TRANSFORMED BY GOD

Pengantar

Bagi anda penggemar layar lebar, pasti pernah melihat salah satu film besutan sutradara Michael Bay yang yang berjudul Transformer. Film bergenre sci-fi ini menunjukkan bagaimana robot-robot baik di bawah pimpinan Optimus Prime berjuang bersama-sama dengan manusia untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran melawan para Robot yang Jahat di bawah Decepticon. Yang menarik adalah sebelumnya para robot-robot tersebut berbentuk mobil sport, truk, yang kemudian berubah wujud robot-robot perkasa yang. Mungkin itulah sebabnya mungkin mengapa para robot-robot itu disebut transformer sebab mereka berubah wujud.

Berbicara tentanga transformasi adalah berbicara tentang perubahan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) transformasi diartikan perubahan rupa bentuk, sifat, atau fungsi. Mentransformasi artinya  mengubah rupa bentuk, sifat, atau fungsi tersebut. Salah satu contoh yang bisa digunakan untuk menjelaskan kata ini adalah perubahan yang terjadi pada kupu-kupu, yakni perubahan dari bentuk ulat menjadi kepompong yang kemudian menjadi kupu-kupu dengan sayapnya yang indah. Namun demikian ini bukan sebuah perubahan yang memang semestinya terjadi sebab pada hakikatnya perubahan itu memang sudah ada dari sananya. Perspektif pemaknaan kata transformasi adalah perubahan yang ditujukan untuk suatu tujuan.  Ada daya aktif yang diperlukan untuk melakukan perubahan tersebut.

Dalam pembahasan menunju sebuah dasara dari keimanan, menjelaskan bagaimana Tuhan mentransformasi manusia,  Rasul Paulus menjelaskan sebuah konsep yang sangat menarik kepada Jemaat di Korintus dalam nats sebagai berikut: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (II Korintus 5:17) Untuk itu marilah kita membedah ayat tersebut ke dalam pembahasan-pembahasan sebagai berikut terkait dengan transformasi hidup dalam perspektif keimanan Kristen.

DARI MANA DIMULAI?

Kekristenan sendiri adalah mengenai hidup yang dirubahkan. Keyakinan Kristen dimulai dari perubahan yang ada dalam kehidupan seseorang. Pertanyaannya dari mana awal kehidupan orang percaya itu dirubahkan? Ada banyak cara orang mengusahakan suatu perubahan dalam kehidupannya. Misalnya perubahan yang dihasilkan karena motivasi atau pengembangan mental positif. Namun perubahan dalam kekristenan lebih dari pada sekedar kekuatan kata-kata atau mental positif. Perubahan dalam kekristenan bersumber pada keyakinan pada Yesus Kristus yang menjadi sentral dalam ajaran kekristenan. Esensi kekristenan itu sendiri ada di dalam pribadi, hidup dan pengajaran Yesus Kristus.

Pada penggalan bagian pertama ayat tersebut “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus” menurut Ellicott (http://biblehub.com/commentaries/2_corinthians/5-17.htm) menjelaskan konsep Rasul Paulus tentang penyatuan antara manusia dengan Kristus melalui iman yang diteguhkan melalui pembaptisan. Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (Roma 6:3-4). Baptisan seperti adalam Matius 28:19-20 adalah sebuah bentuk pengakuan iman, inisiasi bahwa seseorang memilih untuk hidup di dalam Yesus.

Jadi awal dari kehidupan seorang percaya agar bisa mengalami proses transformasi adalah ketika seseorang mulai hidup dalam persekutuan bersama dengan Yesus Kristus. Sebab Yesus adalah pusat dari berita Injil yang adalah kekuatan Allah yang tidak hanya menyelamatkan kehidupan orang yang percaya (Roma 1:16), melainkan juga merubahkan apa apa yang ada di dalamnya.  Marilah kita lihat apa yang menjadi perubahan tersebut.

Manusia yang Lama dan Manusia Baru

Selanjutnya yang dijelaskan dalam nats surat Korintus tersebut adalah sebuah kontras pada perubahan itu sendiri yang dijelaskan dengan istilah Manusia Lama dan Manusia Baru. Alkitab banyak menggunakan istilah ini dalam berbagai konteks. Dalam keimanan Kristen keyakinan dalam Yesus Kristus menghasilkan sebuah proses transformasi yang sangat nyata. Bahasa rohaninya dijelaskan dengan istilah pertobatan, atau secara umum terjadinya perubahan orientasi dalam kehidupan manusia.

