BANGUN PEMUDI PEMUDA

Hiasan orang muda ialah kekuatannya (Amsal 20:29a)

Pak Siman, begitu ia bisa dipanggil. Namanya terukir sebagai pencipta lagu nasional  ‘Bangun Pemudi Pemuda’. Judul lagu itu tampaknya selalu menjadi obsesi pria Batak ini. Hal itu setidaknya tercermin dari makalahnya yang berjudul ‘Membangun Manusia Pembangunan’, saat menerima gelar Doctor Honoris Causa atas pengabdiannya selama 60 tahun di bidang pendidikan dari Saint John University, 10 Februari 2001 lalu di Jakarta.

Saat menulis lagu  ‘Bangun Pemuda-Pemudi’  di tahun 1943,  ia baru berusia 23 tahun dan bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat Sempurna Indonesia di Semarang. Sebuah sekolah dengan dasar jiwa patriotisme yang didirikan oleh sejumlah tokoh nasionalis seperti Dr. Bahder Djohan, Mr. Wongsonegoro, dan Parada Harahap. Obsesi kemerdekaan negeri dan membangun pemuda-pemudi Indonesia itu terus memenuhi benaknya hingga suatu kali saat ia sedang mandi, ia terinspirasi menulis syair lagu itu.
 
Lagu  ‘Bangun Pemudi Pemuda’  itu digubahnya dalam suasana batin seorang anak muda yang gundah di negeri yang sedang terjajah. “Rasa ingin merdeka kuat sekali di kalangan anak muda saat itu. Kalau ketemu kawan, kami saling berucap salam merdeka!” tuturnya di rumahnya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwanya. Lantaran lagu yang dinilai sangat patriotik itu, namanya masuk daftar orang yang dicari Kempetai, polisi militer Jepang. Hingga saat ini, lagu itu masih tetap dikumandangkan pada upacara kenegaraan  termasuk perayaan Kemerdekaan RI 17 Agustus, Peringatan Sumpah Pemuda, Hari Kebangkitan Nasional dan sebagainya .  Bahkan Grup Band Cokelat pada album Untukmu Indonesia-ku juga merilis lagu itu.

Amsa 20 : 29 a menyatakan bahwa kepemudaan identik dengan semangat dan kekuatannya. Jika seorang pemuda tidak memiliki semangat ia tidak layak disebut pemuda. Sebaliknya seseorang yang usianya tidak muda lagi tapi masih tetap bersemangat untuk berkarya bagi bangsa dan negaranya, ia masih pantas disebut pemuda ( bdk Kaleb pada waktu memasuki Tanah Perjanjian berusia 85 tahun dan ia masih disebut pemuda). (IH)
 
Refleksi :
Usia bertambah tua, itu pasti tapi memiliki semangat muda itu pilihan