ATLET ROHANI

 “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah ? Karena itu larilah begitu rupa sehingga kamu memperolehnya !” (1 Korintus. 9 : 24)

Seorang olahragawan atau yang lebih kita kenal dengan sebutan atlit, bertanding dengan begitu gigihnya untuk dapat meraih kemenangan. Seorang atlit sejati tidak ada kata “menyerah” sampai pertandingan usai. Selama pertandingan berlangsung maka sang atlit akan mengerahkan berbagai upaya dan segala macam teknik yang dimilikinya walaupun karena keterbatasan fisiknya namun para atlit tetap berjuang agar dapat memenangkan pertandingan tersebut. Seorang atlit akan berjuang dengan sangat maksimal, sehingga dia dapat membawa pulang kemenangannya yaitu piala yang diraihnya. Ketika mereka dapat memenangkan pertandingan itu, maka keterbatasan fisik yang ada pada mereka selama ini seolah hilang sirna.

Rasul Paulus menasihati jemaat yang ada di Korintus bahwa kehidupan yang mereka jalani sekarang ini adalah ajang pertandingan begitu berat dengan berbagai hal yang dapat merintangi iman mereka untuk datang pada Tuhan. Kota Korintus merupakan kota yang sudah maju dalam hal perekonomian dan budayanya tentu ada banyak pengaruh budaya asing yang tidak dapat dibendung. Kebiasaan-kebiasaan baru yang masuk dan sangat mempengaruhi tatanan kehidupan keimanan jemaat di Korintus pada umumnya. Rasul Paulus hendak mengingatkan pada mereka mengenai pentingnya kehidupan yang selalu berpengharapan pada Kristus. Walau ada banyak pengaruh dari luar namun Kristuslah yang harus menjadi prioritas utama mereka.

Tidak ada bedanya dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Banyak asumsi-asumsi dan keimanan yang mengalami degradasi sehingga itu juga sangat mempengaruhi kehidupan spiritualitas kita pada Tuhan. Berbagai rintangan yang menghadang, berbagai upaya apapun dilakukan oleh lawan kita yaitu si iblis untuk mengalahkan kita. Kita harus tetap gigih berjuang dan memenangkan pertandingan ini. Kehidupan yang Tuhan anugerahkan pada kita merupakan suatu pertandingan iman yang harus kita jalani dengan baik. Tidak ada kata selesai atau menyerah selama kita masih hidup di dunia ini. Kegigihan yang dimiliki seorang atlit/olahragawan inilah yang harus kita miliki sebagai seorang pengikut Kristus. Kita tidak boleh menyerah hanya karena satu kekalahan dalam langkah kita. Kita harus berani bangkit kembali dan terus bertanding untuk memenangkan pertandingan iman ini.(MW)

Refleksi : Jangan pernah menyerah dalam pertandingan iman.

SAHABAT YANG SANGAT MENGASIHI

“Tidak ada Kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabatku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15 : 13 – 14).

Persahabatan seringkali ditandai dengan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Biasanya hubungan timbal balik ini dapat terjadi karena adanya perasaan senasib dan sepenanggungan. Ada pula hubungan yang dimulai berdasarkan berinisiatif dari salah satu pihak untuk berbuat baik kepada orang lain. Apapun alasan dan penyebabnya suatu persahabatan muncul dan berkembang sejalan dengan saling menguntungkan bagi ke dua belah pihak. Kita dapat belajar dari migrasi tahunannya burung pelikan, suatu perjalanan yang panjang sangat melelahkan. Mereka terbang dengan jarak puluhan kilometer seolah tidak mengenal lelah dengan satu tujuan untuk mendapatkan sumber makanan yang baru dan dapat berkembang biak. Ketika terbang bersama ke suatu tempat maka burungburung tersebut akan membentuk formasi huruf “V”. Pemimpin perjalanan akan berada di depan sementara burung-burung lainnya akan berada di belakang. Ketika pemimpin burung-burng tersebut merasa lelah maka yang dibelakangnya akan secara otomatis menggantikan posisinya dan demikian seterusnya sampai tiba di tempat tujuan. Di antara burung satu dengan yang lain ada hubungan saling menopang dan inisiatif saling menghormati. Beberapa kisah persahabatan sejati yang dapat kita baca di dalam Alkitab juga karena di dasari saling memerlukan serta tidak ada keinginan untuk memanfaatkan satu dengan yang lain.

