INTEGRITAS YANG TERUJI

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.“(Lukas 14:42)

Ketika ada yang bertanya, apa yang manusia cari dalam kehidupannya?  Para filsuf sekitar 2400 tahun yang lalu menyatakan: (1) kesenangan (Aristipos); (2) kebahagiaan (Plato dan Aristoteles). Dan rasanya pendapat tersebut di atas masih relevan sampai jaman ini. Setidaknya ini bisa dilihat misalnya upaya menghindari penugasan tertentu ke suatu daerah terpencil.  Ini merupakan bukti bahwa manusia berupaya menghindari ketidaknyamanan yang bisa mengarah
kepada penderitaan.
Dalam teks bacaan kita pada hari ini yang cukup panjang menunjukan sisi keilahian dan kemanusiaan Yesus.  Aspek keilahian (dalam hal ini sifat keilahian omniscience) tersebut dapat kita lihat, bagaimana Yesus mengetahui secara detail akan hal-hal yang belum terjadi.  Ia menjelaskan proses bagaimana para murid harus meminjam tempat untuk mengadakan perjamuan malam Paskah (ay. 10 – 12).  Dengan aspek keilahiannya inilah Ia pun menuturkan penderitaan yang akan segera ia alami kepada
para murid-Nya (ay 15 – 16) – walaupun para murid masih belum faham juga maksud pernyataan Yesus, bahwa Ia harus menderita.  Benarlah bahwa Yesus 100% Tuhan dan 100% manusia dari pasal 14 inilah kita dapat melihatnya.  Aspek kemanusiaan Yesus muncul  dengan sangat jelas pada saat Ia berdoa di taman Getsemani (ay 42), bagaimana Ia mengutarakan reaksi manusiawi-Nya kepada Bapa-Nya.  Reaksi –Nya terhadap ‘cawan’ (bdk Yer  25:15, Mzm 11:6)  atau penderitaan  fisik dan juga ketakutan secara psikis yang akan segera dihadapi-Nya.  Dalam episode Lukas 22 ini, sekali lagi kita melihat bagaimana integritas Yesus yang benar-benar teruji melalui pergumulan-Nya yang sangat berat (keringatnya menjadi seperti titik-titik darah, ay 44).  Ia memutuskan untuk mau mengambil cawan itu dan segera masuk dalam penderitaan.

Sebagai manusia biasa tentu kita tidak akan sanggup seperti Yesus, namun sekali lagi disini kita bisa mengambil teladan Yesus yang memiliki Integritas untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik.  Integritas dan kesetiaan untuk tetap melayani inilah yang senantiasa harus ada dalam  setiap insan Universitas Kristen Maranatha. (ITW)
Refleksi: 
Integritas Kristus integritas yang teruji