BEKERJA KERAS UNTUK MEWUJUDKAN NILAI LUHUR

“Orang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah.”(Amsal 18:14)

Doktor Ratulangi merupakan pribadi yang haus akan ilmu pengetahuan. Ia
rela membanting tulang demi membiayai pendidikannya. Sebagai tokoh
yang lahir dan hidup di zaman penjajahan, ia merasakan bahwa penjajahan itu penghalang perwujudan nilai-nilai kemanusiaan. Gerungan Saul Samuel Jacob (GSSJ) Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada tanggal 5 November 1890. Ayahnya, Jozias Ratulangi adalah guru Hoofden School. Dalam masyarakat, sekolah setingkat SMP itu sering disebut “Sekolah Raja”. Di sekolah yang sama pulalah GSSJ Ratulangi menuntut ilmu. Setelah menamatkan pendidikannya di Hoofden School, ia
kemudian meninggalkan tanah kelahirannya untuk belajar di Indische Artsenschool (Sekolah Dokter Hindia) di Jakarta. Namun, setibanya di Jakarta, ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke sekolah dokter dan lebih memilih untuk belajar di Koningin Wilhelmina School (Sekolah Tehnik) pada tahun 1904. Empat tahun kemudian ia pun berhasil menamatkan pendidikannya dengan nilai gemilang. Latar belakang pendidikan itu membuka kesempatan baginya untuk bekerja sebagai ahli tehnik mesin di daerah Priangan Selatan.

Ratulangi sangat bahagia serta menikmati pekerjaannya saat itu. Namun,
kebahagiaan itu sirna seketika karena perlakuan tak adil yang diterimanya. Sebagai orang pribumi, Ratulangi menerima gaji yang lebih rendah dari
kawan-kawan sekolahnya yang keturunan Indo-Belanda. Kenyataan itu
kemudian memotivasinya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
Ia pun meneruskan sekolahnya dengan menempuh pendidikan di Lager
Onderwijs (LO) dan Middlebare Acte. Ijazah guru ilmu pasti untuk Sekolah
Menengah di negeri Belanda pun berhasil diraihnya pada tahun 1915.
Ia sebenarnya berhasrat untuk kuliah di Jurusan Ilmu Pasti pada Vrije Universiteit Amsterdam, namun hasrat itu terpaksa gagal karena ia tak memiliki ijazah HBS (Hogere Burger School) atau AMS (Algemene Middlebare School).  Dengan nasihat dari Mr. Abendanon, ia pun meneruskan studinya di Universitas Zurich. Pada tahun 1919, setelah empat tahun bekerja keras, Ratulangi berhasil menyandang gelar Doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Swiss, ia sekaligus menjadi doktor ilmu pasti pertama Indonesia.Dr. Sam Ratulangi adalah tokoh pendidikan yang berjuang keras untuk bangsanya. (IH)

Refleksi :
Dimana ada niat yang baik disertai semangat, Tuhan bukakan jalan.