JANGAN PADAMKAN OBOR YANG MENERANGI ASIA

“…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Pendeta ini berpenampilan unik. Ia kurus kecil. Rambutnya pendek dan selalu terurai di dahi. Mukanya pucat dan selalu menunduk. Ia selalu berpakaian kemeja putih sederhana model Tiongkok kuno. Ia tidak suka tersenyum sana-sini atau berbasa-basi. Tapi kalau berkotbah, tiba-tiba ia menjelma menjadi nabi yang berapi-api. Orang datang berduyun-duyun sampai gedung gereja melimpah ruah. Itulah Dr. John Sung dari Tiongkok yang membuat ratusan ribu orang Indonesia pada tahun 1935-1939 menerima Injil Kristus.

Di sekolah teologi Sung membuat keputusan untuk mengkristalkan pergumulan spiritualitasnya dalam bentuk meninggalkan ilmu kimia lalu menyerahkan jari tangan dan kaki, serta kedua telinga, mata, tangan dan kakinya untuk memperkenalkan Injil di Asia.

Pada tahun 1939, ia beberapa kali datang ke Indonesia. Acara pemberitaan Injil ini disebut “Serie Meeting” yang terdiri dari 22 pemahaman Alkitab atau khotbah tiap pagi, petang, dan malam selama tujuh hari. “Serie Meeting” ini diadakan di Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta,
Makasar, Ambon, dan Medan. Khotbahnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pokok pembahasannnya bersambung. Cara penyampaiannya jelas, sederhana, dan memikat. Ia sering menggunakan papan tulis dan alat peraga. Sasarannya adalah orang-orang yang belum pernah mendengar berita Injil. Hasilnya memang luar biasa. Ribuan orang dengan setia mengikuti 22 pertemuan itu. Pada tiap pertemuan ribuan Alkitab, nyanyian rohani, dan buku renungan terjual habis. Di tiap kota, gereja-gereja membentuk komite tindak lanjut karena ribuan orang
mendaftar untuk mengikuti katekisasi..

Watak Sung sejak masa kecilnya tetap tampak. Ia serba cepat dan tidak sabar. Ketika memasuki ruang yang gaduh ia langsung menggebrak meja sambil berteriak, “Apa ini ruang ibadah atau gedung komedi?” Di tempat ia menginap, dituntutnya suasana sunyi. Ia meminta seisi rumah itu bangun pukul 4 pagi dan berdoa untuk pertemuan “Serie Meeting” hari itu.
Kekuatan tubuh Sung semakin rapuh. Perang dunia dan kemiskinan yang melanda Tiongkok menekan dia. Berkali-kali ia masuk rumah sakit untuk pengobatan dan pembedahan. Pada tahun 1944 dalam usia 42 tahun Sung meninggal dunia. (IH)
Refleksi :
Masihkah ada kerinduan kita untuk mengabarkan Injil, Kabar Baik?