Menerima Cinta(Kristus) yang Memerdekakan

Pendahuluan

Senin, 28 Oktober 2013 pagi saya bergegas menutup kelas saya karena di lapangan parkir FSRD diselenggarakan upacara bendera memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sudah lama rasanya saya tidak ikut upacara bendera. Meski tidak saya ikuti hingga selesai karena ada hal lain yang saya harus kerjakan, beberapa menit melihat Merah Putih berkibar sembari memberi hormat membuat saya berpikir: apa yang ada di benak pemuda di tahun 1928 ketika mereka mengucapkan sumpah itu? Adakah sumpah itu diucapkan terpaksa, atau justru dengan sukarela dan kesadaran?

Ahok, Wagub Jakarta dalam acara Mata Najwa di Metro TV Edisi 30 Oktober 2013 berkata: “ Kita ini pejabat yang disumpah. Kebanggaan saya adalah bahwa saya disumpah untuk mengemban jabatan ini. Jika saya melakukan pekerjaan saya, saya tidak perlu dapat penghargaan lagi karena itu memang tugas saya….itu memang sumpah saya.” Ungkapan beliau memberi kesan bahwa ia orang yang sangat sadar ketika melakukan sumpah itu dan tidak tampak adanya unsur keterpaksaan.

Jika kita melihat seorang pejabat publik mengucapkan sumpah pada saat di lantik, ataupun ketika seorang pejabat struktural di lingkungan Universitas Kristen Maranatha mengucap janji dalam upacara pelantikan, tidakkah ada yang juga bertanya perihal ada atau tidaknya keterpaksaan dalam melakukannya? Adakah yang bersangkutan sadar penuh akan janji itu dan juga segala konsekuensinya? Bahwa ketika ia melayani mahasiswa, melayani dosen-dosen dan melakukan fungsinya, ia seharusnya tidak melakukannya demi penghargaan apapun karena itu adalah konsekuensi dari janjinya. Bahwa ia bebas merdeka ketika mengucap janji itu dan bebas  merdeka melakukan konsekuensinya, tanpa pamrih dan dengan ketulusan.

Saya pikir, ini adalah isu besar kepemimpinan di lingkungan Universitas Kristen Maranatha yang perlu direnungkan; bukan berarti bahwa pemimpin-pemimpin di lingkungan Universitas Kristen Maranatha tidak punya kualitas itu, namun pemimpin-pemimpin ini perlu selalu sadar akan sikap hidupnya dalam seluruh kesehariannya sebagai pemimpin di lingkungan Universitas Kristen Maranatha. Tulisan ini akan menggali generator utama yang mendorong kesadaran akan fungsi dan tugas masing-masing pemimpin di lingkungan Universitas Kristen Maranatha terkait dengan janji jabatan yang diucapkannya.

 

Belajar dari Shakiyr

                Secara etimologis, kata “hamba” dalam Kitab Suci merujuk pada lima istilah; empat diantaranya dalam bahasa Ibrani yaitu “Abad”, “Ebed”, “Sharath” dan “Shakiyr”;  dan satu lagi dalam bahasa Yunani yang sering kali kita dengar yaitu “Doulos”.  Terkait dengan isu di atas, saya akan membahas satu saja yaitu “Shakiyr”.

Apa itu “Shakiyr”? Ulangan 15:12-18 menuliskan sebuah tradisi Yahudi tentang perhambaan. “Apabila seorang saudaramu menjual dirinya kepadamu, baik seorang laki-laki Ibrani ataupun seorang perempuan Ibrani, maka ia akan bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh engkau harus melepaskan dia sebagai orang merdeka. Dan apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, maka janganlah engkau melepaskan dia dengan tangan hampa, engkau harus dengan limpahnya memberi bekal kepadanya dari kambing dombamu, dari tempat pengirikanmu dan dari tempat pemerasanmu, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kauberikan kepadanya. Haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu; itulah sebabnya aku memberi perintah itu kepadamu pada hari ini. Tetapi apabila dia berkata kepadamu: Aku tidak mau keluar meninggalkan engkau, karena ia mengasihi engkau dan keluargamu, sebab baik keadaannya padamu, maka engkau harus mengambil sebuah penusuk dan menindik telinganya pada pintu, sehingga ia menjadi budakmu untuk selama-lamanya. Demikian juga kauperbuat kepada budakmu perempuan. Janganlah merasa susah, apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, sebab enam tahun lamanya ia telah bekerja padamu dengan jasa dua kali upah seorang pekerja harian. Maka TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala sesuatu yang kaukerjakan.”

