SENI MENYELESAIKAN KONFLIK

“Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang
lain.”
(Lukas 6:29)

Ayat ini sering menjadi bahan olok-olokan, menyebut betapa bodohnya orang Kristen, bahkan dilakukan antar sesama orang Kristen sendiri, yang mengalami kesulitan untuk memahami maksudnya. Bayangkan saja ketika seseorang ditampar pipi kirinya dan sakitnya belum hilang, malah diminta untuk memberikan pipi yang lainnya untuk ditampar juga. Tentu saja demikian, jika diartikan secara literal, dan orang Kristen pasti bonyok semua jika menghadapi kekerasan. Disisi lain ayat ini dipahami sebagai sikap pasif, atau ketidakberanian untuk menghadapi kejahatan. Sikap yang pasrah dan menyerah pada kondisi ketidakadilan. Bisa ayat ini memang ditafsirkan sedemikian oleh banyak orang Kristen atau tidak mungkin menjadi kebaikan yang terlalu muluk untuk diucapkan.

Tanpa menyalahkan pemahaman yang sudah ada, saya akan menyampaikan pandangan yang sedikit berbeda. Ayat ini ada dalam sebuah perikop mengasihi musuh. Ajaran Tuhan Yesus tentang mengasihi musuh memang cukup ekstrim, bahkan di akhir ajal dan kematianNya di tiang salib, Ia masih menunjukkan sikap mengampuni perbuatan mereka dengan asumsi mereka tidak mengetahui apa yang dilakukannya. Dengan karakter Yesus yang sedemikian, ayat ini seharusnya dipahami sebagai sikap keteguhan hati, menahan ekskalasi konflik agar tidak meluas, meredakan suasana, dan pada akhirnya menjadi usaha mendamaikan agar sebuah permasalahan terselesaikan dengan baik. Bayangkan saja jika ditampar pipi kiri, kemudian sebagai reaksi alami kita balas tampar, permasalahan akan makin memburuk. Atau jika ditampar sebelah diam saja tidak membalas dan lari, malah menjelaskan sikap ketakutan kita.Tapi jika pipi sebelah ditampar, dan kita siapkan pipi yang lain, bisa jadi orang yang menampar malah ketakutan.

Ki Ageng Surya Mentaram, salah satu filsuf Jawa yang sangat terkenal mengatakan sebuah falsafah hidup yang sangat menarik sedemikian, “Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, sekti tanpo aji-aji”. (Mendatangi musuh tanpa bantuan, menang tanpa merendahkan, dan sakti tanpa jimat). Jika kembali refleksikan ayat di atas bukankah tindakan itu justru mengandung kekuatan yang sangat besar dalam diri orang Kristen? Dan tentu saja itu bukan sikap pasif atau ketakutan. Sikap itu justru menunjukkan sebuah kekuatan yang mampu mengalahkan musuh, bukan dengan cara yang biasa, melainkan dengan cara yang sangat luar biasa. (AA)
Refleksi:
Biasakan menggunakan kekuatan dalam jiwa yang lebih besar untuk menyelesaikan
masalah-masalah di sekeliling kita.

LEBIH MUDAH DIUCAPKAN

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
(Filipi 2:5-8)

Kadang saya diperhadapkan pada perenungan rumit, menyadari komitmen saya di dunia pelayanan. Ketika seseorang menawarkan gelar kependetaan, saya malah takut. Dengan kesadaran penuh saya lebih senang menyebutkan tugas pelayanan yang saya lakukan sebagai profesi. Hal itu paling tidak menenangkan saya dalam menjalani pelayanan ini, apalagi ketika berefleksi tentang Yesus Kristus. Saya sering mendapati bahwa jalan yang saya tempuh, tidaklah mencerminkan teladan dan contoh yang diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus. Sangat ironik, sebab jika saya mengaku dia adalah Guru dan bahkan Tuhan, namun jalan kehidupan yang saya ambil justru berbeda dari teladanNya. Seorang dosen teologi menyebut dengan istilah upward kehidupan ke atas menuju kemapanan, sedangkan Sang Guru menempuh jalan backward menuju ke bawah menempuh jalan penderitaan.

