BERSYUKURLAH, BILA DITEGUR TUHAN!

“Karena Tuhan memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah
kepada anak yang disayangi.”
(Amsal 3:12)

Tak satu pun orangtua di dunia ini yang menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang gagal atau menderita di kemudian hari. Semuanya berharapanakanaknya menjadi orang yang berhasil dalam studi, karir dan juga rumah tangga. Itulah sebabnya orangtua selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, bahkan mereka pun rela mengorbankan apa saja demi anak. Kasih, perhatian, perlindungan dan terkadang juga teguran diberikan orangtua kepada anak.

Dalam kehidupan rohani, Tuhan pun bertindak demikian. Di satu sisi Tuhan senantiasa melimpahkan kasih, kemurahan, pemeliharaan, penyertaan dan pertolongan kepada kita; di sisi lain Dia juga akan memberikan teguran atau hajaran kepada kita bila
kita melakukan pelanggaran atau dosa di hadapanNya. Tujuan teguran itu adalah agar kita dapat bertumbuh ke arah yang benar sesuai dengan kehendakNya. Teguran Tuhan kepada kita dapat berupa masalah atau persoalan: sakit penyakit, krisis keuangan, masalah keluarga dan sebagainya. Tuhan mengijinkan hal itu terjadi agar kita segera menyadari kesalahan dan berbalik ke jalanNya yang benar. Oleh sebab itu “…janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatanNya.” (ayat 11). Daud pernah melakukan pelanggaran besar di hadapan Tuhan, berzinah dengan Betsyeba. Kemudian Tuhan memakai Natan untuk menegur Daud. Akhirnya Daud pun menyesal dan bertobat, katanya, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Dan Natan berkata kepada Daud:”Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista Tuhan, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” (2 Samuel 12:13-14).

Kunci utama ketika kita menerima teguran dari Tuhan adalah bertobat. Pengakuan diri kita telah melakukan dosa di hadapan Tuhan itu sangat penting dan itu adalah kunci
untuk mengalami pemulihan dan berkat dari Tuhan. Jadi bila kita mendapat teguran dari Tuhan jangan menjadi kecewa atau marah, ini berarti Tuhan sangat mengasihi kita. “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” (Ibrani 12:7). (LTT)
Refleksi:
Bersyukurlah bila kita ditegur Tuhan, karena hal itu mendatangkan kebaikan bagi kita.

BERBAHAGIALAH, JIKA DITEGUR!

“Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan, tetapi siapa membenci teguran,
adalah dungu.”
(Amsal 12:1)

Seorang teman menegur saya atas sebuah kesalahan.Saya jadi membencinya dan tidak menyapanya selama beberapa waktu.Akhirnya sebuah SMS darinya melunakkan hati saya.“Aku menegur karena aku peduli.Aku tidak mau kamu melakukan kesalahan yang merugikan dirimu dan tidak menyukakan hati Tuhan.”Saya terhenyak.Ternyata masih ada orang yang peduli dengan benar tidaknya tindakan yang saya lakukan.

Seperti teman saya tersebut, akankah kita menegur atau justru mengabaikan teman yang melakukan dosa?Apakah kita hanya menonton jika saudara seiman kita melakukan perbuatan yang tidak menyukakan hati Tuhan?Berbohong, mencuri, atau bahkan lepas kendali dalam perkataan.Pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna karena hanya Allahlah yang mahasempurna.Tetapi, janganlah kita justru selalu berdiri di balik alasan ketidaksempurnaan itu dan mengabaikan sebuah kesalahan.

Ada kalanya Tuhan memakai hamba-Nya untuk menyampaikan maksud-Nya.Kita acap kali memiliki rasa enggan untuk saling menegur. Mungkin kita khawatir orang yang kita tegur akan sakit hati dan membenci kita. Tetapi, Tuhan mengatakan dalam firman-Nya bahwa kita wajib saling menegur seorang akan yang lain dalam kasih Kristus, agar kesalahan itu tidak dilakukan berulang-ulang. Maka, mulai saat ini jangan sungkan untuk saling menegur dan mengingatkan. Jika kita yang ditegur, belajarlah menerima teguran itu dengan besar hati sebagai salah satu cara Tuhan dalam mendidik kita.

