Membangun Budaya Maranatha

Ketika seorang kerabat atau sahabat meminta nasihat Anda tentang rencananya bersekolah atau bekerja di UK Maranatha, apa saran Anda? Apakah Anda akan mendorong bahkan membujuknya untuk bergabung? No comment, atau dengan tegas menyarankan dia mencari alternatif? Beragam pertimbangan bisa Anda berikan. Namun, hal yang kita alami dan rasakan dalam kehidupan organisasi menjadi dasar utama dalam memberi rekomendasi seperti itu. Pengalaman itu umumnya menggambarkan budaya organisasi, yang negatif maupun positif.

Melihat keadaan kita hari-hari ini, apa budaya UK Maranatha yang paling Anda suka dan banggakan? Apakah ada yang sebaliknya? Bagaimana budaya tersebut memberi dampak bagi kehidupan individu dan pencapaian organisasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat?

Kita adalah institusi yang memiliki tekad mulia membangun manusia dan peradaban dengan mengisi dan mengembangkan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi berdasarkan kasih dan keteladan Yesus Kristus. Kita meyakini akan bergerak kepada tujuan tersebut hanya ketika kita mendasarkan perjalanan pada nilai-nilai pengajaran Sang Kepala Gereja yang mengutus gereja-Nya bersaksi dan melayani melalui pendidikan tinggi. Nilai tersebut sesungguhnya mendasari pendirian awal Maranatha, terukir dalam hati para pendiri dan menjadi penggerak utama dalam melewati hambatan dan mengatasi tantangan di masa lalu. Lebih dari satu dekade ketika secara formal kita merumuskan Integrity-Care-Excellence (ICE) sebagai nilai institusi dengan tujuan agar nilai Kristiani semakin dihidupi dan berkembang, hingga membentuk budaya Maranatha.

Tantangan Menghidupi Nilai

Merumuskan ICE sebagai nilai institusi adalah suatu komitmen. Kita berjanji menjadikannya penuntun utama dalam menjalani keseharian dan memilih arah ke masa depan. Kita harus mengakui bahwa komitmen itu membuahkan hasil di sana sini. Saat yang sama, kita juga sadar akan lebarnya jurang antara yang kita harapkan dan alami. Bagaimana kita meresponnya? Kita semua menginginkan kemajuan dan merindukan manfaat dari implementasi nilai, sehingga seyogianya kita menjadikan implementasi nilai sebagai tanggung jawab pribadi. Benarkah demikian? Tanpa disadari, kita bersikap kontra produktif, di antaranya mengabaikan tanggungjawab, merasa sebagai korban keadaan, dan apatis. Kita berkomitmen, tetapi gagal berpartisipasi.

Sebagai seorang aktifis gereja dan terlibat dalam berbagai persekutuan, kita rentan bersikap mengabaikan tanggung jawab. Seringkali kita begitu ‘yakin’ bahwa dengan sendirinya kita adalah orang yang pikiran dan tindakannya selalu selaras dengan nilai integritas, kepedulian, dan keprimaan. Pikiran semacam ini cenderung membuat kita mengingkari keadaan dan malah menghakimi. Ketika merasa senantiasa berintegritas, orang yang peduli, selalu perfek, kita benar-benar percaya bahwa urusan kita sudah selesai. Persoalan ada dalam diri orang lain dan organisasi. Padahal, setiap kita bertanggungjawab dalam mencari dan menemukan ruang untuk menyatakan dan semakin meningkatkan ICE dalam aktifitas dan relasi. Sebenarnya, orang yang merasa sempurna tak berguna dalam inisiatif ini. Tetapi, mereka yang selalu berkomitmen menjadi lebih baik adalah katalis yang memungkinkan implementasi nilai terus bergerak melewati batas sebelumnya.