Ayat di atas menjelaskan bagaimana Tuhan Yesus menjadi manusia. Ketika Rasul Yohanes hanya menyebutkan Tuhan menjadi daging, ayat di atas menjelaskan bagaimana Ia mengosongkan, merendahkan diri, dan bahkan taat sampai mati dalam bentuk kematian terburuk di kayu salib. Pada ay. 5 dihimbau agar kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus itu. Biasanya kata yang digunakan oleh Rasul Paulus menjelaskan mind of Christ adalah kata nous, yang artinya pikiran terkait pengetahuan statis atau pasif. Namun dalam ayat ini digunakan kata phroneo yang lebih menjelaskan reaksi pikiran untuk menilai dan melakukan tindakan secara aktif.

Kadang saya terus merenung ketika pengetahuan saya tentang Yesus, nyatanya adalah sebuah kumpulan pengetahuan saja, yang bahkan tidak membentuk langkah hidup saya mengikuti jalan-jalanNya. Sangat menyedihkan mengetahui dalam kedewasaan iman ini, nyatanya bahkan di dalam dunia pelayanan, saya hanya mengejar kesuksesan materi saja, yang justru tidak menjadi tujuan sang Guru dalam kehidupannya. Namun saya tentu tidak berputus asa. Saya terus berdoa agar Tuhan menolong saya agar bisa hidup lebih baik menurut pikiran Yesus Kristus. (AA)
Refleksi:
Mengikut Kristus lebih mudah diucapkan dari pada melakukan ajaran-ajaran yang
disampaikan dalam Injil.

SUNGGUH AMAT BAIK

“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”
(Kejadian 1:31)

Jika kita melihat bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta di awal kitab Kejadian, kita akan takjub melihat adanya proses, urutan atau timing yang digunakan, dan kita juga melihat bagaimana Tuhan bekerja secara aktif sepanjang waktu hingga hari ke tujuh Tuhan beristirahat dari pekerjaanNya. Di setiap tahapan pekerjaannya Ia selalu mengatakan bahwa apa yang telah dibuatnya itu baik. Namun pada hari keenam Tuhan mengatakan sungguh amat baik. Apa yang sebenarnya terjadi di hari keenam tersebut?

Pada hari keenam ada kejadian penciptaan yang sangat luar biasa dalam pandangan kemanusiaan tentunya. Pada hari itu Tuhan menciptakan manusia. Manusia sendiri diciptakan dengan tujuan yang unik. Dalam kejadian 1:26 mereka diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan dan diberikan amanah untuk berkembang baik memenuhi dan wewenang untuk menaklukkan bumi. Pada Kejadian 2 dikisahkan bagaimana nafas Tuhan sendiri memberi nyawa bagi manusia sehingga debu yang dibentuk Tuhan itu hidup dan memiliki kesadaran. Jadi tidak salah jika hari itu disebut oleh Tuhan sungguh amat baik. Dan nyatanya dalam seluruh perjalanan sejarah Kitab Suci, pada akhirnya manusialah yang menjadi pusat dari pesan peradabannya, dan menjadi bagian dari rencana Agung Tuhan bagi dunia ini. Bahkan ketika Tuhan berinkarnasi dalam wujud kemanusiaanNya di dalam Yesus Kristus, hal itu menjelaskan tiada lagi batas keterpisahan antara Tuhan dan manusia. Tuhan telah menjadi manusia
sepenuhnya.

Memahami penjelasan di atas, membantu kita untuk memahami betapa berharganya kehidupan manusia di mata Tuhan. Namun sayang sekali bahwa kesadaran ini justru sering kita lupakan. Tidak jarang dalam kehidupan ini kita-malah merendahkan hal-hal kemanusiaan, memperlakukan manusia lain dengan sangat buruk dan tidak hormat, bahkan demi tujuan-tujuan tertentu rela mengorbankan prinsip tersebut demi tujuan kita tercapai. Seharusnya sebagai orang percaya, dengan adanya pemahaman di atas, bisa mendorong keimanan kita kepada Tuhan Yesus Kristus untuk terus bergerak, mengusahakan yang terbaik bagi kehidupan manusia lain di bumi ini dan menolong mereka dalam berbagai kesulitan yang mereka hadapi. Inilah estetika hidup yang mulia untuk dilakukan antar sesama umat manusia.(AA)

Refleksi:
Sadarilah bahwa keberadaan manusia di awal perencanaan Tuhan terhadap penciptaan dirinya adalah sungguh amat baik yang harus menjadi dasar bagi
pemahaman kita terhadap keberhargaan manusia.