Jika kita mendengarkan teguran dan memperbaiki diri, maka Tuhan sendirilah yang akan menuntun kita menuju jalan yang benar sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya dalam hidup kita. Mari kita semua peka dan jeli dalam menangkap teguran dan segera menjadikannya sebagai peringatan atau didikan yang berasal dari kasih Tuhan yang begitu besar untuk terus menyempurnakan diri kita. (LTT)
Refleksi:
Saling menegurlah seorang akan yang lain, sehingga kita sama sama berjalan dalam
kasih Kristus.

BERANI TAMPIL BEDA!

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri
dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan
tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan
tidak menyimpan kesalahan orang lain.”
(I Korintus 13:4-5)

Apakah anda pernah atau sering menjumpai orang-orang yang tidak punya sopan santun?orang yang menyalip di jalan raya, orang yang memotong antrian dan marah ketika disuruh menunggu atau mengantri, berkata kasar kepada orang yang lebih tua, mempergunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, perilaku yang tidak terpuji di tengah masyarakat. Tingginya jabatan atau statuspun bisa membuat orang sombong dan kemudian tidak perlu sopan dan punya etika lagi.Etika dan sopan santun semakin lama semakin lenyap dalam pergaulan manusia.Bagaimana kita bisa berharap etika dan kesopanan bisa kembali muncul di tengah-tengah lingkungan dimanapun kita berada.

Etika dan sopan santun seharusnya menjadi bagian hidup siapapun terutama kita yang menyandang predikat pengikut Kristus.Sayangnya di antara anak-anak Tuhan pun
masih juga ada yang tidak siap menjaga perilakunya, dan akhirnya menjadi contoh buruh di masyarakat.Bagaimana kita bisa berharap orang bisa mengenal Yesus jika orang sudah terlebih dahulu anti pati melihat sikap kita?Kita harus menjadi contoh teladan.Itu jelas merupakan sebuah tanggung jawab kita sebagai orang percaya. Inti dari kekristenan adalah kasih, dan itulah yang harus menjadi dasar hidup semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali. Lantas apa hubungan kasih dengan kesombongan dan sopan santun? Dari I Korintus 13:4-5 kita lihat disini bahwa sesuatu yang dilandasi kasih seharusnya membuat kita tampil sebagai orang-orang yang tidak sombong melainkan tahu etika dan tahu sopan santun.

Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26).Apabila kita tidak menjaga perilaku dan perkataan kita, maka ibadah kitapun menjadi sia-sia (Yakobus 1:26). Karena itu, marilah kita menyatakan kasih kepada orang lain, mari kita menjadi pelaku firman, menjadi contoh yang benar baik dalam perkataan, tingkah laku maupun perbuatan. Dunia disekitar kita tengah dilanda degradasi moral, krisis tata karma, etika, dan sopan santun.Janganlah kita ikut terseret, namun jadilah orang yang berbeda dengan dunia, penuh sopan santun dan beretika, sehingga kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat sikap kita. (LTT)
Refleksi:
Sebagai pengikut Kristus, jadilah contoh teladan mengenai etika dan sopan santun.

ESTETIKA DAN EXCELLENCE

Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru;petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai!
(Mazmur 33:3)

Sekalipun tidak bisa disangkal bahwa Tuhan melihat hati lebih daripada korban waktu dan upaya dalam hal musik dan seni dan karya-karya yang lain, ini tidak bisa dipakai sebagai dalih untuk tidak berusaha mempersembahkan yang terbaik. Di film yang berjudul Amadeus, yang menceritakan pengarang klasik Amadeus Wolfgang Mozart, saat Mozart sedang sekarat, dia mendikte karangan terakhirnya kepada pengarang istana yang namanya Salieri.Dalam keadaan berbaring dengan demam tinggi, Mozart tetap bisa menyadari kalau Salieri tidak menangkap nada atau irama dengan tepat yang dinyanyikan Mozart buat sebuah alat musik orkes, dan Mozart langsung mengoreksinya.

