KERJA KERAS DAN CERDAS

“Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?” (Pengkhotbah 7:17)

Frederick Taylor merupakan seseorang yang memperhatikan pekerja di suatu tambang batu bara. Ia melihat pekerja itu menyekop batu bara dengan sekop berukuran besar dan terlihat para pekerja begitu kelelahan. Perhatikanlah : pekerja tambang bekerja keras dengan sekop berukuran besar. Setelah Frederick Taylor melakukan penelitian, ternyata ukuran sekop tersebut terlalu besar sehingga tidak ergonomis bagi pekerja di tambang batu bara untuk menggunakannya. Ingat : kerja keras tetapi tidak kerja cerdas tidak selalu produktif! Setelah penelitian selesai, maka ia berhasil menentukan ukuran sekop ideal bagi para pekerja di tambang batu bara tersebut. Hasilnya : kelelahan berkurang, produktivitas bertambah.

Orang bekerja keras itu memiliki kemungkinan besar memang sukses, tapi lelah. Jadi perlu bekerja keras dengan porsi yang semestinya, tapi terutama kita perlu bekerja dengan cerdas. Tidak ada ’kan yang mau disebut bodoh? Bahkan akibatnya adalah mati sebelum waktunya. Mati sebelum waktunya juga mengandung 2 arti yakni : (1) Karena bekerja terlalu keras hingga tidak menghiraukan istirahat hingga akhirnya bermacam-macam penyakit hinggap dan akhirnya mati lebih cepat. (2) Tidak Produktif. Orang bekerja keras itu mungkin lelah tapi tidak produktif.

Selain itu, Kerja Keras dan Cerdas juga meliputi ”Sinergi”. Kemampuan bekerja sama sebagai Tim dan kesatuan. Sama seperti pada hari ini, sebagai peringatan Hari Ulang Tahun PGI, yang mengingatkan orang percaya di Indonesia mengenai Sinergi dan Kesatuan. Mengapa penting? Karena dengan kesatuan dan sinergi ”… tidak ada yang tidak dapat terlaksana”  (Kejadian 11:6c)

Kita perlu menggunakan segala pengetahuan, pengalaman, dan keahlian untuk usaha dan bekerja. Tanpa itu relatif sulit bagi kita untuk sukses. Pengeahuan dan keahlian merupakan aspek natural. Tetapi diatas aspek natural adalah aspek ”supra” yakni menyerahkan hidup kepada Tuhan. Ya, kerja keras dibantu kerja cerdas, baik yang melibatkan aspek ”natural” maupun aspek ”supra” inilah kunci sukses yang penuh hikmat. (AL)

Refleksi :
Siap untuk sukses? Bekerjalah dengan keras dan cerdas!