SAHABAT SEJATI

“Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.”
(Yohanes 15:14)

Banyak kata-kata bijak yang sering kita dengar mengenai persahabatan, misalnya“a friend in need is a friend indeed”. Jim Morrison, vokalis terkenal band TheDoors yang meninggal muda pernah berkata, “A friend is someone who gives you total freedom to be yourself”. Namun sebenarnya, apakah definisi yang sahabat bagi anak Tuhan? Di dalam Yohanes 15:14, Tuhan Yesus memberikan pernyataan bahwa kita adalah sahabat-Nya apabila kita melakukan perintah-perintah-Nya. Apakah itu berarti ada pihak yang dominan dan tidak dominan? Bukankah selama ini kita menganggap persahabatan seharusnya mencerminkan posisi yang seimbang? Bukankah selama ini etika bersahabat adalah be yourself, tanpa ada pembatasan apapun?

Jika kita membaca ayat-ayat sebelum dan sesudah Yohanes 15:14, kita dapat memahami bahwa apa yang Tuhan perintahkan bagi kita selaku ‘sahabat’ sebenarnya hal-hal yang diperlukan oleh kita selaku manusia biasa. Disebutkan bahwa kita harus saling mengasihi, mau tinggal di dalam-Nya, dan siap ‘dibersihkan’ bagaikan ranting pohon anggur agar dapat berbuah lebat. Sedangkan di dalam Yohanes 15:15 disebutkan bahwa Tuhan Yesus memberitahukan kepada kita semua hal yang diketahui-Nya dari Bapa. Ini merupakan privilege yang biasanya tidak diberikan kepada hamba, namun kepada sahabat. Tuhan Yesus mau memosisikan diri lebih rendah daripada status- Nya sehingga status manusia terangkat. Sedangkan kita menjadi sahabat-Nya kalau kita menjadi pelaku Firman, bukan sebagai orang berdosa yang berlaku seenaknya dan seadanya. Persahabatan antara Tuhan Allah dan manusia mencerminkan bahwa perbedaan peran dan hakikat masing-masing pribadi tetap ada. Allah tetap Allah, kita tetap manusia. Namun masing-masing pihak menyesuaikan diri sehingga jarak dan penghalang semakin berkurang.

Di kampus, kita selalu berinteraksi dengan rekan kerja, atasan, bawahan, dan pihak lain (mahasiswa, mitra kampus, dsb) untuk mewujudkan keprimaan Universitas Kristen Maranatha. Ketika kita mampu beradaptasi dengan sesama yang berbedabeda maka akan terwujud persahabatan dan persekutuan yang indah. Hal tersebut akan memampukan kita menjalankan fungsi dan peranan masing-masing dengan penuh sukacita dan berkualitas tanpa merasa terbebani. Ingatlah bahwa persahabatan yang sejati tidak meniadakan perbedaan yang sudah ada (fungsi, peranan), namun justru memberi ruang bagi Roh Kudus untuk mempersatukan perbedaan tersebut (adaptasi, kolaborasi). (IIA)
Refleksi:
Persahabatan yang sejati tidak membiarkan kita menjadi pribadi yang seadanya, tapi
menjadi pribadi terbaik yang semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.

SANG PENCIPTA DAN YANG DICIPTAKAN

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan
kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di
atas permukaan air.”
(Kejadian 1:1-2)

Banyak sebutan bagi Allah baik di Alkitab, berbagai kebudayaan dan agama,
maupun di dalam kebudayaan populer. Pasti Anda pernah mendengar sebutan
‘God is an artist’, ‘God is an architect’, ‘God is a designer’, dan bahkan
‘God is a director’. Walau tidak ada satupun sebutan yang sanggup mendeskripsikan
Allah secara tepat, namun sebenarnya semua sebutan itu merupakan refleksi manusia
bahwa Allah adalah Pribadi yang mampu menciptakan, merancang, menata, dan
memperindah kehidupan manusia.

Dalam kisah penciptaan, pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, namun
bumi belum berbentuk dan kosong (tohu wa bohu). Ada kekacauan dan ketidakteraturan
saat itu. Namun setelah itu Allah Trinitas menata semuanya, bahkan rancangannya
sangat detail yaitu hal-hal yang utama didahulukan. Bayangkan apa jadinya apabila
semua mahluk hidup diciptakan lebih dahulu dibandingkan benda-benda penerang.

