CHARACTER IS MATTER

“…harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah…melainkan suka memberi tumpangan, sukia akan yang baik, bijaksana, adil,saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat…” (Titus 1:7-9)

Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, adalah seorang pemimpin yang sangat berkharisma. Bahkan sulit dipungkiri bahwa sampai sekarang belum ada pemimpin Indonesia yang kharisma kepemimpinannya menyamai Bung Karno. Tapi apakah benar keberhasilan pemimpin ditentukan oleh kharisma?. Memang kharisma berkontribusi penting bagi seorang pemimpin. Tapi tidak boleh lupa bahwa
ada yang lebih penting dari kharisma, yaitu karakter.

Bahan bacaan hari ini menunjukkan pada kita mengenai syarat atau kualifikasi penilik jemaat. Baik dalam kitab Titus maupun Timotius menunjukkan bahwa persyaratan pemimpin rohani adalah moral dan karakter. Kekudusan dan kesalehan adalah prinsip dasar pemimpin rohani. Mulai dari kehidupan pernikahan, keuangan, temperamen,
sifat perilaku secara sosial maupun seksual, percakapan, dll, semuanya itu menjadi unsur penting dalam moral dan karakter.
Mungkin kemudian muncul pertanyaan: “ya itu kan syarat-syarat untuk pemimpin rohani, kalau syarat pemimpin di dunia apakah perlu seketat itu? Kan tidak ada manusia yang sempurna…”. Betul, memang tidak ada manusia yang sempurna, sempurna hanya milik Allah. Tapi jika kita mengakui bahwa kita adalah orang percaya kepada Tuhan dan mengakui bahwa institusi dimana kita bekerja adalah institusi berlabel Kristen dan mendasarkan kehidupan kampus dengan nilai-nilai yang Alkitabiah, maka syarat-syarat tersebut tentu perlu menjadi perhatian utama. Jangan sampai kebiasaan-kebiasaan buruk yang dikategorikan sebagai “kelemahan manusiawi” itu dianggap sah-sah saja. Ada standar moral sebagai orang Kristen. Ada standar moral yang harus dimiliki oleh institusi Kristen. Karena karya pengurapan Roh Kudus ditentukan oleh kemurnian moral seseorang (atau lembaga). Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Paulus:  “jagalah dirimu… jagalah seluruh kawanan…” (Kisah Para Rasul 20:28). Jika seorang pemimpin bisa menjaga kelakuannya baik,  baru akan bisa menggiring para bawahan sehingga berlaku baik juga. (AV)
Refleksi :
Karya pengurapan Roh Kudus ditentukan oleh kemurnian moral seorang pemimpin/lembaga.