INTROSPEKSI DIRI

“Ujilah dirimu sendiri,  apakah kamu tetap tegak di dalam iman . Selidikilah dirimu!   Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu?   Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5)

Kita memiliki kecenderungan merasa lebih pandai untuk menilai orang lain
ketimbang memeriksa diri sendiri. Oleh karena itulah kita harus benar-benar menjaga diri kita untuk tidak terjebak kepada perilaku seperti ini. Hal ini sungguh penting. Kita seharusnya lebih memprioritaskan untuk menyelidiki diri kita sendiri terlebih dahulu ketimbang menilai orang lain. Dalam kondisi fisik kita saja seharusnya begitu. Bayangkan bagaimana rawannya kelangsungan hidup kita jika kita tidak pernah memeriksa kesehatan kita, tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk menghancurkan diri kita. Apalagi jika kita mengacu kepada kondisi rohani kita. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang tidak tersaring apabila kita tidak pernah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang masuk ke dalam diri kita.
Jemaat Korintus banyak membuat Paulus khawatir. Memang jemaat ini kontroversial. Di satu pihak mereka menunjukkan gairah rohani yang luar biasa, terutama dalam kehausan akan karunia-karunia Roh yang spektakuler. Di lain pihak, kehidupan moral mereka sangat duniawi. Juga keterbukaan mereka kepada pengajar-pengajar palsu membuat mereka ada dalam bahaya tidak bertahan di dalam iman. Maka Paulus mendesak mereka untuk memeriksa diri. Maksudnya, bukan sekadar tahu doktrin dan bergairah akan karunia-karunia rohani, tetapi untuk memastikan bahwa Kristus benar-benar ada di dalam mereka. Hanya hubungan riil jemaat dengan Kristus, yang akan memampukan mereka untuk tahan uji, menjaga kemurnian dan tidak berbuat yang tidak benar.

Ketika kita berani menguji atau memeriksa diri sendiri, itu artinya kita berani melihat segala sesuatu dari diri kita, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri, terlebih orang yang hanya suka menilai
kelemahan atau keburukan orang lain. (RCM)
Refeksi : 
Marilah kita menguji diri kita