EN CHRISTO

“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah
berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
(2 Korintus 5:17)

Kalau kita bertanya kepada encim-encim, “Kapan kita masuk surga?” Dengan pola berpikir keimanannya yang sederhana dia pasti akan menjawab, “Nanti setelah kita mati.” Jangankan encim-encim, kita juga akan menjawab hal yang sama. Sekilas menurut pemahaman tentang apa itu sorga, jawaban itu sudah tepat. Sorga atau neraka adalah gambaran tentang kehidupan nanti, yang dianggap pasti akan ditemui ketika seseorang nanti mengalami kematian. Jadi sifat sorga itu di masa yang akan datang. Sebagian orang malah menciptakan kontras sorga yang baik dan dunia yang buruk.

Namun demikian pembahasan ayat ini menarik untuk disimak sebab memberikan perspektif yang mungkin sedikit berbeda. Kata evn Cristw (Baca: en Christō), di dalam Kristus, dalam pemahaman Rasul Paulus adalah sebuah kondisi di mana seseorang ada dalam naungan kasih karunia Tuhan. Dan bagi mereka yang sedemikian, terjadi sebuah transformasi kehidupan yang dijelaskan ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Dalam tata bahasa Yunani yang menjelaskan kata sudah datang artinya sudah terjadi saat itu juga. Sehingga dengan demikian kekekalan hidup yang dianugerahkan Tuhan ketika seseorang mengalami en Christō semestinya dapat dipahami bahwa “sorga” itu sudah ada hari
ini.

Dalam akur kehidupan ini, kadangkala kita mengalami kelelahan, seakan-akan kematian dapat menjadi solusi yang tepat. Ketika ayat di atas ditulis, bukan ditulis oleh Rasul Paulus dalam keadaan dia sedang melihat cahaya sorgawi atau mengalami bliss kebahagiaan yang mendalam tentang sorga, sebaliknya ditulis justru ketika ia mengalami sakit keras mendera tubuhnya dengan sangat parah. Namun melalui pesan ini justru ia memulai sorga itu hari ini. Sehingga memahami kesorgaan di dalam ayat ini bukan hanya sebuah usaha menikmati suasana hidup yang serba mudah, melainkan sebaliknya dalam sebuah kesulitan yang seberat apapun, menemukan apa yang sudah datang itu akan membuat kehidupan yang sepertinya tidak berharga ini akan menjadi lebih baik. Itulah salah satu esensi dari panggilan keimanan kristiani bagi kehidupan
sorga kita di dunia ini.(AA)
Refleksi:
Sorga dalam Kristus adalah panggilan hidup mensuasanakan kehidupan kita di dunia ini menjadi lebih baik.

PEMBAHARUAN BUDI

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:
apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
(Roma 12:2)

Dalam sebuah website www.psychologytoday.com ada sebuah artikel menarik yang berjudul “Your Mindset Can Determine Genuine Success” (Pola Pikir Dapat Menentukan keberhasilan yang sesungguhnya) yang ditulis oleh salah satu kontributornya yang bernama Ray William. Dari ringkasan artikel tersebut disampaikan bahwa pikiran manusia dapat dibentuk yang menjadi sumber perilaku bagi seseorang. Sehingga ketika input yang dimasukkan dalam pikiran kita kesuksesan, maka perilaku yang muncul adalah perilaku suksesyang menjadi awal bagi seseorang meraih kesuksesan.

Ayat di atas adalah salah satu nasehat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, Jemaat yang hidup di kelilingi oleh kehidupan yang tidak mencerminkan sikap hidup seorang Kristiani di jaman tersebut. Dan nasehat yang menarik adalah ketika ia mengatakan metamorfou/sqe (Baca: metamorphousthe), sebuah bentuk kata imperatif agar seseorang mampu hidup membedakan kehendak Tuhan dan dan berkenan. Kata metamorphoó diterjemahkan berubah. Untuk memberikan perbandingan, kata ini sama seperti yang digunakan pada perubahan kepompong menjadi kupu-kupu, metamorphosis. Sehingga dapat dimaknai perubahan yang dimaksud adalah sebuah pertumbuhan alamiah menuju kapasitas yang lebih baik pada nou/j (Baca: nous) akal budi. Jika kita melihat pemahaman Rasul Paulus tentang pikiran ini ia berbicara tentang pikiran Kristus, dan kepada jemaat di Filipi ia menghendaki mereka memiliki
pikiran tersebut.