Dalam nas hari ini tidak hanya menyatakan anugerah pengorbanan dari Yesus Kristus saja tetapi lebih daripada itu ada suatu perintah yang menjadi penekanan, yaitu kita dapat predikat sebagai seorang sahabat jika kita melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Tuhan Yesus memberikan teladan persahabatan melalui pengorbanan diri-Nya. Inilah bukti nyata Allah yang berinisiatif mau bersahabat dengan manusia. Ini pula dasar persahabatan yang kuat bagi sesama orang percaya.

Yesus Kristus mau menjadi sahabat kita dalam suka dan duka, dalam kondisi apapun juga karena kasih-Nya kepada kita. Maukah kita menerima tawaran persahabatan ini ? Bila jawabannya Ya, maka kita harus masuk dalam dimensi persahabatan yang berbeda dengan cara pandang dunia yaitu persahabatan yang ditindaklanjuti dengan melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Persahabatan dengan Allah dan atas inisiatifNya ini harus direspon dengan kasih yang menaruh respek dan hormat kepada-Nya. (MW) Refleksi : Menjadi sahabat Yesus berarti mentaati perintah-Nya.

SAHABAT DALAM PERGUMULAN

saling-menolong111

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. (Amsal 17 : 17)

Kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari interaksi dengan sesamanya sebab sejak awal manusia diciptakan sebagai mahluk sosial (manusia tidak baik hidup seorang diri saja). Setiap orang pasti memiliki seorang teman dekat atau sahabat. Mereka yang senantiasa menghibur, mendengarkan, menemani bahkan tidak jarang mereka rela mengorbankan segala yang mereka miliki demi setia kawan. Sama halnya dengan apa yang dialami Bapak Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok Beliau merasa tidak sendirian karena ada keluarga inti yang senantiasa menemani dan memberikan dukungan. Para pendukung yang selama ini menjadi mitra nya dalam menjalankan tugas terus memberikan semangat serta sahabatnya yang tidak pernah meninggalkannya, yaitu Tuhan Yesus yang terus menolong dan menopangnya baik dalam suka maupun duka. Ahok yakin bersama dengan Tuhan Yesus dimampukan menjalankan tugasnya baik sebagai abdi negara maupun sebagai hamba-Nya. Tuhan Yesus sudah mengangkat semua orang yang percaya kepadaNya, juga Pak Ahok sebagai sahabatNya. ini merupakan suatu anugerah yang sangat besar. KasihNya yang begitu besar telah terbukti dengan kematiannya di kayu salib, Dia rela menyerahkan nyawanya untuk menebus setiap dosa umat manusia.

Nas hari ini menuliskan tentang seorang sahabat yang sejati. Yesus adalah sahabat sejati kita. Dalam kondisi apapun dan kapanpun kita perlu, Yesus bersedia untuk dihubungi. Yesus mengerti apa yang menjadi pergumulan setiap manusia, Dia begitu dekat dengan kita sedekat nafas yang kita hirup setiap saat, sehingga tidak akan pernah melupakan umatNya. Yesus berfirman : “Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh. 15 : 15b).

Siapakah yang menjadi sahabat kita dalam menjalani kehidupan ini dalam suka dan duka, dalam mengatasi berbagai persoalan, yang bersedia mendengarkan semua keluhan dan ratapan kita ? Hanya ada seorang pribadi yang sanggup melakukan itu semua, yaitu Tuhan Yesus. Ketika kita percaya dan menaruh harapan kepada Tuhan Yesus, kita menjadi sahabat-Nya dan menjadi orang yang dapat dipercaya oleh-Nya. Datanglah kepada-Nya dengan penuh keberanian.(MW)

Refleksi : Tidak ada sesuatu yang dirahasiakan bagi seorang sahabat, jika kita datang pada sahabat yang sejati, yaitu Tuhan Yesus.

