MENGUSAHAKAN KESEJAHTERAAN LEWAT PENDIDIKAN

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”(Yeremia 29:7)

Permulaan abad ke-20 merupakan awal abad yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Sebab, pada abad inilah tersemai bibit-bibit kesadaran kolektif untuk membebaskan bangsa dari kolonialisme. Abad ini juga merupakan awal munculnya banyak pemikir, pembaharu dan tokoh revolusi Indonesia. Mereka muncul di tengah kebutuhan dan keterdesakan zaman. Di antara para tokoh-tokoh tersebut adalah Prof. Dr. Todung Gelar Sutan Gunung Mulia Harahap. Ia akrab disapa dengan sebutan Mulia. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil, di Padang Sidempuan, Sumatera Utara pada 21 Januari 1896. Mulia adalah keturunan bangsawan Batak
yang beragama Kristen.

Ketika Mulia menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melakukan pelbagai hal antara lain: pertama, meneruskan kebijakan menteri sebelumnya yakni kurikulum pendidikan yang berwawasan kebangsaan. Kedua, memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan, antara lain membangun kembali sekolah dan menambah jumlah tenaga pengajar. Ketiga, memperluas lembaga-lembaga pendidikan, yakni tidak hanya terfokus pada lembaga pendidikan umum, tetapi juga pendidikan yang berlatar belakang agama. Misalnya, pendidikan Kristen, NU (pesantren), dan Muhammadiyah.  Mulia menjabat sebagai menteri cukup singkat, yakni dari 14 November 1945 sampai 2 Oktober 1946. Rentang waktu satu tahun, tentu saja merupakan waktu yang singkat untuk menerjemahkan pemikiran dan gagasan Mulia ke dalam kebijakan-kebijakan pendidikan sesuai dengan pengalaman dan harapan masyarakat banyak. Namun, patut dicatat sejak menjabat menjadi menteri, Mulia memiliki akses yang cukup luas untuk menghidupkan pendidikan-pendidikan, terutama yang berorientasi dan berlatar belakang agama (Kristen). Pengalaman akan hal tersebut tentu sangat menguntungkannya. Sebab, di kemudian hari setelah purna jabatan, Mulia dan teman-temannya  mulai membangun jaringan pendidikan
Kristen yang diakui sangat kuat dan berkualitas hingga saat ini. (IH)

Refleksi :
Mengusahakan berarti  : 1)mengerjakan sesuatu, 2) mengikhtiarkan (berpikir dalam-dalam untuk mencari solusi),  3)berusaha sekeras-kerasnya dalam melakukan sesuatu, dan 4) membuat dan menciptakan sesuatu