BERDAMAI DENGAN JATIDIRI PRIBADI

BERDAMAI DENGAN JATIDIRI PRIBADI
”Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”
(Roma 8:14)
Jika ada orang yang bertanya kepada Anda, “Siapakan Anda?”, apakah jawaban Anda?  Kedengarannya  seperti  pertanyaan  yang  sederhana  dan  membutuhkan jawaban sederhana pula, namun kenyataannya tidak. Misalnya, waktu seseorang bertanya  kepada  saya,  “Siapakah  Anda?”  Saya  mungkin  menjawab  dengan menyebutkan nama saya. “Bukan, itu nama Anda. Siapakah Anda? Mungkin, saya akan  menyebutkan  kewarganegaraan  saya.  Misalnya,  “Saya  orang  Indonesia.”
Saya juga mungkin bisa bilang bahwa tinggi badan saya sekitar 170 cm dan berat badan sekitar 70 kg. Tetapi dimensi dan tampilan fisik bukanlah saya juga. Jika Anda memotong tangan dan kaki saya apakah saya tetap saya? Jika Anda mencangkokkan jantung, ginjal, dan hati kepada saya apakah saya tetap saya? Tentu saja! Sekarang
kalau Anda mengambil bagian tubuh saya yang lain saya tetap ada karena saya ada di  suatu  tempat  disini.  Tetapi  siapa  saya  jauh  lebih  dari  apa  yang  bisa  Anda  lihat dari luar. Mungkin seperti halnya Rasul Paulus, kita dapat mengatakan bahwa kita “memandang  manusia  bukan  berdasarkan  hal-hal  lahiriah.”  Namun  demikian  kita
cenderung memandang diri kita dan orang lain berdasarkan tampilan fisik (tinggi, pendek,  kekar,  gemulai)  atau  pada  apa  yang  dilakukan  (tukang  ledeng,  tukang kayu,  dosen,  insinyur,  pegawai  tata  usaha).  Lebih  jauh  lagi,  waktu  diminta  untuk menceritakan  tentang  keyakinan  kita,  biasanya  kita  berbicara  tentang  posisi  kita
secara doktrinal (saya seorang Pentakosta, Injili, pengikut Calvin, orang karismatik), atau  denominasi  (Baptis,  Presbyterian,  Metodis,  Independen),  atau  peran  kita  di gereja (Guru Sekolah Minggu, anggota paduan suara, penatua, dll) Tetapi  apakah,  siapakah   Anda  ditentukan  oleh  apa  yang  Anda  lakukan,  atau  apa yang  Anda  lakukan  ditentukan  oleh  siapa  Anda?  Ini  adalah  pertanyaan  yang
penting,  khususnya  berhubungan  dengan  kedewasaan  Kristen.   Kita  percaya bahwa pengharapan kita akan pertumbuhan rohani, makna hidup, dan pemenuhan kebutuhan sebagai seorang Kristen didasarkan pada pemahaman mengenai siapa diri kita – khususnya berhubungan dengan identitas atau jati diri kita sebagai anak Allah.
Pemahaman Anda mengenai siapa Anda di dalam Kristus akan sangat menentukan bagaimana Anda menghidupi kehidupan Anda.(RR)

Refleksi:
Jangan biarkan aku kembali kepada atribut-atribut kedagingan atau lahiriah.