Terkadang kita juga merasa sebagai korban keadaan. Kita sedih mengetahui praktek organisasi yang nyata-nyata bertentangan dengan nilai yang kita perjuangkan. Apalagi ketika suatu kasus menyeruak menjadi konsumsi publik, kita merasa malu bahkan untuk sekedar membicarakannya. Kita mengeluh dan kehilangan harapan. Sesungguhnya, kita berpeluang memaknai kejadian serupa sebagai kesempatan memperjelas dan memperteguh nilai kita. Tanpa komitmen kepada nilai, sangat mungkin isu serupa akan disembunyikan dan menjadi rahasia segelintir orang. Jika bukan karena memegang integritas, sangat mungkin kita akan menutupi kasus yang potensial merusak citra institusi, berapapun biayanya. Tanpa integritas, kita mungkin akan menjaga ‘kepentingan’ kolega atau sahabat di atas penegakan etika.

Di antara kita juga bisa bersikap apatis. Sebagian kita menganggap urusan nilai adalah tugas Pendeta Universitas, Badan Pelayanan Kerohanian, MKU, Rektorat/Dekanat, dan Yayasan. Ada pula yang mengira bahwa hanya orang Kristen saja yang bisa dan perlu terlibat dalam mewujudkannya. Tidak terpikir cara untuk menjembatani situasi saat ini dengan keadaan yang didambakan, membuat kita tidak percaya bahwa implementasi ICE akan berhasil. Akhirnya, kita bersikap skeptis dan masa bodoh.

Panduan Implementasi Nilai

Sadar bahwa implementasi nilai bukanlah pekerjaan mudah dan pembangunan budaya adalah perjalanan panjang, beberapa tahun lalu kita menyusun suatu panduan implementasi nilai. Berupa framework, alat bantu tersebut menolong kita memahami kompleksitas implementasi nilai dan saat yang sama melihat proses menghidupi yang realistis.

Framework disusun dengan suatu keyakinan bahwa civitas akademika UK Maranatha adalah individu pembelajar dan berpotensi melakukan kebaikan dan menjadi lebih baik. Terdiri atas 3 (tiga) strategi, framework tersebut bertujuan memastikan implementasi nilai fokus pada hal yang bermakna, melibatkan semua pemangku kepentingan, efektif, serta dibangun dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Mengaitkan dengan Tujuan dan Sasaran Organisasi

Kita perlu mendukung dan memfasilitasi setiap warga Maranatha dalam menguji dan memurnikan nilai yang dipegangnya melalui pikiran dan tindakan yang nyata-nyata terkait dengan tujuan dan misi UK Maranatha. Dengan mengaitkan ke visi, tujuan, objektif strategis, bahkan sasaran praktis jangka pendek, implementasi nilai menjadi relevan dan bermakna, bukan hanya untuk masa depan, tetapi juga pada konteks dan situasi saat ini. Implementasi nilai, secara khusus ICE, harus terutama terkait dengan tujuan belajar-mengajar, hakikat layanan, panggilan profesi, serta kehidupan dan pergumulan warga kampus terkait panggilan tri-dharma perguruan tinggi. Sebagai contoh, mendorong mahasiswa kedokteran menemukan dan menghayati panggilannya untuk menjadi seorang dokter jelas lebih bertanggungjawab ketimbang mengarahkan mereka menjadi seorang pendeta atau evangelis. Kita membutuhkan beberapa worship leader yang cakap memimpin persekutuan, tetapi kita memerlukan semua warga Maranatha yang cekatan menyatakan kepedulian melalui tugas kesehariannya.

Dengan demikian, implementasi nilai akan memacu peningkatan kinerja dan kemajuan implementasi nilai akan tercermin di dalam peningkatan kualitas setiap hasil dan layanan organisasi. Strategi ini juga memungkinkan setiap warga Maranatha -apapun latar belakang dan keyakinannya- terlibat dan berpatisipasi aktif dalam implementasi ICE melalui keberadaan dan karyanya.