Apalagi kita yang dianugerahkan kesehatan dan kekuatan dan energi agar dapat mengerjakan yang sebaik mungkin. Mazmur 33:3b mengingatkan kita akan excellence dalam memainkan alat musik. Diperlukan waktu dan upaya, bukan? Mahasiswa, dosen dan karyawan yang main gitar, keyboard, atau alat musik yang lain perlu waktu, konsentrasi dan usaha dalam latiihan musik agar berkembang dengan cara mainnya, bukan saja niat yang baik. “Each musician must do his or her very best, and must keep striving to do better” kata Warren Wiersbe di bukunya Real Worship (1989, hlm. 140). Pemazmur, Daud, sebagai seorang musisi, juga mendorong setiap musisi melakukan yang terbaik. Dan seperti Wiersbe sebut, musisi-musisi harus tetap berusaha berkembang lebih baik lagi dalam bidang musiknya.

Tentu saja penerapan demi excellence ini bukan saja dalam hal musik.Sesuai dengan bidang studi kita masing-masing, atau bentuk pekerjaan kita masing-masing, kita perlu mempunyai sikap hati yang disertai usaha yang cukup untuk menghasilkan karya atau tulisan atau tugas yang menunjukkan niat baik dari hati untuk menghasilkan yang sebaik mungkin.Biar itu semuanya sebagai persembahan bagi hati Tuhan dan untuk kemuliaan Nama-Nya.(CG)
Refleksi:
Saya ingin mempersembahkan yang terbaik dalam setiap tugas dan karya yang saya
kerjakan, dari hati saya untuk hati Tuhan.

BERKARYA DENGAN CARE

“Haruslah mereka membuat tabut dari kayu pernaga, dua setengah hasta panjangnya,
satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya.”
(Keluaran 25:10)

Harap esai diprint di kertas A4, berat kertasnya 75 gram, dengan memakaimargin 4 cm di atas, 3 margin di bawah dan di sisi kiri, 2 margin di sisi kanan. Pakai font Times New Roman ukuran 11. Atau di lembar penjelasan tentang tugas atau ujian take-home kita pernah membaca variasi tentang bahan untuk tugas, ukuran margin, bersama tipe dan ukuran font. Hal ini sudah tidak asing lagi buat kita dalam pekerjaan sebagai mahasiswa atau karyawan administrasi.

Pernah terpikir bahwa ada bahan yang Tuhan tentukan dan ukuran yang Tuhan tentukan dan detail-detail khusus yang Tuhan tentukan untuk pembuatan tabut perjanjian?Ayat 10 di Keluaran pasal 25 menunjukkan bahannya secara khusus.Bukan saja ‘kayu,’ tetapi disebut lebih khusus ‘kayu penaga,’ yaitu kayu dari sebuah pohon yang disebut acacia dalam Bahasa Inggris.Ada jenis dan kualitas kayu tertentu. Bahkan dalam ayat 10-18, 20, 21 kita baca kata ‘haruslah’ atau ‘harus,’ biasanya di bagian pertama dari setiap ayat itu. Pembuatan tabut perjanjian tidak boleh dibuat dengan sembarangan atau menurut pikiran sendiri.Setiap persiapan dan kalkulasi harus benar, seperti yang telah ditentukan, dalam kasus pembuatan karya yang agung ini, seperti yang telah ditentukan Tuhan sendiri.Dan Tuhan sendiri tidak sembarangan dengan memberikan segala petunjuk yang mendetail itu. Loh hukum, yaitu kesepuluh perintah Tuhan yang disampaikan lewat Musa kepada umat Tuhan, harus ditaruh di dalam tabut perjanjian itu (ayat 16). Maka kalkulasi ukuran tabut tidak bisa dibuat dengan sembarangan. Sungguh ada maksud dan tujuan yang khusus dari Tuhan atas setiap detail dan kalkulasiNya.

