EXCELLENT IN FORGIVENESS: UNLIMITED FORGIVENESS

“Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila
kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu
dengan segenap hatimu.”
(Matius 18:35)
S
eorang sahabat bercerita kepada saya bagaimana kehidupan keluarganya. Dia
datang dari keluarga broken home. Ayahnya adalah seorang pemabuk dan suka
main perempuan. Sahabat saya itu berkata bahwa dia mengalami kepahitan
akibat perbuatan ayahnya sehingga ia sangat sulit mengampuni ayahnya. Namun
ia juga bercerita bagaimana ibunya tetap mengasihi ayahnya meskipun ayahnya
kerap menyakiti hati ibunya. Bahkan sampai ayahnya meninggal, ibunya tetap
mendampingi dan merawatnya dengan kasih. Sahabat saya belajar bagaimana
ibunya menjadi saksi “kasih” yang luar biasa, sehingga pada akhirnya sahabat saya
pun mampu mengampuni ayahnya. Setiap orang pernah mengalami sakit hati akibat
perbuatan, tingkah laku, atau perkataan orang lain. Apalagi jika yang menyakiti hati
kita adalah orang-orang yang dekat dan kenal betul dengan kita. Tentu hal itu akan
membuat kita kecewa. Namun, jika kekecewaan itu dipelihara dan tidak diselesaikan
maka akan menimbulkan akar pahit. Akar pahit inilah yang membuat hidup kita tidak
memiliki damai sejahtera.
Kita perlu menyadari bahwa manusia berada dalam natur dosa. Akibatnya, manusia
selalu bertendensi melakukan dosa terhadap Allah dan menyakiti hati sesama. Tapi
kita perlu ingat, bahwa kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar (1 Korintus
6:20). Jadi kita bukan milik kita lagi, tetapi milik Allah. Oleh karena Allah sendiri telah
mengampuni kita karena karya pengorbanan yang sempurna yaitu Yesus yang tidak
berdosa di kayu salib, maka kita sebagai anak Allah pun harus dapat mengampuni
orang lain. Pengampunan merupakan bagian dari kasih. Firman Allah berkata: “kasih
itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal
Allah” (1 Yohanes 4:7-8).
Bacaan Alkitab hari ini mengingatkan bahwa mengampuni adalah hal yang harus
selalu dapat kita lakukan secara tak terbatas (unlimited). Tidak perlu mengingat
kesalahan orang lain, tidak perlu mengingat siapa yang melakukan kesalahan
kepada kita, tapi ingatlah bahwa Tuhan lebih dulu mengampuni kita. Jadi kita pun
harus mampu mengampuni orang lain. Dengan demikian Bapa di sorga yang akan
memuliakan engkau. (AV)
Refleksi :
Ampuni karena Bapa terlebih dulu mengampuni