Banyak sekali “kejahatan” atau perilaku buruk dalam kampus terjadi dimulai dari pikiran. Jika pikiran buruk, perilaku juga menjadi buruk. Istilah gaul yang sering digunakan okrim (otak kriminal). Misalnya berpikir “curang sedikit boleh-boleh saja” dapat membuat mahasiswa mencontek pada saat test, atau bahkan melakukan ketidakjujuran akademis. “Mengambil uang universitas boleh saja” menyebabkan terjadinya penyalahgunaan anggaran keuangan atau juga pada kewenangankewenangan lain. Yang paling buruk adalah ketika terjadi pembalikan pola pikir, ketika yang salah dianggap benar dan yang benar menjadi salah. Inilah saatnya kita “merevolusi mental” membangun nilai-nilai hidup Kristiani dalam ICE secara lebih kongkrit dalam pola pikir kehidupan civitas akademika Universitas Kristen
Maranatha, sehingga akan terwujud kondisi yang lebih baik.(AA)
Refleksi:
Alami perubahan terus menerus dalam kehidupan ini yang diawali dengan pembaharuan pikiran.

HIDUP DAN TERANG YESUS

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
(Yohanes 1:4-5)

Dalam falsafah Jawa, Ki Ageng Surya Mentaram, ada salah satu ajarannya yang cukup menarik, “urip urup” yang dalam bahasa Indonesia artinya hidup itu menyala. Ajaran ini menjelaskan bagaimana kehidupan yang dimiliki oleh
seseorang itu harus memberi manfaat bagi orang lain, sebagai penjelasan dari kata menyala tersebut. Demikianlah orang Jawa diharapkan menjalani hidupnya.

Ayat di atas sebagai bagian awal dari Injil Yohanes sangat menarik, yang menjelaskan siapa Yesus Kristus. Pada kalimat “Dalam Dia ada hidup…” seharusnya kata ada bukan berarti punya seperti dalam bahasa Indonesia, melainkan dalah, dari kata h=n (Baca:en). Sehingga kata tersebut menjelaskan sebuah identitas atau eksistensi Yesus yang di sini adalah hidup, dan hidup itulah terang bagi manusia. Maksud terang bagi manusia dapat jadi adalah panduan, seperti disampaikan dalam kaitan dengan kegelapan. Kata terang dalam Alkitab sering dikaitkan dengan peran pelita. Pelita itu memberi cahaya dalam kegelapan, memberikan panduan atau arah bagi jalan yang hendak ditempuh atau dilewati oleh seseorang. Bayangkan saja jika seseorang berjalan di tempat yang sangat gelap, tentu saja tidak mudah dan berbahaya.

Dalam kehidupan ini tidak jarang kehidupan kita diperhadapkan pada ruang-ruang ketidakpastian atau kegelapan. Misalnya di Kampus seorang Dosen dapat mengalami kegalauan dalam menjalani profesinya yang telah dijalani secara rutin, melakukan hal yang sama, bertahun-tahun, hingga kehilangan tujuan dalam pekerjaannya. Dalam kondisi ini seringkali manusia sering kehilangan makna hidupnya, menjadi hampa dan tidak berharga. Beberapa orang mencoba bertahan dan menghibur diri saja, “Yah dijalani saja” seakan-akan sudah tiada lagi pilihan lain. Dalam kondisi seperti inilah sangat baik sekali jika kita kembali memandang siapa yang adalah Sang Hidup yang menjadi terang manusia itu. Memahami bahwa Yesus Kristus sendiri yang menjadi terang dan penuntun bagi kehidupan kita, tentu akan memberikan pengertian tentang kehidupan yang lebih baik. Dia akan menuntun kita ke jalan-jalan di mana kehidupan yang kita miliki tidak hanya sekedar untuk dijalani melainkan tertransformasi menuju
kepenuhan dan kebermaknaan. (AA)

Refleksi:
Pahamilah hidupmu di dalam Yesus Kristus untuk mendapatkan kepenuhan dan kebermaknaan yang lebih baik.