Kami, pembuat renungan harian, juga diberikan syarat mengenai font, ukuran font, bagian mana yang memakai font regular atau bold atau italic, posisi dan bentuk Refleksi di bagian bawah renungan dan beberapa petunjuk praktis yang lain supaya setiap pengarang memakai format yang sama, tidak sesuai dengan pikiran sendiri masing-masing, yang akan membuat hasil format tidak konsisten dan kurang enak saat dibaca. Sebagai satu contoh, saya copy-paste sebuah kalimat dari persyaratannya: Jumlah kata dalam satu renungan pelita Maranatha berkisar antara 360-380 kata. Menurut fasilitas Word Count di PC saya, jumlah kata saya di renungan ini adalah 368. Baik kita mengerti maksud dari dosen atau atasan atau tidak, take care dengan instruksi yang diberikan. (CG)
Refleksi:
Take care bahwa karya yang kita buat sesuai petunjuk yang berlaku.

BERKARYA DENGAN INTEGRITY

kebetulan

“Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia.”
(Kolose 3:23)

Karya yang dibuat dengan maksud dijual berarti perlu tercakup tanggung jawab moral dan penuh integritas terhadap pelanggan. Sebagai hasil pertemuan antara pemimpin perusahaan di Eropa, Amerika Serikat dan Jepang, keluar bentuk rumusan tanggung jawab yang beretika terhadap pelanggan:

1. Memberikan produk dan jasa dengan kualitas yang terbaik dan sesuai dengan tuntutan mereka.
2. Memperlakukan pelanggan secara adil dalam semua transaksi, termasuk pelayanan yang baik dan memperbaiki ketidakpuasan mereka.
3. Membuat setiap usaha menjamin bahwa kesehatan dan keselamatan pelanggan demikian juga kualitas lingkungan mereka akan dijaga kelangsungannya dan ditingkatkan dengan produk dan jasa perusahaan.
4. Perusahaan harus menghormati martabat manusia dalam menawarkan,
memasarkan dan mengiklankan produk.
5. Menghormati integritas budaya pelanggan. (Erni R. Ernawan, Business Ethics. Bandung: Alfabeta, 2007 hlm. 34, 35).

Saat kita mengerjakan sesuatu yang diminta oleh “tuanmu di dunia ini,” perlu kita melakukan “dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.” Inilah perintah rasul Paulus dalam ayat 22, ayat yang sebelum ayat mas kita hari ini. Ayat 23 juga menunjukkan apa yang harus menjadi sikap hati kita dalam berkarya: “dengan segenap hatimu.” Bagaimana hati kita bisa murni seperti itu?Ingat bahwa kita mengerjakan sesuatu “seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Dengan demikian kita tidak akan berani untuk tidak mengerjakan sesuatu tanpa integritas. Bentuk negatif dalam kalimat tadi betul-betul memberi penekanan bahwa kita harus dan akan mengerjakan yang penuh integritas kalau kita ingat bahwa Tuhan mengamati kita dan bahwa kita bertanggung jawab kepada Tuhan.

Dengan mengingat bahwa beberapa mahasiswa mengerjakan sesuatu dengan tujuan dijual di lingkungan Maranatha, biarlah itu dilakukan dengan tulus hati, takut akan Tuhan, penuh tanggung jawab, dan integritas. Kalau menjual makanan, give the best, bukan yang basi. Kalau menjual pakaian, tanggung jawab dan integritas kepada pelanggan dan supplier harus terwujud.Kalau melakukan tugas untuk kelas, ingat bahwa Tuhan mengamati dan hadir. Sikap dari para dosen dan karyawan juga perlu menunjukkan sikap yang sama dalam berkarya. (CG)
Refleksi:
Bayangkan bahwa kita berkarya dengan kualitas yang layak untuk Tuhan.

