengantikan raja Saul yang telah nyata-nyata gagal dalam memimpin umat Tuhan. Bahkan Saul telah berani menentang perintah Allah dengan melakukan upacara persembahan kepada Tuhan, yang sebenarnya adalah tugas nabi Samuel. Daud menyadari potensi dan ketrampilan Abner dalam memimpin. Oleh karena itu, Daud menggunakan pendekatan yang bersahabat ketika menerima Abner dan
pasukannya. Kemudian Abner mulai mengerti dan menerima rencana Allah untuk menjadikan Daud sebagai raja atas Israel dan Yehuda. Demi mewujudkan rencana
allah, Daud bersedia berdamai dan bekerjsama dengan Abner. Karena ketaaatan kepada Allah, Daud membuat perjanjian damai dengan Abner. Itu sebabnya dia sangat bersedih ketika Abner kemudian dibunuh oleh Yoab, ajudannya yang setia namun memiliki kepribadian yang cenderung ingin melakukan apa yang dipikirnya baik. Daud tidak memanfaatkan otoritasnya untuk menghukum Abner maupun Yoab. Dia memilih untuk menjalin kerjasama dengan mereka dan bersedia menerima kelebihan dan kekurangan mereka. Bagi Daud, menjalankan rencana Allah jauh lebih utama daripada mengikuti keinginan hati dan perasaannya. Daud pun menyadari kekurangan pribadinya; sambil mengakui dan memberdayakan kekuatan orangorang yang bekerjasama dengan dia. Bekerjasama untuk mencapai maksud dan rencana Allah jauh lebih penting daripada mengejar kemuliaan diri sendiri. (ROR)

Refleksi:
Bagaimana kita memperlakukan rekan kerja kita? Apakah kita bersedia menerima kelemahan mereka dan memberdayakan kekuatan mereka demi mencapai rencana Allah?

MENINDAS ORANG LEMAH BERARTI MENGHINA ALLAH

“Siapa menindas orang yang lemah , menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh
belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”
(Amsal 14:31)

Sudah menjadi pemandangan umum di negeri kita terdapat kecenderunganorang kuat menindas yang lemah. Yang kuat akan menguasai yang lemah. Yang lemah akan melayani yang kuat dan dengan terpaksa mengabdikan hidupnya kepada yang kuat. Fenomena itu memungkinkan kita menyaksikan ada orang yang teraniaya, tertindas, ternista, dan miskin. Oleh karena orang yang seharusnya menolong, justru mengakali dan memerasnya, seperti buruh yang bekerja dengan upah serendah mungkin, supaya majikan bisa mendapatkan keuntungan sebesar mungkin. Berdasarkan fakta, orang yang kuat cenderung memanfaatkan yang lemah. Orang kuat justru senantiasa mencari cara untuk mendapatkan keuntungan dari kaum lemah. Ketahuilah bahwa penindasan, penistaan, dan penganiayaan terhadap kaum lemah merupakan perbuatan yang menghina Tuhan.

Apabila orang kuat itu hidup di dalam Tuhan, justru Tuhan memberi amanat dan tugas panggilan untuk menanggung kelemahan orang yang tidak kuat, dengan mengesampingkan segala kesenangan dan keuntungan kita sendiri. Menolong yang lemah adalah kewajiban setiap anak Tuhan. Dengan demikian, menolong dan mengangkat yang lemah merupakan tindakan yang memuliakan Tuhan. Tuhan mengatakan kita yang kuat wajib menanggung yang lemah. Wajib itu berarti harus dilakukan.

Dalam pekerjaan pun, apabila kita mendapati rekan kerja yang lemah, kita pun bisa menerapkan konsep yang sama, yaitu memberdayakan yang lemah dengan memberikan pelatihan dan bimbingan agar rekan kerja kita itu dapat dapat mengatasi kelemahan dan kesulitannya. Kita pun dapat memberikan bimbingan untuk menolongnya supaya lebih maju, dengan memberikan kursus-kursus keterampilan yang dapat meningkatkan penghasilannya. Juga kita dapat memberikan pendampingan sebagai orang yang berpengalaman dan kompeten di bidangnya, sampai orang tersebut dapat maju berkembang.(RTM)

Refleksi:
Saya akan berusaha untuk menolong dan mendampingi yang lemah sehingga dapat menjadi kuat di dalam Tuhan agar hidup kita menjadi berkat.

JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI

“Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia
berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap
berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.”
(Roma 14:4)

Menurut KBBI, menghakimi mengandung arti (1) ‘orang yang mengadili perkara,’ (2) ‘pengadilan’ dan (3) ‘juri’, ‘penilai.’ Menghakimi dapat diberikan pula pemaknaan yang lain, yaitu mereka yang menghakimi sebagai ’orang pandai, budiman dan ahli; orang yang bijak.’ Ditinjau dari pemaknaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa menghakimi adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah. Itulah sebabnya dalam sebuah pengadilan dikenal sebutan “hakim”di mana ia berperan menghakimi suatu perkara. Jika tidak ada hakim, tidak ada seorang pun yang memiliki wewenang menentukan mana yang benar dan salah. Sebagai akibatnya semua orang akan merasa benar dan tidak ada yang salah. Jika demikian, hidup manusia akan sama seperti di masa hakim-hakim dimana manusia melakukan apa yang baik menurut pandangannya, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”(Hakim-Hakim 21:25).

Tugas kita sebagai murid Kristus sama seperti seorang ayah dalam sebuah keluarga. Seorang ayah tentu wajib memberitahu anak-anaknya apa yang baik dan benar. Di samping itu, sang ayah mengingatkan mereka hal-hal buruk yang tidak boleh dilakukan. Akan sangat buruk bagi anak-anaknya jika seorang ayah hanya memberitahukan hal-hal benar saja tanpa memberitahukan hal-hal buruk yang perlu dihindari. Oleh karena itu, seorang ayah yang baik tidak akan henti-hentinya memberitahu anak-anaknya siapa yang bisa diikuti dan dijadikan sebagai teman, serta siapa yang harus dijauhi karena kelakuan buruk dan kejahatannya. Itulah tugas seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya. Tindakan itu baik bagi sang ayah dan sangat baik bagi anak-anaknya. Sekarang tugas kita janganlah menghakimi sesama, tetapi kita memiliki tugas yang lebih penting, yaitu selalu mengingatkan keluarga, rekan kerja, dan masyarakat di lingkungan sekitar untuk menjauhkan diri dari hal-hal buruk, keliru, dan mengajarkan apa yang benar.(RTM)

Refleksi:
Jangan menghakimi sesama, tetapi yang wajib kita lakukan ialah mengajarkan hal yang benar.

SOLIDARITAS SEBAGAI WUJUD KESETARAAN

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan
orang yang menangis!”
(Roma12:15)

Kesetaraan manusia berarti manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki tingkatan atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau kedudukan yang sama bersumber dari pandangan bahwa semua manusia tanpa dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai makhluk mulia dan tinggi derajatnya dibandingkan dengan makhluk lain. Di hadapan Tuhan semua manusia memiliki derajat, kedudukan, atau tingkatan yang sama. Dalam konteks sosial, kesetaraan manusia dapat ditegakkan dengan solidaritas.

Salah satu kualitas yang harus dimiliki oleh setiap anggota tim sepakbola adalah solidaritas dan adanya saling ketergantungan antara satu dengan yang lain. Tanpa solidaritas, sebuah tim sepakbola tidak akan berjalan efektif. Bahkan, tanpa solidaritas dengan mudahnya tim itu terpecah belah dan kemasukan gol. Solidaritaslah yang membuat satu tim bisa tertawa bersama-sama, atau bahkan bisa menangis bersama. Solidaritas membuat mereka yang sedang jatuh tidak lagi tergeletak sebab ada tangan-tangan yang akan memegang, menopang, dan memeluk. Solidaritas membuat mereka yang bersedih tidak merasakan kesedihan itu seorang diri sebab selalu tersedia bahu tempat untuk bersandar, menangis, dan berbagi hidup.

Kita seharusnya memiliki solidaritas yang tinggi dalam sebuah tim. Baik itu tim di tempat kerja, tim di rumah, dan keluarga, tim dalam komunitas masyarakat, terlebih lagi tim di dalam pelayanan baik di kampus maupun di lingkungan. Hanya dengan cara seperti inilah keutuhan sebuah tim akan terus terjaga, semua yang sedang dikerjakan tim menjadi efektif dan tujuan yang ditetapkan pun akan lebih mudah tercapai. Tanpa solidaritas, sebuah tim bukanlah tim. Lihatlah ke sekeliling kita, siapa tahu ada yang membutuhkan tempat berbagi. Tawarkanlah dan berikan bantuan.

Solidaritas yang maksudkan tentu seperti Tuhan Yesus. Ia telah memberikan teladan tentang solidaritas karena Ia mau mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa sebagai hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 12:6-7).(RTM)
Refleksi:
Sahabatku, mari kita bersolidaritas kepada sesama sebagai panggilan kita dan untuk meneladani Tuhan Yesus.