HIKMAT DAN KEMURNIAN HIDUP (Yakobus 3:13-18)

 

“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai,
peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan
tidak munafik”
(Yakobus 3:17).

Arti “hikmat” berhubungan erat dengan kecakapan rohani seseorang untuk membuat pertimbangan yang adil dengan cara-cara yang benar, sehingga menghasilkan suatu keputusan etis yang membangun dan dapat dipertanggungjawabkan. Sikap berhikmat berhubungan erat dengan motif, dasar pertimbangan, cara pengungkapan dan keputusan etis yang didasari kecerdasan rohani tertentu. Unsur utama dari hikmat ternyata bukanlah seberapa luas pengetahuan kognitif seseorang, tetapi seberapa besar kualitas hidup rohaninya. Itu sebabnya definisi dari Yakobus 3:17 tentang hikmat yang dari atas adalah “pertama-tama murni.” Kata “murni” (hagnos) menunjuk kepada pengertian: suci, bersih, sempurna, dan sederhana. Tanda pertama dan utama dari hikmat adalah kemampuan hidup yang tidak bercacat, apa adanya, memiliki integritas tinggi dan kredibel. Modal dasar dari hikmat tersebut akan memampukan seseorang untuk menjadi pendamai, pemaaf, pemurah, belaskasihan, tidak memihak dan tidak munafik di hadapan Allah maupun di hadapan sesamanya. Karena itu hikmat dari Allah selalu menghasilkan damai-sejahtera dan keselamatan dalam kehidupan bersama. Kemurnian diri menjadi salah satu basis utama dari hikmat. Yang mana kemurnian diri tersebut berakar dalam relasi dengan Allah, sang sumber kemurnian dan kekudusan. Manakala kita mengabaikan atau menolak anugerah Allah, maka seluruh hikmat yang kita bangun akan menjadi hikmat dunia. Dengan tepat rasul Yakobus menyatakannya: “Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan” (Yak. 3:15). Ibadah merupakan media relasi manusia dengan Allah. Namun dalam kehidupan sehari-hari ibadah justru sering dimanipulasi menjadi media pembenaran diri. Akibat sikap pembenaran diri melalui ibadah atau keagamaan adalah hidup kita semakin jauh dari kemurnian. Pada hakikatnya ibadah yang benar senantiasa memampukan manusia untuk mengembangkan dan memberdayakan diri semakin berhikmat. Dengan hikmat itu dia menghadirkan firman Tuhan yang membangun kehidupan dan memberkati orang-orang di sekitarnya. Hikmat yang dinyatakan dalam perkataan seharusnya telah dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari melalui kemurnian hidup. Jika demikian, sejauh mana kehidupan kita didasari oleh kemurnian hidup sehingga hikmat kita tersebut mempermuliakan Allah? (YBM)
Refleksi:
Kemurnian diri menjadi salah satu basis utama dari hikmat. Karena dari kemurnian hidup hikmat menjadi pola hidup yang mempermuliakan Allah.

PENGENANGAN DAN PEMBARUAN (Kejadian 35:1-15)

Allah berfirman kepada Yakub: “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan
buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika
engkau lari dari Esau, kakakmu”
(Kejadian 35:1).

Saat Yakub melarikan diri dari rumah ayahnya di Bersyeba menuju Haran, dia mengalami penyataan diri Allah di kota Lus. Karena penyataan diri Allah
tersebut, kota Lus diganti nama menjadi Betel, yang artinya: rumah Allah. Di Betel inilah Yakub memperoleh janji penyertaan dan berkat Allah (Kej. 28:13-15). Janji penyertaan dan berkat Allah terbukti selama Yakub berada di perantauan. Yakub akhirnya berhasil, sehingga dia dikaruniai keluarga dan kekayaan. Yakub juga kemudian mampu berdamai dengan Esau, kakak yang pernah marah dan membencinya. Dalam pergumulan dengan Allah di Pniel, Allah mengganti namanya dari Yakub menjadi Israel (Kej. 32:28), yaitu dari seorang penipu menjadi seorang yang menang berhadapan dengan Allah.