TIDAK KELIHATAN INDAH TAPI SUNGGUH INDAH

desert-road“Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan
rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya. . . .Tetapi dia tertikam oleh karena
pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang
mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya
kita menjadi sembuh. ”
(Yesaya 53:2b, 5)

Apabila Anda membaca renungan kemarin, tanggal 24 Juli, mungkin Anda berfikir bahwa ada pertanyaan yang diajukan mengenai estetika belum terjawab: Apakah keindahan itu harus ada arti atau gunanya? Atau apakah boleh ada keindahan tanpa tujuan tertentu?Apakah Anda suka hiking?Jika pergi hiking di suatu lokasi dimana kita dapat menikmati keindahan alam, memang ada gunanya juga, buat jantung dan kesehatan.Tetapi bisa saja kita hiking hanya dengan tujuan menikmati indahnya ciptaan.Kalau demikian, kadang-kadang manfaat dari keindahan tidak menjadi alasan yang menonjol dalam pikiran saat menciptakan sesuatu atau menikmati sesuatu yang indah.

Sebaliknya, sesuatu yang tidak kelihatan indah atau berestetika dapat punya manfaat yang dalam demi estetika batiniah dan rohani.Sekalipun renungan ini tertanggal 25 Juli, renungan ini ditulis di hari Paskah, sambil merenungkan keindahan karya Yesus di atas kayu salib dan keindahan kebangkitanNya.Memang karya Yesus di atas salib indah?Nubuatan dari nabi Yesaya menceritakan penderitaan Yesus demi keselamatan (“ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya”) dan pengampunan dosa kita (“tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”).Keselamatan dan pengampunan dosa yang kita terima dengan iman pada Yesus Kristus sungguh indah, terutama buat keadaan rohani dan batin kita. Tetapi cara mendapatkan keindahan itu tidak indah: “Ia tidak tampan” saat dihina dan mengalami sengsara, dengan kelihatan jelek dan berbau darah tercampur keringat di tubuhNya, kedengaran pernafasan yang pendek, sesak, dan menghentak. Benar nubuatan Yesaya yang ditulis di atas dari ayat yang kedua.Apakah kita mau memandang Dia dalam keadaan yang 180 derajat berputar jauhnya dari keindahan fisik?Tetapi orang Kristen sering memakai istilah karya Yesus tentang penderitaanNya di atas salib.Karya Yesus indah manfaatnya di dalam kehidupan kita, orang percaya.

Ini membawa suatu makna yang lain mengenai estetika. Sekalipun melalui jalan yang sulit dan kelihatan membuat kita susah dan menderita, tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang indah dan sangat berharga.(CG)

Refleksi:
Apakah saya rela melakukan sesuatu yang sepertinya membuat saya susah secara energi, waktu dll, demi keindahan kelak? Ini bisa menyangkut tugas kampus atau pembentukan karakter.

KEINDAHAN YANG ENAK DIPANDANG DAN BERGUNA

“Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang
berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji.Allah
melihat bahwa semuanya itu baik.”
(Kejadian 1:26a)
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
(Kejadian 1:31)

Salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan mengenai estetika, bahkan oleh para filsuf, adalah: Apakah keindahan itu harus ada arti atau gunanya? Atau apakah
keindahan boleh eksis tanpa ada tujuan tertentu? Kalau kita baca seluruh pasal yang pertama dari Firman Tuhan, di Kejadian pasal 1, kita melihat mulai hari ketiga sampai dengan hari ketujuh bahwa ada kata-kata yang khusus yang diulangi: “Allah melihat bahwa semuanya itu baik” (10, 12 18, 21, 25). Kata dalam Bahasa Ibrani yang dipakai bisa diterjemahkan: 1. pleasant, agreeable, 2. a good thing, benefit, welfare (Bible Works Genesis 1:10). Sebagai hal yang’ pleasant’, ciptaan Tuhan adalah menarik buat mata dan panca indera. Sebagai  hal yang ‘agreeable’, ada persetujuan lebih dahulu di antara Allah Tritunggal, dimana Roh Allah (Kejadian 1:2) dan Anak Allah (Ibrani 1:2) juga terlibat dalam kesatuan saat menciptakan isi dunia ini, apalagi dalam keputusan bersama sebelum menciptakan manusia (Berfirmlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” Kejadian 1:26). Tetapi kata-kata yang dikelompokkan di definisi kedua menunjukkan ada manfaatnya, ada sesuatu yang baik sebagai tujuannya (‘benefit, welfare’). Tunas muda dan tumbuhan yang berbiji, serta pohon “yang menghasilkan buah yang berbiji”di taman Eden berguna dan sangat bermanfaat bagi manusia. Keindahan tunas muda, tumbuhan, dan pohon sungguh sangat indah dan bervariasi warna hijaunya. Itu sudah ‘pleasant’ buat mata kita.Apalagi keindahan itu diciptakan dengan manfaat secara khusus bagi manusia sebagai makanannya (Kejadian 1:30), tentunya tanpa pestisida, 100% murni, gurih dan penuh khasiat demi kesehatan.

Kita dapat bersyukur adanya Taman Eden di Maranatha.Kita dapat menikmati ciptaan Allah di alam terbuka atau melalui jendela ruang kuliah dan bersyukur kepada Sang Pencipta kita.Waktu Tuhan memperhatikan segala yang Ia ciptakan, termasuk manusia, baru dalam perfection itu Allah mengatakan “amat baik.” Tuhan tidak merendahkan kita tetapi menganggap ciptaan manusia penuh value, amat baik, disediakanNya segala yang manusia butuhkan. (CG)
Refleksi:
Apakah saya sudah memperhatikan keindahan ciptaan Tuhan hari ini?Atau apakah saya membiarkan diri terlalu disibukkan dengan segala macam tugas untuk disegarkan Tuhan lewat ciptaanNya?

MOTIVASI KEBERHASILAN

Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu?
Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke
manapun engkau pergi. ”
(Yosua 1: 9)

Jack Ma adalah seorang raksasa bisnis dari Cina yang dalam banyak kisahnya ternyata adalah orang yang mengalami kemiskinan, penolakan yang menyakitkan dalam kehidupannya. Penampilannya memang tidak gagah atau menarik, sehingga dari 23 pelamar di KFC semuanya diterima kecuali dirinya. Ia juga melamar berkalikali masuk ke Harvard namun selalu ditolak. Ia mengajukan ide-ide bisnis di bidang internet namun tidak ada investor yang bersedia mendengarkannya. Kehidupan ini memang bisa menjadi sangat keras bagi sebagian seorang, dan tidak mudah menghadapi penolakan yang sedemikian. Tidak sedikit orang menjadi patah arang, mengalami kegagalan dalam hidupnya dan tidak mampu bangkit kembali.

Ayat di atas menjelaskan tentang sikap Yosua, anak muda yang dipilih dari bangsa Israel untuk menjadi pengintai masuk ke tanah Kanaan. Kondisi Yosua juga sangat memprihatinkan dalam menilai dirinya sendiri. Ia merasa muda, kurang berpengalaman, dan tentu saja ia menjadi ciut melihat figur dan nama besar Musa, apalagi tempat yang akan dikunjunginya sangat berbahaya. Meskipun tanah Kanaan sangat subur dipenuhi susu dan madu seperti tertulis dalam Alkitab, di sana tinggal juga manusia-manusia berbadan besar, yang tentu saja tidak mudah untuk dikalahkan dan menyerahkan tanahnya begitu saja kepada bangsa Israel. Padahal Tuhan sendiri mengatakan itulah tanah Perjanjian, sehingga Tuhan sendiri yang memberikan motivasi bagi Yosua seperti tertulis dalam ayat di atas, “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