Manusia lama adalah manusia yang hidup menurut kemauan dirinya sendiri. Alkitab menjelaskan dengan istilah sark atau kedagingan. Kehidupan yang dipenuhi oleh keinginan-keinginan sendiri yang sebagiannya tidak memuliakan Allah namun hidup dalam keberdosaan. Menarik sekali memahami bahwa manusia memiliki daya atau dorongan dalam dirinya untuk melakukan perbuatan-perbuatan rendah yang tidak terkendali yang merusak dirinya sendiri. Inilah sumber yang menciptakan suatu kondisi dehumanisasi yakni manusia yang berperilaku rendah yang mengumbar hawa nafsu dan kejahatan dari dalam dirinya. Inilah yang dicatat oleh Rasul Paulus mengenai perilaku tersebut: “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu.” (Galatia 5:19-21a)

Sedangkan mereka yang mengalami perubahan dalam Yesus mereka dipulihkan dari dosa atau keberdosaan melalui kuasa penebusan lewat kematianNya. Dasar dari transformasi kekristenan adalah pengampunan dosa yang diberikan kepada manusia. Esensi dari pengampunan itu sendiri adalah pembebasan manusia menuju kehidupan yang lebih berpengharapan di dalam Tuhan. Mereka kemudian menjadi manusia baru yang memiliki kehidupan baru yang berorientasi pada Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah sebuah sistem atau pola kehidupan yang bersumberkan pada kebenaran, yang tentu saja berseberangan dengan sifat-sifat di atas. Rasul Paulus menjelaskan bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus yang menghasilkan perubahan ke dalam, yakni bertumbuhnya karakter sebagai berikut: “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23).

Jadi hasil dari sebuah transformasi itu adalah sebuah kesadaran di dalam diri manusia untuk kemudian berusaha melepaskan diri  dari kebiasaan rendah manusia lama yang mengumbar hawa nafsu menuju kehidupan yang lebih terkendali atau memiliki penguasaan diri, yang tentu saja adalah hasil atau kolaborasi manusia dalam meresponi pimpinan Allah dalam kehidupannya melalui Roh Kudus.

Yang Sudah Berlalu dan Yang Sudah Datang

Jika permainan kata, ini adalah penyusunan kata-kata yang sangat luar biasa yang menjelaskan sebuah proses transisi yang sangat jelas dan menyakinkan dalam sebuah time setting. Namun kenyataannya ini adalah kebenaran Firman Tuhan yang membuatnya menjadi lebih meyakinkan bahwa proses perubahan yang terjadi dalam kehidupan orang percaya yang hidup di dalam Yesus adalah suatu hal yang sangat jelas dan meyakinkan. Yang sudah berlalu adalah manusia lama seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat dalam surat Galatia tersebut di atas, dan yang baru adalah seluruh hak-hak yang bisa diterima bagi mereka yang memilih untuk hidup di dalam naungan Yesus Kristus.

Hak pertama tentu saja berbicara tentang pengampunan dosa, bahwa kehidupan setiap orang percaya adalah menuju keselamatan seperti yang telah dijanjikan Allah. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, vmelainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16). Hak kedua adalah providensia diberikan Allah kepada umatNya. “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. (Matius 6:25). Hak ketiga adalah hak pertumbuhan bagi mereka yang hidup di dalam Kristus. “Di bawah pimpinan Kristus, seluruh tubuh dipelihara dan disatukan oleh sendi-sendinya, serta bertumbuh menurut kemauan Allah.” (Kolose 2:19b) .Hak keempat adalah penyertaan atau perlindungan Allah bagi umatNya sepanjang jaman. “Dan ingatlah Aku akan selalu menyertai kalian sampai akhir zaman.” (Matius 28:20b).

Tujuan Hidup yang Bertansformasi

Jika ulat bertansformasi menjadi kupu-kupu menunjukkan sebuah proses menuju pada sebuah keindahan hidup dari penampilan yang buruk rupa, apa tujuan dari transformasi yang dilakukan Allah bagi umatNya?  Apa perlunya kehidupan seseorang ditransformasi oleh Allah seperti tertera dalam judul artikel ini? Ayat ini sangat tepat untuk kita gunakan sebagai dasar tujuan bagi transformasi tersebut: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (I Petrus 2:9).

Dalam konteks teologi Perjanjian lama Israel dipilih Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Lalu melalui keturunannya yakni Yesus Kristus dalam konteks teologi Perjanjian Baru seluruh bangsa di seluruh dunia mendapatkan berkat keselamatan. Lalu apa tujuan Allah memilih kita menjadi orang percaya yang mengalami transformasi hidup di dalam Allah melalui Yesus Kristus?