Di dalam proses penciptaan, bukan hanya Allah Bapa yang berperan. Allah Putra
berperan sebagai Firman yang berkuasa, yang dengannya Allah menciptakan segala
sesuatu. Sedangkan Allah Roh Kudus yang digambarkan “melayang-layang” di atas
permukaan air memiliki peranan aktif, yaitu memelihara dan mempersiapkan kegiatan
penciptaan Allah selanjutnya. Kata Ibrani untuk Roh (ruah) juga dapat diterjemahkan
sebagai ‘angin’ dan ‘nafas’. Jadi Allah Trinitas sudah berperan sejak dunia diciptakan.
Kesatuan Allah Trinitas dalam proses penciptaan memperlihatkan adanya persekutuan
yang indah antar Pribadi Allah yang Esa sehingga kekacauan dunia berubah menjadi
keindahan.

Pada saat kita menata Universitas Kristen Maranatha, teladan Allah Trinitas dalam
kisah penciptaan perlu kita teladani. Sekacau apapun kondisi yang perlu diperbaiki,
kita perlu fokus pada hal besar yang utama dulu (misal: pembenahan sistem di lingkup
besar seperti universitas dan fakultas yang memiliki dampak sistemik). Namun
sebelum pekerjaan tersebut dimulai, kesatuan hati, pikiran, dan langkah merupakan
hal yang harus dimiliki oleh semua individu. Setiap orang perlu mengerjakan bagian
pekerjaannya sesuai dengan peranan masing-masing dengan baik, sehingga apa yang
dibuat oleh Universitas Kristen Maranatha menjadi ‘sungguh amat baik’ di mata
Allah. (IIA)
Refleksi:
Kekacauan dapat berubah menjadi keindahan jika Allah berkarya di tengahtengahnya. Anak Allah juga dapat mengubah kekacauan menjadi keindahan jika Allah berkarya di dalam hidupnya

INDAHNYA KERUKUNAN DAN KEHARMONISAN

“…Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam
bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut,
yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon
yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan
berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”
(Mazmur 133:1-3)

Sebuah lagu rohani dengan lirik dari ayat di atas tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Lagu tersebut sering kita nyanyikan di persekutuan atau kebaktian Minggu. Iramanya yang riang, melodinya yang mudah diikuti, serta gerakan yang menyertainya seringkali membuat kita merasa bahagia pada saat menyanyikannya. Namun tidak hanya itu yang membuat kita bahagia, bukan?

Ayat dan lagu yang terdengar sederhana tersebut ternyata memiliki makna mendalam. Gunung Hermon berada jauh di Utara (perbatasan Siria dan Libanon). Puncak Gunung Hermon sendiri ditutupi salju sepanjang tahun, sementara daerah di sekitarnya sangat kering. Sedangkan Bukit Sion berdiri jauh di Selatan, tempat Kota Yerusalem berada. Salju Gunung Hermon mencair menjadi embun lalu mengalir ke berbagai tempat. Sebenarnya jika isi ayat dan lagu tersebut kita pandang secara ilmiah, maka tidaklah mungkin apabila embun dari puncak Gunung Hermon yang sudah mengalir turun ke lembah bisa mengalir naik ke puncak Bukit Sion. Namun hal yang tidak logis bisa menjadi kenyataan jika Tuhan berkehendak. Contohnya Kekristenan yang berasal dari bangsa kecil yang terjajah ternyata bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia dan memberi dampak besar dalam kebudayaan dunia.

Keberhasilan pelayanan para rasul dalam menyebarkan Kabar Baik menandakan bahwa mereka tetap bisa bersatu dan harmonis sebagai satu Tubuh Kristus walaupun ada perbedaan pendapat. Harapan Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:21 agar kita menjadi satu di dalam Tuhan, sama seperti Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa merupakan penentu keberhasilannya. Menjadi satu bukan berarti tidak memiliki perbedaan. Di Universitas Kristen Maranatha berbagai fakultas, lembaga, badan, maupun direktorat pasti sering memiliki perbedaan sudut pandang serta kebiasaan. Kadang hal ini mempersulit langkah kita untuk menuju keprimaan. Namun sebenarnya kuasa Roh Kudus sebagai roh pemersatu pasti akan memampukan kita untuk berkolaborasi sehingga bisa semakin menjadi berkat bagi masyarakat. Ketika hal tersebut terjadi, biarlah nama Tuhan yang semakin harum dan dimuliakan orang. (IIA)
Refleksi:
Tidaklah mustahil untuk membangun kerukunan dan keharmonisan, kecuali jika kita menolak untuk dipersatukan di dalam Tuhan. Akankah kita menjadi saluran berkat
jika Tubuh Kristus tercerai-berai?