                Pemahaman bebas dari Shakiyr berdasarkan penggalan perikop di atas adalah seorang hamba yang dengan bebas merdeka memperhambakan dirinya pada seorang tuan karena ia dikasihi tuannya dan baik keadaannya, sehingga iapun mengasihi tuannya dan keluarganya. Itulah seorang “Shakiyr”.  Seorang yang seharusnya merdeka dalam pengertian tidak lagi menghamba pada seorang tuan, tapi menggunakan kemerdekaannya untuk memilih menjadi hamba. Keputusan yang dia ambil untuk terus menghamba adalah keputusan sadar yang ia buat sebagai orang merdeka. Ia berhak memilih untuk keluar sebagai orang merdeka, namun ia pun berhak memilih untuk tinggal. Ini adalah keputusan besar yang menentukan kehidupannya.

                Yang menarik adalah motif yang membuat ia mengambil keputusan itu. Motifnya semata-mata adalah “cinta”. Cinta yang ia terima selama ia melayani tuannya membuat ia berani dengan kesadaran mengambil keputusan menghamba selama-lamanya. Keputusan itu adalah keputusan bebas; sebuah keputusan yang diambil tanpa paksaan.

                Cinta memang sesuatu yang seharusnya membawa kebebasan/kemerdekaan. Keputusan yang diambil atas motif “cinta” adalah keputusan bebas yang membawa seseorang masuk dalam kesadaran penuh akan keputusannya dan konsekuensinya juga. Meskipun tampak dari luar bahwa keputusan itu menjadikan dia tidak bebas merdeka, namun sesungguhnya itulah kemerdekaan yang sejati.

 

 

Kemerdekaan Cinta dan Cinta Kemerdekaan

                Ketika seorang pria mempersunting seorang wanita menjadi istrinya dan mereka berdua berdiri di depan altar untuk mengucap janji setia, janji yang diucapkan adalah janji untuk mencintai pasangannya dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat, dalam miskin maupun kaya. Singkatnya dalam segala keadaan saling mencintai satu sama lain. Janji itu harus diucapkan tanpa paksaan dan perlu disadari juga bahwa janji itu membawa konsekuensi. Janji saling mencintai ini akan menjadi janji dengan konsekuensi yang sangat berat jika janji ini dilakukan terpaksa dan tidak sungguh-sungguh didasari cinta. Namun setika mereka sungguh-sungguh saling mencintai, dan melakukan janji itu dengan sadar tanpa paksaan, maka konsekuensi itu tidak lagi akan terasa berat.

                Yesus berkata dalam Injil Yohanes 8:31-32:“Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

                Yesus berkata bahwa “kebenaran” itu akan memerdekakan. Yang Ia maksud dengan kebenaran tidak lain adalah cinta Tuhan yang sempurna, yang mau membawa manusia kembali dekat dengan Dia; cinta yang menebus dan menyelamatkan; cinta yang membawa kegembiraan.   Cinta pada hakikatnya memerdekakan. Cinta Tuhan kepada kitapun adalah cinta yang memerdekakan. Cinta Tuhan membuat manusia yang awalnya kehilangan kemuliaan Allah dan terpisah dari Allah karena dosa, kemudian bisa kembali berelasi dengan Allah. Cinta Tuhan membuat manusia yang awalnya hidup dalam kekuatiran dan ketakutan, menjadi hidup dalam kasih karunia, damai sejahtera dan sukacita. Kemerdekaan manusia adalah konsekuensi dari cinta Tuhan yang diterimanya.

                Ketika cinta Tuhan yang diterimanya itu kemudian berkonsekuensi membuat manusia jadi tidak bisa hidup seenaknya dan harus hidup sesuai dengan standard hidup murid-murid Kristus, itu bukan lagi dilihat sebegai belenggu. Itu akan menjadi bagian dari kehidupan cinta yang dipilihnya secara  merdeka.            Mereka yang menyadari akan kemerdekaan yang ia peroleh karena cinta Tuhan yang ia terima, akan juga mencintai kemerdekaan itu dengan tidak membelenggu sesamanya.

