CONGREGATIO SANCTORUM

“yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan,”
(Filipi 2:6)

Dalam buku “The Church in the Power of the Spirit”, Jurgen Moltmann mendefinisikan ulang pengertian “congregatio Sanctorum” (persekutuan orang-orang kudus) sebagai persekutuan persahabatan. Moltmann berpendapat persahabatan adalah asosiasi bebas. Persahabatan adalah hubungan yang baru, yang melampaui peran sosial mereka yang terlibat. Persahabatan adalah sebuah hubungan yang terbuka yang menyebar keramahan, karena menggabungkan kasih sayang dengan hormat. Congregatio Sanctorum merupakan, komunitas saudara-saudara yang benar-benar menjadi persekutuan antar teman, yang tinggal dalam persahabatan dalam kasih Yesus.

Teologi Moltmann tentang trinitas didasarkan pada gagasan bahwa tiga persona trinitas yang menjadi serupa. Penekanan Moltmann ini pada “asosiasi bebas” sebagai karakter persahabatan yang muncul terutama saat kita tengah berjuang dengan kekuatan dan daya tarik individualisme yang egois. Sehingga, kita menemukan penekanan Moltmann ini sebagai penawar krisis bagi kita saat ini di tengah gereja yang lebih individualisme dan self-focus. Filipi pasal 2 kemudian menyoroti Yesus yang dalam kebebasannya menyerahkan diri demi lainnya. Dengan cara demikian, persahabatan, sebagai salah satu karakter gereja, menempatkan kita dalam posisi untuk menggunakan kebebasan sebagai jembalan dalam melayani orang lain.

Kebebasan itu dengan sengaja “diserahkan bagi dan di rekatkan kepada” orang lain. Pengorbanan inilah yang membuat persekutuan sahabat itu kemudian menjadi bermakna karena setiap orang berinisiatif membantu dan melayani orang lain. Tidak ada egoisme dan individualisme. Tidak mudah memang bahkan mungkin terlalu ideal. Namun pada akhirnya kita harus berupaya demikian mewujudkan panggilan Allah mewujudkan persekutuan Kristen yang egaliter dan bersahabat. (AL)

Refleksi:
Persekutuan Kristen adalah persekutuan dalam persahabatan, kesetaraan, dan saling melayani.

BELAJAR SETARA DARI TRINITAS

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa
Kita”
(Kejadian 1:26a)

“Kita” dalam bahasa Ibrani ditulis dalam bentuk kejamakan yang menunjuk pada keesaan yang disebut “Plural of Majesty”. Tunggal menunjukkan kepada keberadaan Allah sebagai satu-satunya Allah yang benar diantara allah-allah lain dan satu-satunya Allah yang menciptakan langit dan bumi, sedangkan jamak menunjukkan akan kepribadian Allah yang kompleks. Kepribadian Allah yang kompleks dalam konsep kekristenan yaitu Allah Tritunggal (Bapa, Firman, Roh Kudus).. Tritunggal tidak berbicara tentang berapanya Allah melainkan tentang bagaimananya Allah yang memiliki kepribadian yang kompleks tersebut.

Dalam kejamakannya, orang percaya kemudian memahami Allah sebagai Pribadi yang bersekutu dalam kesetaraan dan kemuliaan. Dalam peta itu juga manusia diciptakan oleh Allah sebagai pribadi yang setara dengan yang lain. Hanya manusialah yang diciptakan Allah untuk dapat memenuhi kepuasan dan kebutuhan dasar manusia. Oleh sebab itu, Allah menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan (Kej 1:27). Manusia diciptakan untuk berelasi dan saling melengkapi dalam kasih. Dalam Perjanjian Lama, manusia tidak dilihat secara terpisah atau sendiri-sendiri, tetapi sebagai anggota-anggota yang bertanggung jawab dari satu keluarga atau suku bangsa.

Hal ini tidak berarti bahwa Allah tidak memperhatikan individu. Seringkali juga panggilan Allah datang kepada individu, tetapi tetap tujuannya untuk kepentingan kelompok. Abraham dipanggil untuk meninggalkan kesenangan hidup dalam keluarga dan negerinya demi menjadi berkat bagi banyak orang (Kej 12:1-3). Musa dipanggil untuk hidup dan menjadi berkat bagi bangsa Israel (Kel 24:2). Artinya, Allah memanggil manusia dalam kehidupan pribadinya / individu tetapi demi kepentingan banyak orang. Tidak melihat orang lain sebagai berbeda, tetapi dalam kacamata kesetaraan. (AL)
Refleksi:
Kepentingan orang lainlah yang membuat kita menjadi lebih berharga.

