Pengembangan Integritas Diri

Oleh: Robert Oloan Rajagukguk *)

 

Integritas diri merupakan hakekat kepribadian seorang manusia. Integritas diri menggambarkan keutuhan suatu pribadi. Tanpa integritas diri, maka pada dasarnya seseorang mengalami keterbelahan dan ketidak-utuhan diri. Integritas diri juga menjadi ciri kedewasaan sebuah pribadi. Dapat dibayangkan sebuah pribadi atau seseorang yang tidak memiliki keutuhan pribadi. Dia akan menampilkan diri yang tidak sebenarnya; bisa dalam bentuk kepura-puraan, ketidak-aslian, ataupun kebingungan. Apa yang dipikirkan atau bahkan diyakini tidak sejalan dengan apa yang dikatakan dan yang dilakukan. Seorang yang tidak memiliki integritas diri akan menampilkan diri yang tidak asli, tidak konsisten, tidak dapat diandalkan, dan tidak mantap.

Integritas diri sebenarnya dibangun di atas perkembangan jatidiri atau identitas diri. Itulah sebabnya seseorang yang belum mantap dalam perkembangan jati dirinya akan sulit sekali membangun kehidupan yang berintegritas. Seseorang yang tidak mengenal diri dengan baik, kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya, tidak akan pernah mencapai perkembangan integritas diri yang diharapkan. Orang yang mengenal diri dengan baik selanjutnya diharapkan dapat menerima dirinya, memanfaatkan kekuatan dengan baik serta mengembangkan kelemahan dan kekurangan diri sebagai upaya menyesuaikan diri dengan baik di lingkungannya; dan sebagai bagian dari proses pertumbuhan pribadi (personal growth). Jati diri yang mantap ditandai oleh pengembangan kompetensi-kompetensi diri yang memadai untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Kompetensi diri ini dapat berupa ketrampilan-ketrampilan hidup yang mendasar (basic life skills), yang meliputi ketrampilan dalam mengurus keperluan diri secara fisik/manual (mengurus kebersihan dan kesehatan fisik) maupun ketrampilan dalam berinteraksi dengan orang lain (memulai kontak sosial dan membina hubungan dengan orang lain). Jati diri yang mantap juga ditandai oleh kemampuan mengelola emosi, baik emosi yang bersifat negatif maupun emosi yang bersifat negatif. Emosi yang bersifat negatif adalah emosi-emosi yang membuat seseorang down, seperti sedih, kecewa, merasa tidak berharga ketika mengalami kondisi kesepian, penolakan, respon orang lain yang tidak menyenangkan. Sedangkan emosi yang positif adalah emosi-emosi yang membuat seseorang up , seperti senang, terhibur, bangga, merasa dihargai atau diperhatikan pada waktu kebutuhannya terpenuhi, pada waktu mendapat perlakuan yang baik, mendapat penghargaan, pujian, dll. Jati diri yang mantap juga ditandai oleh kematangan dalam menjalin relasi dengan orang lain, yaitu keadaan dimana seseorang dapat menerima dan menghargai perbedaan atau keunikan dirinya dibandingkan orang lain, baik dalam ciri kepribadian, keunikan latar belakang jender, budaya, pilihan karir, dan sebagainya. Kematangan sosial yang menjadi modal untuk menjalin hubungan yang lebih akrab atau intim dengan orang lain (baik dalam bentuk persahabatan maupun dalam hubungan berpacaran atau suami istri). Penerimaan dan penghargaan ini kemudian diterapkan dalam kehidupan sosialnya, sehingga memberikan kepuasan dan keleluasaan dalam menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya, dimanapun dia berada. Kemampuan menerima dan menghargai orang lain ini juga menolong untuk mengembangkan jati diri yang mantap dalam mengembangkan kehidupan yang salingtergantung (interdependen) dengan orang lain. Kesalingtergantungan ditandai dengan kemampuan untuk memberi pertolongan yang dibutuhkan orang lain dan menerima pertolongan dari orang lain pada saat yang tepat.

Pengembangan integritas diri dibangun diatas pengembangan jatidiri, yang mencakup ketrampilan hidup dasar, kemampuan mengelola emosi, kemampuan mengembangkan relasi sosial yang matang, dan kemampuan untuk menjadi interdependen. Jati diri yang mantap juga didasarkan pada perkembangan nilai-nilai diri atau keyakinan yang  jelas dan dipegang atau diyakini dan diterapkan secara konsisten. Perkembangan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses penanaman nilai, pengujian nilai, pengalaman internalisasi pribadi, sampai kepada pembuktian konsistensi penerapan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Proses penanaman nilai dimulai sejak kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Sedangkan pengujian nilai berlangsung sepanjang kehidupan (melalui pergumulan hidup, kesusahan ataupun kesenangan) sehingga terbentuk akumulasi kebenaran-kebenaran yang menambah keyakinan akan nilai-nilai yang dipegang sebagai prinsip-prinsip hidup. Demikian pula pengalaman internalisasi terjadi secara terus menerus didalam kehidupan manusia. Proses internalisasi terjadi ketika seseorang menjadikan nilai-nilai tertentu menjadi bagian dari dirinya sendiri, bukan hanya sebagai aturan yang berlaku di masyarakat atau komunitasnya. Akhirnya, pembuktian konsistensi penerapan nilai-nilai yang diyakini tersebut terjadi setiap saat, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, bulan, tahun, dan seterusnya, sampai seseorang meninggalkan dunia.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pengembangan integritas diri merupakan pergumulan sepanjang rentang kehidupan, yang dimulai sejak masa kanak-kanak hingga masa tua atau sampai akhir hayat (sebagian orang tidak hidup sampai masa tua). Bagaimana seseorang mengembangkan integritas pribadi akan menentukan bagaimana ia menjalani kehidupannya; apakah akan menjalaninya dalam kehidupan yang bahagia penuh makna dan kepuasan hidup karena telah menjalani kehidupan yang utuh, atau akan menjalaninya dengan kehidupan yang tidak bahagia, tanpa makna yang tidak memuaskan, penuh kepura-puraan dan kebingungan. Mengembangkan kehidupan yang berintegritas adalah suatu keniscayaan yang sejalan dengan hakekat manusia sebagai makhluk berakal dan berakhlak mulia sebagaimana Tuhan ciptakan. Sebaliknya, kehidupan yang tidak berintegritas adalah kehidupan yang membingungkan dan tidak sesuai dengan maksud penciptaan.

 

*) Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, konsultan pengembangan diri dan karir, pengajar mata kuliah Kode Etik Psikologi, Psikoterapi dan Psikologi Integratif (Integrasi Psikologi dan Spiritualitas).