MUJIZAT DALAM KEBERSAMAAN

Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian
juga ikan itu.”
(Yohanes 21:13)

Seri cerita kebangkitan Kristus dalam Injil Yohanes ditutup dengan kisah mujizat yang sama persis saat pertama kali Kristus memanggil Petrus dan kawan-kawan. Namun ada kejadian yang ditambahkan dalam kisah ini, yakni Ia makan bersama murid-murid-Nya. Setelah murid-muridnya memperoleh ikan dengan jumlah yang sangat banyak, Kristus menyambut mereka untuk sarapan bersama. Ia berinisiatif membagikan roti dan ikan kepada para murid. Inisiatif yang menyiratkan pentingnya menikmati kebersamaan dan mensyukuri mujizat dalam persekutuan.

Bagi sebagian orang, mujizat adalah merupakan peristiwa pribadi yang dibagikan kepada sesama. Tidak ada masalah dengan itu, selain menjadikan pengalaman itu sangat subyektif. Yang disiratkan dalam pengalaman peristiwa ini adalah mujizat tersebut perlu dialami bersama, disukacitakan bersama, dan disyukuri bersama.

Pengalaman perjumpaan dengan Allah haruslah menjadi pengalaman komunal Umat Allah. Pengalaman komunal itulah yang kemudian menjadi batu penguji pengalaman subyektif masing-masing. Pengalaman komunal akan melahirkan premis bersama. Premis bahwa Allah Trinitas adalah Allah yang bersukacita dalam kebersamaan. Bahkan kebersamaan yang sederhana : sarapan roti dan ikan.

Umat Kristus harus kembali memberdayakan pengalaman kebersamaan tersebut. Harus kembali mendorong terjadinyan kebersamaan yang mendatangkan mujizat. Mengusahakan adanya premis hidup bersama yang menjadi koor bersama tentang kasih antar sesama sahabat. Bukan sekadar membagi, tetapi berjuang bersama, mengalami bersama, bersuka bersama-sama. (AL)

Refleksi :
Allah harus dinikmati dalam persekutuan.

BERSAMA-SAMA

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu! “.”

(Yohanes 20:19)

Terbayang ketakutan para murid paska kematian Kristus. Ketakutan itulah yang mendorong mereka berada dalam sebuah ruangan. Ketakutan tersebut sepertinya berhasil membelokkan fokus para murid. Padahal dari Maria Magdalena mereka telah menerima pesan bahwa Yesus telah bangkit. Pesan tersebut tidak serta merta menghilangkan ketakutan mereka. Namun yang menarik dari peristiwa ini, ketika Yesus menampakan diri kepada mereka, Ia tidak mengatakan “jangan takut…” tetapi Ia justru berkata “Damai Sejahtera…”

Ketakutan adalah salah satu sifat atau kondisi yang sangat manusiawi. Sangat manusiawi jika seseorang takut bahkan Yesuspun pernah sangat ketakutan (Bdk. Kisah di Taman Getsemani). Tetapi apa yang membedakan kondisi ketakutan Yesus saat di Getsemani dengan para murid di loteng Yerusalem? Yesus tidak kehilangan “Damai Sejahtera.” Kata Damai Sejahtera berasal dari kata “Eirene” dalam bahasa Yunani yang berarti Keselamatan dan Keamanan. Rasa Aman atau sering diistilahkan dengan inner peace itulah yang tidak ada pada para murid. Ketakutan terlalu menguasai mereka sehingga mereka kehilangan kemampuan berfikir jernih dalam kondisi yang sukar dan pelik seperti itu.

Kepada para murid yang takut itu, Yesus datang memberikan rasa aman dalam kebersamaan. Seolah ingin menegaskan bahwa “dalam kebersamaanlah kamu akan merasa aman.” Sehingga kebersamaan itu haruslah kebersamaan yang berani saling membagi rasa takut dan saling menguatkan. Pada saat proses membagi itu terjadi maka rasa aman dari Allah akan turun. Itulah pentingnya kebersamaan. Kebersamaan menimbulkan keyakinan diri dan solidaritas, dengan demikian setiap orang mampu menjadi motor penggerak yang menentramkan sesamanya. (AL)

Refleksi : Rasa aman hanya mungkin ditemui dalam persekutuan para sahabat.