Janji penyertaan Allah di Betel menentukan arah perjalanan kehidupan Yakub selanjutnya. Pada saat itulah Allah berfirman agar Yakub bersama dengan keluarganya melawat kembali kota Betel. Mereka dipanggil Allah untuk mengenang kembali karya keselamatan Allah yang pernah dialami Yakub. Jadi setelah Yakub berhasil dan melewati krisis, dia dipanggil Allah merefleksikan imannya di kota Betel. Dalam konteks ini Betel, menjadi dasar pijak dan bukti dari seluruh berkat dan kasih Allah
bagi Yakub.

Bagi Yakub secara khusus pengenangan terhadap kota Betel sekaligus merupakan pembaruan bagi seluruh anggota keluarganya. Karena para istri dan anak-anak Yakub selama tinggal di Haran hidup tanpa pengenalan akan Allah. Itu sebabnya saat Allah memerintahkan Yakub dan keluarganya ke Betel, Yakub segera memerintahkan seluruh anggota keluarga dan semua orang yang bersama-samanya untuk meninggalkan para ilahnya.

Pembaruan hidup di Betel melibatkan seluruh anggota keluarga dan orang-orang yang bersama-sama dengan Yakub, menentukan sejarah hidup mereka. Betel tidak lagi dihayati sebagai rumah Allah pribadi bagi Yakub, tetapi menjadi tempat persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yahweh. Demikian pula melalui karya Kristus, keselamatan Allah terbuka bagi setiap umat manusia dalam satu persekutuan, yaitu Tubuh Kristus. Respons kita seharusnya seperti yang dilakukan oleh anggota keluarga Yakub dan orang-orang yang bersamanya, yaitu: membuang semua illah, mentahirkan diri dan mengganti dengan pola kehidupan yang baru.(YBM)
Refleksi:
Pengenangan akan karya Allah di masa lalu dibutuhkan sejauh kita memiliki visi ke depan dan pembaruan hidup.

ROH YANG MEMBERI HIDUP DAN MENGHIDUPKAN (Roma 8:1-11)

“Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum
dosa dan hukum maut”
(Roma 8:2).

Karya Roh yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus pada hakikatnya mengubah dan membarui mindset yang dimiliki oleh manusia. Arti mindset di sini bukan hanya perubahan pola pikir, tetapi juga perubahan pola hidup secara keseluruhan. Rasul Paulus memaknai kata “berpikir” (phronousin) sebagai suatu pemahaman yang selalu diikuti dengan suatu tindakan. Arti “berpikir” (phronousin) di Roma 8:5-6 senantiasa mengandung: “sistem nilai, filosofi, hawa-nafsu/keinginan dan kehendak untuk melakukan sesuatu. Jadi selama manusia berada di bawah perbudakan dosa; maka seluruh sistem nilai, filosofi, hawa-nafsu/keinginan dan kehendaknya masih dikuasai oleh kuasa dosa. Makna iman atau percaya kepada Kristus seharusnya dihayati sebagai tindakan penyerahan diri secara penuh untuk dikuasai oleh anugerah pengampunan Allah. Dengan anugerah pengampunan Allah akan memampukan setiap umat diubahkan (ditransformasikan) menurut kehendak Allah.

Melalui anugerah Allah, kehidupan manusia yang dahulu masih berada di bawah perbudakan dosa yaitu keinginan daging ditransformasikan menjadi umat yang mampu hidup menurut keinginan Roh Allah. Karya penebusan Kristus pada hakikatnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari belenggu mindset yang semula hanya terarah kepada keinginan daging. Keinginan daging adalah maut tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai-sejahtera (Roma 8:6). Timbul pertanyaan mengapa karya Kristus yang sempurna dan telah menebus kehidupan umat manusia dalam praktik
kehidupan sehari-hari masih ditandai oleh berbagai keinginan dan praktik hidup yang jahat?