HARAPAN DARI ATAS SALIB

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak
memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita
pendamaian itu kepada kami.”
(2 Korintus 5:19)

Yesus adalah kepenuhan sekaligus pintu gerbang dari janji keselamatan Allah bagi manusia dalam cinta. Keterlibatan ini tampak dalam dinamika sejarah yang terus menerus diperjuangkan oleh manusia dalam rangka antisipasi terhadap janji Allah. Janji Allah tidak lain menghadirkan Kerajaan Allah kepada manusia. Perwujudan Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia, meminjam istilahnya Moltmann, berarti tindakan antisipasi terhadap janji Allah. Janji Allah adalah hidup kekal. Hidup kekal telah dimulai dan senantiasa berjalan dalam dinamika relasional antara Allah dan manusia. Iman memiliki masa depan kebangkitan kalau manusia mau menerima salib.

Keterarahan yang ada dalam proses transendensi manusia dalam pengalaman ambang batasnya ‘klop’ dengan pewahyuan diri Allah sebagai ‘penyelamat’ yang berpuncak dalam pribadi Yesus Kristus. Bagaimana hal ini mungkin? Menurut Moltmann, dengan menerima salib, penderitaan dan kematian bersama Kristus, dengan menerima perjuangan dan kesesakan dalam tubuh dan menyerahkan diri pada sengsara Sang Kasih yang juga merupakan pengalaman ambang batas, iman mewartakan masa depan kebangkitan, kehidupan dan keadilan Allah dalam hidup sehari-hari di dunia.

Yesus Kristus yang menderita, wafat, dan bangkit adalah wujud solidaritas Allah, atau keterlibatan hidup Allah dalam sejarah manusia yang mengalami penderitaan. Allah pun tersalib di dalam manusia yang menderita. Yesus menjadi realitas konkret solidaritas Allah atas dasar cintakasih-Nya. Tindakan Allah melalui seluruh pribadi Yesus Kristus itulah yang menjadi dasar bagi orang beriman untuk bertindak seperti Yesus Kristus, yakni melibatkan diri dalam penderitaan sesama. Lebih lanjut menurut Moltmann, puncak dari solidaritas Allah tampak dari peristiwa salib. Dalam peristiwa salib ditunjukkan bahwa Allah sendiri adalah Allah yang tidak dapat berpangku tangan atau tidak dapat menjadi apatis pada penderitaan manusia. Sebaliknya, lewat salib itulah Ia menunjukkan dengan nyata sebuah hati yang tergerak dan solider mencintai manusia (pathos). (AL)

Refleksi:
Salib menjadi simbol harapan dan solidaritas Allah bagi manusia. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menjadi harapan bagi sesama.

PERSEKUTUAN YANG BENAR-BENAR HIDUP

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan
pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di
dalamnya.”
(Efesus 2:10)

Orang Percaya menjadi persekutuan gereja yang benar-benar hidup jika didalamnya dibina persaudaraan dalam kasih yang membangun persekutuan untuk bersama-sama membawa pesan Injil Yesus Kristus ke dalam masyarakat. Kita menjadi nyata ketika ditugasi untuk menjadi garam di tengah-tengah masyarakat di mana kita ada. Maka berbicara soal makna dan fungsi kehadiran orang percaya di masa depan apalagi berhadapan daengan keterpurukan bangsa. Orang percaya tidak bisa tidak akan menjadi saksi kasih yang diakses atas dasar solidaritas Allah. Kita harus sadar bahwa kita dipanggil pertama-tama menjadi Kristen bagi orang miskin. Kemiskinan merupakan keadaan yang seakan-akan terus semakin membelenggu mereka yang terbelenggu olehnya. Kita harus menjadi saksi dan pembawa kebaikan Allah ke dalam masyarakat. Itu berarti bahwa kita secara konsisten menyuarakan perdamaian, penghormatan terhadap harkat kemanusiaan, keadilan serta solidaritas.

Orang Percaya harus ikut bersama kekuatan-kekuatan lainnya yang berkehendak baik dalam usaha menyelamatkan masyarakat dari keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan. Orang Percaya harus memperjuangkan hak-hak orang miskin, kaum buruh, dan orang kecil. Kekristenan menjadi sahabat orang miskin, kaum yang terperginggirkan dan tersisih.