TUNJUKAN SAJA ASLINYA

cropped-cropped-cropped-kebetulan.jpg

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. (Roma 12:9)

Di tengah-tengah realitas semu atau hypheralitas dalam kehidupan dewasa ini, sangatlah sulit menemukan suatu sikap yang genuine (asli) yang dilakukan seseorang bukan sekedar basa-basi atau melakukan sesuatu bagi seseorang tanpa pamrih. Apalagi di tengah-tengah kehidupan materialistis di mana segala hal diukur dari segi keuntungan yang bisa didapatkan, sulit menemukan tindakan yang dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih. Dalam konteks hubungan, agar bisa diterima seseorang harus bisa menggunakan topeng berwajah ramah, sebab memang demikianlah aturan mainnya. Bahkan jikapun kemudian ditemukan suatu sikap yang asli dan tanpa berpura-pura, jangan-jangan akan ditolak sebab hal itu mengungkap kondisi kemunafikan itu sendiri.

Ayat di atas sangat menarik. Mengetahui tentang kota Roma adalah sebuah kota metropolitan, di mana jemaat di Roma banyak juga terdiri dari kaum sosialita, yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu mengedepankan manner yang malah berubah menjadi realitas semu. Mereka nampak saling beramah tamah namun sesungguhnya dalam konteks pembahasan kitab Roma 12 ini mereka saling menyombongkan diri dan bukanlah saling mengasihi. Kata yang digunakan untuk menjelaskan kondisi kasih dalam bahasa aslinya adalah ἀνυπόκριτος (Baca: anupokritos) yang artinya bisa juga diterjemahkan tulus atau tanpa kemunafikan.

Kasih yang seperti inilah yang diharapkan terjadi di kalangan jemaat Roma, bukan yang saling menjatuhkan atau malah berkompetisi.

Dalam kehidupan ini, kita seringkali terjebak dalam kepura-puraan. Kita menunjukkan suatu tindakan dengan pamrih atau tujuan-tujuan tertentu. Kita memasang topeng pada wajah agar bisa diterima banyak kalangan. Sebenarnya kita memiliki hati nurani dan kesadaran yang memberitahukan kepada diri kita, betapa palsunya perilaku yang sedang kita mainkan, namun tidak jarang nurani inipun sudah menjadi dingin, dan tidak sanggup lagi memperingatkan kepalsuan diri kita. Dan manusia yang hidup dari satu kepura-puraan akan menutupinya dengan kepalsuan hidup yang lain. Alihalih menciptakan kehidupan yang jujur dan berintegritas banyak orang malah jatuh ke dalam tumpukan kepalsuan yang pada akhirnya membuat kehidupannya menjadi tidak bahagia, tertekan, dan sekali lagi hidup dalam dunia semu yang diciptakannya sendiri sebagai akibat dari terlalu banyaknya berkompromi dengan kepalsuan dalam kehidupannya.(AA)

Refleksi: Kepalsuan hidup adalah kejahatan bagi diri sendiri dan juga bagi sesama yang telah menganggap itu benar.

IKUTI PROSESNYA

cropped-didikan.jpgMilik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak
diberkati.
(Amsal 20:21)

Dewasa ini, teknologi transportasi dan komunikasi berkembang dengan sangat cepat menjadi salah satu tanda kemajuan jaman era abad ini. Hal tersebut menyebabkan waktu dan jarak tempuh menjadi semakin pendek, tidak perlu hitungan menit sebuah berita tersampaikan dari belahan bumi yang satu ke belahan bumi yang lain melalui pesan email atau SMS. Perjalanan-perjalanan langsung juga menjadi lebih pendek jarak tempuhnya dengan adanya jalur dan transportasi cepat dan manusia terus mempersingkat waktu jarak tempuh tersebut. Tak pelak hal ini berpengaruh juga pada gaya hidup, di mana untuk mencapai suatu tujuan manusia ingin serba cepat atau instant, misalnya pendidikan instant, karier instant, termasuk membangun rumah tangga instant.

