MENGASIHI SAUDARA-SAUDARA

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidakn dilihatnya.” (1 Yohanes 4 : 20)

Yap Thiam Hien adalah gambaran tokoh Kristen yang mengasihi saudara-
saudaranya, sebangsa dan setanah air. Siapakah  Yap Thiam Hien ? Ia lahir di Aceh 25 Mei 1913. Ketika ia berusia 9 tahun, ibunya meninggal. Sejak itu, ia diasuh oleh neneknya. Ia masuk SMA di Yogyakarta, dan  mondok pada keluarga keturunan Jerman. Dalam keluarga ini, Yap mulai mengenal nilai hidup kristiani  yang berwujud kasih sayang.Keinginan Yap untuk mengenal iman Kristen dilanjutkan ketika ia belajar di Sekolah Guru di Jakarta. Ia menjadi aktivis pemuda dan guru Sekolah Minggu. Ia ikut katekisasi  dan menerima baptisan di GKI Perniagaan pada usia 25 tahun. Lulus dari Sekolah Guru, Yap mengajar di SD Cirebon dan Rembang. Kemudian, ia kembali ke Jakarta dan belajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia sambil tetap menjadi guru SD. Ia bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dan ikut memikirkan perjuangan kemerdekaan.

Kecintaan Yap untuk menjadi guru Sekolah Minggu dan aktivis pemuda dengan  belajar Pendidikan Agama Kristen (PAK) Anak dan PAK Remaja/Pemuda selama satu semester di Selly Oak College, Inggris. Yap, dalam pledoinya pada waktu membela Soebandrio  mengutip cerita Injil tentang seorang perempuan yang hendak dirajam oleh para pemuka agama dengan tuduhan perbuatan asusila. Lalu, Yap mengutip ucapan Yesus kepada para pemuka agama itu, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh. 8:7)
Yap seringkali mengingatkan orang Kristen agar jangan terlena dalam aspek vertikal individu dengan Allah, melainkan harus pula memperhatikan aspek horizontal  dengan masyarakat.” Yap tidak menyukai ibadah yang berlangsung lebih dari satu jam, apalagi yang seremonial. Ia sering mengutip ayat,  “Aku membenci … perayaanmu … Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu … Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir.”  (Am. 5:21-24) (IH)
Refleksi :
Mengasihi orang-orang yang berada di sekitar Saudara adalah wujudnyata mengasihi Allah.