Orang Kristen juga perlu secara konsisten bersikap positif terhadap umat lain. Orang Kristen harus secara menyakinkan membawa sikap yang pluralistik dan inklusif sangat mendesak karena melalui diakonianya dapat berperan aktif. Perlu kita bangun hubungan dengan umat beragama lain untuk bersama-sama menyelamatkan bangsa. Dalam hal ini gereja perlu berusaha supaya dapat dialami dalam masyarakat sebagai sahabat, sebagai ramah, dapat dipercaya. Orang percaya sebagai gereja sesuai dengan makna, dipanggil untuk dimana mereka hidup dan bekerja menjadi kekuatan ke arah perdamaian, kebaikan, kejujuran, keadilan. Semua cita-cita luhur ini tentu dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat kita. (AL)

Refleksi: Orang Percaya akan menjadi persekutuan yang hidup jika mengembangkan sikap belajar terus menerus dari orang lain.

PERSEKUTUAN BAGI ORANG LAIN

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala
kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama”
(Kisah Para Rasul 2:44)

Jurgen Moltmann, menjawab pergumulan individualisme dengan peran gereja. Kehadiran gereja di dunia ini diutus untuk menjadi gereja bagi orang lain bukan untuk anggota jemaatnya saja. Hal itu didasari ketika Yesus mendirikan gereja menjadi bagian dari sebuah keluarga, menjadi saudara di dalam Kristus, untuk melayani Yesus. Artinya, persekutuan orang percaya menjadi tempat bagi kita untuk bersekutu dan saling menolong satu sama lain.

Persekutuan bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain. Selanjutnya dikatakan, manusia bagi orang lain berarti menurut kepercayaan Kristiani justru karena Dia mau menjadi manusia bagi orang lain maka Dia sampai mengorbankan diriNya. Dengan pemikiran seperti ini, orang percaya harus melakukan hal yang sama.

Persekutuan bagi orang lain akan berdampak pada kerinduan untuk membagikan berkat Yesus ke seluruh dunia. Persekutuan yang berguna bagi orang lain diimplementasikan dalam aksi bersama. Aksi tersebut terwujud dalam perbuatan,  dan bermakna bahwa orang percaya haruslah sungguh-sungguh perduli dengan masalah-masalah kemanusiaan. Kepedulian tersebut menunjukkan bahwa orang percaya hadir bagi orang lain. Persekutuan bagi orang lain itu adalah gambaran dari suatu keyakinan teologis dan ikrar bahwa Yesus adalah manusia bagi orang lain.

Tak salah jika orang percaya dapat berfungsi bagi orang lain, seharusnya kita memandang dunia ini sebagai panggilan dan tantangan untuk berkiprah dalam mendayagunakan segala potensinya untuk memberitakan kabar baik (eugangelion). Orang Kristen dalam memberitakan kabar baik mestinya juga memberitakan pembebaskan manusia dari berbagai persoalan hidup yang dihadapi sehari-hari. Untuk mengakses kerinduan tersebut, orang percaya yang dinamis pada zaman para rasul memberdayakan pria dan wanita ke dalam suatu persekutuan yang penuh sukacita yang meluas (Kis.2). (AL)

Refleksi: Orang Percaya memikul tanggungjawab dalam kedudukannya untuk memulihkan dunia ini kepada kehidupan yang bergerak, produktif, dan kreatif.

KESETARAAN BUKAN DOMINASI

“Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

(Galatia 3:28)

Dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia terjadi kericuhan. Hal ini dipicu karena adanya perbedaan agama, ras serta ditunggangi unsur-unsur politik yang ingin saling menjatuhkan dan mendominasi.Bila melihat sejarah di Indonesia sejak Sumpah Pemuda 1928, para pemuda berusaha untuk bersatu. Mereka bersumpah untuk tiga hal, yaitu: mengakui bertumpah darah satu, tanah Air Indonesia; berbangsa satu, Bangsa Indonesia; dan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Tiga sumpah ini merupakan tonggak penting dalam hal persatuan, kesetaraan dalam berbangsa dan bernegara.

 Selain itu, semboyan dari Negara Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika yang berarti, “walaupun berbeda beda namun satu jua” yakni Bangsa Indonesia. Begitu luhur cita-cita dan juga landasan yang sudah di tanamkan oleh para pendahulu dan para pahlawan yang berjuang untuk adanya persatuan dan kesetaraan di bumi Indonesia. Sangat disayangkan bila hal ini dirusak oleh segelintir orang yang berusaha memecah-belah dan berusaha untuk mendominasi yang lainnya.