Karya penebusan Kristus dan kehadiran RohNya pada hakikatnya tetap sempurna. Hakikat kesempurnaan dan karya penebusan Kristus tidak dapat diredusir atau ditiadakan oleh realita kehidupan umat manusia yang masih jauh dari harapan. Sebab efektivitas karya penebusan Kristus dan RohNya juga ditentukan respons manusia. Bagaimana sikap manusia memberi respons terhadap karya Kristus yang membarui kehidupan ini. Apakah respons kita mau terbuka untuk terus-menerus dibaharui oleh kehadiran RohNya? Ataukah respons kita justru ditandai oleh berbagai sikap pembenaran diri atau mungkin sikap penolakan kepada Dia dengan semakin mengeraskan hati? Karya pembaruan dan pemulihan Kristus akan menghasilkan kehidupan dengan buah Roh yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). (YBM)

Refleksi:
Sejauh mana hidup kita dibarui oleh Roh Kudus dapat diukur dari sejauh mana kehidupan kita menghasilkan Buah Roh dan bukan keinginan daging.

DICELIKKAN KASIH-KARUNIA ALLAH (Efesus 1:3-14)

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga” (Efesus 1:3)

. J ames Irwin, seorang astronot Amerika Serikat dengan Apollo 15 tahun 1971 berhasil mendarat di Bulan selama 67 hari. Saat dia berada di ruang angkasa, James Irwin merasakan dan mengalami peristiwa keagungan dan kemuliaan Allah yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Muncullah refleksi teologis yaitu, kesadaran yang mencelikkan mata rohaninya akan makna inkarnasi Kristus. James Irwin juga menyatakan bilamana dia dapat mengalami kehadiran dan kemuliaan Allah di ruang angkasa sehingga membuat dia menjadi berarti. Apalagi saat umat manusia menghayati kedatangan dan lawatan Allah melalui inkarnasi Kristus ke dunia.

Pencelikkan mata-rohani (iluminasi) akan Kristus merupakan awal dari ziarah iman yang sesungguhnya. Karena melalui pencelikkan mata-rohani kita dimampukan untuk menyaksikan dan mengalami makna kekayaan kasih-karunia Allah. Sebelum dicelikkan, sebenarnya kita telah dilimpahi oleh kasih-karunia Allah. Namun saat itu kita tidak mampu merasakan dan mengalami kasih-karunia Allah tersebut. Itu sebabnya kita tidak mampu mengucap syukur, bersukacita dan beriman. Kita melihat realita hidup dengan sikap pandang yang pesimistis, suram dan tanpa harapan. Penilaian- penilaian diri kita didasarkan kepada luka-luka batin di masa lalu atau pengalaman-pengalaman traumatis. Luka-luka batin dan pengalaman traumatis kita bersumber kepada dosa secara struktural dan dosa secara personal.

Dosa struktural dan dosa personal membuat kita menjadi buta secara rohani, sehingga hidup dalam kegelapan dan menolak kasih-karunia Allah. Karena itu kekristenan tanpa pencelikkan mata rohani akan menjadi kekristenan yang buta. Mereka tahu akan keselamatan, tetapi tak mampu mengalami anugerah Allah. Mereka dapat memberi pelayanan, tetapi tanpa kegembiraan dan ucapan syukur. Di Efesus 1:3 rasul Paulus mengungkapkan pencerahan iman dan pembaruan hidupnya di dalam Kristus, yaitu: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Dalam konteks ini rasul Paulus mengalami kehidupan yang terberkati (eulogetos) sebab telah diberkati (eulogeo). Rasul Paulus mengalami diberkati Allah dengan segala berkat rohani di dalam sorga yang bersumber kepada Kristus. Tepatnya rasul Paulus mengalami pencelikkan mata-rohani, sehingga dia menyaksikan dan mengalami seluruh kasihkarunia Allah. (YBM) Refleksi: Hati yang dicerahi menghasilkan sukacita dan ucapan syukur sehingga kasih-karunia Allah menjadi realitas dalam kehidupan umat beriman.

ALLAH TIDAK MEMBEDAKAN ORANG

“ Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.” (Kisah Para Rasul 10:34)

I ra Natapradja merasa sakit hati setelah putrinya, Gloria Natapradja Hamel, digugurkan sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2016 yang akan digelar di Istana, Jakarta. Gloria digugurkan karena memegang paspor Perancis. Karena itu, ia dianggap bukan warga negara Indonesia. Ia merasa puterinya diperlakukan diskriminatif oleh pemerintah. Seringkali dikehidupan kitapun kita terjebak untuk membedakan orang lain tanpa kita sadari. Padahal semua orang di hadapan Tuhan sama.