Ayat nasehat dari Amsal di atas sangat menarik menjadi pembahasan hari ini terkait dengan dunia yang serba instant saat ini. Ayat ini mengingatkan adanya konsekuensi dari realitas serba cepat tersebut, “…milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya akhirnya tidak diberkati.” Alkitab selalu mengajarkan tentang proses bukan instant. Perhatikanlah tokoh-tokoh Alkitab Abraham, Yusuf, Musa, Daud dan lain sebagainya, semuanya berhasil melalui proses yang tidak instant. Tidak ada keberhasilan yang dicapai tanpa melalui proses atau berlaku instant. Dan ketika yang keberhasilan yang instant itu ada terminologi Amsalnya…tidak diberkati.

Kita harus akui juga bahwa tidak semua yang instant buruk atau paling tidak ada manfaatnya tersendiri. Namun demikian ada ekses ketika segala sesuatu dicapai dengan cara instant. Menurut banyak kisah dan pengalaman hidup menjelaskan, “… kekayaan yang diperoleh dengan cepat, bisa cepat hilang juga.” Tentu saja hal tersebut bukan tanpa penjelasan terjadi. Misalnya sekali lagi berbicara tentang keberhasilan hidup. Keberhasilan yang tahan lama memerlukan dasar yang fundamental yang tidak bisa dibangun hanya dalam sehari misalnya karakter hidup dari pelaku, kemampuan, kepercayaan, sistem bisnis, network dan lain sebagainya. Sebaliknya ibarat seseorang yang menang lotere yang berhadiah milyaran rupiah, ketidakmampuannya mengelola apa yang dimilikinya tersebut akan menciptakan belalang pelahap bagi apa yang dimilikinya. Ibarat pepatah umum dalam bahasa Indonesia rejeki setan dimakan hantu. (AA)
Refleksi:
Ikuti proses menuju dengan sabar, pada akhirnya proses tersebut yang akan melindungi seseorang di masa susah.

KETIKA TUHAN “TIDUR”

“Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?”
(Mat 8:26)

Rasa takut adalah insting manusia ketika diperhadapkan pada hal-hal yang mengancam kehidupannya, mereka berusaha menghindari ancaman tersebut. Pasca Tsunami yang sangat dahsyat yang terjadi di Aceh, lembaga-lembaga bantuan Internasional dari seluruh dunia yang berkumpul di sana membangun kembali kehidupan masyarakat di sana. Mereka membangun perumahan, sarana pendidikan, sarana ibadah, pasar dan lain sebagainya. Salah satu lembaga luar negeri membangun alat pemecah ombak yang diletakkan di sepanjang bibir pantai.

Ayat di atas adalah bagian dari sebuah perikop salah satu kisah epik di dalam kitab Injil, kisah di mana Tuhan Yesus meneduhkan badai yang mengamuk. Dalam kelas teologi ada yang mengatakan itulah pesan utamanya, bahwa Injil Matius hendak menyatakan kebesaran Yesus atas alam. Namun demikian ada hal lain yang menarik dari kisah ini. Ketika badai datang Yesus malah tidur di buritan kapal. Karena badainya sangat besar, para murid ketakutan bahwa perahu yang mereka naiki akan tenggelam, dan berusaha membangunkan sang Guru. Hal yang sedikit janggal adalah beberapa muridnya nelayan yang handal seperti Simon bersaudara. Mengapa mereka ketakutan? Lalu dalam kisahnya Yesus bangun dari tidur dan menghardik badai, dan lautpun tenang. Di bagian ayat ini tidak ada ending seperti penutup film Hollywood setelah musuh dikalahkan. Malah sebuah satir Yesus menegur murid-muridNya cukup keras bagi orang yang sudah dewasa, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?”

Kita seringkali mengalami ketakutan yang bahkan mengalahkan akal sehat. Alih-alih mampu menyelesaikan masalah, kita malah bergantung pada harapan akan bantuan dan melupakan potensi yang ada dalam diri. Jadi pesan pembahasan di atas sangat jelas yakni tentang kedewasaan dalam hidup keberiman. Memang tidak tertulis dalam nats, namun bisa jadi Yesus tidur sebab Ia percaya murid-muridNya mampu mengatasi badai tersebut. Ketika Tuhan menciptakan dunia ini, ia memberikan mandat kepada manusia untuk mengelolanya, dan mandat itu masih Tuhan percayakan kepada umat manusia untuk menjaga dunia hingga hari ini. Rasa takut membantu manusia menjadi lebih mawas menghadapi berbagai kemungkinan masalah yang melanda dunia ini, namun keberanian dalam tindakan imanlah yang akan menyelesaikannya sehingga manusia tetap tinggal aman di dunia ini. (AA)
Refleksi:
Jika Tuhan diam terhadap permasalahanmu mungkin Ia ingin kamu memiliki keberanian agar bisa menyelesaikannya.

