Pembelajaran Dari Kisah Daniel

Oleh: Hendra Tjahyadi

 

Pengantar

Tembok Besar China (the Great Wall) dibangun dengan tujuan membendung musuh agar tidak bisa masuk menyerang China. Sejarah mencatat tembok yang kokoh itu memang tidak bisa ditembus oleh musuh-musuh secara langsung, tetapi ternyata musuh-musuh masih bisa masuk menyusup dengan jalan menyuap para penjaga tembok, sehingga bisa memporakporandakan apa yang seharusnya terlindung di balik tembok. Hal ini menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh pemerintahan di China saat itu dengan bersandar pada kekuatan tembok dan bukan pada kekuatan karakter manusianya yaitu integritas dari penjaga-penjaga tembok.

 

Kisah di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang berintegritas menjadi kebutuhan yang vital dalam membangun sebuah bangsa. Kebutuhan yang sama juga nyata bahkan di dalam sebuah universitas, walaupun  universitas merupakan lembaga pembentuk karakter yang seharusnya tidak kekurangan orang-orang yang berintegritas. Kebutuhan itu semakin terasa terutama pada saat-saat ini dimana nilai-nilai dan karakter yang baik sepertinya bukan menjadi sesuatu yang dipentingkan seperti kutipan yang disampaikan oleh Noel Coward “It is discouraging how many people are shocked by honesty and how few by deceit” Yang interpretasinya berarti kejujuran merupakan sesuatu yang langka sehingga banyak orang terkejut saat menemukan orang yang jujur sedangkan ketidakjujuran sudah merupakan hal yang lumrah dan diterima di masyarakat.

 

Bagaimana dengan Universitas Kristen Maranatha (UKM)? Apakah orang-orang di UKM terkejut dengan kejujuran atau integritas, dan memandang biasa ketidakjujuran dan ketiadaan integritas? Apakah UKM di dalam pencapaian visi dan misinya akan meniru kesalahan pemerintahan China pada masa lalu dengan  bersandar pada kekuatan tembok yang tinggi atau bangunan yang kuat dan megah?  Ataukah sebaliknya akan lebih mementingkan pembentukan karakter orang-orang yang berada di dalamnya?

 

Walaupun dalam implementasi kebijakan jelas terlihat UKM masih mementingkan pembangunan sarana fisik terutama dalam bentuk bangunan, secara normatif UKM menyatakan diri lebih mementingkan pembentukan karakter. Hal ini dinyatakan dari namanya yang jelas-jelas menyebutkan kata Kristen, dari visinya yang menyatakan meneladani Yesus Kristus dan dari nilai-nilai yang dianutnya yaitu Integrity, Care dan Excellence (ICE).

 

Agar lebih baik dalam implementasinya tentu saja pemahaman yang tepat akan visi serta setiap arti dari nilai-nilai yang dianut menjadi sangat penting. Hal itu penting agar upaya pencapaian visi dan misi universitas berjalan dengan efisien dan selaras dengan iman Kristen yang menjadi keyakinan UKM.

Berbicara mengenai pemahaman yang tepat, penulis teringat akan percakapan dengan seseorang yang menjabat posisi yang sangat penting di lingkungan UKM. Saat itu penulis bertanya mengenai bagaimana integritas di lingkungan UKM, beliau menjawab bahwa integritas di lingkungan UKM adalah sekitar 85%. Saat penulis menimpali dengan mengatakan bukankah integritas itu harus 100%, percakapanpun terhenti sampai di situ.

 

Berefleksi pada percakapan tersebut, penulis semakin meyakini pentingnya pemahaman yang benar akan arti dari nilai-nilai yang dianut di UKM, sebab nyata bahwa masih banyak yang tidak mengerti secara benar, bahkan pribadi-pribadi yang menduduki posisi sangat strategis di UKM. Atas dasar itulah tulisan ini disusun dengan harapan bisa berkontribusi dalam memberikan pengertian yang benar akan salah satu nilai-nilai di UKM yaitu integritas.