Petrus memahami makna dari penglihatan yang telah diberikan kepadanya di atap rumah. Dia sadar bahwa perbedaan antara makanan haram halal merupakan penerapan manusia, dan itu bertentangan dengan kepercayaan Yahudi. Di hadapan Allah tidak ada bangsa yang boleh dianggap sebagai najis. Allah tidak membedakan orang dalam berhadapan dengan bangsa manapun. Bagi orang Yahudi, bergaul dengan orang non-Yahudi merupakan pantangan. Apa yang dilakukan Petrus menghancurkan hukum yang selama ini berlaku. Namun, Petrus melakukan semua itu karena Allah. Allahlah yang menghancurkan dua tradisi manusia yang saling bertolak belakang: Kornelius “si kafir” mengundang Petrus, dan keputusan Petrus “Yahudi” datang ke rumah Kornelius. Di dalam Allah hubungan sesama manusia tidak ada penghalang. Dengan kata lain, tradisi yang bertentangan dengan prinsip Allah haruslah dihapuskan dan diganti dengan kebenaran firman Tuhan. Seorang yang takut kepada Allah dan melakukan hal yang benar, entah dia Yahudi atau bukan Yahudi, diterima oleh Allah. Ini merupakan pelajaran besar yang harus dipahami orang Yahudi, dan menandai satu langkah menentukan di dalam perluasan gereja dari suatu persekutuan Yahudi menuju kepada suatu persekutuan yang universal.

Inilah salah satu babak pertumbuhan Kekristenan. bertumbuh ternyata tidak mudah. Orang tidak bisa tinggal dan mengurung diri hanya di dalam benteng kehidupannya untuk selama-lamanya, atau seperti katak di bawah tempurung. Kekristenan tidak ditentukan aturan-aturan yang sifatnya membedakan orang. Tetapi identitas Kristiani ditentukan oleh Yesus Kristus Tuhan dan Juruslamat. Dengan perkataan lain, orang Kristen tidak boleh terperangkap dalam formalisme atau legalisme agama. Tetapi jiwa Kristiani ditemukan dalam diri Yesus Kristus di dalam peristiwa inkarnasi. Tuhan menjadi sama dengan manusia, bahkan sampai mati di kayu salib karena kasihnya kepada manusia tanpa membeda-bedakan. (RCM) Refleksi : Semua manusia sama dihadapan Allah

TERBUKANYA PIKIRAN

 “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” (Lukas 24:45)

Memiliki pikiran terbuka artinya bersedia mempertimbangkan atau menerima ide-ide baru dan berbeda. Mengolah pikiran terbuka menghasilan cara berpikir kritis dan masuk akal. Orang-orang yang terbuka pikirannya bersedia mengubah pandangan-pandangan mereka ketika disajikan fakta-fakta dan bukti-bukti baru. Jika kita memilih mendekati hidup dalam cara yang sama hari demi hari, akan menjadi bosan dan tidak terinspirasi. Itu akan mengurangi bakat intelektual kita. Jika di pihak lain, kita mencari cara-cara baru melakukan dan melihat segala sesuatu maka akan memperlebar kemampuan intelektual kita, menemukan hidup lebih menarik, dan memperluas pengalaman-pengalaman. Memiliki pola pikir terbuka juga membantu kita dalam pemecahan masalah.

Kisah Lukas tentang kebangkitan berbeda isinya dengan narasi Injil yang lain, walaupun fakta-fakta intinya sama. Setiap penulis Injil menyebutkan kunjungan para wanita ke makam, tetapi penampakan Tuhan kepada para murid dan di dalam perjalanan menuju Emaus hanya dilaporkan oleh Lukas. Dia menyajikan tiga episode kebangkitan yaitu pemberitaan kepada para wanita, perjalanan ke Emaus, dan penampakan di ruang atas. Dalam kisah perjalanan ke Emaus, Ia bekerja dalam pikiran mereka saat itu juga, sehingga pikiran mereka pun terbuka. Ia membuat mereka mengerti maksud dan makna yang sesungguhnya dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama mengenai Kristus, dan membuat mereka melihat bagaimana semuanya itu digenapi dalam diri-Nya. Sebelumnya, dalam percakapan Kristus dengan kedua murid-Nya, Ia menyingkapkan tabir yang menyelubungi tulisan-tulisan itu dengan membukakan Kitab Suci, tetapi sekarang Ia menyingkapkan tabir yang menyelubungi hati dengan membukakan pikiran mereka. Tujuan Tuhan membukakan pikiran adalah supaya mengerti Kitab Suci dengan baik.