Dalam Galatia 3: 28 jelas sekali penjelasan bahwa di dalam Kristus tidak ada perbedaan;

  1. Suku dan ras (Yahudi, Yunani)
  2. Derajat atau strata (hamba, orang merdeka)
  3. Gender (laki-laki, perempuan)

Dalam Kristus Yesus, orang percaya perlu mengusahakan kesetaraan serta tidak menganggap diri lebih tinggi dari yang lainnya. Namun, saling mendukung, membangun, dan membantu. (MM

RefleksiSebagai seorang Kristen apakah kita sudah menerapkan kesetaraan?

 

 

SETIA MENDOAKAN

“Tetaplah Berdoa.”

(I Tesalonika 5:17)

Nas 1 Tesalonika 5: 17 ini sangat singkat dan mudah untuk diingat tapi tidak banyak orang yang dapat melakukannya dengan setia. Saya ingat perkataan seorang hamba Tuhan pada saat saya masih remaja, “Doa adalah hal yang paling mudah dilakukan sekaligus yang paling sulit.” Mudah, karena kita bisa berkata apa saja pada Tuhan mengenai kehidupan kita, apa yang kita rasakan, dihadapi baik suka maupun duka. Tetapi ada juga yang merasa doa itu sulit, karena bingung apa yang ingin dikatakan kepada Tuhan. Tuhan Yesus mengajarkan kita mengenai bgaimana berdoa dalam Matius Pasal 6.

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Ayat 5-7)

Kemudian pada Matius 6: 9-13 Tuhan Yesus mengajarkan doa Bapa Kami pada murid muridNya. Doa yang sederhana, mudah diucapkan. Doa bapa kami juga doa yang sempurna. Apabila kita mengucapkan doa itu secara sungguh-sungguh terasa betapa sulitnya mengimani apa yang kita ucapkan.(MM)

Refleksi: Sebagai seorang Kristen apakah kita setia berdoa dan memahami bahwa doa adalah nafas hidup orang Kristen? Serta sebagai saudara dalam iman apakah kita juga saling mendoakan?

 

KETEKUNAN

“ Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

(Ibrani 10:36)

Di zaman moderen yang serba instan ini orang cenderung memudarkan arti ketekunan. Orang cenderung ingin cepat sukses tanpa kerja keras dan ketekunan. Belajar dari  Thomas Alva Edison, pencipta lampu pijar, walau pendidikan formalnya begitu singkat karena orang tuanya miskin namun berkat ketekunannya dia menjadi inovator terbesar sepanjang sejarah. Tercatat 1.903 paten yang dihasilkannya termasuk lampu dan gramopon. Dalam Alkitab baik perjanjian lama dan perjanjian baru ada banyak tokoh yang tekun dalam mengerjakan sesuatu. Tekun adalah sebuah kata yang tidak asing di telinga kita.

Pengertian ketekunan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: perihal tekun; kekerasan dan kesungguhan (bekerja dsb); keasyikan. Tekun adalah keputusan atau ketetapan hati yang kuat (teguh) untuk bersungguh-sungguh, rajin, dan tuntas dalam melakukan apa pun. “Ketekunan adalah kemampuan kita untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan.” Orang yang tekun tidak mudah mendua hati. Ia adalah seorang yang berfokus, konsisten dan tidak mudah putus asa terhadap apa yang sedang dikerjakannya. Firman Tuhan menjelaskan bahwa, orang yang tekun sajalah yang akan menghasilkan buah bahkan dengan porsi ganda. Ketekunan teruji melalui waktu yang panjang. Orang yang tekun adalah orang-orang yang kuat, yang dapat bertahan sampai pada kesudahannya.

Apa yang kita raih sekarang adalah hasil dari hasil usaha-usaha kecil yang kita lakukan terus-menerus. Keberhasilan bukan suatu yang turun begitu saja. Bila kita yakin pada tujuan dan jalan kita, maka kita harus memiliki ketekunan untuk tetap berusaha. Setiap langkah ketekunan menaikkan nilai diri kita. Apapun yang kita lakukan, jangan sampai melupakan ketekunan. Karena ketekunan adalah daya tahan kita.