Ayat ini menjelaskan mengapa Allah memilih kita dalam hak kepemilihannya “yakni supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.” Tak pelak panggilan dalam keyakinan dan keimanan Kristen adalah sebuah panggilan juga tentang kesaksian hidup yang telah diberikan Allah kepada kita. Sebuah kesaksian tentang bagaimana Allah telah memberikan perubahan hidup melalui Yesus Kristus. Paling tidak ada empat hak di atas yang menjadi karya Allah di dalam kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya ketika Yesus mengatakan kepada para pengikutNya kamu adalah garam dan terang dunia (Matius 5:13-14), itu adalah sebuah penunjukkan identitas yang berkesaksian. Garam dan terang adalah sebuah analogi yang jelas mengenai keberfungsian orang percaya di tengah-tengah dunia ini. Bahkan selanjutnya Yesus berkata dengan sangat tegas: “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Jika transformasi yang kita alami tidak memberikan pengaruh bagi sekeliling kita, mungkin saja belum terjadi transformasi dalam kehidupan kita. Sebab apa yang dikatakan Yesus di atas sangat jelas tentang apa yang menjadi tujuan dari transformasi tersebut. Allah mentransformasi kehidupan kita agar kita memberikan dampak atau pengaruh bagi orang lain. Dan bisa jadi itu secara otomatis. Marilah kita perhatikan satu ayat lagi sebagai berikut: “tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus  untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air  di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:14). Kehidupan orang yang dirubahkan oleh Allah adalah air hidup yang memancar. Allah memberikan air hidup dalam kehidupan kita, dan kehidupan kita memancar bagi orang lain.

Aplikasi Penutup

Agar kita tidak terjebak juga dalam konsep pemikiran spiritualis saja, marilah kita membedah hal tentang hidup yang ditransformasi Allah dalam konteks kehidupan sehari-hari, bagaimana kita menjalani kehidupan di dunia ini. Kesaksian hidup itu sangatlah luas bukan hanya ketika Anda memberitakan berita Injil secara verbal kepada orang lain. Bahkan dalam konteks transformatif hal-hal yang bersifat verbalistik bukanlah hal yang utama. Hal yang paling diutamakan dalam kehidupan orang yang mengalami transformasi adalah kesaksian seseorang dalam kehidupan nyata. Rasul Paulus mengibaratkan kehidupan seperti ini seperti surat terbuka yang dibaca oleh banyak orang: ““Saudara sendirilah surat pujian kami, yang tertulis di dalam hati kami dan yang dapat diketahui dan dibaca oleh setiap orang. Mereka sendiri dapat melihat bahwa Saudara merupakan surat yang ditulis Kristus, yang dikirim melalui kami. Surat itu ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh Allah yang hidup; bukan juga di atas batu tulis, tetapi pada hati manusia.” (II Korintus 3:2-3).

Jadi misalnya kesaksian hidup dalam dunia profesi di mana seorang percaya seharusnya menunjukkan sebuah prestasi kerja yang produktif dan gemilang sehingga apa yang dilakukannya dapat membawa pengaruh dan kemajuan bagi orang-orang yang ada di lingkup kerjanya, dan bukan sebaliknya menjadi orang yang tidak produktif.  Atau kesaksian dalam keluarga di mana seorang ayah atau ibu bisa memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya agar mereka memiliki rasa aman, cukup rasa kasih sayang dalam keluarganya, dan membangun sebuah keluarga yang mampu memberikan jaminan masa depan yang baik. Atau kesaksian seorang sahabat yang selalu hadir dan memberikan dorongan pada sahabatnya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dan memberikan semangat positif pada saat sedang jatuh.

Jadi kesimpulan terakhirnya adalah transformasi adalah sebuah perubahan orientasi yang dihasilkan menuju kehidupan yang lebih baik dan bertanggung jawab sebagai akibat dari persekutuan hidup di dalam Yesus Kristus. Dan transformasi kehidupan itu ditujukan agar seseorang mampu memberikan pengaruh atau kesaksian positif bagi sekelilingnya. Memancarkan kehidupan sebagai anak-anak Allah yang menjadi berkat bagi sesama.

Amos Tatag Triyahyo Adi, S.Th

Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana Bandung Theological Seminary. Bergerak di bidang pelayanan literatur untuk pemberdayaan dari Lembaga Seni Hidup, penggagas gerakan sosial Jesus People dan konsultan terkait implementasi nilai dan pembentukan sistem dalam organisasi.