Memfasilitasi Pertumbuhan di Semua Aras dan Tingkat

Kita menyadari bahwa setiap warga Maranatha memiliki nilai pribadi dan masing-masing menjalani pertumbuhannya. Ada keberagaman nilai dan variasi kedalaman internalisasi nilai antar individu, ada perbedaan antara nilai individu dengan nilai yang menjadi aspirasi organisasi, dan ada pula kesenjangan antara nilai aspirasi ICE dengan praktek-praktek organisasi saat ini. Semuanya tidak bisa diubah serta merta. Untuk itu, kita harus berusaha melayani dan memenuhi kebutuhan di semua tingkat pertumbuhan dan di semua aras. Kita menjadikan nilai sebagai prioritas utama dengan memfasilitasi dialog untuk pendalaman, pematangan, dan pendewasaan, secara khusus dalam setiap pengambilan keputusan. Proses ini diinisiasi dan dijaga oleh simpul, semakin diselaraskan dan kemudian diperluas dan disosialisasi. Simpul adalah satu atau lebih individu yang memiliki pengalaman iman, siap mengambil peran kepemimpinan, memahami filosofi dan tujuan inti pendidikan Kristen, berorientasi pada pengembangan orang lain, dan mampu melakukan penggembalaan atau coaching.

Melebur dalam Program, Projek, dan Proses

Sebagai program jangka panjang, implementasi nilai harus direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi dalam rangka continuous improvement. Agar kebutuhan proses manajemen yang signifikan ini tidak menjadi beban tambahan, maka implementasi nilai harus direncanakan, dijalankan, dan dievaluasi bersama agenda, program, projek, proses, dan kegiatan. Pada saat mengelola semua itu, kita juga mengelola implementasi ICE.

Untuk itu, kita menghindari segala bentuk implementasi dekoratif dan miskin makna. Kita percaya bahwa ibadah ritual sangat diperlukan dalam memberikan penyadaran tentang nilai-nilai kekal. Tetapi, ibadah ritual saja, betapapun intensnya, mustahil membentuk dan mengubah perilaku organisasi. Pendalaman dalam diskusi kelompok atau rapat manajemenlah yang memungkinkan suatu gagasan ‑misalnya kepedulian- dibangun menjadi inisiatif operasional berupa peningkatan tingkat layanan di kelas atau loket daftar ulang. Tetapi itupun belum lengkap. Setelah suatu gagasan dan inisiatif dirancang di atas kerjas, kita memerlukan orang-orang dengan kecakapan dan kompetensi terkait untuk menggulirkannya. Kita melihat bahwa implementasi nilai dalam organisasi tidak bisa parsial, tetapi menyeluruh diawali dari nilai dasar yang sering kali abstrak, menjadi nilai operasional, menjadi tindakan, dan akhirnya menjadi kinerja.

Kita harus secara kreatif mencari ruang implementasi nilai di setiap kegiatan yang maknanya menjadi motivasi intrinsik bagi setiap orang yang terlibat. Setiap kemajuan harus diidentifikasi dan diapresiasi. Teladan-teladan nyata harus dirayakan dan disebarluaskan. Pada saatnya, indikator keberhasilan implementasi ICE akan terlihat di dalam karya organisasi, baik bagi individu dan masyarakat.

Kemajuan-kemajuan Kecil

Elemen implementasi nilai institusi adalah implementasi nilai oleh setiap warga kampus, dan implementasi nilai individu adalah tentang pembaruan hidup. Intinya adalah melatih jiwa dan menguatkan karakter pribadi. Jika Anda terpanggil menggerakkan dan mengembangkan implementasi ICE di lingkup kecil Anda, ambillah peran menjadi simpul. Ajak kolega dan sahabat dalam membincangkan nilai, mendalami, menerjemahkannya, hingga merencanakan penyelarasan dalam aktifitas sehari-hari. Prioritaskan percakapan nilai dalam rapat-rapat manajemen. Sering melakukannya akan membuat Kelompok/Tim Anda makin kompak dan diberdayakan. Ketika kita menghasilkan kemajuan-kemajuan kecil, itu tanda pembangunan budaya Maranatha sedang berlangsung. Pada saatnya, dengan yakin kita menjawab pertanyaan saudara dan teman di awal tulisan ini dengan memberi mereka rekomendasi positif. Alasannya jelas, kita percaya bahwa dalam budaya Maranatha yang kita cita-citakan mereka akan menjadi cendekiawan yang meraih keluhuran dan kekayaan hidup.

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau (1Tim 4:12b-16)n