 

Definisi dari Integritas

Integritas berasal dari kata integrity yang menurut kamus bahasa Inggris berarti: (i) the quality of being honest and morally upright, (ii) the state of being whole or unified. Yang bisa diartikan sebagai kualitas moral yang baik dan jujur atau adanya keutuhan (wholeness /fullness) yaitu keadaan yang utuh dalam seluruh aspek kehidupan dimana ada keterkaitan (keterpaduan) yang menyatakan keutuhan  antara bagian-bagian yang berbeda dalam kehidupan seseorang, misalnya ada kesatuan antara apa yang di dalam dan di luar, antara nilai-nilai yang dipegang dan apa yang diperbuat, dan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

 

Wujud Integritas

Dari definisi tersebut, integritas terimplementasikan dalam adanya konsistensi berikut:

  • Konsistensi kehidupan pribadi/privat (private) dan kehidupan publik, artinya sistem nilai yang dibentuk sejalan pada kehidupan sehari-hari saat sendiri dan saat di depan publik. Konsistensi itu tetap di dalam situasi apapun baik diketahui oleh orang lain ataupun tidak diketahui orang lain. Orang yang berintegritas adalah orang yang sama baik saat sendirian di rumah, di hotel atau dimanapun dengan saat di depan publik misalnya di kantor, di gereja atau di tempat umum lainnya.
  • Konsistensi antara motivasi hati dengan perkataan. Artinya orang yang memiliki integritas tidak  bermulut manis dan mencari muka untuk kepentingan sendiri. Orang Farisi mengakui Yesus sebagai orang berintegritas, karena Yesus tidak takut mengajarkan kebenaran walaupun terdengar keras dan Ia tidak pernah  berusaha untuk bermulut manis.
  • Konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Orang yang berintegritas melakukan apa yang dikatakannya. Masalah integritas berkaitan dengan bisa dipercayanya (trustworthy) seseorang. Berbicara mengenai integritas  berarti berbicara tentang siapa kita sebenarnya bukan apa yang kita lakukan, bukan berbicara mengenai citra (image) yang merupakan persepsi dari orang tentang kita. Akan tetapi sayang sekali ada banyak orang yang bekerja keras untuk memoles citranya bukan untuk menjaga integritasnya, mencari popularitas sampai mengorbankan integritasnya.

Integritas Menurut Alkitab

Allah memanggil kita untuk menjadi orang yang berintegritas. Banyak ayat di Alkitab yang meminta atau menuntut kita untuk hidup berintegritas. Walaupun tidak secara eksplisit menyebutkan kata integritas Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Allah berkenan kepada orang-orang yang berintegritas. Berikut ini adalah beberapa bagian dari Alkitab yang berbicara mengenai integritas:

  • Kejadian 17:1 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka Tuhan menampakan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah dihadapan-Ku dengan tidak  bercela.”
  • Ulangan 18:13 Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan Tuhan Allahmu.
  • I Tawarikh 29: 17, Allah menguji hati dan berkenan kepada keiklasan (integritas).
  • Amsal 11:20 “Orang yang serong hatinya adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi orang yang tak bercela, jalannya dikenan-Nya.”
  • Amsal 28:6 “Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.”
  • Amsal 29:27 “Orang bodoh adalah kekejian bagi orang benar, orang yang jujur jalannya adalah kekejian bagi orang fasik.”

Ayat-ayat tersebut menunjukkan Allah ingin kita hidup utuh tidak bercacat atau bercela. Allah menguji hati kita dan Allah berkenan pada orang-orang yang berintegritas, tapi orang fasik tidak menyukai orang yang berintegritas. Alkitab juga mununjukkan beberapa ciri dari orang yang berintegritas diantaranya adalah:

  • Mulutnya tidak menipu atau berbohong. I Petrus 2:22 “ Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada  dalam mulut-Nya.”
  • Hidupnya transparant sehingga  berani dinilai orang lain dan tidak malu mengakui kelemahannya. Paulus berani hidupnya dinilai bahkan diuji oleh orang lain, dan ia berani meminta orang lain untuk meneladani hidupnya, karena ia meneladani Kristus.