Mungkin tidak semua orang memiliki visi yang besar seperti Yosua, atau Jack Ma, apalagi ketika memulainya diperhadapkan pada posisi awal, keterbatasan resources dan kemampuan, dan hanya bermodal keyakinan serta usaha untuk mewujudkannya. Sungguh akan diperlukan motivasi yang sangat besar untuk mencapainya bukan? Motivasi itu sendiri bisa berasal dari banyak sumber dari teman, sahabat, keluarga, atau yang paling penting dalam pembahasan ini adalah yang berasal dari Tuhan sendiri. Kita hanya perlu tetap kuat untuk menghadapi dan tanpa mengecilkan apa yang kita impikan menjadi kenyataan. (AA)
Refleksi:
Biarkan Tuhan memotivasi dirimu untuk mencapai keberhasilan dalam mencapai visi
besar yang engkau miliki.

SENI KEPEMIMPINAN KRISTUS

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu,
hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di
antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia
juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
(Markus 10: 43-45)

Kepemimpinan adalah sebuah posisi unik dalam sebuah konteks sosial. Menurut John Locke seorang Filsuf Inggris abad ke 17, dalam teori transaksional para pemimpin atau pemegang kekuasaan negara adalah orang-orang yang dipilih oleh para bangsawan, atau para tuan tanah, pembayar pajak, atau warga resmi Inggris untuk diberikan mandat kekuasaan, yang tujuannya untuk menjaga kepemilikan para bangsawan tersebut. Jadi pemimpin dipilih dan diberikan mandat, sehingga jika mereka tidak menjalankan mandat tersebut maka kewenangan akan dicabut. Misalnya ketika mereka menjadi rakus dan membebani pajak yang besar kepada rakyat. Mereka tidak menggunakan wewenang kepemimpinan sesuai mandat, namun untuk menekan rakyat demi kepentingannya sendiri.

Ayat di atas sangat menarik, menjelaskan sebuah model kepemimpinan khas dalam kekeristenan yakni pemimpin yang melayani, atau di sisi lain menjelaskan bagaimana Yesus memandang kekuasaan. Konteks ayat ini dimulai dari Ibu anak-anak Zebedeus yang menghendaki anak-anaknya duduk di sebelah kiri dan kananNya dalam kerajaan Yesus. Tuhan Yesus Kristus memahami maksud dan cara mereka memandang kekuasaan untuk memerintah demi kekuasaan itu sendiri. Sedangkan Yesus justru menggunakan kata diakonos (pelayan) dan doulos (budak) bagi mereka yang ingin menjadi terkemuka, dan Ia sendiri telah melakukannya.

Dalam tugas kepemimpinan kita, seringkali memandang wewenang yang kita miliki dengan sikap yang salah. Alih-alih menggunakan kewenangan tersebut untuk melayani, malah menggunakannya demi kepentingan diri kita sendiri. Tentu saja hal itu sangat memungkinkan untuk dilakukan, sebab kepemimpinan memang memiliki kekuatan di dalamnya, meletakkan posisi seseorang di atas dari yang lain, memberikan banyak kemudahan dan keistimewaan, dan pada akhirnya yang paling berbahaya adalah terjadinya menyalahgunakan kewenangan tersebut tidak untuk melayani, melainkan untuk dilayani. Padahal banyak pemimpin-pemimpin besar di dunia ini justru memiliki jiwa stewardship atau melayani yang sangat baik seperti Jack Ma, Mark Zuckenberg, dan lain sebagainya. (AA)
Refleksi:
Jadilah pemimpin yang memiliki sikap melayani seperti teladan Yesus Kristus maka
keberhasilan akan mengikuti kehidupan kita.