PENILAIAN SECARA ROHANI

“ Tetapi manusia rohanimenilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” (1 Korintus 2:15)

Orang Kristen sering merupakan teka-teki bagi orang-orang duniawi, dan
kadang-kadang merupakan teka-teki bagi orang Kristen yang berpikiran
lahiriah. Banyak pertentangan di kalangan Kristen dapat ditelusuri sumbernya pada soal penilaian secara rohani. Manusia rohani memiliki kemampuan untuk memahami segala sesuatu. Dia sendiri tidak dinilai oleh orang lain (yang tidak rohani), sebab orang yang tidak rohani tidak memiliki hubungan dengan Roh yang membuat dirinya dapat menilai orang yang rohani.

Sejak awal surat, Paulus menyebut orang-orang di Korintus sebagai orang yang telah dikuduskan dan dipanggil menjadi orang-orang kudus. Kepada mereka hikmat keselamatan Allah telah dinyatakan; hikmat tentang karya keselamatan Allah yang tersembunyi bahkan bagi para penguasa, tetapi yang disediakan Allah bagi kemuliaan mereka yang percaya seperti jemaat Korintus. Mereka pun telah menerima Roh-Nya, yang dalam analogi kemanusiaan, bahkan tahu hal-hal terdalam dari Allah.
Atas dasar jati diri ini Paulus hendak menampilkan seperti apa itu manusia rohani: pertama, ia adalah seperti Paulus dan rekan sekerjanya, mengajar dan berkata-kata berdasarkan hikmat dan Roh Allah. Kedua, ia juga memahami hal-hal rohani, dan menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat Allah, tanpa dinilai orang lain. Ketiga, ia tidaklah seperti manusia duniawi (Yun. psukhikos) yang tidak menerima hikmat dari Roh Allah, menganggapnya sebagai kebodohan, dan tidak dapat memahaminya.
Singkatnya, manusia rohani dapat mengapresiasi hikmat dan penyertaan Roh Allah melalui hidupnya.

Manusia rohani adalah orang yang berpikir dan berperasaan seperti Kristus Manusia rohani adalah orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Penilaian terhadap manusia secara rohani berasal dari dalam hati dan jiwa seseorang yang melakukan penilaian berdasarkan wahyu Ilahi. Ketika seseorang memiliki jiwa yang indah, kehadiran mereka dapat dirasakan oleh orang lain. Keindahan rohani datang melalui kesadaran dan dari pengetahuan bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang memberi kita kekuatan dan keyakinan yang kita butuhkan untuk menjalani kehidupan terbaik yang kita bisa. Hal itu mendatangkan kedamaian, kepercayaan diri, dan kebahagiaan batin. (RCM)
Refleksi :
Manusia rohani menilai segala sesuatu berdasarkan hikmat dari Allah