WASPADA DI KALA SENANG

“Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga
dan sadar.”
(1 Tesalonika 5:6)

Pada saat pertama kali Bapak Presiden Jokowi naik, meskipun melalui perjuangan yang sangat berat, kita sangat senang, bahwa pada akhirnya kepemimpinannya yang bersih melahirkan kemenangan-kemenangan pemimpin yang bersih lainnya di berbagai daerah. Ada banyak pengaruh gerakan-gerakan radikalisasi mengalami perlawanan, dan bahkan pembatasan-pembatasan yang membuat Indonesia menjadi lebih kondusif untuk melakukan pembangunan. Namun tanpa disangka-sangka, pada saat Pilkada Jakarta baru-baru ini muncul gerakan radikal yang sangat besar dan serentak, yang bahkan mampu “menggulingkan” kepemimpinan yang bersih untuk tujuan-tujuan politis kelompok lain yang ingin berkuasa.

Ayat di atas sangat menarik menjadi pembahasan renungan hari ini. Kata jangan tidur dalam teks ini tentu lebih bermakna kiasan, yang arti dari keseluruhannya adalah kewaspadaan. Pada saat itu berkembang menjadi latar kisah kedatangan Yesus yang semakin dekat, sehingga Rasul Paulus merasa pelu memberikan peringatan, tentang pentingnya memiliki sikap kewaspadaan dalam menyambut kedatanganNya, dengan tetap bertekun dalam pola kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan; Tidak menjadi lengah dengan pola hidup yang dipenuhi “kemabukan.” Paulus nampaknya cukup berpengalaman menangani jemaat-jemaat yang lengah, salah satunya adalah jemaat di Korintus yang bahkan meninggalkan pesan paling mendasar yakni pesan dari Salib Kritus itu sendiri.

Memahami pembahasan ini mengingatkan saya pada beberapa pepatah yang umum dikenal banyak orang di Indonesia, misalnya “sedia payung sebelum hujan”, atau yang lain “roda tidak selalu di atas.” Namun kesadaran seperti yang diungkapkan dalam slogan ini seringkali terlupakan dalam kehidupan kita, sebab alamiahnya di kala suka orang tidak ingat lagi duka, atau dikala berhasil orang tidak ingat dengan kondisi kegagalan, atau di kala sehat orang tidak ingat ketika sakit. Dan seringkali dalam keadaan yang baik, orang tidak mempersiapkan bahwa hal buruk bisa terjadi kapan saja, atau malah melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan keburukan bagi dirinya sendiri. Contoh yang paling kongkrit yang dialami banyak orang, di kala sehat orang tidak menjaga kesehatannya. Mereka makan apa saja, malas olah raga, mengkonsumsi zat adiktif yang merusak, dan ketika mengalami salah satu penyakit yang berbahaya seperti serangan jantung, barulah sadar berolahraga. Ironis bukan? (AA)
Refleksi:
Waspadalah justru di kala senang, supaya kedukaan yang kelak bisa terjadi tidak terlalu berat.

PEMIMPIN OUT OF THE BOX

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di
tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Matius pun
bangkit dan mengikut Dia.
(Matius 9:9)

Ada sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan cara berpikir orang dalam memahami realitas perubahan, “think out of the box” (Berpikir di luar kotak). Maksudnya jika metode ini digunakan untuk menghadapi permasalahan, seseorang tidak menyelesaikan masalah dengan cara yang biasa digunakan melainkan dengan cara yang berbeda sama sekali. Misalnya jaman dulu orang terpikirkan ada produk air minum botolan, dan ketika ada orang memulainya ditertawakan dan diragukan, “Masak jual air minum?” Air minum pada waktu itu di ambil dari sumur atau air kran yang direbus sebelum dikonsumsi, dan semua orang sudah biasa dan bisa melakukannya di rumah masing-masing. Namun seiring waktu ternyata perusahaan air minum menjadi perusahaan raksasa di Indonesia.

