INTEGRITAS YANG TERUJI (LUKAS 9 : 57-62)

“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah “ (Lukas 9: 62)

Salah satu tokoh penting dalam pergerakan kemerdekaan adalah Amir
Syarifuddin. Dia termasuk salah satu pilar pendiri bangsa  (founding fathers) bersama-sama Soekarno, Hatta dan Syahrir. Dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Muslim, Amir pada akhirnya menemukan spiritualitas baru bagi dirinya. Perkenalan terhadap kekristenan setidaknya dipengaruhi beberapa hal. Pertama, kakek Amir, Soetan Goenoeng Toea adalah penganut Kristen taat. Kedua, saat menempuh pendidikan di Belanda bersama sepupunya Sutan Gunung Mulia ia tinggal bersama penganut Calvinis taat bernama Dirk Smink. Setelah dia menekuni
ajaran Kristen ia memutuskan bertobat dan dibaptis di Indonesia.
Amir memang orang yang keras pendiriannya. Keputusan Amir untuk menjadi seorang Kristen merupakan suatu aib bagi keluarga. Ibunya sempat mengancam Amir, kalau keputusan anaknya itu untuk menjadi seorang Kristen tidak diubah, maka dia akan bunuh diri. Tentu terjadi pergumulan yang berat di dalam diri Amir, namun ia tetap memutuskan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan penebus dosa-dosanya. September 1945, Amir dipenjarakan Jepang karena melakukan gerakan bawah tanah. Amir dengan tragis digantung dengan kepala di bawah di balik jeruji besi. Sebelumnya, percakapan Amir dengan tentara Jepang.
Tentara Jepang: “Kamu adalah orang Kristen. Tetapkah kamu dalam kepercayaanmu itu?” Jawab Amir: “Tetap.”
Tentara Jepang: “Pastikah?” Jawab Amir: “Pasti.”
Tentara Jepang:  “Kristus bersedia berkorban demi kepercayaannya dan bagi para pengikutnya sampai pun dia harus disalibkan pada kayu salib. Kalau kamu betul-betul seorang Kristen, mestinya kamu juga bersedia berkorban dengan digantung pada salib. Kamu berjuang melawan Belanda dan sekarang melawan Jepang demi kemerdekaan Bangsamu. Bersediakah kamu digantung pula demi kepercayaan dan bangsamu?”  Amir: (tidak menjawab). (IH)
Refleksi :
Integritas teruji ketka pengikut Kristus siap memikul salibnya dan menyangkal diri.