BERDAMAI DENGAN LAWAN

BERDAMAI DENGAN LAWAN
Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.”(Matius 5:25)
Permusuhan  antara  Israel  dengan  Palestina  selalu  menjadi  berita.  Perdamaian antara  Israel  dengan  Palestina  sepertinya  menjadi  sesuatu  hal  yang  mustahil terjadi. Kedua negara tersebut akan selalu menjadi seteru. Konflik Palestina – Israel  menurut  sejarah  sudah  47  tahun  ketika  pada  tahun  1967  Israel  menyerang Mesir,  Yordania  dan  Syria  dan  berhasil  merebut  Sinai  dan  Jalur  Gaza  (Mesir),
dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.
Firman  Tuhan  hari  ini  kembali  mengingatkan  kita  untuk  berdamai  dengan  lawan supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk lagi. Seseorang bisa saja menyerahkan masalah  kepada  hakim  dan  memenjarakan  orang  yang  dianggapnya  sebagai lawannya.
Salah  satu  akibat  penting  dari  peristiwa  kematian  Tuhan  Yesus  di  kayu salib  ialah didamaikan-Nya kita kembali dengan Allah. Paulus menyatakan bahwa pendamaian tersebut  dapat  terjadi  oleh  “darah  salib  Kristus”.  Dengan  demikian,  melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib itu hubungan baik kita dengan Allah, yang sebelumnya  telah  rusak  karena  dosa-dosa  sehingga  menimbulkan  permusuhan
dengan-Nya,  dipulihkan  kembali.  Dan  oleh  pemulihan  tersebut,  kemanusiaan  kita yang  lama,  yang  dikuasai  oleh  dosa  sehingga  pasti  akan  menerima  hukuman  dari Allah, diganti dengan kemanusiaan yang baru, yang bersedia menempatkan diri di bawah  kuasa  Allah  dan  kehendak-Nya.  Itulah  makna  dari  ungkapan  “didamaikan dengan  Allah”.  Dengan  demikian,  membina  dan  melaksanakan  hidup  yang  damai atau rukun dengan sesama, merupakan hal yang tidak boleh kita remehkan, karena hal itu sangat penting dan serius bagi kita orang-orang percaya. Hubungan yang baik dengan sesama, meski mungkin hal itu berarti harus disertai pengorbanan, termasuk korban perasaan, menjadi tanda atau bukti dari hubungan yang baik dengan Allah.
Sebaliknya,  hubungan  dengan  sesama  yang  tidak  beres,  itu  menjadi  bukti  dari
hubungan dengan Allah yang juga tidak beres.(RCM)
Refleksi :
Berdamailah dengan semua lawanmu.