MEMPERJUANGKAN KEBENARAN

“Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh Tuhan” (Yeremia 28:5-9).

Biasa dipanggil Aam, lengkapnya Afifah Ahmad Maulana (13), bersama
keluarganya sekarang ia mengungsi ke Gresik. Kenapa? Kejujurannya membuat marah masyarakat di mana ia tinggal. Kisahnya berawal ketika Aam dipaksa oleh gurunya – dengan alas an balas budi kepada guru dan kasihan kepada teman sekelas – memberikan contekan saat UN Sekolah Dasar.  Pada hari ke-2 UN,  guru pengawas yang merupakan guru dari sekolah lain memergoki contek masal tersebut, dan sempat dilaporkan ke Dinas pendidikan kecamatan Tandes, tetapi kasus itu diredam. Namun, Siami, ibunya(32), yang berprofesi sebagai penjahit, tak rela anaknya dieksploitasi, dan ia melaporkan kasus tersebut kepada Dinas Pendidikan Surabaya, hingga kisah nyontek masal pun akhirnya terkuak.

Tindakannya berdampak besar, tak hanya guru yg kena sanksi, Siami dan keluarganya pun terkena sanksi masyarakat, masyarakat marah terhadap Siami, karena tak ingin anak2 mereka dituduh menyontek sehingga berpotensi tidak lulus UN. Mereka pun diusir dari rumah mereka sendiri.  Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pendidik, pejabat dinas pendidikan, dan masyarakat sudah abai terhadap norma kebenaran. Demi kepentingan pribadi/kelompok segala sesuatu boleh dilakukan, sekalipun bertentangan dengan nilai kebenaran. Segala cara di halalkan demi suatu tujuan.
Dalam bacaan kita, Yeremia menyerukan reformasi moral nasional atas bangsanya, yang mengalami penghukuman Tuhan, di buang ke Babel, sebagai akibat dari  menjauhnya bangsa itu dari Tuhan yang berdampak pada merosotnya moralitas umat ketika itu. Ia yang melayani sekitar 40 th, mendukung penuh gerakan perubahan yang dilakukan o/ Yosia. Tetapi, ia sadar bahwa gerakannya itu tdk membawa dampak perubahan yg berarti bagi seluruh bangsa. Sepanjang masa itu Yehuda memberontak terhadap Allah, dan mengandalkan persekutuan politik dengan bangsa lain untuk
mendapatkan kebebasan dari musuh2nya. Yeremia menyerukan pertobatan dan peringatan bahwa bangsa itu akan menerima hukuman, karena menolak Allah dan hukumNya, menjadi seruan Yeremia atas Yehuda. Namun, karena seruannya itulah justru Yeremia mendapat tantangan dan penderitaan.

Memperjuangkan kebenaran membawa konsekuensi tantangan dan penderitaan, sebagaimana dialami oleh Yeremia. Bagaimana dengan kita warga kampus Maranatha? Apakah kita akan terus memperjuangan kebenaran sekalipun diperhadapkan oleh tantangan yang besar? (AE)
Refleksi:
integritas dinyatakan melalui sikap yang menyatakan kebenaran.