Pepatah mengatakan bahwa “ribuan kilometer langkah dimulai dengan satu langkah”. Sebuah perjalanan jauh sebenarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil. Dan langkah pertama keberhasilan harus kita mulai dari rumah kita. Rumah kita yang paling baik adalah hati kita. Itulah tempat untuk memulai dan untuk kembali. Karena itu mulailah kemajuan kita dengan memajukan hati kita, kemudian pikiran kita dan usaha-usaha kita. Ketekunan hadir bila apa yang kita lakukan benar-benar berasal dari hati kita.(RCM)

Refleksi: Ketekunan menghasilkan kekuatan dan keberhasilan



PERSEKUTUAN SAHABAT KRISTUS

“Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya”

(Roma 14:1)

Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial, yang tidak dapat hidup sendiri.  Tuhan menginginkan manusia untuk berelasi dengan sesama. Yesus mendoakan para murid-Nya agar ditetapkan dalam kekudusan, kasih dan persatuan (Yohanes 17:17-22). Roh Kudus tidak dapat bekerja jika ada perpecahan pada sebagian orang karena ambisi pribadi dan dosa. (I Korintus 1:10). Tuhan ingin jemaat bersatu, sehati, dan sepikir.

Kemudian, Tuhan mengajarkan bahwa manusia memiliki posisi yang setara di hadapan-Nya. “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya” (Roma 14:1). Dalam Roma 14 diceritakan perselisihan jemaat di Roma antara kelompok orang yang mengkonsumsi sayur-sayuran dengan kelompok yang membolehkan untuk mengkonsumsi apa saja. Tetapi Paulus menasihati jemaat Roma agar “siapa yang makan, janganlah menghina yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.” (Ayat 3)

Saya mencoba melihat bagian yang penting dari kalimat diatas bahwa “Allah telah menerima orang itu.” Penyataan tersebut menyatakan bahwa Allah tidak pernah membedakan manusia berdasarkan pilihan-pilihan lahiriah. Tetapi masalahnya kita sering kali terjebak pada perbedaan dan bukan melihat kesempatan untuk bersekutu sebagai sahabat dalam Tuhan.(MM)

Refleksi: Apakah kita dapat menerima orang lain setara dalam Tuhan? Apakah kita siap mempertanggung-jawabkan perbuatan kita? Renungkan dan kembalilah kepada Tuhan serta mohon ampun pada-Nya atas sikap sombong kita yang suka membeda-bedakan orang, serta minta maaf pada orang yang kita beda-bedakan.

 

SAHABAT KRISTUS

“Kamu adalah sahabatku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”

(Yohanes 15:14)

Binatang peliharaan terutama anjing sering dikatakan sebagai sahabat manusia. Hal ini terbukti dari Kisah nyata yang sangat terkenal tentang anjing yang bernama Hachiko di Tokyo. Kisah ini menjadi inspirasi mengenai kisah tentang kesetiaan. Prof. Ueno pemilik Hachiko adalah seorang dosen. Setiap pagi ia berangkat mengajar dari stasiun kereta api Shibuya diantar Hachiko. Saat mengajar ia tiba-tiba meninggal tepatnya pada tahun 1925. Setelah  kejadian itu Hachiko  selalu menantikan tuannya pulang di stasiun kereta api Shibuya selama 10 tahun, sampai akhirnya pun Hachiko mati.

Alasan utama mengapa seekor anjing dapat menjadi sahabat manusia karena anjing itu merupakan binatang yang setia, menuruti kata tuannya, menemani tuannya kemana tuannya pergi, menjaga tuannya, dan mengasihi tuannya.

Karena itu pula dalam ke kekristenan ada sebuah buku yang berjudul “Teologi Anjing dan Kucing “ (Cat and Dog) yang ditulis oleh Bob Sjogren dan Gerald Robinson tahun 2003. Dalam buku itu dijelaskan bahwa kucing memiliki naluri “karena engkau memberiku makan, tempat tinggal, kasih sayang, engkau pasti pelayanku.” Sedangkan anjing memiliki naluri, “karena engkau memberikan makan, tempat tinggal, kasih sayang, maka engkau pasti tuanku.”

Hal ini menggambarkan jemaat yang memiliki hati seperti kucing menganggap Tuhan sebagai pelayan yang harus mengikuti kehendak mereka. Sedangkan yang memiliki sikap hati seperti anjing, memandang kasih Tuhan sebagai pernyataan Kemuliaan Tuhan yang memiliki otoritas, serta rela melayani-Nya dengan setia sampai akhir. (MM)

Refeksi: Bagaimana sikap hati kita dengan menjadi sahabat Kristus, apakah setia dan taat akan perintah-Nya?