Ayat di atas menjelaskan bagaimana cara Yesus memilih pengikut atau muridmuridNya. Ia mengajak Matius mengikut atau menjadi muridNya. Yang aneh adalah jika kita melihat latar belakang Matius. Matius adalah petugas pajak, profesi yang dibenci banyak orang Yahudi sebab tugas mereka mengumpulkan pajak dari bangsa Yahudi dan diberikan kepada pemerintahan Romawi. Dalam proses ini seringkali orang seperti Matius menaikkan pajak yang kemudian selisihnya digunakan untuk dirinya sendiri. Tidak heran kebanyakan mereka menjadi kaya raya. Aneh sekali bukan jika Tuhan Yesus mencari murid dengan kualifikasi yang seperti Matius? Yang lain seperti Simon bersaudara malah cuman nelayan. Mengapa Yesus tidak merekrut saja orang-orang yang lebih qualified di bidang keagamaan misalnya, sebab Ia toh sedang menjalani sebuah gerakan spiritualitas di jamanNya? Kita tidak memahami apa yang dipikirkan Yesus sepenuhnya, hanya saja apa yang dilakukanNya cukup berhasil, sebab jika tidak maka tidak akan ada kekristenan dan kita seperti hari ini.

Seorang pemimpin yang out of the box mampu melihat apa yang sedang dikerjakannya dengan baik, dan apa yang dibutuhkan untuk mewujudkan apa yang menjadi visinya di masa yang akan datang. Pemikiran-pemikiran mapan tidak salah dan terbukti menghasilkan hasil yang mapan. Namun untuk menghasilkan terobosan yang lebih besar dari yang pernah ada, diperlukan pola berpikir out of the box. Jika kita perhatikan, seluruh penemu-penemu dalam sejarah adalah orang-orang yang tidak puas dengan kata mapan, melainkan berkeinginan untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih besar di jamannya. (AA)
Refleksi:
Kemapanan bukan terobosan. Keberanian menciptakan terobosan menuju jembatan kesuksesan yang lebih besar.

KEBENARAN YANG MEMBEBASKAN

…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan
kamu.”
(Yohanes 8:32).

Ketika saya di bangku kuliah saya senang belajar khususnya apa yang saya tidak tahu, bukan yang saya sudah tahu dan yakini. Konsekuensinya pemahaman saya menjadi meluas. Saya memberikan keluasaan pada nalar saya untuk memahami hal-hal yang bahkan bertentangan dengan keyakinan saya, dan mencoba merangkumnya menjadi sebuah bentuk keyakinan yang lebih adaptif. Alhasil, apa yang saya pahami, misalnya dalam bidang teologi menjadi bertambah banyak, meskipun eksesnya lebih banyak yang kemudian tidak sepakat dengan pemikiran saya. Namun saya tidak berkecil hati sebab pada akhirnya saya mampu memberikan solusi-solusi jalan tengah dari mereka yang memperdebatkan dua realitas kiri dan kanan yang pada dasarnya memang berbeda.

Ayat di atas sangat menarik ketika Tuhan Yesus menyatakan hal tersebut kepada murid-muridNya, “…kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Konteks ayat ini, terjadi perdebatan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi. Hal menarik antara Rabi Yahudi dan Yesus adalah, bahwa pemahaman mereka berbeda meskipun dari sumber agama yang sama yakni ajaran agama Yudaisme. Sehingga di dalam seluruh kitab Injil, kita bisa melihat bagaimana sulitnya orang-orang Yahudi ini memahami apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Dan ayat ini sangat menarik ketika Yesus sendiri mengatakan bahwa yang membebaskan manusia adalah kebenaran avlh,qeia (Baca: aletheia), bukan keyakinan.