MEMBALAS TERBALIK

“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:26-27)

Konteks penulisan ayat ini adalah mengenai kehidupan orang percaya yang akan dibenci dimasa yang akan datang karena Kristus. Namun, yang menarik adalah respon yang harus dibangun atas kebencian yang terjadi itu. Orang percaya tidak diperintahkan untuk membalas tetapi bersaksi. Bersaksi seperti apa? Apakah dalam pengertian kristenisasi atau pemindahan keyakinan? Ternyata tidak demikian. Konteksnya jelas mempersaksikan kasih Allah yang menerima, terbuka, dan memberdayakan tersebut. Inilah yang disebut sebagai membalas terbalik.

Lantas bagaimana bisa hal itu dilakukan? Hanya jika “Penghibur yang akan Ku utus dari Bapa datang…” Penerimaan secara utuh akan kehadiran Allah Tritunggal : Bapa-Anak-Roh Kudus yang menyebabkan seseorang mampu mempersaksikan kasih itu. Karena dengan menerima, maka seseorang mampu menghidupi. Tidak mudah memang, tetapi itulah kebenarannya.

Tabiat Allah yang kudus, mengakibatkan Ia tidak menerima ketidakbenaran. Termasuk didalamnya tidak menerima kebencian. Sehingga tidaklah benar jika kebencian harus dilawan dengan kebencian. Karena jika demikian, maka “sang korban sedang menjadi pelaku” bagi pihak yang lain. Kebenaran akan dinamisnya Allah dalam hubungan-Nya dengan diri-Nya sendiri, berimplikasi pada hubungan umat Allah yang juga menjadi dinamis dengan sesamanya. Menerima hubungan yang dinamis itulah keindahan seni hidup sebagai umat Allah.

Jadi ada dua pembuktian yang terjadi jika kita melakukan hal ini. Yang pertama pembuktian bahwa kita telah meneladani Allah, dan pembuktian kepada sesama, bahwa Allah Trinitas adalah Allah kebenaran. Dengan demikian, seluruh hidup yang berpusat pada Allah Trinitas adalah kehidupan yang mampu mengendalikan diri sehingga bermanfaat bagi sesama. (AL)

Refleksi : Kekuatan dari Konsep Trinitaris dalah memampukan Umat Allah bergerak dalam kebenaran identitasnya.

KASIH SEPERTI KASIHNYA

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. ”

(Yohanes 15:9-10)

Bagaimanakah kasih seperti kasih-Nya? Setidaknya ada beberapa hal yang dapat menjawabnya :

1. Kasih yang menerima. Kasih Trinitas adalah kasih yang menerima satu sama lain. Seperti Trinitas yang saling memahami satu dengan yang lain, demikian juga Allah mau menerima relasi dengan manusia. Sesuatu yang luar biasa dimana yang superior mau menerima yang inferior dalam kebersamaan yang setara sebagai sahabat-Nya. Artinya, penerimaan itu secara otomatis membongkar batas-batas dan strata yang dibuat oleh manusia dalam tradisinya. Yang ada adalah kebersamaan dalam taman persahabatan.

2. Kasih yang terbuka Keterbukaan antar pihak dalam trinitas menggambarkan juga Allah yang terbuka terhadap manusia, sehingga menjadi cermin bagaimana manusia yang harus terbuka dengan sesamanya. Jika sekat-sekat primodialisme telah dibuka oleh Allah, maka tidak ada alasan bagi kita untuk bersifat tertutup dan eksklusif. Tidak ada alasan bagi kita untuk mempertahankan status quo. Umat Allah haruslah umat yang terbuka.

3. Kasih yang memberdayakan Penyebutan “bukan lagi hamba melainkan sahabat” menunjukkan sebuah peningkatan status. Peningkatan status ini bukan saja sebagai label, tetapi juga diikuti dengan tanggung jawab. Tanggung jawab tersebut adalah “… segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapaku.” (Ay. 15) yang tidak lain adalah tanggung jawab melakukan kehendak Bapa dan menghasilkan buah. Kehidupan yang produktif. Umat Allah haruslah mulai memikirkan kehidupan bersama dalam perspektif ini. kasihnya tidak lagi kasih yang hanya vertikal tetapi kasih yang horizontal sama seperti Allah Trinitas. (AL)

Refleksi : Mengasihi seperti Allah adalah mengasihi secara utuh.