Jika kita rajin membaca dan memperlajari Alkitab dengan benar maka kita akan dibukakan mengenai banyak hal yang menjadi pergumulan hidup kita. Di dunia ini, murid-murid Kristus tidak boleh mencari-cari hal yang lebih dari apa yang diajarkan Alkitab, tetapi harus terus belajar lebih lagi dari Alkitab dan bertumbuh menjadi lebih siap dan bijak dalam firman Allah. Untuk memiliki pikiran-pikiran yang benar mengenai Kristus dan memperbaiki dugaan-dugaan kita yang salah tentang diri-Nya serta tentang kehidupan kita, tidak ada lagi yang diperlukan selain daripada memahami firman Allah. (RCM) Refleksi : Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita

TERBUKANYA PEMAHAMAN

 “Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesys bahwa Ia berbicara tentang YohnesPembaptis” (Matius 17:13)

Butet Manurung berusia 41 tahun, seorang guru dari jambi, membaktikan hidupnya untuk mengajar anak-anak komunitas Orang Rimba (Suku Kubu) yang mendiami Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi. Pengajaran membaca, menulis, dan berhitung dilakukan sambil tinggal bersama masyarakat didiknya selama beberapa bulan dengan metode Sokola Rimba. Butet berupaya agar dapat menolong anak-anak Suku Kubu memiliki pengetahuan dan dia rela hidup bersama mereka dan menjadi sahabat anak-anak Suku Kubu sehingga cukup banyak anak-anak yang akhirnya terbuka wawasannya. Butet Manurung terpanggil untuk membawa pencerahan bagi Suku Kubu

Bacaan kita pada hari ini menceritakan murid-murid Yesus yang menyaksikan bagaimana Yesus dimuliakan di atas gunung. Setelah itu Yesus menjelaskan kepada murid-murid yang ikut bersamanya agar dapat memahami mengenai apa yang sudah mereka saksikan. Bagi orang Yahudi yang tidak rohani yang hanya memburu tanda, Yohanes sendiri mengatakan, “Aku bukan Elia,” (maksudnya: nabi Perjanjian Lama yang dibangkitkan, Yoh. 1:21). Tetapi bagi mereka yang peka secara rohani, Yohanes telah datang “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk. 1:17), dan orang telah dituntun kepada Kristus olehnya. Jadi tawaran kerajaan oleh Yesus merupakan tawaran yang sah, sehingga Israel tidak dapat menyalahkan ketidakhadiran Elia sebagai penyebab kegagalan mereka untuk mengenal Yesus. Allah di dalam kemahatahuan-Nya sudah mengetahui bahwa Israel, pada saat kedatangan Kristus yang pertama, tidak akan siap untuk pelayanan Elia yang terakhir, sehingga Dia mengutus Yohanes “dalam roh dan kuasa Elia” sebagai gantinya. Murid-murid akhirnya memahami keberadaan Yohanes Pembaptis setelah mendengarkan penjelasan dari Yesus.

Kita seringkali terjebak dengan cara pandang yang lama. Kita terpaku dengan pemahaman yang sempit dan menganggap itu yang paling benar. Oleh sebab itu kita perlu memperluas wawasan pemikiran dan memperbaiki kehidupan sehingga dapat menjadi orang yang mempunyai pemikiran yang terbuka. Orang yang mempunyai pemikiran yang terbuka dapat hidup dengan penuh gairah, seimbang, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Pemahaman kita akan terbuka dan menjadi lebih luas. Seorang sahabat yang baik akan menolong orang lain untuk dapat memahami kebenaran yang bersumber dari Allah. (RCM) Refleksi : Rasa ingin tahu akan membuka pemahaman yang baru