Bagi seseorang, semakin bertambah usia memang tidak mudah untuk menerima perubahan. Pemikiran menjadi baku dan merasa tidak nyaman digoncang oleh berbagai perubahan-perubahan yang memerlukan kapasitas dan enerji lebih besar untuk menampungnya. Namun demikian, ayat di atas mengingatkan kita hari ini bahwa bukanlah keyakinan kita yang penting, melainkan kebenaran itu sendiri. Ketika nalar kita menangkap sebuah realitas kebenaran, kebenaran itulah yang akan memerdekakan kita, bukan keyakinan yang justru seringkali menjadi penghambat dan tidak relevan dengan apa yang terjadi, terlebih dalam konteks dunia kekinian yang
berubah dengan sangat cepat. Jadi dalam strategi perubahan ke arah yang lebih baik, sangat disarankan bukan mendirikan basis-basis keyakinan yang anti terhadap kritik, melainkan keyakinan yang terbuka terhadap realitas kebenaran yang sesungguhnya. Sebab seperti sabda Yesus Kristus sendiri, “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (AA).
Refleksi:
Jadikan kebenaran menjadi dasar menuju perubahan yang mampu meningkatkan produktivitas dalam kehidupanmu

MELAYANG-LAYANG

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh
Allah melayang-layang di atas permukaan air.
(Kejadian 1:2).

Dalam sebuah diskusi teologi tentang sifat-sifat Tuhan, seorang dosen saya di sekolah teologi menggambarkan bagaimana Tuhan itu seperti benteng yang kokoh, tidak tergoyahkan, solid, padat, dan tidak bisa ditembus. Pemahaman teologinya sangat kaku dan mengikat hanya pada satu pengertian kebenaran saja, selebihnya adalah kesalahan atau bahkan dibidahkan. Sehingga bayangan saya yang lahir pada saat itu tentang Tuhan adalah sosok yang tidak kenal kompromi, keras, tegas, dan menghukum apapun yang tidak disukaiNya. Mungkin Anda juga pernah mengenal orang yang sedemikian, sehingga ia menjalani kehidupannya sama dengan apa yang dia pahaminya.

Ayat di atas sangat menarik. Di dalamnya terdapat eksistensi tentang realitas Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci yang justru berbeda sama sekali. Ini adalah realitas Tuhan di awal Kejadian. Ketika dunia ini belum berbentuk dan dalam kondisinya masih kosong, di mana-mana yang ada pada saat itu hanyalah permukaan air. Disini Tuhan menyatakan diriNya dalam frasa ini ~yhiêl{a/ tp,x,Þr:m. (Baca: ’ĕ·lō·hîm mə·ra·ḥe·p̄eṯ), di mana dalam teks ini elohim digambarkan sedang melayang-layang di atas permukaan air. Dalam pengertian yang lebih antromorfis (penggambaran Tuhan dalam perilaku manusia) dapat diterjemahkan seperti seseorang yang sedang berjalan santai, kondisi rileks, atau bahkan melenggang. Tidak ada kesan gambaran Tuhan yang kaku, keras, tak kenal kompromi dalam pengertian ayat ini seperti yang digambarkan di atas.

Maksud penjelasan yang kontras ini adalah seringkali dalam kehidupan ini kita masuk ke dalam pemahaman hidup yang kaku, dipaksakan, hingga dalam tahap membebani dan menimbulkan stres. Seolah-olah hanya itulah satu-satunya pilihan hidup yang harus dijalani. Padahal ada banyak pilihan lain dalam kehidupan ini yang bisa diambil yang membuat kehidupan yang kita miliki menjadi lebih baik, bermakna, dan tentu saja membuat kehidupan kita menjadi lebih bahagia. Dan yang seringkali bukan kehidupan itu sendiri, sebab memang dari sananya sudah begitu, tetapi pilihan-pilihan kita untuk memahaminya. Seperti pembahasan awal mengenai realitas Tuhan. Alkitab
tidak memberikan satu saja gambaran tentang Tuhan, namun jika kita maunya begitu, ya tidak ada yang melarang. (AA)
Refleksi:
Biarkan Tuhan “melayang-layang” di atas kehidupanmu membebaskanmu dari pilihan-pilihan yang membuat hidupmu terkungkung