PENGETAHUAN, KEPANDAIAN DAN HIKMAT DARI TUHAN

“Karena TUHANlah yang memberi hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan
kepandaian .” (Amsal 2:6)

Generasi masa kini  mungkin tidak mengenal John Sung.  Padahal  banyak di antara kita merupakan buah dari benih Injil yang ditaburkan Sung kepada generasi-generasi pendahulu kita. Siapakah John Sung? Ia lahir dengan nama Sung Siong Geh pada tahun 1901 di sebuah desa miskin di propinsi Fukien di Tiongkok Tenggara. Ayahnya pendeta
Gereja Metodis. Ibunya buruh tani. Sejak kecil Sung sudah berwatak unik. Ia gesit dalam segala hal. Ia keras kepala dan tidak bisa sabar. Sung tampak lebih unik lagi di sekolah. Kecerdasannya melewati batas wajar. Ia bisa mengingat tiap kata dari tiap buku yang dibacanya. Ia sudah hafal kitab Mazmur, Amsal, dan kitab kitab Injil.. Ia suka ikut ayahnya melayani kebaktian di desa desa lain. Kalau ayahnya sakit, Sung yang baru berusia 12 tahun menggantikan ayahnya menjelaskan Alkitab dari atas mimbar.

Pada usia 18 tahun Sung berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa bintang pelajar di seluruh provinsi. Ia belajar kimia di Wesleyan University di Ohio. Ia lulus sebagai mahasiswa nomor satu. Surat kabar di Amerika dan Eropa melaporkan prestasi jenius ini. Studi Sung berjalan terus. Ia diterima di Ohio State University. Program Master of Science ditempuhnya hanya dalam sembilan bulan, padahal ia bersekolah sambil bekerja sebagai pemotong rumput di jalan dan aktif dalam gerakan
mahasiswa menentang diskriminasi rasial. Sesudah itu Sung mengambil program doktor. Persyaratan bahasa Prancis dan Jerman dipenuhinya dengan belajar sendiri cukup dalam satu bulan. Ia lulus dengan gemilang dan menjadi doktor ilmu kimia hanya dalam tiga semester. Semua surat kabar Amerika dan Eropa mencatat rekor jenius ini.  Lalu ia masuk sekolah teologi. Program tiga tahun di Union Theological Seminary di New York ditempuhnya dalam waktu satu tahun.Ia sempat mengalami
gangguan mental. Selama 193 hari di rumah sakit itu ia menelaah 1.189 pasal Alkitab dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22 sebanyak 40 kali dengan 40 sudut eksegese yang berbeda. Ia keluar rumah sakit sambil membawa 40 naskah eksegese dalam bahasa Inggris dan Mandarin.

Di kalangan akademik ia dikenang sebagai kimiawan jenius calon pemenang hadiah Nobel untuk ilmu kimia. Namun, di hati banyak orang Indonesia , ia dikenang sebagai pembawa berita Injil. (IH)

Refleksi :
Tuhanlah yang memampukan kita untuk mendapatkan kepandaian, pengetahuan dan hikmat. Jangan takabur !