Ada banyak contoh tokoh Alkitab yang bisa menjadi teladan bagaimana hidup berintegritas. Salah satunya adalah Daniel. Berikut ini adalah kisah dari Daniel.

 

Contoh dari Daniel (Daniel 6:1-29)

Pada perikop ini, Daniel sudah bekerja di pemerintahan sekuler sebagai negarawan atau politikus  selama sekitar enam-puluh  tahun dan saat itu ia berumur sekitar delapan-puluh tahun. Ia telah melayani dalam pemerintahan empat raja dan tetap dikenal dan tidak disingkirkan, bahkan Raja memilih dia untuk menjaga kepentingannya sebagai orang kepercayaannya. Daniel bisa bekerja sekitar enam  decade dan punya reputasi yang baik dan tidak bercacat  pastilah ditopang oleh karakter dan hidup yang benar dan bukan hanya oleh kemampuan bekerja  (skill) yang baik. Hal ini sesuai dengan dua kutipan berikut: “Ability will enable a man to get to the top, but it takes character to keep him there.” dan “If I take care of my character my reputation will take care of itself.”

Karakter Daniel

  • Setia dan jujur dalam menjalankan tugas pekerjaannya. Ia tidak saja memiliki kejujuran dalam bekerja, tetapi juga disiplin dalam bekerja sehingga tidak bisa didapati kesalahannya tidak ada kelalaian yang bisa ditemukan. Sekalipun sebagai pejabat tinggi tidak ada orang yang mengawasinya,  tetapi ia tetap bekerja dengan baik. Dalam kesendirian, saat tidak ada siapapun yang mengawasi kita dan tidak ada seorangpun yang tahu apa yang kita lakukan disitulah integritas kita diuji.
  • Memelihara kesucian kehidupan pribadinya. Walaupun hal ini dijadikan alasan untuk menyalahkan Daniel, tapi Daniel menunjukkan konsistensi dalam kehidupan privat dan publiknya. Integritasnya bukan dipoles dari luar tapi dari dalam dirinya. Ia bisa setia dan jujur dalam bekerja karena punya relasi yang dekat dengan Allah, tidak ada kemunafikan. Integritas sejati tidak mungkin dibangun tanpa relasi yang dekat dengan Allah.
  • Tidak mengorbankan atau mengkompromikan imannya walau dalam krisis. Ia konsisten dalam imannya walau dalam keadaan krisis dengan tetap memelihara kehidupan doanya. Dalam tantangan dan kontroversi, disitulah integritas diukur bukan dalam keadaan biasa-biasa atau keadaan nyaman.

 

Hasil atau Buah Dari Integritas

Ada dua hal yang dapat dipelajari sebagai buah dari integritas yang ditunjukan dalam kisah Daniel yaitu:

  • Ada berkat bagi orang yang berintegritas yang datang dari Tuhan sendiri. Ada banyak orang mengorbankan integritas karena takut rugi, tapi Daniel tidak peduli dengan ongkos atau resiko yang harus dibayar untuk tetap mempertahankan integritasnya.  Daniel yakin bahwa Tuhan akan menjaga dia kalau dia menjaga integritasnya, seperti yang dikatakan dalam Amsal 2: 7 “Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya.”
  • Ada peringatan bagi orang yang tidak menjaga integritasnya. Kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang menimpa mantan Presiden Partai Kesejahteraan Rakyat (PKS) dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat menunjukkan adalah sangat mudah bagi Allah untuk membuka kesalahan orang kalau Dia berkenan membongkarnya. Amsal 5:21” Whoever walks in integrity walks securely, but whoever takes crooked paths will be found.

 

Penutup

Di tahun yang dicanangkan sebagai tahun integritas sudah sepatutnya UKM memperhatikan pembinaan karakter orang-orang di UKM terutama para pemimpinnya. Marilah belajar dari kisah Daniel dan ada baiknya kita memperhatikan peringatan Fred Smith seorang ahli kepemimpinan yang mengatakan “ Sangat disayangkan banyak orang yang sulit mengakui kekurangan karakter dibandingkan mengakui kekurangan skill, padahal 80% kegagalan kepemimpinan  adalah kegagalan karakter. “