                Seorang pemuda yang sungguh-sungguh mencintai kekasihnya, saya yakin tidak akan pernah memaksa kekasihnya untuk melakukan hubungan seksual dengan dia sebelum mereka menikah. Seorang jendral yang sungguh-sungguh mencintai anak buahnya, saya yakin tidak akan pernah mengorbankan keselamatan anak buahnya demi keselamatan dirinya. Seorang pemimpin yang sungguh-sungguh mencintai institusi yang ia pimpin, saya yakin tidak akan pernah melakukan tindakan yang akan menciderai institusi yang ia pimpin. Seorang dosen yang mencintai profesinya, saya yakin tidak akan pernah memberi contoh yang tidak baik pada mahasiswanya. Orang yang dimerdekakan oleh cinta akan juga cinta akan kemerdekaan orang-orang disekitarnya.

 

 

 

Cinta yang Memerdekakan di Universitas Kristen Maranatha

Universitas Kristen Maranatha dicintai dan diberkati Tuhan luar biasa dengan perkembangan yang begitu pesat. Semua jajaran dari pimpinan universitas hingga tenaga kependidikan diisi oleh orang-orang yang handal. Persoalannya adalah apakah mereka sudah sungguh menerima cinta Kristus yang memerdekakan? Atau mungkin jika pertanyaan ini terlalu sukar untuk dijawab karena terlalu personal dan subyektif, kita bisa berefleksi dan bertanya pada diri kita sendiri: apakah dalam keseharian kehidupan di Universitas Kristen Maranatha kita bisa melihat dan merasakan tindakan-tindakan yang didorong oleh cinta dan ketulusan?

Ini isu yang sangat serius mengingat “care” adalah salah satu dari 3 nilai hidup yang menjadi karakter seluruh civitas akademika Universitas Kristen Maranatha. Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri: sadarkah kita bahwa cinta Kristus sudah memerdekakan kita? Lalu apa konsekuensi cari cinta yang kita terima? Sudahkah kita melakukannya sehingga kitapun memerdekakan orang lain?

Untuk pimpinan universitas dan fakultas : Apakah sebagai pimpinan anda sudah melakukan segala upaya untuk membawa bawahan anda bekerja dengan cinta dan kemerdekaan? Atau justru bawahan anda dibelenggu dengan harus melakukan apa yang anda mau? Adakah bawahan anda merasa terpaksa melakukan perintah-perintah anda? Adakah anda melakukan suatu tindakan yang menciderai institusi dan bawahan anda? Jika itu benar terjadi, maka cinta Kristus yang memerdekakan anda belum berdampak memerdekakan orang lain.

Untuk dosen dan karyawan: Apakah sebagai dosen dan karyawan anda sudah memberikan pelayanan kepada mahasiswa dengan sebaik-baiknya tanpa paksaan? Apakah anda sudah berusaha menjadi teladan yang baik untuk mahasiswa dengan hadir tepat waktu, terus belajar dan bekerja dengan giat serta saling memperhatikan satu sama lain? Jika belum, maka cinta Kristus yang memerdekakan anda belum berdampak memerdekakan orang lain.

Untuk mahasiswa: Apakah sebagai mahasiswa anda merasa terpaksa dalam belajar? Apakah anda merasa kuliah anda, tugas-tugas dan ujian-ujian membelenggu anda dan membuat anda tidak bisa bebas? Jika benar demikian, maka anda belum jadi manusia merdeka meskipun Kristus sudah memberikan cintaNya untuk anda.

Jika anda sudah melakukan semua hal yang baik dengan penuh cinta dan kemerdekaan, maka andapun tidak boleh berbesar hati, karena itu adalah konsekuensi dari cinta yang anda terima dari Kristus.

 

Penutup

Seseorang yang sungguh menerima cinta Kristus akan melakukan semua yang baik dengan ketulusan sebagai orang yang merdeka. Dan apa yang ia lakukan juga akan memberi kemerdekaan untuk orang yang ada di sekitarnya. Semoga semua orang di Universitas Kristen Maranatha sadar akan cinta dan kemerdekaan ini. Tuhan memberkati.

 

 

Krismanto Kusbiantoro, MT.